
Siang hari seorang perawat masuk dan melihat Belle telah melepas infus ditangannya.
Dia juga memecahkan gelas yang ada dimeja nakas dan mengambil pecahan kaca itu untuk melukai pergelangan tangannya.
"Oh God...", perawat itu berlari menghampiri Belle dan memencet tombol bantuan.
"Apa yang kau lakukan nona", perawat itu panik dan mengambil selimut kemudian menutupi luka terbuka di pergelangan tangan Belle.
"Nona..sadarlah", teriak perawat itu.
"Aku hanya ingin mati..tak ada gunanya aku hidup", teriak Belle histeris.
Lalu beberapa perawat dan dokter datang. Dokter menyuntikkan obat penenang pada Belle dan membuat Belle terdiam dan lama kelamaan memenjamkan matanya.
"Apa yang harus kita lakukan padanya dokter..sepertinya ada masalah dengan mentalnya", kata perawat itu.
"Jadwalkan psikiater kemari", kata Dokter.
"Baik dokter", jawab para perawat.
Sore harinya, Belle tersadar. Belle masih tak mau makan. Itu membuat tubuhnya semakin lemah. Dia seakan ingin bunuh diri secara perlahan.
Kemudian seorang Psikiater datang. Seorang wanita paruh baya yang memiliki suara lembut dan keibuan. Setidaknya itu akan membuat Belle rileks menceritakan semua masalahnya.
Psikiater bernama dokter Shania itu berbicara santai dengan Belle. Belle sedikit merasa nyaman akan hal itu. Tetapi Belle cenderung tak terlalu mendengarkan apa yang disampaikan dokter Shania.
Belle lebih banyak diam dan termenung. Dokter Shania menjadwalkan terapinya pada Belle setiap hari agar kondisi mental Belle bisa stabil lagi.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Bryan sama sekali tak menghubungi Belle. Bryan juga sudah menceritakan masalah ini pada sang ibu. Seren menyerahkan semuanya pada Bryan. Dan Seren bahkan minta maaf karena mengajak Alice pada malam amal kemarin. Seren tak tahu bahwa itu membuat hubungan Bryan dan Belle akan bermasalah seperti ini.
Seren mencoba memahami apa yang dirasakan Belle. Tetapi memang sikap Belle cenderung sangat keras dan kaku. Jadi semua tergantung Bryan. Jika Bryan menerima Belle apa adanya, seharusnya Bryan tetap bersabar di sisi Belle.
Seren akan membantu menjelaskan kepada Belle jika Bryan menginginkannya. Tetapi Bryan tak menginginkan hal itu. Dia ingin Belle sadar bahwa kepercayaan dalam hubungan adalah kunci sukses suatu hubungan.
Bryan ingin Belle menghilangkan paranoidnya tentang trauma orang tuanya. Bryan ingin berpikir dengan kepala dingin dan tak memakai emosi. Bryan sangat mencintai Belle. Dia ingin suatu saat Belle datang kembali padanya karena Bryan akan selalu menunggunya.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
2 hari ini Belle dipindahkan ke rumah sakit jiwa NYS psychiatric . Dokrer Shania yang menyarankam hal itu. Karena Belle semakin tak terkendali dan selalu ingin bunuh diri. Kamar disana didesain lebih aman buat penderita mental health illness.
Belle bahkan selalu membuang makanannya. Alhasil tubuhnya melemah dan kurang nutrisi. Akhirnya Dokter memasangkan infus padanya dan menyuntikkan obat penenang jika Belle sudah benar benar tak bisa dikendalikan.
Kondisi mental Belle yang down sangat kompleks. Belle sudah mengalami mental yang buruk sebelumnya, ditambah dengan keguguran yang dialaminya.
Shania sudah mengetahui cerita Belle. Dan Shania yakin Belle akan cepat sembuh jika ada seseorang yang mencintainya disampingnya. Tetapi sayang, Belle tak pernah mengatakan sosok Bryan pada Dokter Shania.
Belle tak ingin Bryan melihatnya dan mengasihaninya. Belle benar benar patah harapan. Dia bahkan tak peduli lagi dengan kuliahnya.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT SAN HADIAH YAA ❤❤❤