
Rio menghela napas dalam-dalam dalam sebuah cermin besar untuk memastikan dirinya telah siap untuk menyatakan sebuah rasa yang di pendam selama ini, bahkan Rio berlatih manalog terlebih dahulu sebelum dia melakukan pernyataan cinta itu kepada pujaan hatinya
Berkali-kali Rio berlatih manalog di depan cermin besar dalam kamar mandi yang tak ada penghuninya
"Te-terima bunga ini sebagai lambang cinta," manalog Rio yang terbata-bata
"Sini aku terima bunganya,"sahut Darren ikut bersuara atas tindakan konyol yang di lakukan temannya.
"Sialan lu, ngapain di sini," ucap Rio
"Ini kan toilet umum, jadi ya gw ingin buat hajat lah mau ngapain lagi, lu sendiri ngapain sih latihan drama di sini?" tanya Darren
"Gw latihan mau menyatakan cinta bukan mau main drama, dodol!" seru Rio
"Oh, gw kirain lu mau main teater! memang lu mau nembak siapa sih?" tanya Darren
"Si Vio," ucap Rio
"What?! Vio anak baru yang cantik dan seksi pujaan hati sekolah kita itu?" tanya Darren
"Iah, siapa lagi yang cantik di sekolah kita," ucap Rio
"Lu yakin mau nembak dia sekarang? Apa lu nggak taku di tolak sama dia?" tanya Darren
"Di tolak itu sudah jadi resiko, dari pada gw kalah taruhan sama si Satria," ucap Rio.
"Hah? maksud lu taruhan memperebutkan Vio sama Satria?" tanya Darren
"Iya," ucap Rio
"Gw rasa yang akan menang itu si Satria! siapa sih yang nggak suka sama Satria. Dia itu tinggi, atletis, ganteng pula melebihi gw," timpal Darren
"Puji ajah terus!" ucap Rio
"CK! memang kenyataanya seperti itu," ucap Darren.
"Semangat ya! gw doain semoga lu nggak patah hati," ucap Darren.
"Sialan lu doain gw patah hati," ucap Rio.
"Bukan begitu maksud gw, bro!" ucap Darren
"Sono pergi! ganggu latihan gw ajah," usir Rio.
"Galak benar, Pak Rio lagi PMS kali ya," celetuk Darren.
"Kurang ajar!" lu nggak pergi gw lempar sepatu juga ya!" geram Rio
"Iya-iya, Sekarang gw pergi," ucap Darren tanpa menoleh sedikit pun.
"Sana pergi yang jauh, jangan kembali lagi." Ucap Rio.
"Dasar teman nggak tau diri,"gerutu Rio dalam hatinya
*******
Sementara waktu Rio sedang sibuk manalog dengan cermin besarnya, Satria bergegas menuju halaman belakang sekolah untuk memetik bunga segar yang dia petik sendiri oleh kedua tangannya, lalu ia pun mulai merangkai bunga warna-warni tersebut agar terlihat menarik dan cantik di pandang, Ia pun tak lupa untuk memberikan hiasan pita pada ujung tangkai bunga tersebut
Entah dari mana pita berwarna merah muda itu tiba-tiba ada di sela rumput berwarna hijau, mungkin ini yang di namakan takdir mahakuasa untuk mempermudah rencana yang di susun oleh Sandra dan Diva
"Ini sebuah kebetulan, ada pita berwarna merah muda ini di dekat rumput ini, mungkin anak-anak lain juga sering melakukan ini."Ucap Satria berjiwa Satria
Pemikiran Sandra memang benar, ada banyak pria muda sengaja membawa pita berwarna merah muda dan sengaja memetik setangkai bunga untuk menyatakan perasaanya tanpa modal yang banyak.
Bersambung...
...Jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite/subscribe...
...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua...