
Setelah melihat berita mengenai Issa, Asa sudah tidak lagi membalas pesan dari Issa bahkan kontak Issa di blok. Alasan Asa melakukan hal itu adalah untuk menghindari masalah, Asa tidak ingin berada di antara satu hubungan yang bahkan sangat di senangi oleh public. Asa memang sangat lucu, dia suka tertawa atau memberikan jokes-jokes lucu kalau lagi berkumpul dengan teman-temannya, tapi dalam hidupnya sebisa mungkin dia tidak ingin ada masalah yang membebankan fikirannya, sudah cukup keluarga saja yang menjadi beban fikirannya, dia tidak ingin hal yang bahkan tidak penting menambah beban hidupnya.
Asa menuruni tangga menuju ke lantai satu untuk mengambil makanan ringan sebagai teman menonton drama korea. Awalnya dirumah itu tidak ada pembantu rumah tangga, namun kemudian mempekerjakan pembantu rumah tangga karena kedepannya kedua orang tua Asa akan jarang pulang kerumah, selain menghindari pertengkaran juga karena pekerjaan yang cukup banyak mendekati akhir tahun.
“non Asa mau makan?.” Tanya pembantu dirumah Asa yang umurnya sekitar 27 tahunan, berjarak sekitar 7 tahun dengan Asa, dia berasal dari luar kota dan berniat memang untuk merantau mencari pekerjaan, namanya Aila Anna. Keluarga Asa mendapatkan pembantu rumah tangga melalui agen yang sudah terpercaya dalam hal ini, cukup muda karena memang dia orang baru yang kebetulan khusus mengurus rumah, dari memasak, bersih-bersih, mencuci, dll. Bukan yang mengurus orang tua, orang sakit, ataupun bayi. Jadi dapatnya yang masih cukup muda dan setelah satu hari bekerja, Asa puas dengan hasil kerjanya yang rapi dan makanan yang di masak pun enak.
“engga, mau ngambil makanan ringan sama minuman doang kok, mba. Eh nanti kalau ada yang cari Asa kerumah bilang aja Asa nya ngga ada ya.”
“ehh tapi kenapa non?.”
“pokoknya bilang aja ngga ada mba.”
“oke non Asa.”
Asa kembali menuju ke kamarnya melanjutkan menonton drama korea sambil memakan makanan yang dia bawa dari dapur. Benar yang Asa duga kalau Issa mendatangi rumahnya, saat bel rumahnya berbunyi dan mba Aila tidak kunjung membukakan pintu mungkin membersihkan halaman belakang jadi lama bukanya. Asa melihat dari jendela di kamarnya, mengintip dari celah gorden kamarnya, terlihat wajah Issa yang sangat panic.
Hingga mba Aila pun keluar berbicang dengan Issa, setelah itu Issa pergi. Asa kembali duduk di depan meja belajarnya sambil melihat ponsel, beberapa pesan masuk dari Wendy dan Adinda yang mengajaknya keluar. Mereka berdua pasti tau kalau hari senin dia tidak ada kelas jadi mengajak keluar, tapi Asa benar-benar malas untuk keluar rumah.
Sebuah DM masuk dari Issa, Issa mengatakan kalau dia ingin bicara dengan Asa hanya sebentar. Issa juga mengatakan kalau dia sudah menunggu di kampus Asa tapi kata teman Asa yang kebetulan tanpa sengaja bertemu disana mengatakan pada Issa kalau tidak ada kelas hari ini. Mobil Issa kembali datang kerumah Asa, pria itu keluar dari mobilnya, tanpa memencet bel tapi terus melihat kearah kamar Asa yang ada di lantai dua berharap Asa akan keluar menemuinya.
Setelah berfikir panjang, Asa tidak berhak melakukan itu pada Issa jika memang mereka berdua hanya sebatas teman. Asa kembali mengunblok nomor Issa, Asa memutuskan untuk keluar rumah, sempat di tanya mba Aila tapi hanya di jawab singkat oleh Asa.
“kenapa?.” tanya Asa di balik gerbang rumahnya yang belum di buka.
“gue ngga ada hubungan sama Gea lagi sa, tolong percaya sama gue.”
“Issa, lebih baaik lo pulang kerumah, gue ngga mau berurusan sama lo, lo ngga mikir apa kedepannnya siapa yang susah. Selesai in semuanya lebih dahulu jangan buat skandal baru.” Ucap Asa tegas, seorang Asa yang selalu tersenyum sekarang terlihat sangat dingin dan tidak bersahabat sama sekali.
“gue ngerasa udah selesai sama Gea, tapi gue bakal selesaian secara terbuka hubungan gue sama Gea. Tapi gue pasti kejar lo lagi sa, jadi tunggu.” Ucap Issa kemudian meninggalkan rumah Asa.
Asa hanya menghembuskan nafasnya heran, dia tidak tau maksud dan keinginan Issa seperti apa terhadapnya, padahal Asa hanya ingin hidupnya tenang tanpa ada masalah lagi dari luar.
Belum juga masuk kedalam rumah, Wendy dan Adinda datang kerumah Asa. Mereka berdua dengan wajah gembira membawa dua kantong plastic berisi makanan, sebelumnya Wendy dan Adinda mengajaknya untuk jalan-jalan tapi Asa menolak, malah mereka datang kerumah. Alhasil disinilah sekarang di belakang rumah Asa, didepan kolam renang dengan banyak makanan sambil cerita-cerita, Wendy paling banyak cerita karena dia lagi LDR dengan pacarnya dan banyak hal yang membuat Wendy kesal dan butuh pelampiasan, yaitu dengan cara bercerita.
“gue sebell banget sama Dio, dia ngga ngerti banget masa baru juga jam 9 malam udah tidur coba, gila aja.” Ucap Wendy kesal
“ya elah wen, lagian kan Dio kerja.” Jawab Adinda yang mendapat anggukan dari Asa.
“dihh jangan nuduh gitu dong, ngga boleh tau.” Ucap Adinda
“bisa aja Dio habis dikejar anjing jadi capek.” Lanjut Asa yang mendapatkan tatapan kesal dari kedua temannya karena tidak bisa diajak serius.
“mending bahas lo deh sa, jadi hubungan lo sama Issa gimana sih, kayaknya gue tadi liat mobil Issa deh.”
“ngga ada apa-apa, hanya teman.”
“ngapain teman harus kesini jauh-jauh, pasti Issa mau jelasin soal Gea kan?.” Adinda mulai bicara dengan kesal, karena itu menyangkut sahabatnya, jadi walaupun dia suka Issa tapi pasti lebih sayang sahabatnya sendiri.
“tapi gue yakin banget Issa anak baik ngga mungkin kayak gitu, apalagi mau sama mantannya lagi. Gea nya aja yang masih kegatelan jadi cewek, udah putus juga.”
“apaan sih kalian, gue udah jelasin ya kalo gue sama Issa itu hanya temen, kalaupun Issa mau jelasin hubungannya sama Gea juga ngga akan ngaruh ke gue.” Jelas Asa
“ASAAAA, ISSA ITU SUKA SAMA LO.” Ucap Wendy dengan lantang.
“iya gue denger kok ngga perlu teriak, tapi kan lo bukan Issa, siapa tau emang dia fakboi kan semua cewek di gituin.”
“PLEASE DEH SA, kalo bahas soal rasa suka Issa ke lo, gue setuju banget sama Wendy, kelihatan banget kalo ISSA SUKA SAMA LO, ASAAAA.”
“iya-iya terus gue harus gimana.”
“lo suka ngga sih sama Issa?.”
Dengan santai Asa menggeleng, bahkan wajahnya nampak polos menjawab tidak. seorang Issa yang sangat tampan dan baik juga populer tapi tidak bisa membuat Asa suka sama dia, padahal Issa sudah sangat sweet pasa Asa.
“duh serius lo? Buat gue aja kalo gitu.”
“gue laporin Dio mampus lo.”
“habis nya kasihan Issa anak baik cintanya bertepuk sebelah tangan oleh sahabat gue sendiri, so sad.”
Asa terdiam, tapi memang dia tidak ada rasa dengan Issa sedikitpun, hanya saja Asa merasa kalau Issa sangat baik dan perhatian padanya, hanya itu tidak lebih maupun tidak kurang. Tapi dia tidak bisa memprediksi bagaimana perasaannya nanti.