
Belle bersikeras tak ingin ikut Bryan ke mansionnya. Belle ingin berpikir lebih matang lagi tentang hal ini. Sebuah janji sangat mudah diucapkan. Tetapi Belle sudah terlanjur kecewa pada Bryan meskipun dia sangat mencintainya.
Dan Bryan pun akhirnya tak memaksa Belle lagi. Bryan akan memulai dari awal lagi. Meyakinkan Belle untuk kembali padanya lagi. Bryan akan mengunjungi Belle tiap hari disana.
Bryan juga yakin bahwa Dokter Shania akan menjaga Belle dengan sangat baik.
Setelah makan malam bersama di rumah dokter Shania, Bryan pun pamit pulang.
"Aku akan kemari setiap hari", kata Bryan menangkup pipi Belle.
Belle tak menjawab apapun. Dia hanya melihat mata Bryan. Bryan pun berusaha untuk mengerti Belle.
Lalu Bryan mencium kening dan bibirnya kemudian pergi dari sana.
"Sayang...are you okey?", tanya Shania sembari mengantar Belle ke kamarnya lagi.
Belle mengangguk.
"Katakan semua yang mengganjal dikepalamu..ingat pesanku itu", kata Shania.
"Ya dokter..terima kasih", jawab Belle.
"Good night sayang", kata Shania tersenyum.
Shania menyelimuti Belle lalu keluar dari kamar Belle.
Sehari hari, Belle tinggal bersama 2 pelayan Shania ketika Shania sedang bekerja di rumah sakit. Kegiatan Belle hanya seputar membaca buku dan jalan jalan di taman belakang.
Belle banya membaca buku tentang mental illness. Banyak pengetahuan yang didapatnya termasuk tentang penyakitnya sendiri.
Dengan begitu Belle tahu bahwa dulu dirinya sebenarnya sudah bermasalah dengan mental health. Hanya saja dia tak menyadari hal itu karena terlalu sibuk belajar dan merasa dirinya baik baik saja.
Belle ingin lebih belajar lagi tentang kesehatan mentalnya sendiri. Dia menulis sebuah jurnal yang nantinya dibaca oleh Shania dan meminta pendapatnya tentang mental healthnya.
Bryan datang mengunjungi Belle menjelang sore setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.
Pelayan langsung mempersilahkan Bryan masuk sesuai perintah dokter Shania.
"Dimana Bell?", tanya Bryan.
"Nona Belle di taman tuan", kata pelayan itu.
"Terima kasih bi", kata Bryan dan langsung menuju taman.
Dia melihat Belle sedang menulis di sebuah buku. Bryan menghampirinya kemudian mencium keningnya.
"Halo sayang...", sapa Bryan dan duduk disebelah Belle.
"Kau menulis apa?", tanya Bryan.
"Sebuah jurnal", jawab Belle.
Bryan tersenyum dan memeluk bahu Belle dan mengusapnya pelan.
"I miss you", kata Bryan.
Belle tak menjawab apapun. Pandangannya hanya menerawang ke arah taman.
Bryan menggenggam tangannya dan menciumnya.
"Kau tidak ingin keluar?", tanya Bryan.
"Tidak", jawab Belle singkat.
Bryan kemudian duduk diatas rumput dan berhadapan dengan Belle. Dia memandang wajah cantik Belle dan tetap menggenggam tangannya.
"Kau mencintaiku honey?", tanya Bryan.
Belle melihat mata Bryan dan terdiam lama sebelum menjawab.
Belle hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Thanks", Bryan tersenyum.
Bryan senang setidaknya Belle masih mencintainya. Dia cukup meyakinkan Belle bahwa Bryan akan selalu disampingnya dan tak akan mengecewakannya lagi.
"Dokter Shania bilang, dia akan pulang pagi, jadi bolehkah aku menemanimu malam ini?", tanya Bryan.
Belle mengangguk lagi.
"Terima kasih sayang..i love you", Bryan mengecup bibir Belle.
Menjelang malam, Mereka masuk ke dalam rumah. Pelayan akan pulang jam 7 malam setelah penghuni rumah sudah selesai makan malam.
Belle dan Bryan saat ini sedang makan malam bersama.
Belle Sempat membersihkan sisa sauce steak yang menempel di pinggir bibir Bryan. Sesuatu yang selalu dilakukannya dulu pada Bryan.
Bryan tersenyum senang hanya karena hal sederhana itu. Tak ada obrolan. Mereka makan malam dengan tenang dan setelah itu menuju sofa ruang tengah karena Belle ingin membaca buku.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤