
Bryan tersenyum senang hanya karena hal sederhana itu. Tak ada obrolan. Mereka makan malam dengan tenang dan setelah itu menuju sofa ruang tengah karena Belle ingin membaca buku.
Belle asyik membaca buku, Sedangkan Bryan membuka ponselnya sembari menemani Belle membaca buku.
Belle mampu menghabiskan waktunya berjam jam hanya untuk membaca buku. Bryan sampai ketiduran di pangkuan Belle karena menunggu Belle yang terlalu lama membaca buku. Dan Bryan tak ingin mengganggu Belle.
Belle menaruh bukunya dan melihat wajah tampan di pangkuannya. Belle mengusap rambut tebal Bryan dan wajahnya.
Bryan membuka matanya dan melihat mata Belle yang melihat ke arahnya.
"Kau sudah selesai baby?", tanya Bryan.
"Hmm", jawab Belle singkat.
"Baiklah..sekarang ayo tidur", kata Bryan.
Lalu Bryan berdiri dan menggandeng tangan Belle ke kamar Belle.
"Kau tidur denganku?", tanya Belle.
"Hmm tentu saja..tak mungkin aku tidur di kamar dokter Shania bukan?", Bryan tertawa pelan.
"Aku tak akan melakukan apapun padamu", lanjut Bryan seakan tahu pikiran Belle.
Setelah mengganti bajunya, Belle langsung beranjak ke tempat tidur dan Bryan memeluknya.
"Maya mencarimu", kata Bryan sembari mengusap punggung Belle.
"Hmm..aku tak mengabarinya..apa kau mengatakan sesuatu padanya?", tanya Belle pelan.
"Belum", jawab Bryan.
"Nanti aku akan menghubunginya", kata Belle.
"Kau tak ingin melanjutkan kuliahmu sayang?", tanya Bryan.
"I don't know", jawab Belle lirih.
"Itu adalah impianmu..bukankah sebaiknya kau melanjutkannya?", ucap Bryan.
"Akan kupikirkan nanti", jawab Belle.
Lalu Bryan melepaskan pelukannya dan membuka baju Belle hingga sebatas dada.
Bryan mengusap perut Belle dan menciumnya.
"Maaf.. jika aku tidak membiarkanmu pergi malam itu, ini tidak akan terjadi", lirih Bryan yang masih menciumi perut Belle.
"Tuhan tak mengizinkanku memilikinya..ini bukan salahmu", jawab Belle sedih.
Bryan menutup kembali baju Belle dan memeluk Belle kembali.
"Maafkan aku", kata Bryan lagi.
Belle memejamkan matanya dan membalas pelukan Bryan dan menyembunyikan wajah sedihnya di dada Bryan
"Tidurlah", Bryan membelai rambut Belle.
Mereka akhirnya tidur bersama dan Bryan bangun lebih dulu di pagi harinya.
"Aku harus pulang..aku akan kemari lagi nanti", bisik Bryan yang melihat Belle sudah bangun.
"Hmm", jawab Belle pelan.
"I love you", kata Bryan kemudian mencium bibir Belle.
Bryan keluar dari kamar dan menyapa Dokter Shania yang baru saja datang dari tugasnya di rumah sakit.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Belle belum menghubungi Maya sampai saat ini. Dia hanya mengirim pesan bahwa dirinya baik baik saja dan sudah bersama Bryan agar Maya tak khawatir. Bryan memberinya ponsel baru dan memberitahu nomer Maya pada Belle.
Belle masih belum menerima Bryan sepenuhnya. Dia tidak ingin terburu buru. Dia ingin menyehatkan mentalnya dulu sebelum memulai hubungan kembali dengan Bryan.
Belle sadar bahwa dirinya yang bermasalah, bukan Bryan. Belle tak ingin membebani Bryan dengan kesehatan mentalnya yang masih labil. Meskipun Bryan berulang kali menegaskan bahwa dia menerima Belle apa adanya.
Semakin hari, Belle semakin baik. Bryan membujuknya untuk tinggal di apartemennya. Karena Belle tak akan mau tinggal di mansionnya. Bryan tak ingin terus merepotkan dokter Shania, meskipun dokter Shania sangat senang dengan kehadiran Belle di rumahnya.
Dan Belle akhirnya setuju untuk pindah ke apartemen Bryan untuk sementara sebelum dirinya kembali ke Boston untuk melanjutkan kuliahnya di semester baru tahun depan.
Dan dokter Shania melepas Belle dengan rasa sedih. Tetapi Mereka tetap akan selalu berhubungan.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤