
Ainsley jatuh tak sadarkan diri, bibirnya semakin memucat lebih dari yang sebelumnya. Seorang pria yang tadi diam-diam bersembunyi dibalik pohon, berlari kearahnya.
" Kau kurang ajar!" beraninya kau menyakiti dia. Ucap Neon geram mengertak giginya. kedua sudut bibirnya mengerang keatas, menandakan bahwa ia benar-benar marah.
Kurangnya mobil yang terlintas pada malam hari itu, membuat perjalanan mereka tidak mengalami hambatan, mereka hanya membutuhkan waktu sedikit bukan waktu yang cukup lama hingga tiba di rumah sakit.
..
Cahaya sinar matahari mulai memancarkan sinarnya kebumi. Udara pagi mulai terasa, bagi siapa pun yang merasakannya. Sungguh sangat terasa indah, bila berdua dengan orang yang kita cintai merasakan kehangatan udara pagi ini.
" Kenapa kau begitu peduli padanya?" Gilang dapat mengingat jelas bagaimana Neon memperlakukan Ainsley ketika mereka berada dalam mobil. Tidak hanya itu, Neon juga memarahi para petugas rumah sakit, ketika mereka lambat menemukan keberadaan Dokter.
Dengan wajah yang sedikit menampakkan kegelisahan, Neon masih dapat mendengar jelas penuturan dari Gilang, bingung sendiri dengan hatinya, kenapa sangat sakit ketika melihat Ainsley terluka akibat ulah orang lain.
" Kau kenapa diam saja?" Gilang menaruh curiga dengan melihat mimik wajah yang tersirat di wajah Neon
" Aku hanya menyuruhmu untuk menjemputnya, bukan justru menyakitinya!" tatapan sorotan mata tajam sedang menghunus kearah Gilang.
" Aku tidak menyakitinya, dia terluka sendiri." Ucap Gilang menolak tuduhan yang dilontarkan padanya.
" Neon, kau terlihat begitu khawatir padanya?" Gilang menatap Neon lekat-lekat.
Neon masih terdiam, Neon menatap kearah ruangan dimana Ainsley sedang terbaring tak sadarkan diri. Langkah kakinya segera berjalan kearah ruangan itu, namun langkahnya terhenti ketika Gilang menahannya. "Kau mau kemana, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" ucap Gilang geram
" Kau tidak usah banyak tanya, aku ingin pergi." Jawab Neon dengan nada menggertak
" Kau mau pergi kemana, kau tidak usah pergi menemui Ainsley, kau jangan keras kepala sekali Neon." Sorot mata Gilang memberi keyakinan untuk menahannya
" Neon, tidakkah kau sadar kalau Ainsley sudah membohongimu, mungkin saja diluar sana dia sudah memiliki pria lain, atau.."
Gilang belum sepenuhnya menyelesaikan ucapannya, Neon langsung berlalu melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Gilang. Gilang tak lagi mengikuti langkah Neon, sosoknya kegirangan ketika melihat dengan jelas Neon tidak memasuki ruangan Ainsley terbaring, melainkan pergi entah kemana.
Diambilnya hp dari saku celananya, jemari tangannya mulai mencari nomor yang sedari tadi ingin dihubunginya. "Tenanglah, sepertinya rencana kita berhasil" ucap Gilang dari balik telfon itu
Suasana sepi adalah salah satu tempat yang paling menyenangkan untuk melamun. Yah; diruangan sepi inilah Neon masih berdiam diri. Neon menatap kesegala arah sudut-sudut ruangan itu. Tatapan kosong menguasai hati dan pikirannya. Deringan hp yang berbunyi dalam saku celananya, berhasil menghentikan lamunannya.
"Baiklah, aku akan segera pulang" ucap Neon mematikan ikon warna hijau dilayar Hpnya
Langkah kakinya kembali ia gerakkan selangkah demi selangkah, Hati dan pikirannya hari ini kalang kabut, keduanya tidak berjalan searah, hatinya menahannya untuk pergi. Ia melangkah berjalan kearah ruangan Ainsley terbaring. Perih dan ngilu dalam hatinya ketika melihat cairan bening itu kembali menetes diwajah Ainsley.
Ainsley membalikkan tubuhnya, pelan-pelan jemari tangannya menggelap sisa air mata yang masih melekat dikedua kelopak matanya. Ainsley melihat ada sesuatu yang samar terus memandanginya dari balik jendela. Ainsley memutuskan untuk segera menghampirinya.
Namun Ainsley mengurungkan niatnya, karena tiba-tiba sesuatu yang mengganjal dalam benaknya.
..
Neon berlari begitu cepat ketika ia sadar mata indah Ainsley sedang menatap kearahnya, sepertinya Ainsley benar melihatnya. Ketika ia berlari, ia berpapasan dengan Gilang. "Kau kenapa terlalu terburu-buru" tanya Gilang yang menaruh curiga
" Aku akan segera pulang, kau antarlah Ainsley, tapi ingat jangan menyakitinya, aku tidak akan mengampunimu kalau sampai itu terjadi." Ucap Neon memperingati sebelum ia benar meninggalkan tempat itu.
Cara apa yang harus kulakukan sehingga Neon benar membenci wanita j*lang itu. Batin Gilang bertanya-tanya, mengingat ucapan barusan dari Neon
..
Apakah dia yang membawaku kerumah sakit ini. Guman Ainsley. Matanya masih fokus kearah pintu yang sedang terbuka, terlihat Gilang sedang berjalan mendekat kearahnya.
" Ternyata kau sudah sadar!" ucap Gilang membalas tatapan itu
" Ka..u" ucap Ainsley berusaha menjauhkan pandangannya
" Aku peringatkan sekali lagi, jauhi Neon atau aku benar membunuh anakmu." Suara Gilang mengancam dengan nada keseriusannya, matanya menyoroti tajam kearah Ainsley
" Kau tidak perlu menyuruhku, karena Neon sendiri telah membenciku, dan itu aku belum tahu alasannya apa, mengapa tiba-tiba membenciku. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha mencari tahu alasannya apa!" ucap Ainsley
" Wanita j*lang sepertimu, memang pantas untuk dibenci. Cobalah kalau kau berani." Suara Gilang penuh penekanan
Seharusnya aku yang membencimu, karena kau, aku jadi seperti ini.! Guman Ainsley
" Dok...? lekaslah keluarkan infus itu dari temanku, temanku lebih memilih untuk dirawat dirumah." Ucap Gilang melihat Dokter yang berjalan masuk
" Tapi keadaan pasien, belum cukup membaik." ucap Dokter memeriksa keadaan Ainsley yang masih talentang terbaring
" Aku sudah menahannya, tapi temannku ini keras kepala Dok, dia tetap bersikeras untuk dirawat dirumah. Tapi tenang Dok, kami akan mencarikan Dokter untuk selalu standby merawatnya." ucap Gilang
" Baiklah, aku akan melepaskan infus itu, dan kau boleh pulang. Tapi ingat, kesehatanmu harus ada Dokter yang mengecek tiap hari." ucap Dokter itu khawatir, karena sebenarnya fisik Ainsley masih sangat lemah belum bisa meninggalkan rumah sakit. Mendengar ucapan dari Gilang membuatnya sedikit lega.
Akhirnya Gilang membawa Ainsley keluar, ia mengandeng tangan Ainsley, memberlakukan Ainsley dengan begitu baik ketika berada di pekarangan rumah sakit itu. Setelah ia rasa jauh dari rumah sakit, ia menelantarkan Ainsley begitu saja. Ia meninggalkan selembar uang sebagai ongkos Ainsley pulang.
.
.
Maaf sebelumnya baru hari ini update, dikarenakan Novel ini dalam beberapa hari ini sementara di revisi 🙏
Terimakasih ❤️