
Bryan menuju rumah sakit tempat Belle dirawat. Tetapi dia tak menemukan Belle disana. Menurut petugas disana, dokter Shania membawa Belle pulang kerumahnya.
Bryan meminta alamat dokter Shania dan langsung menuju kesana.
Bryan tiba di rumah dokter Shania dan dokter Shania menyambutnya dengan baik.
"Dimana Bell?", tanya Bryan to the point.
"Dia sedang tidur", jawab Shania.
Ucapan dokter Shania membuat Bryan sedikit tenang dan lega.
"Bagaimana keadaan mentalnya?", tanya Bryan lagi.
"Dia sudah tak melakukan percobaan bunuh diri..hanya saja dia masih tak mau menatap masa depannya... dia stuck dan tak mau melangkah maju..tapi setidaknya dia tidak mundur dan putus asa lagi.. keguguran yang dialaminya membuat mentalnya berada di titik terbawah", Shania menjelaskan.
"Apakah aku bisa menemuinya?", tanya Bryan.
"Begini..aku sudah tahu latar belakang hubungan kalian..dia menceritakan semuanya padaku... banyak orang menganggap bahwa mental health illness adalah masalah yang sepele dan menganggap penderitanya berlebihan dalam menyikapi sesuatu... tetapi sebenarnya itu adalah protectsi dirinya terhadap sesuatu yang ditakutinya...aku harap sebelum kau memutuskan menemuinya dan bersamanya lagi, kau harus benar benar siap menghadapinya.. ini tidak mudah karena perasaan kita akan benar benar dipermainkan.. kesabaran dan cinta adalah kuncinya..jika kau tak siap menghadapinya, biarkan dia bersamaku..aku sudah menganggapnya putriku sendiri", kata Shania panjang lebar.
Bryan terdiam sesaat dengan penjelasan dokter Shania.
"Aku sangat mencintainya..aku akan selalu ada disisinya.. aku akan lebih sabar menghadapinya...mungkin ini memang terdengar lebih mudah diucapkan..tapi percayalah..aku akan benar benar berjuang untuknya", jawab Bryan yakin.
Lalu Shania mengantarkan Bryan ke kamar Belle. Bryan masuk dengan sangat perlahan. Dia membuka sepatu dan jasnya.
Belle tertidur dengan wajah tenangnya. Bryan sangat merindukan Belle dan ingin memeluknya erat. Dia tak ingin Belle pergi lagi darinya meskipun Bryan tak tahu bagaimana reakai Belle ketika bertemu dirinya nanti.
Bryan memandangi wajah cantik Belle cukup lama. Lalu dia naik ke ranjang dengan sangat perlahan dan tidur memeluk Belle dari belakang.
Bryan mengusap lembut tangan Belle. Belle tak terbangun karena hal itu. Bryan menikmati moment diam ini dengan hati bahagia sekaligus sedih.
Mereka kehilangan calon bayi mereka yang bahkan kehadirannya sama sekali tak disadari oleh Belle.
Belle langsung kaget dan akan duduk tetapi Bryan menahanya.
"Biarkan seperti ini..jangan melihatku..mungkin kau akan membenciku baby", lirih Bryan.
Belle terdiam dan terpaku mendengar suara Bryan.
"Maaf..aku datang terlambat..ini semua salahku..salahkan aku...kesalahanku sangat besar padamu..maafkan aku", kata Bryan pelan.
Belle tak tahu apa yang harus dilakukannya. Di lain sisi dia tak ingin bersama Bryan lagi. Tetapi Belle tak bisa memungkiri bahwa dirinya sangat mencintai Bryan.
Belle menggigit bibirnya dan mengeluarkan air matanya. Dia tak ingin tangisannya bersuara. Dia tak ingin Bryan kembali padanya hanya karena rasa kasihan dan tanggung jawabnya.
"Aku tak ingin bersamamu", bisik Belle.
"Aku akan memaksamu..aku akan membawamu bersamaku meskipun kau menolaknya..aku tak ingin membiarkan kau pergi dariku lagi", jawab Bryan.
"Aku tetap tak akan bisa", kata Belle sangat pelan.
"I love you..i love you so much..aku akan mengikuti apapun kemauanmu asal kau selalu bersamaku", ucap Bryan.
"Kau pernah mengatakan hal itu dulu", kata Belle.
"Maafkan aku..aku tak memahamimu dulu..maaf...jangan pergi dariku lagi ..oke?!", kata Bryan mencium puncak kepala Belle dan memeluknya semakin erat.
"Akan susah memahamiku..kau tidak akan mampu", kata Belle.
Lalu Bryan membalik tubuh Belle hingga mereka berhadapan. Belle melihat wajah tampan Bryan yang sangat dirindukannya. Bryan membelai pipinya dan mengusap air matanya lalu mengecup bibirnya lembut.
"I love you honey.. aku akan tetap membawamu bersamaku apapun keputusanmu", kata Bryan pelan.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤