I'M Sorry My Love

I'M Sorry My Love
Menyiksamu, sampai kau benar-benar tersiksa!



Keesokan harinya berita pagi menggema dikantor Algroup. Arka berlalu kesana-kemari menyampaikan bahwa sang pemilik kantor ini, hari ini tidak masuk.


" Kau tahu dari mana, kalau Tuan hari ini tidak masuk" ujar Sena yang heran


Arka terdiam sejenak, bingung ingin menjawab apa. Karena sebenarnya ia belum mendapatkan info dari atasannya itu kalau Tuan Neon tidak akan masuk. Ia cuman mengada-ngada saja.


" Itu menurut feelingku saja. Aku pastikan Tuan Neon. Tidak akan datang hari ini." Ucap Arka kepedean. Semua karyawan yang lainnya menatap heran Arka yang terlalu girang.


" Sekarang semuanya bubar, kembali ke tempatnya masing-masing. Sekarang aku yang akan mengawasi kalian." Ujar Arka


Yah; sedari dulu memang Arka lah yang mengawasi kantor Algroup ini, bila Neon berhalangan hadir.


Akhirnya semua karyawan yang tadi berkerumun semuanya telah kembali kemeja kerjanya masing-masing, ada yang bahagia dan ada yang merasa tidak senang.


Arka memasuki ruangan Neon. Ia duduk di sofa, sembari melihat-lihat suasana sekitar. Baru kali ini ia bebas memasuki ruangan tanpa Neon didalamnya. Ia memperhatikan bingkai foto yang terpampang diatas meja, tak lain ialah foto Neon kecil yang dipangku oleh Daddynya disampingnya terlihat Mommy nya tersenyum kearah Neon kecil.


"Harmonis.." kata singkat itu yang keluar dari mulut Arka. Ia tidak memalingkan pandangannya, matanya masih saja tetap fokus memperhatikan bingkai foto itu.


Arka berjalan menyusuri sekitar, lembaran kertas yang berada diatas meja itu membuatnya gagal fokus untuk meninggalkan meja itu. Dengan tangannya ia menyentuh belaian kertas itu, namun tiba-tiba suara dorongan pintu menghentikan aktivitasnya.


" Apa yang kau lakukan" ucap Neon menatapnya dengan curiga


" Tuan, aku hanya ingin merapikan meja ini." ucap Arka bingung. Bukannya Tuan Neon hari ini tidak masuk karena dia sibuk, bagaimana bisa dia muncul kembali. guman Arka


" Jangan pernah menyentuh barang-barangku, meskipun itu sangat berantakan, aku bisa merapikannya sendiri" ucap Neon dengan tatapan tajam. Langkah kakinya mendekat kearah mejanya. Dengan kesalnya ia menghamburkan semua kertas yang berada diatas mejanya. "Cepat rapikan itu" ucapnya geram


Bodoh sekali Tuanku ini. ucap Arka dalam hati


Arka pun langsung merapikan setiap kertas yang telah berantakan itu.


" Dimana kau menyimpan formulir wanita j*lang itu" ucap Neon


" Maksud Tuan siapa? siapa yang wanita j*lang?" Heran sekali Arka mendengar ucapan itu


" Ainsley Williams" ucap Neon malas ketika menyebut nama asli wanita itu.


Arka meminta izin keluar dari ruangan Neon untuk pergi mengambil formulir milik Ainsley. Setelah formulir itu berada ditangan Neon, ia tersenyum sinis.


" Kau uruslah kantor ini. Aku akan ada urusan lain." Ujar Neon


" Tapi Tuan.!"


" Tidak ada tapi-tapian!" Ujar Neon menangkasnya


Neon berdecak kesal ketika hampir menambrak wanita yang menyebrang jalan begitu lamban. Semakin ia memperhatikan wajah itu, semakin ia mengenali wajah itu. Ia turun dari mobilnya dengan senyum sumringah.


" Kau" ucap Ainsley ketakutan


Neon tersenyum sinis, merasa puas karena berhasil membuat Ainsley takut, apalagi dengan melihat bagian tubuh Ainsley banyak luka leban, membuatnya makin senang.


" Kau mau melarangku lewat sini, seandainya aku benar menabrakmu tadi, lalu aku meninggalkan mu begitu saja, seperti yang telah dilakukan Ley Williams pada Mommy ku" tatapan sinis dari Neon


Air mata berhasil lolos di wajah Ainsley. Neon benar ingin dirinya mati, seandainya tidak ada Bert, dari kemarin ia ikhlas dilenyapkan begitu saja oleh Neon.


" Kau tidak tahu salah, bukannya meminta maaf, malah justru menangis. Hapus air mata kotormu itu." Ucap Neon menggertak


" A..ku" ujar Ainsley takut


" Aku apa?" teriak Neon tepat didepan wajahnya


Tangannya mencengkram erat wajah Ainsley. "aku ingin kau mati." Ucap Neon


Suara klakson mobil besar menghentikan cengkeramannya. Yah; jalan ini tidak terlalu besar, mobil Neon pun juga masih terparkir ditengah jalan. Neon menatap tajam kearah sopir itu. Suasananya Ainsley gunakan untuk segera kabur dari Neon. Ia berjalan sebisa mungkin, namun meskipun ia tidak bisa berlari namun ia masih bersyukur karena diberi kesempatan untuk menjauh dari hadapan Neon.


" Kau berani-beraninya memerintahku." Ucap Neon geram. Melototkan kedua matanya kearah sopir itu.


Sopir itu keringat dingin ketakutan, ketika ia berhadapan langsung dengan Neon. "Maaf Tuan." Ucap sopir itu berlari terbirit-birit.


" Sial, wanita j*lang itu telah kabur" ujarnya kesal menendang ban mobil dihadapannya


Ia menyusuri jalan, matanya tadi masih sempat memperhatikan Ainsley yang berjalan kearah sini. Ah benar saja, prediksinya tidak salah. Ia melihat Ainsley sedang membuka pintu salah satu rumah daerah situ. Ia berlari mendekatinya.


" Biarkan aku masuk" ucap Neon.


Ainsley memalingkan wajahnya, begitu kagetnya saat melihat Neon menatapnya balik kearahnya. Neon berjalan mendekatinya, ia mendorong paksa Ainsley masuk kedalam rumah itu, dan mengunci pintu rumah itu.


" Apa yang kau lakukan dirumahku" ucap Ainsley


" Katanya Ley Williams adalah keluarga yang konglomerat, tapi kau tinggal dirumah kumuh ini. Tapi itu tidak penting bagiku. Yang terpenting ialah menyiksamu sampai kau benar-benar tersiksa." Tatapan tajam menghunus kearah Ainsley


" Tolong, jangan ganggu kehidupan kami" ujar Ainsley tidak berani menatap balik Neon


Plak...


Tamparan dari Neon "kau mengatakan kalau aku menganggu kehidupanmu. DASAR TIDAK TAHU DIRI, justru kau lah yang menganggu kehidupan kami" Teriak Neon mencengkram Ainsley. Di sudut ruangan itu, Neon melihat sebuah pisau yang tertera diatas meja. Jemarinya mengambil pisau itu. Kebencian yang membara menghantui pikirannya.