
Sesampainya dirumah, tidak henti-hentinya Bert memikirkan pria yang ditemuinya tadi siang. Bert memandang Mommy nya, Ainsley balas memandang padanya. Ainsley menemukan semburat ekspresi yang aneh dari Bert. Ainsley tahu betul apa yang dipikirkan oleh putranya. Kening Ainsley berkerut dan mulutnya sudah siap untuk mengeluarkan kata-kata kebohongan mengenai Daddy's Bert.
" Sayang..! kau pergi mandi dulu, ini sudah terlalu sore. Tidak baik untuk kesehatan mu." kata Ainsley memecahkan keheningan yang terjadi pada putranya. Mendengar ucapan Mommy nya Bert langsung berlalu pergi.
" Bert?" panggilan Ainsley menatap Bert yang pergi begitu saja.
Bert tidak meresponnya, dengan tetap melangkah maju untuk segera masuk kedalam kamarnya. Ainsley menggelengkan kepalanya.
" Aku juga tidak tahu harus apa? apa yang harus aku lakukan" batin Ainsley bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
" Aku yakin dengan Neon mengetahui siapa Bert, pasti Neon akan menjaganya lebih baik. Tapi bagaimana kalau Neon justru tidak menerima Bert" Pikiran Ainsley terus terbagi dua. Seakan seorang muncul dihadapannya dan memaksa dirinya untuk memilih salah satu pilihan itu. Tekad Ainsley sudah bulat, untuk tetap mau menerima dirinya, lebih dekat pada Neon. Bukan berarti bahwa ia tidak menghiraukan ancaman dari Gilang padanya.
Kemalaman tercipta, makan malam ibu dan anak ini telah usai. Ainsley menutup setiap tirai-tirai rumahnya, tidak lupa untuk selalu mengunci pintu rumahnya sebelum tidur. Suara ketukan pintu membuat dirinya penasaran. Entah siapa yang malam-malam datang mengetuk pintu rumahnya. Ketakutan tercipta, tapi ia selalu memberanikan diri untuk membuka pintu rumahnya itu. Suara ketukan itu terus terdengar justru semakin mengeras tanpa adanya suara seseorang memanggil.
Siapa yang bertamu dimalam hari. Guman Ainsley.
Langkah kakinya mendekati pintu itu.
" Kenta..?" ucap Ainsley setelah membuka pintu, melihat Kenta yang tengah berdiri tepat dihadapannya.
" Bibi Ain.. apakah aku boleh tidur disini? Mommy menyuruhku untuk tidur disini, karena tidak ada yang menemaniku dirumah." ucap Kenta
" Boleh sayang!" Aisnley mengajak Kenta segera masuk kedalam rumahnya.
" Kenta...! siapa yang mengantarmu kemari, apa kau sendiri?" tanya Aisnley
" Mommy dan Daddy ada dirumah, mereka menyuruhku untuk segera kemari, karena Mommy dan Daddy harus menjaga Katie dirumah sakit." Ucap kenta
" Sekarang masuklah kedalam kamar Bert, Bert sudah berada didalam." Kata Ainsley
" Kenta..?" Langkah kaki Kenta terhenti ketika mendengar suara panggilan Bibi Ain.
" Bibi Ain?" Kenta membalikkan badannya lagi dan berjalan kembali kearah Ainsley.
" Kenta..? tadi siang apa yang terjadi pada Bert. Kenapa hari ini Bert sedikit berbeda.!" Ucap Ainsley lembut. Namun sedikit penasaran, sungguh tidak sabar mendengar jawaban dari Kenta.
" Tadi siang....!" Kenta menghentikan ucapannya ketika melihat Bert keluar dari balik pintu kamarnya.
" Kenta kau kemari?" ucap Bert
" Aku mau tidur denganmu." Ucap Kenta berjalan kearah Bert
Kenta tidak lagi melanjutkan jawabannya, karena sekarang sudah ada Bert didepannya, jadi ia melupakan pertanyaan itu.
Kening Ainsley berkerut, karena Kenta tidak lagi melanjutkan ucapannya. Tapi ia tidak marah dan memaksa Kenta untuk melanjutkannya, karena sangat tidak baik bila Bert mendengar semuanya.
Pagi yang lumayan dingin, mungkin hari ini akan hujan. Batin Aisnley
Ainsley melangkah pergi ke kantor Algroup. Yah; pagi tadi ia telah menyiapkan segala keperluan Bert dan Kenta. Awalnya ia sangat sibuk karena bingung harus memakaikan Kenta seragam apa, karena Bert hanya memiliki seragam sekolah hanya satu. Untunglah Mommy's Kenta cepat datang menjemput Kenta, sehingga sedikit mengurangi kesibukan Aisnley.
Dengan cuaca yang lumayan tidak membaik, membuat parah karyawan belum terlalu banyak yang datang. Neon sudah berdiri diruangannya, sedari tadi matanya selalu memandang kebawah, tepatnya di pelataran depan kantor Algroup itu. Ada kesenangan tersendiri ketika melihat orang yang ditunggunya sudah hadir.
Langkah kaki Arka menghampiri Ainsley yang masih berdiri diruangannya. Yah; Ainsley belum sempat mendudukkan tubuhnya di bangku yang kini menjadi bangku kesayangannya sekarang. Karena Arka datang kearahnya, ia tidak jadi lagi sempat duduk. "Ada apa Tuan Arka?" ucap Ainsley
" Apakah begitu penting? Kenapa pagi sekali, inikan masih belum waktunya jam kerja.!" Ucap Ainsley. Ainsley memperhatikan jam tangannya, dan masih terlihat kurang lebih lima belas menit, baru waktu menunjukkan jam kerja mereka.
" Temuilah Tuan Neon sekarang, maka kau akan segera tahu." Kata Arka. Sebenarnya ia juga bingung dengan Tuannya itu.
Sebelum masuk kedalam ruangan Neon, Ainsley selalu mengetuk pintu terlebih dahulu. "Kenapa hatiku berdetak kencang" guman Ainsley memegang dadanya.
Dengan ragu-ragu ia mengetuk pintu. Langkah kakinya melangkah masuk kedalam, meskipun ia tahu tiap kali ia mengetuk pintu, suaranya tak pernah direspon oleh Neon.
" Ada apa Tuan Neon memanggilku" kata Ainsley beranjak duduk di sofa
" Aku ingin mengajakmu pergi" kata Neon berjalan kearah Ainsley
" Pergi kemana" kata Ainsley menundukkan pandangannya. Rasanya sangat malu ketika terus memandangi wajah tampan itu, apalagi sekarang wajah itu mengarah kepadanya.
" Ini rahasia" kata Neon mengangkat dagu Aisnley
" Kau... Apa yang kau lakukan!" Ainsley mengingat kejadian kemarin dulu, dimana Neon telah mencuri ciuman darinya.
Neon semakin dekat dengan wajah itu. Namun Ainsley kembali menundukkan kepalanya. Tangan Neon mengangkat kembali dagu runcing itu.
" Kau jangan cabul" kata Ainsley memandangi wajah tampan Neon.
" Kau jangan berpikiran aneh-aneh, aku hanya tidak suka ketika berbicara pada seseorang, terus orang itu hanya menundukkan dirinya, itu sama halnya dengan aku berbicara pada dinding-dinding tembok. Tapi sekarang rupanya kau yang mulai menggodaku terlebih dahulu. Baiklah aku tidak akan menolaknya." Senyum sumringah dari Neon.
" Ka..u..!!" aku tidak sedang menggodamu!" Wajah Ainsley kembali memancarkan kemerah-merahan. Keringat dingin mulai terasa pada dirinya.
Seketika Neon langsung menc*mbu bibir pink Ainsley. Tangannya tidak tinggal diam, ia membaringkan tubuh Aisnley pada sofa itu. Ia mulai membuka setiap kancing-kancing baju yang Ainsley kenakan. Tangannya mulai mer*mas benda kenyal milik Ainsley. Neon masukkan j*niornya pada milik Ainsley. Namun suara ketukan dari pintu menghentikan pergulatan mereka.
" Angry! siapa yang datang. Menganggu saja!" suara kesal Neon. Aisnley mendengar ucapan itu, membuatnya sangat malu dengan kejadian ini. Aku tidak boleh mengulanginya lagi. Guman Ainsley
Neon dan Ainlsey beranjak merapikan pakaian mereka, terutama Ainsley yang tergesa-gesa memasang kembali kancing bajunya. Karena suara ketukan pintu itu semakin terdengar, mengganggu pendengaran Neon. Seketika Neon langsung membantu Aisnley memasang kancing baju Aisnley. Yah; memang Neon pantas membantunya, karena dia sendiralah yang membuat kancing baju itu terlepas.
.
.
Ada yang bisa nebak 🤗 orang yang mengetuk pintu itu siapa?
.
.
Bagi teman-teman yang ingin menyatakan dukungan pada Author. Jangan lupa untuk mendukung Author melalui Like, Vote, beri tip, dan Favoritkan. Dan Jangan lupa juga untuk beri komentar 🤗
.
.
Terimakasih ❤️