
3 bulan berlalu. Belle sudah mulai terkendali dan tak pernah menyakiti dirinya lagi. Tetapi Belle lebih sering termenung dan tak pernah keluar dari kamarnya. Belle tak suka keramaian dan membatasi hubungan sosialnya.
Belle hanya meminta banyak buku agar bisa dibacanya ketika dirinya merasa bosan.
Shania masih tetap mendampingi Belle. Dia sudah menganggap Belle seperti prutrinya sendiri karena dia juga hidup sendiri. Itulah mengapa dirinya sangat perhatian pada Belle. Dia tak ingin Belle terjebak dalam kesendiriannya. Apapun yang terjadi, Shania ingin membantu Belle sehat kembali dan menjalani kehidupan normalnya lagi.
"Sayang..lihatlah..cuaca sangat cerah..apa kau tidak ingin berjalan jalan di taman denganku?", tanya Shania yang duduk di sebelah Belle.
Belle hanya menggeleng sembari melihat ke arah luar jendela.
"Berjuanglah sayang...jalanmu masih sangat panjang", kata Shania lirih.
Belle tak terlalu mendengarkan perkataan Shania. Pikirannya entah melanglang buana kemana. Belle hanya kehilangan jati dirinya untuk sementara. Dia tak punya kekuatan untuk menemukan Belle yang optimis mengejar masa depannya seperti dulu.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Bryan menjalani hari harinya seperti biasa. Perpisahannya dengan Belle masih membekas dalam di hatinya.
Bryan tak akan bisa mengubah prinsip Belle. Hanya Belle saja yang bisa mengubah dirinya sendiri. Bryan sudah memberikan banyak cinta pada Belle. Tapi itu tetap tak membuat Belle mempercayainya.
Bryan menyibukkan diri dan sering ke luar negeri mengurusi beberapa perusahaannya.
"Tuan..ada tamu untuk anda", kata asistennya.
"Siapa?", tanya Bryan.
"Seorang wanita dari Kanada".
Bryan langsung menghentikan pekerjaannya.
"Suruh masuk", kata Bryan.
Dia berpikir, Belle yang datang menemuinya.
Lalu seorang wanita masuk ke ruangan Bryan.
"Maaf tuan..mengganggu waktumu", jata Maya.
Bryan menoleh dan bukan Belle yang dilihatnya. Tetapi teman Belle sesama dosen di Kanada.
"Duduklah..ada apa?", tanya Bryan duduk di sofa tamu.
"Begini..apakah Belle bersamamu?", tanya Maya.
Bryan memandang heran pada Maya.
"Apa maksudmu?", tanya Bryan balik.
Maya pun memandang heran pada Bryan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi pada Belle?", tanya Bryan.
"Jadi anda tak bersamanya?", tanya Maya.
"Tidak..dia memutuskanku 3 bulan yang lalu", jawab Bryan.
"Lalu kemana Belle?", tanya Maya.
"Tentu saja dia kuliah di Boston", jawab Bryan.
"Tidak..dia tidak kuliah selama 3 bulan.. pihak unversitas menghubungi tuan Javier dan mengatakan Belle tak pernah kembali kuliah..aku sudah mendatangi apartemennya tetapi kosong..Belle tak ada disana.. bahkan keadaan apartemen tetap seperti terakhir kami meninggalkannya", jawab Maya.
"Oh God..lalu kemana dia?", tanya Bryan mulai khawatir.
"3 bulan yang lalu aku mengunjunginya ke Boston..lalu kami ke New York..dan aku langsung pulang ke Kanada dari New York..setelah itu ponselnya sama sekali tak bisa dihubungi..kupikir dia mengganti nomer ponselnya..dan sekarang aku benar benar cemas dengan keadaannya.. tuan Javier menyuruhku untuk mencarinya kemari", kata Maya panjang lebar.
Bryan mulai menelepon semua anak buahnya untuk mencari Belle di New York. Karena terakhir Belle terlihat ketika pergi dari mansion Bryan.
Jadi Bryan berpikir Belle pasti masih ada di New York.
"Nanti aku akan menghubungimu jika sudah menemukan Belle", kata Bryan pada Maya.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu..terima kasih atas bantuannya tuan", Maya menuju pintu dan menghentikan langkahnya lagi kemudian menoleh pada Bryan.
"Ah ya..Belle sangat mencintaimu..dia hanya takut kehilanganmu ", lalu Maya keluar dari pintu ruangan Bryan.
Bryan sedikit terpaku dengan perkataan Maya itu. Bryan tahu bahwa dirinya dan Belle saling mencintai. Tapi mereka terlalu egois untuk mengalah. Dan Bryan sadar bahwa dirinya terlalu cepat menyerah pada Belle. Dan dia menyesali hal itu sekarang.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤