I'M Sorry My Love

I'M Sorry My Love
Pria yang tidak dikenal



Gilang menancapkan gasnya untuk pergi meninggalkan Ainsley dan berlalu segera ketempat tujuannya. Langkah kakinya menuju kearah sebuah gedung yang besar, tepatnya merupakan kediaman orang tua Lita.


" Kenapa kau datang kemari" geram Lita saat melihat Gilang berdiri didepan pintu gerbang rumahnya


" Kau kenapa tiba-tiba marah begitu saja, apa salahnya kalau aku mampir dirumahmu!" kata balik Gilang heran


" Kau tidak boleh memunculkan wajahmu dirumahku. Kau pergilah, kita bertemu di Apartemenku saja" ucap Lita melihat keadaan sekitar


" Lebih baik kita pergi berdua, kita naik mobilku saja." Gilang menarik pergelangan tangan dari dari Lita. Namun Lita menangkisnya dengan kasar.


"Kau kenapa" Gilang menatapnya dengan kesal


" Bukankah kau ingin mendengar tentang Neon dan Ainsley, sebenarnya masih ada yang mengganjal diantara mereka." Ucap Gilang


Lita terbawah penasaran, dari ucapan Gilang barusan. Terpaksa ia menyetujui untuk pergi bersama Gilang ke Apartemennya.


Setelah mereka sampai, mereka tidak sadar dengan keberadaan sepasang mata yang terus memorgokinya sedari dulu. "Apa yang ingin kau katakan" kata Lita membiarkan dirinya untuk segera duduk di sofa


" Kau jangan senang dulu, sepertinya Neon belum sepenuhnya membenci wanita j*lang itu" ucap Gilang mengikuti Lita yang sedang duduk


" Apa maksudmu, bukankah kau mengatakan kalau Neon sudah sangat membencinya" kata Lita menatapnya dengan heran


" Neon memang sudah mengatakan padaku kalau dia sudah membenci wanita j*lang itu, tapi waktu aku tidak sengaja membuat Ainsley pingsan, ia beraninya sangat marah padaku bahkan mengancamku untuk tidak menyakiti Ainsley" Gilang menceritakan semua kejadian yang dia alami. " Dan satu lagi, kita harus berhati-hati pada wanita j*lang itu, ia akan berusaha membongkar rahasia kita pada Neon" ucap Gilang dengan serius


" Sebelum Ainsley melakukannya, aku akan membuatnya lebih menderita, sehingga berbicara pada Neon pun tidak akan sanggup" Lita tersenyum sinis membayangkan ucapannya


" Kau harus tetap membantuku sampai aku benar bisa menikah dengan Neon " ucap Lita


" Tapi ingat janjimu setelah kau menikah dengan Neon." Gilang memperingatkan


..


" Mommy kenapa?" Bert terkesiap ketika melihat tubuh Mommy nya yang berbeda dari sebelumnya. Dipeluknya erat tubuh lemah Mommy nya dengan begitu lembut


" Mommy tidak apa-apa sayang" jemari tangannya mengelus lembut kepala Bert, tidak lupa ia meninggalkan banyak ciuman di pipi Bert


" Bert kau tidak pergi sekolah" ucap Ainsley menatap lembut Bert yang sedang menopang tubuhnya masuk kedalam rumahnya


" Mom, ini hari minggu"


" Mommy lupa" Ainsley menepuk jidatnya


" Tapi bukankah kau semalaman dirumahnya Kenta, lalu kenapa kau sekarang sudah ada disini" ucap Ainsley melepaskan genggaman jemari tangan Bert


" Aku sengaja cepat pulang mom, karena aku nungguin Mommy pulang" ucap Bert dengan mengingat kembali bagaimana tatapan mata Daddy's Kenta menatapnya tadi pagi


Ainsley kembali memeluk tubuh mungil Bert. "Mommy kenapa" ucap Bert heran melihat keringat berceceran di dahinya


" Tangan Mommy juga kenapa diperban" tanya Bert sekali lagi


" Mommy...."


Ainsley terdiam sejenak, mencari jawaban yang pas untuk diucapkan. "Mommy tidak sengaja menjatuhkan pot bunga di kantor, jadi serpihan kaca itu mengenai Mommy" ucap Ainsley


" Mommy, aku akan membuatkan Mommy makanan." Ucap Bert kasihan melihat mommy yang sesekali terdengar menjerit kesakitan


" Bert, masuklah kedalam kamar mommy, ambil uang yang ada dalam laci meja. Kau pergi saja beli makanan." Ucap Ainsley, Ia tidak berani membayangkan apabila Bert yang akan memasak untuknya.


Bert pun segera mendengarkan perintah Mommy nya, setelah diambilnya beberapa uang itu. Ia pun meminta pamit untuk segera keluar mencari makanan. Ia berulang kali mengelilingi Toko-toko makanan, namun tidak ada satupun yang menjual bubur. Yah; ketika ia sedang sakit Mommy nya selalu memberikannya bubur untuk ia makan, dan itu juga yang ia akan lakukan kepada Mommy nya saat ini, meskipun Mommy nya tidak menyuruhnya untuk membeli bubur.


Terik matahari ia tidak hiraukan, suara aneh yang berbunyi dari dalam perutnya, tidak menghilangkan konsentrasinya untuk tetap mencari bubur. Dihadapan matanya terlihat sebuah cafe besar, ia berjalan melangkah masuk, namun dihalaman kafe itu, tiba-tiba seorang pria muda yang ia tidak dikenal menariknya jauh dari cafe itu.