Issa Asa

Issa Asa
Song 2.1




Asa melihat ponselnya yang masih belum ada jawaban dari Issa, ia pun memutuskan untuk menggunakan jasa ojek online karena sudah menunjukkan jam 8 pagi, Asa pergi ke kampusnya untuk mengumpulkan Essay karena besok dan sekitar dua bulan kedepan dia sudah libur semester.


Setelah mengumpulkan Essay, Asa dan beberapa teman-teman wanitanya keluar dari gedung, awalnya berniat untuk makan di kantin tapi tidak jadi karena kantin sudah tutup. Saat keluar dari gedung suara yang sangat ia kenali memanggil namanya.


“Asa!.” Teriakan Issa dari parkiran yang membuat semua melihat ke arah Asa dan Issa, Issa melemparkan senyuman manis pada Asa yang nampak tidak nyaman karena teman-teman Asa mulai menatap Asa penasaran.


“gue duluan ya.” Ucap Asa berpamitan pada teman-temannya menuju kearah Issa yang sudah menunggunya di parkiran kampus.


“sorry ya, gue lupa kalo ada janji nganterin lo ke kampus hari ini.” Ucap Issa dengan sangat tulus, bahkan dia juga mengeluarkan sebuah coklat dari saku jaketnya dan memberikan pada Asa “permintaan maaf.” lanjut Issa sambil menyodorkan coklat.


“thanks.” Asa mengambil coklatnya dari tangan Issa “nggak papa kok soal itu, lagian kan ada ojek online yang bisa nganterin juga, jam 8 juga masih terlalu pagi apalagi lo semalam ada acara keluarga kan.”


“tetep aja gue udah janji ke lo sebelumnya.”


“gimana kalo makan sebagai gantinya, gue belum makan dari pagi.”


“siap.” Issa mengambil helm Asa dan memakaikan di kepala Asa, kemudian memakai helm nya sendiri. Teman-teman Asa yang masih berdiri di depan gedung kampus melihat kearah Asa iri, bukan soal Asa yang dekat dengan Issa saja tapi juga perhatian Issa pada Asa membuatnya sangat iri melihat itu semua.


Asa naik ke atas motor Issa, mereka berdua meninggalkan area kampus menuju ke tempat makan favorit Issa. Tempat makan favorit Issa itu cukup banyak dan tidak semuanya pernah ia kunjungi dengan Gea, mengingat dia dulu yang super sibuk dan tidak pernah ada waktu hanya untuk bertemu saja dengan Gea.


Saat berada di motor, Asa mendengar ponsel Issa yang bergetar di saku celananya.


“sa, hp lo bunyi deh kayaknya.” Ucap Asa.


“tunggu.” Issa meminggirkan motornya di pinggir jalan kemudian mengecek ponselnya, panggilan dari Bagas.


“halo, kenapa? gue lagi di jalan sama Asa, kenapa? sekarang banget? Gue mau makan soalnya. Tunggu.” Issa menoleh ke arah Asa “sa, makan sama temen-temen gue mau nggak?.” Tanya Issa pada Asa.


“emm iya nggak papa kok.”


“bener?.”


“iya bener.” Jawab Asa santai.


Issa kembali bicara dengan ponselnya “oke gue kesana sekarang. Btw gue sama Asa. Oke otw.” Issa mematikan panggilan tersebut dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Issa melajukan motornya menuju ke lokasi yang Bagas kirimkan, mereka teman-teman Issa memang sering berkumpul disana, sebenarnya itu café tapi juga ada makanan. Bukan café 123, café lain yang lokasinya cukup jauh tapi dekat dengan SMA Issa dulu. Namanya HiGee Café, yang membuka café tersebut adalah alumni SMA Issa juga, mungkin alumni yang sudah lulus 3 atau 4 tahun diatas Issa dan teman-temannya.


Motor Issa sampai di parkiran, selalu setiap Asa ingin melepaskan helmnya sendiri, tangan Issa lebih dahulu melepaskan helm yang Asa pakai dari kepala Asa. Padahal sama sekali Asa tidak menginginkan itu, baginya Issa terlalu sempurna untuk dia yang sangat cuek perihal pasangan, walaupun Asa memiliki sifat yang sangat ceria dan sering tertawa receh.


“makasih.”


“sama-sama.”


Mereka membuka pintu yang terbuat dari kaca tersebut, dengan Asa yang berjalan dibelakang Issa. Baru masuk Issa sudah disambut teman-temannya, tapi juga ada Gea disana yang bahkan Bagas tidak mengatakan hal itu sebelumnya. Issa pun melihat Asa, menggandeng tangan wanita itu dan pergi ke tempat order lebih dahulu.


“lo nggak papa ada Gea?.” Tanya Issa penasaran dengan wajah Asa yang sama sekali tidak menunjukkan keberatan sama sekali.


“nggak papa kok.” Jawab Asa dengan wajah yang seperti biasanya, senyuman dan selalu bahagia.


Issa mengusap kepala Asa gemas, entah kenapa tangan Issa gatal ingin melakukannya hingga membuat Asa kebingungan.


“hahaha lo mau makan apa? gue yang traktir hari ini.” Ucap Issa.


“biasanya juga lo yang traktir.” Asa mengambil buku menu dan memilih makanan yang ia ingin makan beserta minumannya “emm gue mau americano sama makannya spaghetti aja, tambah air putih.” Ucap Asa pada Issa.


“Wait, mas Spaghetti nya 2, Americano 1, cappuccino 1, tambah air putih ya.”


“udah itu aja.”


“totalnya 110.000.”


Issa mengeluarkan kartu debit nya dan memberikan pada penjaga kasir.


“waah mahal ya.” Bisik Asa yang membuat Issa tertawa, apalagi melihat wajah Asa yang nampak terkejut tapi menggemaskan.


Issa menerima kembali kartunya, struk pembayaran, juga nomor meja. Asa dan Issa berjalan menuju ke meja tempat teman-temannya duduk, walaupun Asa sama sekali tidak mengenal teman-teman Issa tapi dia bersikap santai tapi tetap sopan, menyapa mereka dan duduk di sebelah Issa.


“gitu dong bawa pacar juga.” Ucap Julian sambil tersenyum pada Asa.


“bukan pacar.” Jawab Asa tersenyum.


“belum maksudnya.” Ralat Issa.


“di segera in aja.” Bagas ikut nimbrung.


“paling juga nggak jadian.” Ucap Gea ketus, tapi sama sekali tidak merubah raut ceria dari wajah Asa, dia masih dengan senyumannya.


“jaga tuh mulut.” Haikal yang sering diam ikut membantah ucapan Gea karena tidak suka mendengarnya.


“udah-udah, kita kumpul itu mau bahas soal champ yang sudah direncanakan sejak 1 bulan yang lalu.” Ucap Bagas yang mulai membuka perbincangan utama mereka hari ini.


“yes betul!, gue ada beberapa rekomendasi tempat yang bagus banget buat camp.” Julian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa lokasi yang cukup indah apalagi yang lokasinya berada di Bandung.


“bagus tuh tempatnya.” Ucap Issa menunjuk lokasi yang di Bandung.


“kalo di Bandung kenapa nggak sekalian sewa villa aja, lokasi itu jarang buat camp.” Ucap Asa yang ikut berbicara “sorry, gue Cuma ngasih tau apa yang gue tau aja, hehehe.”


“bener kata Asa, gue barusan liat juga tempatnya bagus tapi ngga cocok buat camp.” Bagas ikut berbincang membenarkan ucapan Asa.


“ya udah ganti aja sewa villa, kayaknya lebih enak.” Usul Haikal.


“tapi villa disana agak mahal, uang kita kayaknya bakal habis buat sewa villa doang.” Ucap Julian yang menyayangkan.


“kalo mau, gue ada kenalan, villa nya masih cukup bagus, ntar soal berapa biar gue nego in.” Asa kembali tersenyum setelah melontarkan suara.


“kayaknya lo niat promosi ya.” Ucap Gea curiga sekaligus kesal dengan Asa.


“ngga sih.” Jawab Asa santai “kan kalo mau aja.” Lanjut Asa.


“bisa tolong tanyain ngga?.” Tanya Haikal.


“bentar.” Asa mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan pada seseorang, kemudian panggilan masuk ke ponselnya. “bentar ya.” Asa beranjak dari tempat duduknya sedikit menjauh dari meja untuk menerima telepon masuk.


“kayaknya dia Cuma ambil untung deh.” Ucap Gea


“liat harganya, harusnya villa kita tau harganya berapa, misal harganya dibawah rata-rata ya berarti nggak ambil untung.” Jawab Julian. Sedangkan Issa terus melihat Asa yang tengah berbincang dengan seseorang di telepon, bahkan Ada juga sesekali tertawa dan tersenyum.


“menurut kalian siapa yang di telpon Asa?.” Tanya Issa


“laahh kocak lo, Asa kan gebetan lo, mana kita tau.” Jawab Bagas sambil tertawa.