Issa Asa

Issa Asa
Song 2.0




Issa baru saja tiba dirumah keluarganya, memarkirkan motornya di sebelah mobil milik kakaknya. Ibunya mengatakan kalau kakaknya pulang ke Indonesia mempersiapkan hal yang sangat mereka tunggu yaitu pernikahan, mengingat umur kakaknya yang sudah sangat cukup untuk sebuah pernikahan apalagi kakaknya yang juga sudah mengelola bisnis di luar negeri.


Issa masuk kedalam rumah sambil membawa bunga mawar di tangannya, begitu masuk langsung disambut pelayan yang membantunya untuk mengambil bunga di taruh di beberapa vas yang sudah harus berganti isi karena kering.


“mama kita kamu sama Asa.” Ucap Fahira sedikit kecewa karena Issa datang sendirian.


“Asa pulang ma, kan besok harus kuliah dan tugasnya banyak.”


“isshh ya udah sana, kakakmu ada di dalam.”


Issa masuk ke ruang keluarga, melihat banyak orang yang tengah berbincang, terutama kakak laki-laki nya yang duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang cukup cantik dan sangat cocok dengan kakaknya itu.


“whats up bro!.” teriak Arga, kakak dari Issa yang memiliki nama lengkap Argantara Pradipta, umurnya menginjak 27 tahun, jaraknya cukup jauh dengan Issa yang masih 18 tahun tapi mereka berdua sangat dekat sejak kecil apalagi waktu itu Arga yang sebelumnya tidak punya teman kemudian mendengar kabar bahwa dia akan memiliki adik. Arga sangat menyayangi Issa maupun Alin, walaupun lebih dekat dengan Issa.


“apaan sih lo, kenapa balik ngga kabar-kabar dulu.” Jawab Issa kesal, kemudian duduk di sofa bergabung dengan yang lain.


“kak, kak Arga mau nikah tau.” Ucap Alin yang duduk disebelah Issa.


“lo ngga mau kenalin calon kakak ipar gue?.” Tanya Issa.


“hahaha kenalin nih calon kakak lo, namanya Hanny.”


“hai kak Hanny. Gue Issa.” Sapa Issa sambil memperkenalkan dirinya sendiri.


“hai juga Issa, aku sering dengerin lagu kamu loh.”


“waah makasih kak.”


“bagus, kapan lagu ketiga?.”


“bentar lagi kak tunggu aja.”


“emang lo ada inspirasi? Bukannya lo habis patah hati.” Sindir Arga di ikuti kekehan.


“ihh kak Arga, kak Issa udah ada gebetan tau, lebih cantik dan baik ngga kayak sebelumnya.” Jawab Alin


“lahh ngga bilang ke gue lo sa.”


“habisnya belum jadian ntar lo doain jelek biar nggak jadian-jadian.”


Perbincangan mereka berlangsung hingga sangat malam, pertemuan kembali setelah sekian lama berpisah. Issa tengah duduk di taman dengan kakaknya, Arga. Mereka berdua dengan kegiatan wajib laki-laki yaitu menghisap rokok, Arga dengan batang rokoknya dan Issa dengan vape nya.


“kak, lo beneran mau nikah?.” Tanya Issa penasaran, Issa sangat dekat dengan Arga tapi dia sama sekali tidak pernah berfikir kalau Arga akan menikah secepat itu mengingat dia yang sangat gila kerja seperti ayah mereka.


“mau gimana lagi, umur gue juga sudah waktunya nikah.”


“lahh gimana sih lo, jadi lo suka nggak sama kak Hanny?.”


“gue cinta mati sama dia, tapi kadang juga gue takut kalau sebenarnya belum siap berumah tangga. Apa ya, gue takut ngga bisa tanggung jawab soal ngasih waktu ke dia. Lo juga tau kalo gue gila kerja kan.”


“kurangi lah kak, tapi gue yakin kak Hanny paham sama sifat lo sih.” Sambil sesekali menghisap vape nya, menikmati langit malam yang cerah hari ini.


“lo sendiri gimana? Kenapa lo putus sama Gea?.” Arga melihat kearah adiknya penasaran karena saat putus Issa sama sekali tidak menghubungi kakaknya, malah Arga tau dari live dan berita yang menyebar sangat cepat di media sosial.


“terus yang baru siapa?.”


“ada pokoknya.” Issa tersenyum membayangkan wajah Asa yang ceria didepannya, apalagi saat wanita itu tertawa renyah.


“yang pasti cantik dong, lo suka tipe cewek cantik kan?.”


“kalo dibilang cantik engga juga, tapi dia itu punya positive vibes, dan mood booster banget anaknya. Sayang sih agak susah di deketin.”


“udah pernah di tolak?.”


“menurut lo?.” Issa melihat kearah kakaknya.


“gantung sih.”


“ya gitu lah, tapi gue pasti nungguin.”


“baguslah kejar terus.”


Perbincangan mereka terhenti karena Arga harus mengantarkan Hanny pulang terlebih dahulu, sedangkan Issa malam ini tidur di rumah keluarganya lagi. Issa masuk kedalam kamarnya, melihat ponselnya yang sejak datang belum di cek sama sekali. Tidak ada pesan masuk dari Asa, karena memang selalu Issa yang harus mengirimi pesan ke Asa lebih dahulu.


ISSA : [23.46] sudah tidur?


ASA : [23.51] masih mengerjakan tugas essay


  [23.52] lo sendiri habis ngapain?


ISSA : [23.52] tumben nanyain sa, gue ada acara keluarga di rumah, kakak gue balik dari luar negeri mau persiapan nikah.


ASA : [01.15] wah selamat ya buat kakak lo


ISSA : [01.15] thanks. Btw sudah tengah malam, ngga tidur?.


ASA : [02.57] baru selesai, mau tidur ini. Selamat tidur


Pukul 08.00 pagi Issa baru saja bangun dari tidurnya, saat lelaki itu mengecek ponselnya ada banyak notif tapi yang paling penting adalah notif dari Asa yang mengucapkan selamat tidur di jam 3 pagi, Asa baru tidur jam 3 karena mengerjakan Essay padahal sebentar lagi liburan semester.


“shiittt!!.” Issa langsung bangun dari tempat tidur, hanya pergi ke kamar mandi mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Dengan pakaian yang sama hanya ditambah jaket, Issa keluar dari kamar, bahkan panggilan dari ibunya ia hiraukan. Meninggalkan rumah menggunakan motornya, dia ada janji akan mengantarkan Asa ke kampus untuk menyerahkan Essay jam setengah Sembilan dan sekarang sudah jam setengah Sembilan.


Motor Issa sampai di depan rumah Asa, rumah yang sepi seperti biasanya. Mba Aila berada di halaman depan rumah tengah menyirami tanaman.


“eh mas Issa, non Asa nya udah berangkat dari jam 8 tadi.” Ucap mba Aila yang membuat Issa kesal pada dirinya sendiri.


“ya udah makasih mba.” Issa mengecek ponselnya, mengirimi pesan ke Asa untuk meminta maaf, kemudian langsung pergi ke kampus Asa.


Beberapa menit kemudian Issa sampai di parkiran fakultas Asa, beberapa mahasiswa terutama perempuan melihat ke arah Issa kagum, lebih ke tidak percaya kalau akan melihat seorang seleb di parkiran kampus. Issa duduk di motornya setelah melepaskan helm, mengecek ponselnya kembali tapi belum ada jawaban dari Asa. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Asa terlihat keluar dari dalam fakultasnya bersama beberapa teman-temannya membicarakan hal yang Issa tidak dengar tapi Asa sesekali tertawa.


“Asa!.” Sebuah panggilan dari Issa yang membuat semua orang melihat ke arah Issa termasuk Asa yang juga menoleh ke arahnya.


Asa yang menolak pernyataan temannya perihal Issa yang mencarinya ke kampus beberapa hari yang lalu menjadi terjelaskan saat melihat Issa berada di parkiran dan memanggil Asa sambil tersenyum.