Issa Asa

Issa Asa
Song 3.7




Layar ponsel Asa menunjukkan wajah tampan Issa yang baru saja mandi dengan rambutnya yang masih basah, Issa tersenyum manis pada Asa begitu pula Asa yang membalas senyuman Issa. Asa tengah duduk di kursi kerjanya saat melakukan video call dengan Issa, sedangkan Issa duduk di ranjangnya.


“Issa, ada yang ingin aku katakan padamu.” Ucap Asa yang menarik perhatian Issa, karena tidak biasanya juga Asa melakukan panggilan video dengannya, biasanya hanya telepon biasa atau hanya chatting saja.


“apa? Apakah hal serius? Aku akan mempersiapkan terlebih dahulu.”


“Issa... ini serius.”


“apa?.” Issa kembali bertanya, namun hatinya sangat takut.


“aku mau kita putus.”


“apa? Aku nggak salah denger kan? Kayaknya sinyalku error deh.” Ucap Issa berusaha menyangkal apa yang dia dengar dari Asa, pasalnya mereka berdua tidak pernah bertengkar sama sekali, karena memang tidak ada masalah apapun antara keduanya dan hubungan mereka.


“Issa, aku mau kita putus.”


“kamu nggak lagi bercanda kan sa? Kita belum satu bulan loh, gimana kalo aku kesana aja, kita bicarakan baik-baik ok.”


“Issa please, hubungan kita nggak akan bisa sampai akhir dan aku nggak mau berhubungan di hubungan seperti ini, aku tidak mau menunda sakit hati.”


“Do you love me?.” Tanya Issa yang membuat Asa terdiam.


“jika aku mengatakan yes, apa semua akan berjalan sesuai dengan apa yang aku mau? Kenyataan tidak mengijinkan jadi lebih baik aku menghindarinya lebih awal. Aku tidak mau kita berdua sakit hati saat benar-benar berpisah nantinya.”


“tapi-.”


“tolong sa, kita permudah semuanya.” Ucap Asa untuk terakhir kalinya saat mereka akhirnya putus.


Malam itu Issa benar-benar tidak bisa berpikir jernih, kepala dan hatinya sama-sama merasa sakit yang sangat besar. Dia menghubungi Haikal, tidak ada jawaban karena kemungkinan Haikal acara keluarga kalau weekend, Issa pun memutuskan untuk keluar ke club malam sendirian. Katakanlah dia pria yang cengeng hanya karena diputuskan oleh pacarnya, nyatanya memang Issa sangat cengeng soal itu.


Motor Issa berhenti di parkiran club malam, tanpa berfikir lebih panjang Issa masuk kedalam club setelah menunjukkan kartu namanya. Dia duduk di meja bar memesan satu botol wiski, banyak wanita yang berusaha menggoda nya tapi Issa mengabaikan mereka semua, di kepalanya hanya ada Asa, tidak ada yang lain. Perjuangannya mendapatkan Asa sangat sulit, saat Asa memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dengan alasan sepele, membuat Issa sangat tidak terima.


“Issa, ngapain lo disini sendirian?.” Gea dan teman-teman nya datang, mereka juga tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Issa yang notabe nya hampir tidak pernah ke klub sebelumnya.


“pergi sana, gue mau sendiri.” Ucap Issa kesal.


Gea pun memutuskan untuk menghubungi Bagas perihal Issa yang berada di klub saat ini. Tidak membutuhkan waktu yang lama tapi Issa telah habis satu botol, Bagas datang ke club tersebut menghampiri Gea yang terus memperhatikan Issa, takutnya Issa dibawa orang asing yang jahat padanya.


“mana?.” Tanya Bagas pada Gea.


“itu.” Gea menunjuk Issa yang tengah minum sendirian.


Bagas pun menghampiri Issa dan duduk di sebelahnya.


“lo ngapain sih disini?.” Tanya Bagas sambil merebut gelas wiski yang ada di tangan Issa. Issa pun melihat ke sebelah dan menemukan Bagas disana.


“lo juga ngapain disini?.” Tanya Issa setengah mabuk.


“minta minum ke lo, ada masalah?.” Tanya Bagas.


“Asa putusin gue gas, gue nggak tau harus gimana lagi sekarang.” Ucap Issa putus asa.


Bagas sendiri terkejut saat mendengar Issa mengatakan kalau Asa mengakhiri hubungan mereka, kalau Bagas di posisi Issa juga akan melakukan hal yang sama.


“lo udah tanya alasannya kenapa?.” Tanya Bagas.


“dia bilang hubungan gue sama dia akhirnya akan sama, kita akan putus, kalau tidak di akhiri sekarang rasanya akan lebih sakit nantinya.” Jelas Issa, Bagas setuju dengan apa yang Asa katakan tapi kenapa Asa bisa mengatakan kalau akhirnya akan tetap sama.


“lo dijodohin?.” Tanya Bagas.


Issa mengangguk, sekarang Bagas tau dan menyadari bahwa menjadi dirinya sendiri lebih baik, dulu dia sering iri dengan Issa, selain karir nya bagus dan tampangnya yang tampan, dia juga anak orang kaya. Hidupnya seakan tidak pernah kekurangan sama sekali, tapi hari ini dia senang menjadi dirinya sendiri bisa memilih jalan hidup dan pasangannya sendiri.


Bagas menyentuh pundak Issa, “kita selesaikan satu persatu, jangan menyerah, gue yakin Asa masih suka sama lo, ini hanya pilihan tengah antara kalian berdua.” Ucap Bagas menenangkan.


Saat melihat Issa yang sudah teler, Bagas mengantarkan Issa pulang kerumahnya, tak lupa juga dia menghubungi Alin, adik Issa untuk besok mengunjungi Issa karena Issa malam ini sangat mabuk, pasti kepalanya akan sangat sakit saat bangun besok.


Pagi itu Alin datang dengan Fahira, ibunya. Mengunjungi Issa dirumahnya, Fahira masuk kedalam kamar Issa, menyentuh kepala Issa yang sedikit hangat.


“Issa.” Panggil Fahira lirih yang membuat Issa membuka matanya.


“mama ngapain disini?.” Tanya Issa bingung sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


“mama yang seharusnya bertanya, kamu habis ngapain? Ada masalah?.”


“nggak papa kok ma.” Jawab Issa berbohong.


“nggak mungkin kalau tidak apa-apa kamu sampai mabuk berat, untung Bagas nganterin kamu pulang. Cerita ke mama ada apa.”


“Issa baru saja putus dengan Asa, tapi Issa nggak papa ma.” Ucap Issa.


Fahira mengusap lembut punggung tangan putranya sambil merasa sangat kasihan “mama akan bicara ke papa soal perjodohan bisa dibatalkan.”


“nggak papa kok ma, lanjutin aja lagian Asa juga nggak akan sama Issa lagi.” Jawab Issa pasrah.


Fahira mengusap lembut rambut Issa kemudian keluar dari kamar Issa untuk mengambilkan makanan, Alin berada di dapur menyiapkan makanan untuk kakaknya.


“gimana kakak ma?.” Tanya Alin.


“udah bangun, biar mama bawakan kesana ya, kamu beresin dapur.”


“iya ma.”


Sedangkan Issa masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci mukanya dan membersihkan badannya yang sangat bau alkohol. Setelah mengganti pakaian baru, Issa kembali masuk kedalam kamar saat melihat ibunya yang tengah duduk di kursi meja belajarnya dengan membawa nampan berisi bubur.


“makan dulu, biar pengar nya hilang.” Ucap Fahira.


“kenapa mama repot-repot, padahal Issa nggak papa ma.”


“maafkan mama ya nak.” Ucap Fahira  menyesal.


“bukan salah mama kok, bukan salah siapa-siapa juga.”


Lain sisi, Asa yang tengah menyiapkan perlengkapan kuliahnya mendapatkan banyak pesan dari Wendy yang mengatakan kalau Issa semalam mabuk-mabukan, dan keadaan nya sangat buruk.


[WENDY]       : lo apain Issa? Dia parah banget semalam kata Julian.


[ASA]                : kenapa?


[WENDY]       : Issa mabuk-mabukan, dia pulang sama Bagas, untung Bagas dateng.


[ASA]                : gue putus sama Issa.


Bukan hanya Issa yang merasa tersakiti, tapi juga Asa, mungkin perbedaannya Asa tidak bisa mengekspresikan rasa sakitnya, jadi dia hanya diam di dalam kamar tanpa melakukan apapun selain bengong.