I'M Sorry My Love

I'M Sorry My Love
Beraninya kau menyakiti dia



Ahkk.. suara pekik Ainsley yang tidak bisa lagi menahan kesakitannya. Kenyeritan mulai terasa, cairan merah kembali mengalir di area tangannya. Ia merobek kain bagian bawah bajunya demi untuk membalutkan tangannya yang terluka itu.


" Kau jangan banyak bergerak, aku tidak konsen menyetir." Kata Neon memperhatikan wajah Ainsley yang terlihat sedikit memucat.


" Jauhkan pandanganmu dariku, aku tidak suka melihatmu." Ucap Neon memalingkan wajahnya


Mendengar ucapan dari Neon, Ainsley menundukkan kepalanya. Berusaha menahan rasa nyeri tangannya. Buliran-buliran cairan bening, kembali membanjiri pipinya.


" Hentikan tangismu, atau aku akan menurunkanmu disini." Kata Neon menatapnya.


Dengan cepat Ainsley mengelap air matanya, mengelapnya hingga tidak menyisakan lagi, perlahan Ainsley memejamkan matanya, demi hanya untuk menghilangkan rasa sakitnya, dan agar Neon tidak marah lagi padanya.


Ada apa dengannya kenapa sedari tadi, ia terus menangis. Guman Neon yang melihat air mata yang berhasil lolos di pipi Ainsley. Tangannya menyetir namun matanya selalu menoleh kearah Ainsley.


Neon mulai mengantuk, Yah; hari semakin larut, malam yang begitu gelap menyelimuti keduanya, cahaya penerang pun tidak mampu menerangi mereka, bintang-bintang pun tidak ada yang memancarkan cahaya indahnya, mereka hanya mengandalkan cahaya sinar lampu jalan yang terkadang ada juga.


Mulut Neon mulai tidak konsisten, mulutnya saja selalu menguap tidak bisa lagi mengimbangi rasa kantuknya. Ia beristirahat sejenak dengan berhenti menyetir untuk sementara.


Ainsley terbangun karena mimpi buruk baru-baru menghantuinya. Kegelisahan hatinya semakin menakutinya, ia memilih untuk segera kabur dari hadapan Neon, tangannya perlahan memaksa membuka pintu. Sejenak ia terhenti ketika melihat tangannya sedang berada dibawah tangan Neon. Rupanya Neon menggenggam tangannya, dengan hati-hati Ainsley melepaskan genggaman itu.


" Ahkk.. " suara Ainsley menjerit ketika kepalanya terbentur dengan kaca mobil. "Kau jangan pernah menyentuhku" sorot tatapan mata itu menghunus kearahnya.


" Maafkan aku, turunkan saja aku disini, nanti biar aku berjalan kaki kerumahku sendiri." Kata Ainsley menahan rasa sakitnya


Neon menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak menghiraukan suara yang berusaha menghentikannya.


" Turun kau" kata Neon kesal


" Ini dimana?" Guman Ainsley


Meskipun ia tidak tahu sekitaran jalan sini, tapi lebih baik daripada harus terus bersama Neon. Dengan langkah kaki yang lamban, tubuhnya benar sangat berat, kakinya saja ia tidak mampu gerakan"Aku ingin mati" teriak Ainsley


Suaranya itu dapat didengar Jelas oleh seorang pria yang entah sejak kapan berada disitu. "Nanti aku akan membantumu!" suara yang tidak asing baginya tiba-tiba muncul, langkahnya berjalan kearah Ainsley.


" Gilang..? kau juga ada disini!" ucap Ainsley


" Seperti yang kau lihat, aku juga berada disini. Aku akan membantumu!" Ucap Gilang


" Kau benar ingin membantuku?" ada perasaan menyelip dihati Ainsley


" Aku akan membantumu, agar kau cepat lenyap didunia ini, bukankah kau sendiri yang menginginkannya." Ucap Gilang merendahkan dengan memegang pergelangan tangan Ainsley yang terbungkus sobekan baju


Jadi dia tidak benar ingin menolongku. guman Ainsley sedih


" Akhh! aku mohon lepaskan tanganmu!" ucap Ainsley tidak bisa menahan rasa sakitnya.


Bukankah ini yang kau suka, cengkraman Gilang semakin diperkeras, sehingga darah di tangannya kembali bercucuran.


Ainsley jatuh tak sadarkan diri, bibirnya semakin memucat lebih dari yang sebelumnya. Seorang pria yang tadi diam-diam bersembunyi dibalik pohon, berlari kearahnya.


" Kau kurang ajar!" beraninya kau menyakiti dia. Ucap Neon geram mengertak giginya. kedua sudut bibirnya mengerang keatas, menandakan bahwa ia benar-benar marah.