
Ainsley duduk dibangku yang tersedia diruangan itu yang akan menjadi tempat kebiasaannya kedepan. Matanya melirik dari kaca yang transparan, dua orang pria muda yang tidak asing baginya segera menuju berjalan ketempatnya. Ketakutannya kembali muncul, tidak berani bertemu langsung dengannya. Ainsley berlari bersembunyi.
Keanu sempat melihat wanita itu lari terburu-buru, tapi belum sempat melihat wajahnya. Tanpa rasa penasaran yang ada Keanu tetap melangkahkan kakinya mengikuti arah kaki Gilang.
" Hei Bro! "
Itulah ciri khas panggilan yang selalu diucapkan oleh Gilang saat bertemu dengan sahabatnya.
Neon hanya membalasnya dengan sedikit senyum. Rasanya rahang dari wajahnya begitu sulit ia lebarkan.
" Ada apa kau kemari? " Neon memperhatikan Gilang yang seenaknya saja langsung meminum kopinya.
" Kopi Iho enak juga."
Kata Gilang membalik arah pergi mendekati Keanu yang sedang fokus memainkan ponselnya.
" Sekarang aku benar sibuk, aku tidak bisa menghadiri acara itu! "
Kata Neon yang sudah menebak akan maksud kedatangan dari temannya itu.
" Ayohlahh Bro, disana Lita juga hadir."
Gilang menatap penuh memohon.
Itulah yang membuat Neon malas menghadiri acara itu, meskipun ia juga ingin pergi. Tapi Lita yang menjadi alasannya malas pergi. Sebenarnya dari kemarin ia sudah mengetahui bahwa Lita juga akan hadir, karena kemarin malam Lita mengirimkannya pesan kepadanya.
Gilang dan Keanu selama ini mengira bahwa Neon menyukai Lita, itulah sebabnya Gilang berusaha mendekatkan mereka berdua.
" Ayokklahh Bro! kita sia-sia datang kemari kalau kau tidak jadi ikut." kata Gilang mendekat kearah Neon.
" Siapa suruh kau datang kemari!" Neon duduk dengan santai dengan kaki yang menyilang.
Mati kutulah Gilang, ia tidak berani lagi mengubris ucapan dari sahabatnya itu. Ia sengaja datang kemari untuk mengajak langsung Neon, karena apabila Neon diajak melalui alat telfon saja, seratus persen ia yakin, bahwa Neon akan menolaknya.
Keanu yah, bodoh amat dengan kedua temannya itu. Ia masih sibuk memainkan ponselnya.
" Keanu Ayokk pulang, kita sudah menghabiskan waktu kita saja dengan datang kemari! " Gilang nampak mulai kesal.
" Ayokklahh Neon! kita harus menghadiri acara itu.!" Keanu mematikan layar ponselnya dan beranjak berdiri mendekat kearah Neon.
" Keanu? untuk apa kau membujuknya lagi. Kalau orang tidak mau, yah jangan kamu paksakan." kata Gilang segera menuju berjalan kearah pintu.
Bila hal seperti ini terjadi lagi, Keanu lah yang semakin pusing. Memiliki sahabat yang sama-sama keras kepala. Keanu pun mengikuti Gilang untuk segera pergi.
Dengan santainya Neon masih tetap duduk menyilangkan kakinya. Masa bodoh dengan paksaan dari Gilang padanya.
Gilang berjalan dengan menendang-nendang dinding, mulutnya terus mengoceh. Begitulah Gilang, bila keinginannya tidak dipenuhi oleh Neon, kekesalannya selalu ia lampiaskan pada dinding-dinding tembok yang ada. Keanu tidak merasa heran lagi, justru terkadang ia beracap kali senyum-senyum sendiri.
Mata Keanu selalu mengarah pada wanita yang kelihatannya memang menghindari dia dan Gilang. Sudah dua kali ia melihat wanita itu terus sempoyongan berlari, bila ia dan Gilang berjalan diarah itu. Sedangkan Gilang mungkin saja tidak sepikiran dengannya. Yah, Gilang kan terlalu masa bodoh dengan sekitarnya, malas sekali memperhatikan orang.
Ainsley memegang dadanya yang sesak, napasnya tergesa-gesa kali ini berhasil kembali bersembunyi, yang meskipun hampir ketahuan karena dirinya lambat sadar akan dua pria itu telah kembali dari dalam ruangan Neon.
Ia duduk, tangannya memegang kepalanya. Ia masih terpikirkan kejadian tempo lima tahun yang lalu. Karena kejadian itulah ia hidup menderita seperti ini, harus bisa menafkahi diri sendiri bahkan sekarang tidak hanya dirinya, melainkan Bert juga. Cairan bening berhasil lolos mengalir di pipinya.
" Kenapa kau menangis?"
Kata Arka yang berhasil menghentikan lamunan.
" Sepertinya ada sesuatu yang telah masuk kedalam mata saya, makanya mataku perih."
Ainsley mengelap matanya tanpa menyisakan cairan bening itu.
Arka yang mendengarnya mengiyakan, namun merasa seperti ada kesedihan yang memang wanita itu sembunyikan. Terlihat jelas dari wajahnya tidak seceria kemarin.
" Ada apa Tuan Arka kemari? "
Ainsley membuka suara untuk mencairkan suasana antara mereka, karena Arka sedari tadi terus memperhatikannya.
" Tuan Neon memanggilmu untuk segera pergi keruangannya."
Kata Arka tidak menghilangkan tatapannya.
" Baiklah Tuan, kalau begitu aku pamit dulu."
Tok..Tok..
Ainsley membunyikan ketukan pintu Neon. Tanpa adanya suara balasan, ia terpaksa masuk begitu saja.
Ternyata dia ada didalam, kenapa dia tidak menyahutiku ! Guman Ainsley.
" Kenapa kau heran? apa ada masalah?"
Neon yang seakan mengetahui pikiran Ainsley.
" Tidak Tuan, apakah Tuan tidak mendengar ketukan pintu dari saya." Kata Ainsley berani jujur.
" Kau..!! berani-beraninya kau protes."
Disini tiap kali ingin memasuki ruangan saya, para karyawan harus mengetuknya terlebih dahulu. Entah saya akan menjawabnya, itu tergantung dari saya. Yang penting bahwa kalian harus memiliki sopan santun. Neon memberi tatapan tajam kepadanya.
Pantas saja tidak menyahutiku, ternyata itu memang ciri khasnya.! Guman Ainsley.
" Kenapa kau diam, masih mau protes lagi? "
kata Neon ketus
" Tidak Tuan!" Ainsley mengeluarkan senyumannya. " Ada apa Tuan memanggilku kemari? " tanya Ainsley
" Apakah kau ingin pergi bersamaku disebuah acara? " kata Neon sedikit malu, baru kali pertama dia mengajak wanita. Yah, wanita lah yang selama ini mengajaknya lebih dahulu.
" A..ku sepertinya tidak bisa Tuan! "
Ainsley menolak karena mengingat Bert akan bersama siapa dirumah, kalau dia benar pergi.
" Kenapa kau tidak ingin pergi? "
Tanya Neon. Dengan sedikit wajah memerah, menahan malu, ternyata begini rasanya ketika kita mengajak wanita, tetapi di tolak. Apalagi baru pertama kali dia yang mengajak, di tolak pula.
" Aku tidak bisa keluar malam Tuan, orang tuaku tidak mengizinkan aku pergi." alasan dari Ainsley.
Neon membenarkan bahwa acara itu diadahkan dimalam hari.
Tidak tahu harus mengucapkan kata apalagi sehingga wanita yang sekarang berdiri dihadapannya itu mau ikut bersamanya. Ia juga mau memperkenalkannya pada Lita, wanita yang selalu dijodohkannnya oleh Daddy nya. Seenggaknya dia berfikir bahwa apabila Lita melihatnya mengandeng wanita lain, dia akan menghentikan perjodohan itu.
" Kau harus pergi?"
penekanan suara dari Neon yang tetap mengajaknya.
" Aku benar tidak bisa Tuan!."
Ainsley terus menolak, meskipun ia sendiri menginginkan acara-acara seperti itu. Semenjak memiliki anak, ia tidak pernah lagi menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Semua waktunya sekarang hanya untuk Bert.
" Maaf Tuan, aku benar tidak bisa menghadiri acara itu." Ainsley merasa bersalah karena telah menolak ajakan dari Tuan nya itu.
Neon hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Neon hanya memasang wajah dinginnya itu.
Ainsley yang melihat wajah dingin itu, ia seperti melihat Bert dewasa. Wajah dinginnya Neon sangat mirip dengan ekspresi anaknya sendiri. Memang benar Bert sangatlah mirip dengan Neon Alison.
.
.
.
.
**Neon Alison dan Ainsley Williams sepakat mengatakan bahwa, apabila kalian menyukai ceritanya. Silahkan Like, Vote dan favoritkan. Beserta dengan koment-komentnya..
Sampai disini dulu guys🤗
.
.
Terimakasih semua💋**