
Aku di masa silam berusia 18 tahun, saat aku duduk di bangku putih abu-abu ini ada seorang kakak kelas yang begitu baik kepadaku hingga kami menjadi sahabat baik semasa sekolah
Aku dan kevin sudah lama merajut kasih, Aku selalu bercerita semua masalah aku kepada Sandra termasuk kesetiaan Kevin dalam menjalin kasih kepadaku
Aku terlahir dengan banyak masalah dalam keluarga yang hampir serupa dengan masalah yang di hadapi oleh Sandra
Ayah dan ibu selalu bertengkar, kini aku dan adik'ku merasa tak mempunyai keluarga utuh. Ayahku mempunyai anak dari wanita lain selain dari ibu yang melahirkan aku
Satu-satunya yang aku percaya hanya Sandra, dia seperti seorang Kakak yang tak pernah aku punya.
Aku selalu nyaman jika bercerita banyak pada Sandra, dia bisa menghibur aku dalam konflik keluarga yang rumit sehingga suatu ketika aku lebih memilih tinggal di rumah nenek Anita di bandingkan harus melihat keributan di rumah sepanjang hari.
Hari itu hujan sangat deras. Aku malas untuk keluar dari rumah, namun ibu yang melahirkan diriku tiba-tiba saja menyuruh aku membelikan makanan di cafe pelangi yang menjadi tempat makan kesukaan'nya
Dengan rasa malas aku pun terpaksa untuk mengambil jas hujan berwarna merah muda yang menyelip di paparan tumpukan baju untuk aku pakai lalu tak ketinggalan juga aku membawa payung lipat untuk aku simpan di jok kuda besi yang akan aku kendarai saat ini.
Dengan kecepatan sedang aku menyelusuri hujan deras itu dengan perasaan yang malas karena cuaca buruk membuat suasana hati pun buruk
Aku menerjang aspal yang becek dengan balutan hati yang mood swing melintasi daerah yang tak aku sukai
Entah perasan apa ini, namun hari ini aku merasa akan ada sesuatu hal yang akan membuat aku kesal tak menentu.
Setibanya di cafe pelangi, aku memarkir kuda besi dengan perasan yang kesal karena kuda besi yang sudah aku cuci seharian malah harus kotor lagi oleh terpaan tanah liat yang tak bisa aku hindari sewaktu aku di jalan raya tadi.
Aku memesan steak tenderloin dengan duduk di depan bangku kasir, saat itu aku ingin sekali menghubungi Kevin, namun gerakanku terhenti ketika seorang pelayan memberitahukan bahwa pesanan yang aku take away sudah jadi
"Baik, terima kasih" ucap Elly
Langkah kaki tiba-tiba saja terhenti ketika aku hendak melangkahkan kedua kakiku menuju Cassa depan untuk pembayaran yang aku pesan tadi
Sempat tak percaya sosok punggung belakang itu seperti aku kenali
pikiran aku menepis bahwa sosok lelaki itu adalah kekasih'ku, namun aku tak bergeming ketika pria itu duduk kembali di bangku bersama dengan Sandra, seorang sahabat yang tega bermain api di belakangku
Mereka terlihat mesra di depan umum seperti orang yang tak tahu akan urat rasa malu, menyebalkan!!
Aku mengepalkan kedua tanganku melihat adegan mereka berdua. Tak sanggup aku menahan rasa kecewa aku melanjutkan langkah kakinya untuk mendatangi meja mereka agar tersadar dengan apa yang mereka sudah lakukan itu menyakitkan hatiku.
Aku terpaksa menghampiri mereka dengan perasan gusar dan kecewa
Apa ini semua hanya mimpi? pertanyaan itu terus berada dalam benak.
Bersambung...
...Jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai Favorite/Subscribe...
...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua...