
INI YG KETIGA.. TRAP HOT BILLIONAIRE di rumah sebelah juga di rumah fizzz zozo... ini ceritanya Kingson Romanov anaknya Elouise n Damien yaakk ..
Ceritanya ga kalah seru n gregetan..
CUPLIKAN BAB 14-15
"Kapan aku bisa pulang?" tanya Rexa pada King.
"Dokter mengatakan mungkin besok atau besok lusa. Semua tergantung kondisimu," sahut King.
Rexa melihat ke arah King yang tampak terlihat bersikap kaku padanya.
"Apa ada yang kau butuhkan?" tanya King.
"Tidak, kita suami istri tapi aku merasa kita tak seperti itu. Apakah karena aku terlalu lama mengalami koma?" tanya Rexa.
King melihat ke arah Rexa dan menatap mata birunya yang lembut.
"Maaf, aku hanya sedikit terkejut dengan yang terjadi hari ini. Aku akan memberi tahu mommy tentang hal ini," jawab King.
"Mommy? Mommy-mu? Aku lupa dengan sosok ibumu. Apakah aku melupakannya?" tanya Rexa mengerutkan keningnya.
"Ya, mungkin kau melupakannya. Dia sempat menjagamu ketika kau koma," jawab King dan mengambil ponselnya.
"Aku akan meneleponnya di luar agar tak mengganggu istrirahatmu," ucap King.
"Tak perlu. Aku juga ingin berbicara dengannya untuk mengucapkan terima kasihku padanya," jawab Rexa.
King lalu mengirim pesan pada sang mommy tentang keadaan Rexa termasuk perannya sebagai suami pura-pura-nya.
Lalu setelah itu, El menelepon King dan pria itu langsung mengangkatnya.
"Halo, Mom," ucap King.
"Dia sudah bangun, King. Ya Tuhan, syukurlah. Ini suatu keajaiban, King. Berikan ponselmu padanya," sahut El dengan senang.
Lalu King memberikan ponselnya pada Rexa dan wanita cantik itu menerimanya.
"Halo," ucap Rexa.
"Halo, Sayang. Bagaimana keadaanmu?" tanya El dengan penuh kelembutan.
"Mommy? Maaf aku melupakanmu. Tapi aku akan tetap memanggil mommy," jawab Rexa pelan sembari tersenyum.
"Ya, Sayang. Itu tak masalah. Mommy akan mengunjungimu bulan depan karena daddy masih sedikit sibuk di Rusia," ucap El.
El yang tahu tentang keadaan Rexa pun hanya mengikuti alur sandiwara ini. Dia berharap ini akan berakhir dengan baik nantinya dan tak ada permusuhan lagi di antara King dan Rexa.
Setelah cukup lama berbincang, Rexa pun menutup sambungan teleponnya dan memberikan ponsel itu pada King lagi.
"Aku ingin ke kamar mandi, King," ucap Rexa yang kateter-nya sudah dilepas sejak tadi.
King tampak terpaku dan tak segera beranjak dari kursinya.
"King ..." panggil Rexa lagi.
"Ya, sebentar aku akan memanggilkan perawat," ucap King.
"Mengapa harus perawat? Kau jijik padaku?" tanya Rexa.
"Bukan begitu, aku tak terbiasa melakukan hal itu dan biasanya perawat yang melakukannya," ucap King dan langsung keluar memanggil perawat.
Rexa hanya menatap kepergian King dengan mata tajamnya dan mencebik.
Tak lama kemudian, perawat datang sendirian tanpa bersama King.
"Di mana suamiku?" tanya Rexa.
"Dia sedang menyelesaikan urusan administrasi anda. Besok pagi anda sudah boleh pulang," jawab perawat itu.
Rexa hanya mengangguk dan perawat membantu Rexa untuk buang air kecil di atas ranjang karena Rexa masih belum bisa turun dari ranjang.
Sebenarnya dokter tak memberi izin untuk membuka kateternya, tetapi Rexa tak nyaman memakainya dan dia memaksa untuk membukanya.
Cukup lama King meninggalkan Rexa hingga akhirnya wanita cantik itu pun kembali tertidur karena pengaruh obat yang dikonsumsinya.
King masuk ke dalam ketika Rexa sudah tertidur dan King memang sengaja melakukan hal itu agar dia tak terlalu banyak berinteraksi dengan Rexa.
Dia masih bingung dengan sikapnya pada Rexa nanti. King memang paling tak bisa berpura-pura, apalagi ini berperan sebagai suami istri.
King melihat wajah Rexa yang tertidur pulas dan wajah cantik itu seakan terlihat sangat lugu dan tak tahu menahu apapun tentang kerasnya hidup yang mungkin pernah dijalaninya di masa lalu.
Besok pagi Rexa sudah diperbolehkan pulang dan itu akan menjadi sebuah ujian berat bagi King karena Rexa pasti akan bergantung padanya.
Mau tidak mau, King pun terpaksa melakukan hal ini apalagi sang mommy sudah meng-ultimatum-nya untuk menjaga Rexa dengan baik sampai kesehatannya benar-benar pulih.
Malam hari menjelang, Rexa baru terbangun dan perawat sudah mengantarkan makan malamnya.
"Aku tak enak makan," ucap Rexa dan tak menatap wajah King.
"Kau harus makan untuk meminum obatmu," sahut King.
Rexa melihat ke arah King. "Mengapa kau begitu dingin padaku, King? Apakah hubungan kita sebelumnya tidak baik-baik saja?" tanya Rexa.
King terdiam dan kemudian menghampiri Rexa lalu mencium keningnya.
"Sorry, ayo makanlah," ucap King dan itu cukup membuat Rexa tersenyum.
"Baiklah, sedikit saja," sahut Rexa.
King pun menyuapi Rexa dengan perlahan. Rexa mengamati wajah tampan King dan kemudian memegang pipinya.
"Terima kasih. Maaf, karena merepotkanmu," ucap Rexa.
"It's okey," sahut King dan kembali menyuapi Rexa lagi.
"Di mana ponselku, King?" tanya Rexa.
"Hilang. Nanti aku akan membelikannya yang baru," jawab King berbohong karena ponsel itu sudah dimusnahkan oleh King agar keberadaan Rexa tak bisa dilacak oleh Simone atau siapa pun yang sedang mengincarnya.
Rexa hanya mengangguk dan mengunyah makanannya dengan pelan.
*
*
Pagi menjelang ...
Rexa pun di perbolehkan pulang dan mereka langsung menuju ke mansion Rexa. Karena sudah pernah ke mansion King, jadi Rexa mengenal mansion itu.
King mendudukkan Rexa di kursi roda karena Rexa belum terlalu lancar berjalan.
"Kau ingin istirahat di kamar?" tanya King sambil mendorong kursi roda yang dipakai Rexa.
"Ya," jawab Rexa.
Pengaruh obat masih sering membuat Rexa pusing dan mengantuk. Sesampainya di kamar utama, King mengangkat tubuh Rexa dan merebahkannya ke ranjang.
"Kau tak bekerja, King? Pergilah, aku bisa bersama pelayan," ucap Rexa karena dia merasa King masih canggung terhadapnya.
"Tidak, tidurlah. Aku akan bekerja di sini sambil mengawasimu," jawab King.
Rexa mengangguk dan menutup matanya karena sudah terasa berat.
King mengambil laptopnya dan membawanya di meja soda yang ada pas di samping ranjang.
Setengah jam kemudian, Rexa tampak gelisah dalam tidurnya. Keningnya berkeringat dan dia mengigau pelan.
King yang mendengar hal itu langsung menghampirinya dan duduk di tepi ranjang.
King mengusap-usap pipi Rexa agar terbangun.
"Hei ... Ada apa? Tenanglah," bisik King di telinga Rexa.
Tiba-tiba Rexa membuka matanya dan mengambil nafas kuat-kuat hingga terdengar suara yang cukup keras.
King menangkup pipi Rexa dan melihat ketakutan di matanya.
"Ada apa? Kau aman bersamaku di sini," lirihnya dengan wajah yang hanya berjarak 10 cm saja dengan wajah Rexa.
"Tidak, aku hanya bermimpi buruk saja," ucap Rexa pelan dan kemudian dia membalikkan tubuhnya untuk menghindari bertatapan dengan Blue.
Lalu King mengusap lengannya dan Rexa masih terpaku melihat ke arah yang berlawanan dengan King.
"Siapa yang menembakku, King? Apakah kau sudah menemukan pelakunya?" tanya Rexa akhirnya.
"Mereka memakai identitas palsu dan mereka hanya orang suruhan saja," jawab King.
"Tak usah mencari tahu tentang mereka lagi dan siapa dalang di balik itu semua," ucap Rexa yang membuat King bingung.
"Why? Ada yang mengincarmu, ya kan?" tanya King.
"Itu hanya persaingan di industri modelling saja. Bukan sesuatu yang serius," jawab Rexa.
"Mereka ingin kau mati dan kau bilang itu bukan sesuatu yang serius?" tanya King.
"Jangan membicarakan hal ini lagi. Bukankah sekarang aku sudah aman karena kita sudah menikah?" ucap Rexa.
"Hmm," jawab King singkat.
"Apa yang kau ingat tentang pernikahan kita, Rexa?" tanya King penasaran.
Rexa terdiam lama dan King seakan masih menunggu jawaban Rexa.
"Aku hanya mengingat kau menikahiku. Itu saja yang ku ingat. Tapi sebelumnya, aku tahu bahwa kita tak akur," ucap Rexa akhirnya.
Lalu Rexa menutup kepalanya dengan bantal.
"Aku ingin tidur lagi," kata Rexa.
Lalu King pun beranjak dari tepi ranjang dan kembali duduk di kursi sofa.
King tak langsung melanjutkan pekerjaannya dan dia masih menatap punggung Rexa.
Menurutnya, Rexa masih penuh teka-teki dan itu justru membuat dia ingin menguak teka-teki asal-usal Rexa.
King akan menyelidiki siapa Rexa sesungguhnya dan siapa yang ingin mencelakakannya.
*
*
"Aku ingin mandi," ucap Rexa tiba-tiba setelah mereka menyelesaikan makan siangnya.
King melihat ke arah Rexa.
"Sudah lama aku tak berendam di bath tub dan aku ingin melakukannya," lanjut Rexa.
"King ..." Panggil Rexa ketika King belum merespon keinginannya.
"Aku ingin ditemani olehmu dan bukan pelayan," ucap Rexa.
King melihat ke arah Rexa dan Rexa hanya memandangnya dengan datar.
"Aku tak ingin pelayan melihat tubuhku," kata Rexa pelan.
"Luka itu tak terlihat," sahut King yang tahu tentang luka di punggungnya.
Rexa melihat ke arah King dan menatapnya. Entah apa yang sedang di pikirkannya sekarang.
Lalu King akhirnya mengikuti kemauan Rexa. Dia menggendong Rexa ke kamar mandi. Rexa sudah bisa berdiri tapi untuk berjalan dia masih sedikit kesulitan.
King yakin bahwa dia pasti bisa melakukan hal ini meskipun harus melihat tubuh polos Rexa.
King mendudukkan Rexa di atas meja marmer yang ada di kamar mandi.
Perlahan dia membuka kancing piyama sutra yang dipakai oleh Rexa. Tangannya sedikit menyenggol dada Rexa dan dia tahu bahwa Rexa tak memakai bra sejak pulang dari rumah sakit.
King bahkan menahan nafasnya dan tetap membuka kancing itu sampai tuntas.
Rexa hanya mengamati reaksi wajah King ketika melakukan hal itu dan King terlihat biasa saja.
Lalu King membuka piyama itu dengan pelann dan kini di depannya terlihat dada mengkal Rexa yang ukurannya cukup besar.
Pria mana pun yang memandangnya pasti akan tergoda untuk menyentuhnya termasuk King.
Pantas saja Rexa menjadi model sexy, dadanya sangat masuk standar dada sexy yang diinginkan oleh semua wanita.
"Kau tak rindu menyentuhku, King?" tanya Rexa dengan gamblangnya karena di sini peran King adalah sebagai suaminya.
King melihat ke arah mata biru Rexa.
"Kau masih sakit dan aku tak ingin memaksamu melakukan hal itu," jawab King berusaha tenang meskipun fokusnya hampir terpecah dengan pemandangan vulgar di depan matanya.
Lalu King mengangkat tubuh Rexa dan membuatnya berdiri dan bersandar di meja. Hal itu membuat dada Rexa sedikit bergerak dan menyentuh dada King.
'Oh my God ... Dia bukan istrimu, King. Bertahanlah,' batin King.
Lalu dengan perlahan juga King membuka celana piyama Rexa. King menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan seakan dihadapkan dengan ujian terberat dalam hidupnya.
King melihat paha putih Rexa yang mulus. ****** ***** putihnya pun mencetak jelas apa yang ada di baliknya.
King berlutut dan melihat bekas luka di perut Rexa itu lalu memegang bekas luka yang pernah dilihatnya sebelumnya itu.
"Kau belum pernah menceritakan hal ini padaku," lirih King yang ingin tahu tentang bekas luka yang cukup panjang itu.
"Luka itu karena kecelakaan. Aku menutupnya dengan make up jika aku melakukan pekerjaanku sebagai model," sahut Rexa.
King mendongakkan kepalanya lalu berdiri kembali.
Kini dia menunduk dan melihat ke arah wajah putih Rexa.
"Aku ingin mandi, King," ucap Rexa karena King tak segera mengangkatnya ke bath tub.
(Hayooo nungguin apaaaa???? wkwkwk ...)
Kemudian King berjalan menuju bathtub dan mengisinya dengan air hangat. Rexa memperhatikan setiap gerakan King sampai akhirnya pria sexy itu menghampiri Rexa lagi.
King kembali melihat pemandangan vulgar itu yang cukup bisa membuatnya terpeleset jika saja dia kehilangan fokusnya.
King menganggap ini hanyalah sebuah tugas yang harus dijalankannya dan bukan kemauannya sendiri seandainya nanti Rexa protes dengan apa yang terjadi hari ini.
Kemudian King menggendong Rexa dan membawanya ke bathtub. King mendudukkan Rexa ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat dan busa sabun yang melimpah.
Mata Rexa tak pernah lepas dari mata tajam King.
"Kau mau ke mana?" tanya Rexa ketika King akan beranjak pergi meninggalkannya.
"Aku akan membiarkan kau menikmati waktu mandimu dengan santai. Nanti jika sudah selesai, kau bisa memanggilku," jawab King.
"Bukankah aku sudah bilang ingin mandi bersamamu? Kau memiliki wanita lain, King? Hingga kau tak tertarik pada istrimu sendiri?" tanya Rexa dengan mata penuh selidik.
"Apakah selama aku koma, kau bermain api dengan wanita lain?" tanya Rexa.
King menghembuskan nafasnya mendengar ucapan Rexa.
"Tidak, kupikir dengan membiarkanmu sendirian itu bisa membuatmu lebih nyaman," jawab King.
"Aku ingin bersamamu," ucap Rexa dan itu benar-benar membuat King sangat bingung apa yang harus dilakukannya.
Dia tak akan bisa berpikir normal jika berada di sebelah wanita telanjaang dengan bentuk yang sempurna pula.
"Baiklah ... Aku tak akan memaksamu. Keluarlah. Aku akan mandi sendirian saja," kata Rexa setelah cukup lama menunggu jawaban King yang tak kunjung terdengar.
Lalu King membuka bajunya dan celana panjangnya lalu bergabung dengan Rexa di dalam bathtub.
Rexa akhirnya tersenyum ketika King memutuskan untuk menemani Rexa berendam.
"Thank you," ucap Rexa lirih dan kemudian memundurkan tubuhnya hingga punggungnya bersandar di dada bidang King.
"Gosok punggungku, King. Bayangkan berapa banyak kotoran yang menumpuk di sana selama aku koma, " ucap Rexa.
King melihat punggung yang masih terlihat mulus itu meskipun Rexa cukup lama terbaring koma. Dan ada sekitar 5 luka sayatan di punggung Rexa yang bekasnya sudah tak terlalu terlihat karena warnanya sudah menyatu dengan warna kulit putih Rexa.
"Apakah ini juga karena kecelakaan?" tanya King sembari memegang bekas luka itu dengan jarinya.
"Hmm, aku jatuh dari jurang," jawab Rexa pelan.
Lalu Rexa membalikkan tubuhnya menghadap ke arah King.
"Apakah aku belum menceritakan hal ini padamu? Karena kau pasti melihatnya ketika kita sedang berhubungan, bukan?" tanya Rexa melihat ke arah King.
"Kita pengantin baru dan hanya melakukannya beberapa kali saja serta di tempat yang gelap," jawab King seadanya.
Rexa memandang heran pada King dan kemudian tersenyum cantik yang menampakkan gigi putihnya yang berjejer sempurna tanpa cela.
"Kiss me," ucap Rexa dan memajukan tubuhnya semakin dekat dengan tubuh King.
"Kau belum menciumku sama sekali sejak aku sadar. Dan ini membuatku berpikiran yang tidak-tidak tentang dirimu," lanjut Rexa dengan suara yang masih pelan dan tenang.
Lama King terdiam dan mereka hanya saling menatap.
"Dan kini aku yakin, kau memang memiliki wanita lain, King," ucap Rexa akhirnya dan memundurkan tubuhnya kembali.
"Aku tak pernah bermain dengan wanita manapun," kata King.
King masih bisa fokus kali ini karena dada dan bagian tubuh bawah Rexa tertutup busa sabun.
"Tapi mengapa kau tak mau menciumku?" tanya Rexa sendu.
"Aku hanya takut tak bisa mengontrol nafsuku. Kau masih sakit dan aku tak mau memaksakan diriku untuk menyentuhmu," kilah King mencari jawaban aman.
Rexa terdiam sebentar lalu tersenyum.
"Baiklah, aku berusaha mengerti hal itu," sahut Rexa dan dia berbalik kembali membelakangi King.
King pun bisa bernafas lega karena sepertinya Rexa cukup mengerti dengan alasannya.
"Gosok punggungku, King. Jika sudah, berlanjut ke kaki dan dadaku," ucap Rexa dengan santainya.
'Ooohh ... Shiiiitt!!' umpat King dalam hati, mendengar perintah Rexa yang tentu saja itu sangat berat baginya.
King masih berusaha tak memanfaatkan situasi ini untuk kepentingannya sendiri dan dia berharap Rexa tak memancingnya lagi. Tetapi justru semakin lama, umpan Rexa semakin sulit ditolaknya.
"Apakah manajerku pernah mengunjungiku kemari?" tanya Rexa lagi.
"Tak ada siapa pun yang boleh mengunjungimu kecuali aku dan keluargaku," jawab King.
Rexa hanya mengangguk saja dan tak menanyakan alasan King melakukan hal itu.
Setelah cukup lama King menggosok punggungnya dengan spon lembut, Rexa kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah King.
Rexa memundurkan tubuhnya dan menaruh kakinya di paha King. King yang tahu kode itu langsung menggosok kaki Rexa dengan perlahan.
Kaki Rexa bahkan hampir menuju ke pangkal paha King.
"Kau sengaja melakukan hal itu?" tanya King melihat gerakan kaki Rexa yang semakin lama semakin naik.
Rexa tertawa pelan. "Aku hanya ingin menggodamu sedikit saja," ucap Rexa dengan suara jenihnya yang selalu terdengar merdu.
King hanya tersenyum tipis mendengar hal itu. Dia berpikir mungkin Rexa memang sangat pintar menggoda seorang pria apalagi pekerjaannya sebagai model sexy dan itu membuat stigma negatif yang melekat pada dirinya.
Dan King berusaha tak ingin menghakimi Rexa dengan stigma buruk itu meskipun pada awalnya dia juga memandang sebelah mata pekerjaan Rexa.
Setelah menggosok kaki mulus Rexa, kini pekerjaan King semakin menantang lagi. Rexa memajukan tubuhnya hingga dadanya hampir saja menyentuh dada King.
Tapi tiba-tiba Rexa mengambil spon dari tangan King. Rexa berbalik dan membersihkan sendiri dadanya menggunakan spon itu.
King akhirnya bernafas cukup lega karena Rexa mengambil alih tugas beratnya itu.
"Aku hanya tak ingin menyiksamu, King. Aku tahu kau cukup tersiksa melakukan hal ini. Tenanglah, mungkin besok lusa kita sudah bisa berhubungan kembali," ucap Rexa dan menoleh ke arah King lalu tersenyum.
'Oh my God ... Siapkan mentalmu, King,' batin King menjerit.
Setelah Rexa menyelesaikan ritual mandi dan berendamnya di bathtub, King membawanya ke bawah shower.
"Maaf, mungkin ini akan sedikit membuatmu kesulitan, King. Dada kita akan bersentuhan," ucap Rexa.
"Aku tak punya pilihan lain," sahut King dan menggendong tubuh Rexa.
Dan benar saja, ternyata ini benar-benar ujian terberat King setelah semua yang dijalaninya tadi.
Tubuh licin King dan Rexa bersentuhan dan dada bulat Rexa menempel tanpa ada penghalang lagi tak seperti tadi.
King menurunkan tubuh Rexa di bawah shower dan dadanya kembali bergesekan dengan dada King. Rexa memegang pinggang King agar tak terjatuh.
King menghidupkan air shower itu dan membuat sabun dari tubuh mereka luruh hingga tubuh mereka mereka kini bersih dari busa sabun.
Rexa mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat wajah tampan King yang basah.
King menunduk dan melihat ke wajah cantik Rexa dengan bibir merahnya yang menggoda.
'Ini baru hari pertama, King. Matilah kau,' batin King sambil melihat ke arah bibir Rexa yang sedikit terbuka.
Semakin lama bibir King semakin mendekati bibir Rexa.
Ya, King sepertinya tak akan bisa menahan godaan yang terlalu frontal ini lagi.
Semakin lama bibir King mulai menyentuh bibir Rexa perlahan.
"Kiss me," bisik Rexa seakan mengundang King untuk memasuki bibirnya.
Rexa menggigit bibir bawah King dengan lembut dan King tak menolak hal itu.
(Eaaakkk ... eaaaakkk.... zabaaarrrr yaakkk ... apa yang akan terjadi selanjutnya?? jangan pada emosi yaakkk... wkwkwk ...) CUSS ke rumah emak di sebelah yuukk.. ini masih on going n bab dsana panjang2 ..