
Plak...
Tamparan dari Neon "kau mengatakan kalau aku menganggu kehidupanmu. DASAR TIDAK TAHU DIRI, justru kau lah yang menganggu kehidupan kami" Teriak Neon mencengkram Ainsley. Sudut ruangan itu, Neon melihat sebuah pisau yang tertera diatas meja. Jemarinya mengambil pisau itu. Kebencian yang membara menghantui pikirannya.
Tatapannya terlalu sinis untuk Ainsley, tatapan itu ialah tatapan penuh kebencian. Ainsley melihat pisau itu sudah berada di tangan Neon, Ainsley berteriak histeris.
" Tolong jangan bunuh aku, kasihan Bert" Ainsley menangis sejadi-jadinya
" Siapa Bert?" Teriak Neon mencengkram erat kembali Ainsley
" Anak aku, dan anakmu juga" Ainsley terpaksa jujur, karena mungkin dengan jujur Neon akan berbaik hati padanya.
" Kau boleh membenciku, tapi tolong kasihanilah anakmu" ucap Ainsley dengan disertai air mata yang nampak bergelimang di kelopak matanya
Yah; Mendengar ucapan itu, Neon tidak tahu lagi, ia masih terdiam termenung. Entah apa yang dia pikirkan?
Neon keluar dari rumah Ainsley, pikirannya benar terganggu saat ini. Saat ia membuka pintu, ia berpapasan dengan anak kecil yang menurutnya tidak asing baginya. Yah; ternyata dia adalah anak yang pernah ditemuinya di kamar mandi lalu, dan yang mengatakan kalau dirinya adalah pria yang sangat tampan. tetapi ia masih tidak menghiraukannya, ia tetap berjalan melangkah jauh pergi dari rumah ini.
" Mommy?" ucap Bert berteriak memanggil Mommy nya. Lagi-lagi tiap hari ia selalu melihat mommy nya terluka parah.
" Mom? Apakah pria dewasa tadi yang melukai mommy."
Ainsley menggelengkan kepalanya, ia terpaksa berbohong, ia tidak ingin kalau Bert membenci Neon. "Pria tadilah yang menolong Mommy" jawabnya bohong.
Bert menatap lekat-lekat Mommy nya, Bert sendiri terkadang masih sulit mengenali ekspresi wajah orang dewasa. "Kenapa Mommy selalu terluka" ujar Bert menatapnya penuh
" Nanti kalau Bert sudah dewasa, Bert akan tahu." Jawab Ainsley singkat. Tidak ingin membuat Bert berlimpah pikiran, kehidupan Bert harus lebih baik, tidak boleh dulu mencampuri urusan dewasa.
" Aku sudah dewasa Mom, karena dewasa tidak dinilai dari umur." ucap Bert. Dengan mengikuti ucapan gurunya ketika ia mengajarinya
" Bert memang sudah dewasa." Suara kecil Ainsley. Kemudian memeluk tubuh kecil Bert.
" Karena aku sudah dewasa, jadi mom? ceritakan siapa yang melukai Mommy?" tanya Bert disela-sela pelukannya.
Bagaimana aku harus menjelaskannya pada Bert. guman Ainsley
" Sayang, Mommy terluka karena ...." Ainsley terdiam sejenak, mencari alasan yang pas sehingga Bert tidak banyak tanya lagi.
" Kamu diam, duduk yang tenang, Mommy akan menceritakan semuanya." Ucap Ainsley melepaskan pelukan itu.
Bert pun akhirnya mengikuti arahan dari Mommy nya untuk segera duduk yang rapi. Rambut-rambut yang mengganjal ditelinganya, ia rapikan terlebih dahulu, sehingga setiap ucapan dari mommy nya ia dapat cerna dengan baik. Ia pun berjanji dengan dirinya sendiri, akan membalaskan kesakitan yang dialami oleh Mommy nya kepada orang yang sudah jahat atau melukai mommy nya itu.
Ainsley tersenyum sumringah, ketika melihat Bert yang begitu antusias ingin mendengar ceritanya. "Cepatlah mom!" ujar Bert yang sudah terlalu mati penasaran
" Jadi gini, Mommy pernah menolong seorang ibu yang lumayan tua dari perampokan, karena parah perampok itu marah dan kesal, terpaksa ia melampiaskan kekesalannya pada Mommy. Ia yang membuat Mommy begini sampai luka leban ini, tetapi pria dewasa tadi langsung tiba-tiba hadir menjadi malaikat penolong Mommy... Dia yang telah menjadi malaikat Mommy" kalimat yang terakhir dengan intonasi yang berbeda. Wajah sendu Ainsley berhasil meloloskan cairan bening yang sudah berada di penghujung kelopak matanya.
" Mommy kenapa menangis?" Bert mendekat kearah Mommy nya dengan menggelap air mata yang ada pada wajah Ainsley.
..
Neon menghancurkan setiap barang-barang yang ada didalam kamarnya, barang-barang antik yang selalu diperliharanya, melarang orang menyentuhnya sedikit pun, sekarang kini semuanya ludes dengan hancur berkeping-keping.
" Aku tidak mau"
" kenapa ini bisa terjadi?"
" Apa yang harus aku lakukan"
" Kenapa harus dia yang melahirkan anak aku, aku sangat benci wanita j*lang itu"
Ucapan-ucapan itu yang mengaung di dalam kamarnya, ia berteriak disertai dengan barang-barang berjatuhan. Semua orang yang ada didalam rumah itu mendengar teriakkannya. Tapi tidak ada satupun yang berani menunjukkan wajahnya untuk menghampiri Neon.
Theo Alison yang baru saja tiba, oleh karena suara pecahan yang berisik itu, ia tidak sempat memarkirkan mobilnya dengan baik, mesin mobilnya pun ia belum matikan. Theo Alison sudah menebak bahwa suara itu dari Neon. Yah; karena suara itu tidak lain berasal dari kamar putranya sendiri.
" Hentikan, Neon kau kenapa semakin begini, kontrol emosimu." Bentak Theo Alison menatapnya dengan tajam. Theo Alison juga geram dengan kekacauan ini. Ia sangat benci dengan namanya berantakan
" Daddy, anak pembunuh itu, mengatakan bahwa anaknya adalah anakku juga." Ucap Neon dengan suara serak, suaranya menjadi serak karena ulahnya sendiri yang sedari tadi berbicara sambil berteriak.
" Apa maksudmu, Anak siapa yang kau maksud" ujar Theo Alison heran
" Anak Ainsley, dia telah melahirkan anak darah dagingku"
" Bagaimana bisa kau mengatakan kalau itu anakmu? Kau jangan percaya ucapannya, mungkin saja dia sedang mempermainkan mu lagi" ucap Theo Alison sulit mempercayai ucapan dari Neon barusan
" Aku sendiri yang melihatnya langsung, anak itu begitu mirip denganku. Dia adalah aku kecil." Ujar Neon
.
.
.
.
..
**Akhir kata Neon mengucapkan untuk tidak lupa memberinya dukungan melalui Like, Vote, Favoritkan, dan Tip.
Satu lagi, jangan lupa untuk koment, biar Author dapat terus belajar dari koment yang ada. Author juga diam-diam selalu stand by baca koment-koment kalian 🤗
Besok lagi yahh 🤗
Terimakasih semua ❤️**