
Seminggu berlalu. Bryan masih mencari Belle. Semua cctv kota diperiksa. Tapi banyak yang sudah terhapus otomatis setelah 1 bulan.
Bryan tak patah arang. Semua rumah sakit didatanginya. Dia takut Belle kecelakaan dan pasti ada datanya disana.
Tapi ternyata tak semudah itu mendapatkan data 3 bulan yang lalu. Bryan bahkan meminta bantuan kakaknya, Rey untuk mencari Belle.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
"Sayang...keadaanmu sudah membaik..apakah kau ingin ikut ke rumahku?disana sepi..aku hanya tinggal sendiri..rumahku sangat nyaman..kau pasti suka", kata Shania pada Belle.
Belle menoleh kemudian mengangguk. Belle ingin melihat dunia luar setelah terlalu lama mendekam di kamar sempit ini.
"Terima kasih sayang..maukah kau menjadi putriku?..aku tak mempunyai siapapun didunia ini", kata Shania yang memeluk Belle dan mengusap punggungnya.
"Thanks", bisik Belle.
Shania sudah tak memberikan obat obatan lagi pada Belle karena keadaan Belle sudah membaik. Hanya saja Belle masih tak terlalu merespon jika diajak berbicara. Pikirannya selalu melayang jauh.
Sore itu, Shania memutuskan untuk membawa pulang Belle ke rumahnya. Belle tampak sedikit senang ketika dirinya tiba dirumah Shania yang kecil tetapi sangat nyaman itu.
"Ayo masuklah sayang", ajak Shania.
Belle masuk dan melihat ke sekeliling rumah Shania. Dan matanya langsung tertuju pada rak buku yang berisi banyak buku.
Belle menghampiri rak itu dan mulai mengambil satu buku dari sana.
"Aku juga suka membaca, kau bisa membaca buku itu juga", kata Shania tersenyum.
"Hmm", jawab Belle singkat.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Bryan mendapat kabar tentang Belle dari anak buahnya. Belle pernah masuk ke sebuah rumah sakit karena mengalami kecelakaan.
Otak Bryan sudah penuh dengan segala kemungkinan buruk yang terjadi pada Belle. Bryan berusaha menepis pikiran buruk itu dan bersikap tenang.
Bryan segera masuk ke dalam rumah sakit itu dan menemui direkturnya. Dan dokter itu mengenal Bryan. Dia mempersilahkan Bryan duduk di sofa tamunya.
Lalu Dokter itu menelepon pegawainya dan menyuruhnya mengantar berkas Belle ke ruangannya.
Tak lama, berkas itu datang dan Dokter langsung membukanya.
Karena Bryan datang sangat mendadak jadi Dokter itu belum sempat membaca berkas tentang Belle.
"Cepat bacakan padaku", kata Bryan tenang meskipun didalam hatinya sudah mulai berkecamuk.
"Nona Belle Dawn Brown.. dia tiba disini kurang lebih 3 bulan yang lalu.. dia mengalami kecelakaan... taxi yang ditumpanginya ditabrak oleh sebuah truk", kata Dokter itu.
Wajah Bryan mulai tegang dan dia menggenggam tangannya sendiri dengan sangat erat.
"Dia tiba dalam keadaan pingsan dan dia mengalami abortus spontan atau lebih dikenal dengan istilah keguguran", lanjut dokter itu lagi.
Bryan tentu saja kaget bukan kepalang mendengar hal itu. Tanpa sadar dia mengumpat dengan keras yang membuat dokter itu kaget. Tetapi dokter itu berusaha memahaminya.
"Lalu apa yang terjadi padanya?", tanya Bryan dengan menahan emosinya.
"Kami melakukan proses kuretase saat itu juga agar dia tak mengalami pendarahan... karena kehamilannya sudah memasuki usia 2 bulan", jawab Dokter.
Bryan mulai meremas rambutnya. Dia seperti tertimpa bola besi yang besar dikepalanya. Rasa bersalah yang besar mulai menyelimuti hatinya meskipun secara teknis ini bukan salahnya.
"Lalu dimana dia sekarang?apakah ada info mengenai itu?", tanya Bryan berusaha mengatur emosinya lagi.
"Setelah beberapa hari dirawat disini, nona Belle dipindahkan ke rumah sakit jiwa karena mengalami depresi dan selalu berusaha bunuh diri", jawab Dokter itu dengan sangat hati hati mengingat Bryan sudah mulai terlihat emosi.
"Whattt????", kata Bryan dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata kata.
Bryan langsung hancur mendengar hal ini. Belle yang sangat dicintainya sedang terpuruk dan dia justru tak menemaninya.
Lalu Bryan meminta alamat rumah sakit jiwa itu dan segera menuju kesana. Bryan tak ingin menyia nyiakan waktunya. Dia ingin segera menemukan Belle dan membawanya pulang.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤