
Neon berlalu masuk begitu saja kedalam apartemen Gilang. " Kau kenapa?" tanya Gilang heran
Neon bingung harus memulai darimana, yang intinya bahwa ia ingin mencari tahu kebenaran mengenai Ainsley.
" Aku juga heran, kenapa aku tidak sedari dulu mempercayaimu, kalau Ainsley itu adalah wanita penghibur." Kata Neon
" Maksud kau apa, aku tidak mengerti dengan ucapan itu, kau datang tiba-tiba berkata seperti itu." Kata Gilang penuh kebingungan
" Awalnya aku tidak percaya kalau Ainsley adalah wanita penghibur, namun..."
" Namun apa?" kata Gilang mengehentikan ucapan dari Neon
" Aku tidak bisa mengatakannya." Kata Neon singkat
Atau jangan-jangan Neon sudah tahu kejadian 5 tahun yang lalu. Batin Gilang panik
" Neon... Aku tidak paham maksud kau?" Kata Gilang memaksa meminta penjelasan
" Sebenarnya aku tidak sengaja melakukannya bersama Ainsley, namun yang kutemui Ainsley bukan lagi wanita yang suci." Kata Neon geram ketika mengingat hal itu. Seakan Hidupnya dibohongi oleh wanita yang berwujud sok polos.
Plak..
Suara tamparan keras dari Gilang kepada Neon. "Kurang ajar kau Neon, tega-teganya kau menghianati Lita" suara gertakan Gilang
" Oke fine aku sadar, aku telah menyakiti Lita, tapi setelah ini aku akan menyetujui pernikahanku dengan Lita." Ucap Neon
Ada rasa sakit hati, ketika mendengar ucapan dari Neon. "Awas saja kalau kau berani mempermainkan Lita kembali" kata Gilang kesal
Neon melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Neon. Berbicara pada Gilang tiada gunanya, justru akan memperkeruh masalah.
..
Hari semakin gelap, rupanya Neon masih tidak tetap kembali ke Apartemen pribadinya. Ia mengarahkan mobilnya ke rumahnya. Tempat dimana Daddy nya tinggal.
" Dad..?" panggil Neon ketika sudah berada didalam ruangan rumahnya.
" Neon..! Kau malam-malam begini, ada apa kau berkunjung kemari?" tanya Theo berjalan kearah anaknya
" Terus kenapa penampilanmu seperti ini, apa yang terjadi." Theo memegang pakaian yang terlihat kusut itu
" Daddy! aku setuju untuk menikah dengan Lita." Kata Neon dengan suara parau
Ada apa dengannya, tiba-tiba datang tidak jelas, lalu mengatakan ini, bukannya dari dulu dia selalu menolak. Batin Theo heran
Terlihat wajah bahagia yang berseri diwajah Theo Alison ketika mendengar penuturan dari anaknya, tidak masalah dengan keputusan tiba-tiba Neon, yang terpenting hanyalah putranya dapat menikahi Lita.
Setelah mengucapkan itu, Neon kembali keluar dari rumahnya itu, kembali menyetir mobil, yang entah tujuannya akan ka arah mana. "Apakah keputusanku ini benar?, kau sungguh tega Ainsley, seandainya aku dari dulu mempercayai ucapan Gilang dan Lita, mungkin aku tidak sesakit ini." Guman Neon
..
Sepanjang malam itu, Ainsley tidak bisa menutup matanya, hal seperti ini terjadi lagi dalam hidupnya, dulu ketika kesuciannya berhasil direbut oleh Neon, dan sekarang kembali lagi Neon merenggutnya. Dirinya benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Air matanya berhasil lolos ketika memikirkan semua itu.
Hembusan angin yang entah kapan akan berhenti, terus menghantuinya dimalam itu. Langkah kakinya berjalan kearah luar, tidak lupa membawa tasnya yang semula ia bawah. Meskipun udara sangat dingin, tiupan angin sangat kencang itu tidaklah lebih terasa dari Neon meninggalkannya begitu saja.
Mommy... Daddy.. suara Ainsley menutup kedua telinganya, saat mendengar bunyi kilatan petir yang memenuhi malam itu. Jalannya terseok-seok sambil terus memeluk tubuhnya seorang diri.
Sinar cahaya putih itu semakin mendekat kearahnya. "Neon..?" ucap Ainsley memeluk tubuh Neon
Kedua tangan Neon menyingkirkan kasar Ainsley yang tengah memeluknya.
" Lepaskan tangan kotormu." kata Neon
" Kau kenapa berubah seperti ini, ada apa denganmu?" ucap Ainsley heran
" Segeralah pulang, jangan banyak bicara, aku sudah muak denganmu. Melihat wajahmu saja, ingin sekali melenyapkannya." Sorot mata tajam menghunus kearahnya, tangannya mendorong tubuh Ainsley hingga terjatuh. Ainsley menahan suaranya ketika cairan merah berhasil lolos ditangannya. Ia mengikuti langkah kaki Neon yang mendahuluinya.
" Masuk sendiri" kata Neon yang menyuruhnya untuk segera masuk kedalam mobilnya.
" Kau jangan masuk dulu" ucap Neon ketika melihat guncuran darah ditangan Ainsley.
" Bersihkan dulu tanganmu, jangan biarkan setetes darah itu berada didalam mobilku." Kata Neon menggertak
" Aku salah apa padamu, kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini." ucap Ainsley menahan air matanya yang sudah diujung tanduk
" Kau mau tahu, salahmu apa? Kau sudah membohongiku, ternyata kau bukanlah wanita suci lagi. Aku benci dengan wanita yang p*lacur. Ternyata yang diucapkan oleh Lita itu benar, kau adalah p*lacur yang rendahan." Neon meninggikan suaranya
" Sekarang aku memang tidak suci lagi."
Plakkk.. suara tamparan keras dari Neon menghentikan ucapan Ainsley.
" Kau sendiri juga yang mengakuinya, masuklah cepat. Kalau aku terus memandangi tubuh kotormu, aku tidak segan-segan membunuhmu." Kata Neon. Dinginnya suasana malam, mengalahkan dinginnya tatapan wajah Neon
" Aku bisa berjalan kaki, kau pulanglah saja." Ainsley menolak
Neon mencengkeram pergelangan tangan Ainsley. Darah yang tadinya mulai redup, kini kembali mengalir. "Itu karena kau keras kepala, masuklah cepat, atau ku bunuh kau" gertakan dari Neon yang menatap tajam kearahnya
" Bunuh saja aku sekarang." Kata Ainsley putus asa
" Rupanya kau benar-benar ingin mati. Dengan senang hati, aku akan melakukannya." Ucap Neon
Aku ingin sekali mati, tapi siapa yang akan menemani Bert jika aku sudah tidak ada. Batinnya. Air matanya yang semula ia tahan, kini tidak bisa lagi menahannya, wajahnya dibanjiri oleh cairan-cairan bening.
Ainsley memasuki mobil itu, sambil memegang tangannya yang terus mengeluarkan darah. "Kau kenapa masuk, bukankah kau ingin mati saja?" Kata Neon memandangnya dengan sinis
" Tunggu tiba saatnya, aku akan menunggumu untuk segera membunuhku. Tapi itupun kalau kau sanggup." Kata Ainsley memancarkan senyumannya, seolah kesakitannya hari ini tidak ia rasakan.
Neon menutup pintu mobil itu dengan keras, Ainsley yang berada didalamnya terbawah kaget. Selama diperjalanan, tidak ada percakapan dan perlawanan lagi antara Neon dan Ainsley.
Ahkk.. suara pekik Ainsley yang tidak bisa lagi menahan kesakitannya. Kenyeritan mulai terasa, cairan merah kembali mengalir di area tangannya. Ia merobek kain bagian bawah bajunya demi untuk membalutkan tangannya yang terluka itu.
" Kau jangan banyak bergerak, aku tidak konsen menyetir." Kata Neon memperhatikan wajah Ainsley yang terlihat sedikit memucat.
..
Dukung Author dengan cara Like, vote, dan Koment🤗
Terimakasih semua ❤️