I Miss You My Best Friend

I Miss You My Best Friend
10. POV Satria Dirgantoro



Aku selalu ingin menjadi orang lain di bandingkan harus menjadi diriku yang saat ini hanya berumur 18 tahun.


Sulitnya mencari pekerjaan karena sebuah umur padahal keluargaku sangat membutuhkan bantuan aku untuk mengatasi masalah ekonomi yang menjerat keluargaku.


Saat ini penagih hutang datang lagi. Hidupku tak pernah tenang karena aku juga sudah memutuskan untuk putus sekolah karena faktor keuangan


Setiap hari aku hanya bisa menghela nafas panjang mengingat kejadian yang membuat hatiku gelisah akan masa depan, namun aku menepis pikiran buruk menjadi pikiran yang positif untuk kesehatan mental dan jiwa.


Aku tahu semua yang aku lakukan di bawah terik matahari tak ada artinya menjadi pelayan cafe yang gaji hanya bisa di pakai untuk kebutuhan sehari-hari saja


Suatu hari aku berniat untuk melamar pekerjaan dengan indentitas palsu karena aku tidak ingin nasib buruk mempermainkan aku di masa depan


Aku membulatkan tekad untuk menimba ilmu kembali dengan mendapatkan pekerjaan tetap, namun tiba-tiba di tengah perjalanan kuda besi usang yang aku pakai tidak bisa melanjutkan perjalanan karena bensin seketika habis, Aku mencoba mencari-cari pom bensin terdekat. Tidak ada satu pun pom di dekat sana


Di jalan yang sepi itu memang sulit sekali menemukan sebuah pom bensin karena jalanan itu adalah jalanan menuju sebuah desa terpencil yang rawan untuk di lalui siapa pun


"Pak, saya mau tanya apakah pom bensin di daerah ini ada?" tanya satria


"Maaf, Nak! daerah sini tidak ada pom bensin, coba kamu berjalan lurus dari sini lalu belok ke kanan di sana biasanya ada mini pom" ucap pria paruh baya


"Oh, Baiklah. Terima kasih" ucap Satria


"Seandainya aku bisa kerja di pabrik, maka aku tidak perlu susah mencari pekerjaan sampingan kesana kesini untuk menambah penghasilan uang makan keluargaku" gumam Satria


Perjalanan panjang di lalui dengan memapah kuda besi usang menuju mini pom sesuai arahan pria paruh baya yang tak sengaja di jumpainya


Di sepanjang Satria berjalan bersama kuda besi usang, Ia selalu menggerutu akan nasib buruk yang tak bisa sekolah karena faktor ekonomi yang membelit kehidupannya


Andaikan Ayah tak membuat masalah dalam hidup ini, mungkin kehidupan ini akan lebih baik, Jika Ayah tak berjudi kartu.


Aku harus bersusah payah menutupi segala bentuk hutang-hutang keluarga yang membelit serta harus mencukupi ibu yang sudah lansia menderita keropos pada bagian tulang belakang serta aku harus memenuhi kebutuhan dapur serta tunjangan biaya lainya seperti air ledeng, listrik, dan sembako


Tanggung jawab aku sebagai tulang punggung keluarga membuat aku selalu frustasi karena biaya bekerja paruh waktu tak bisa mencukupi biaya sehari-hari. Terlebih lagi Aku harus berhenti sekolah demi adik semata wayangku tetap sekolah.


Segala bentuk Pengorbanan yang aku lakukan ini semata-mata untuk memenuhi tanggung jawab aku sebagai seorang Kakak dan bakti aku sebagai seorang anak kepada kedua orang tuaku


Bersambung...


...Jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa like di setiap episode, vote sebanyak mungkin dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite/subscribe...


...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalia. semua...