
Seusai Satria merangkai bunga yang indah dengan pita berwarna merah muda itu, Satria bergegas ke dalam kelas tanpa melirik Elly yang dari tadi menunggu kedatangannya. Elly pikir bunga itu untuknya kembali, namun sayang seribu sayang ternyata bunga warna-warni yang di petik Satria di halaman belalang sekolah itu bukan untuk Elly melainkan untuk Violin yang sedang duduk santai membaca buku pelajaran.
Kedatangan Satria membuat Violin melirik sejenak, namun Satria dengan cepat menyembunyikan bunga itu di belakang punggungnya. Hingga Elly pun merasa terpojok akan tingkah laku Satria yang labil.
"Vio, coba tebak aku bawa apa buat kamu," ucap Satria dengan senyum tipis.
"Nggak tahu, memang kamu bawa apa?" tanya Vio
"Aku bawa bunga yang cantik ini untuk orang secantik kamu," ucap Satria sambil menyodorkan bunga
"Maksih, tapi bukankah hari valentine sudah lewat?"tanya Vio
"Ini kan baru sehari saja, Aku ingin kamu menerima bunga ini sebagai ungkapan perasaan aku ke kamu kalau aku suka sama kamu. Apa kamu bersedia menjadi pacar aku?" tanya Satria
"Hmmmmm, ini dadakan sekali. Aku malu Satria! kenapa kamu nembak di hadapan guru dan teman-teman seperti ini." Ucap Vio
"Maaf, jika ini membuat kamu terkejut. Kalau memang kamu nggak mau menerima bunga ini itu artinya kamu menolak aku ya," lirih Satria berjiwa Sandra
"Kata siapa aku menolak?" tanya Vio
"Buktinya kamu bilang malu di tembak dengan cara seperti ini," ungkap Satria berjiwa Sandra
"Bukan begitu, hanya saja aku malu."Ungkap Vio.
"Jadi apa jawabannya?" tanya Satria
"Ia, aku mau menerima kamu jadi pacar aku. Aku pun udah lama jatuh cinta sama kamu," ungkap Vio dengan senyuman yang sumringah
"Makasih, Vio," Ucap Satria dengan tatapan tajam.
"Hei, apa-apaan sih kalian! ini kelas bukan tempat untuk pacaran," protes Elly dengan muka yang gusar.
"Sirik ajah, bukannya kasih selamat," ucap Satria dengan senyum smirk
"Bebas, Saya nggak takut." Ucap Satria.
Sementara perdebatan itu terus terjadi, Rio pun melangkahkan kakinya menuju tempat Vio duduk
"Vio...," panggil Rio.
"Apa?" tanya Vio
"Ini buat kamu," ucap Rio menyodorkan setangkai bunga mawar.
"Buat apa bunga lagu itu kamu berikan untuk aku?"tanya Vio
"Bunga ini boleh layu, tapi cinta aku ke kamu nggak pernah layu. Apa kamu mau jadi pacar aku?" tanya Rio
"Maaf, Rio. Aku nggak bisa menerima perasaan kamu karena aku baru saja menerima Satria menjadi kekasih aku," ungkap Vio sambil menggelayut mesra di lengah kanan Satria.
"Hmmmm, Sialan gw terlambat malah cecunguk itu duluan yang menyatakan perasaan," gumam Rio sambil melirik dengan tatapan tajam ke arah Satria.
"Vio, Please tatap mata aku. Jangan pilih Satria dia nggak tulus mencintai kamu." Ucap Rio
"Pokoknya aku nggak mau jadi jongos. aku harus cari cara supaya bisa dapatkan Vio karena selain taruhan itu, aku memang mencintainya,"gumam Rio dalam lubuk hatinya.
"Lu kalah, siap-siap jadi jongos gw." Bisik Satria.
Dengan mata terbelalak Rio menahan kemarahannya dengan kepalan di tangannya. Ia terpaksa harus menjadi Jongos Aldi dalam satu bulan ini.
Bersambung....
...Jangan lupa ya selalu mendukung karya ini dengan cara like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite/subscribe...
...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian...