IN THE DARK ROOM WITH YOU

IN THE DARK ROOM WITH YOU
#41



Keesokan harinya Belle dan kedua temannya menghabiskan waktunya untuk shopping. Kebetulan Belle tak ada kuliah hari ini karena weekend.


Mereka benar benar bersenang senang. Malam harinya Maya dan Deborah mengunjungi club. Tetapi Belle tidak ikut. Belle tak suka dengan kegiatan semacam itu. Menurutnya hal itu membuang buang waktu.


Belle tiba di Apartemen dan menelepon Bryan, Tetapi Bryan tak mengangkatnya.


"Mungkin dia sibuk..aku tidur saja..aku benar benar lelah hari ini", Belle pun langsung merebahkan dirinya di kasur lebarnya yang sudah diganti oleh Bryan dulu.


Maya dan Deborah tiba di apartemen pukul 2 pagi. Dan merekapun langsung tertidur berpelukan di ranjang Belle.


Seperti biasa, Belle terbangun pagi dan langsung membersihkan apartemen dan memasak.


Maya dan Deborah terbangun karena harum masakan dari dapur.


"Baunya lezat sekali Bell", kata Maya yang duduk di bar dapur.


Deborah langsung duduk di sofa ruang TV dan menyalakan televisi Belle yang jarang sekali dinyalakan oleh Belle.


"Bell...look at this..aaahh pacarmu benar benar tampan", kata Deborah.


"Bell..cepatlah", teriak Deborah.


Belle mematikan kompornya dan melihat ke arah Televisi yang ditunjuk Deborah.


Belle melihat Bryan berada di suatu pesta amal diNew York. Dia tampak tampan dengan setelan jas dan terlihat sangat gagah.


"Aku tak menyangka Pacarku setampan ini", gumam Belle.


"Tampan dan kaya raya Bell..paket komplit..kenalkan aku pada salah satu temannya Bell", kata Maya ikut duduk disebelah Deborah.


Lalu Belle kembali ke dapur. Sedangkan Maya dan Deborah masih melihat liputan bisnis itu.


"Ibunya juga sangat cantik..dia bersama calon saudara iparmu juga Belle..cantik juga..apakah dia adiknya?", tanya Deborah.


"Mungkin saja..kudengar tuan Bryan memiliki 2 saudara laki laki dan satu saudara perempuan", kata Maya.


"Mereka memang terlihat konglomerat..betapa beruntungnya kau Bell masuk ke dalam lingkungan Mereka", kata Deborah.


Belle melihat kembali ke arah televisi dan melihat Alice disana. Alice menggandeng Ibu Bryan dengan sangat dekat dan terlihat seperti ibu dan anak.


'Jadi karena ini dia tak mengangkat teleponku semalam?' , gumam Belle dalam hati.


Belle terpaku di tempatnya berdiri. Darahnya tiba tiba mendidih. Dia bisa saja berteriak, tetapi dia menahannya.


Belle kemudian menuju kamar mandi dan melihat wajahnya di cermin.


"Apakah aku harus menyerah denganmu?kita memang sangat berbeda", gumam Belle dengan mata berkaca kaca.


Belle duduk di lantai kamar mandi dan menangis tanpa suara. Hatinya bagai tertusuk sembilu. Dia tak ingin tahu alasan Bryan mengapa ada Alice disana. Belle benar benar tak ingin tahu.


Belle cukup lama dikamar mandi hingga Maya mengetuk pintunya.


"Bell...apakah masih lama?", tanya Maya.


"Hmm..sebentar , perutku sakit", jawab Belle dari dalam sambil menahan suaranya yang bergetar.


Belle kemudian langsung mandi dibawah shower.


Belle keluar dengan rambut basah. Belle memang tak bisa berpura pura dan menutupi perasaannya.


"Bell..are you okey?", tanya Maya yang melihat Belle mengeluarkan air matanya diantara buliran air yang jatuh dari rambut basahnya.


Belle kemudian duduk dilantai dan menutupi wajahnya.


"Bell..ceritakan pada kami..ada apa?", tanya Maya kebingungan.


"Biarkan dia tenang dulu", kata Deborah dan membawa Belle ke kursi sofa kemudian mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.


Setelah sedikit tenang, Belle menceritakan keluh kesahnya pada Deborah dan Maya.


Maya dan Deborah berusaha mendengarkan keluhan Belle dan memeluknya. Karena hanya itu yang Belle perlukan, bukan sebuah penghakiman.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤