
" Tidak mommy! sekarang aku suka sekali, Mommy? pesanin aku lagi yahh? " Ainsley meminta lagi, mengingat tadi pagi persediaan telur yang ada dirumahnya mulai habis.
Mereka kini terus bercerita, hingga Ainsley selesai sarapan dan melanjutkan dirinya untuk segera pergi ke kampusnya.
Dihalaman rumahnya, Ainsley begitu bersemangat, langkah kakinya segera maju memasuki mobil miliknya sendiri, selama kuliah ia tidak lagi memiliki sopir pribadi, berkat Mommy yang berhasil membujuk Daddy nya, sehingga pada saat ini Ley Williams masih tetap mengizinkannya mengendarai mobil sendiri. Namun sebelum tubuh itu berhasil masuk kedalam mobil kesayangannya itu, entah kenapa kepalanya sangat pusing, ia terus memegangi kepalanya dan bersandar pada dinding mobilnya, namun denyutan denyutan kepalanya tidak bisa lagi ia tahan.
Saat ia mulai sadar, ia merasakan rasa mual sungguh tidak bisa ia menahannya lagi dengan bau obat-obatan yang ada pada rumah sakit ini. Tatapan tajam penuh tanda tanya yang mengarah pada dirinya, tidak lain ialah Mommy dan Daddy nya. Ley Williams menggenggam cukup erat tangannya sehingga sedikit menyimpan rasa sakit, mengajaknya berjalan keluar memasuki mobil milik Daddy nya. Sepanjang perjalanan Ainsa hanya diam terpaku, tidak ada pembelaan sama sekali pada diri Ainsley. Dalam hatinya juga menyimpan rasa kecewa dan marah, namun sebenarnya juga ada rasa iba dengan anak semata wayangnya itu.
Sesampainya di rumah Ley Williams mencengkeram erat tubuh Ainsley, memaksanya melangkah cepat kedalam ruangan privat mereka, agar percakapan dari mereka tidak ada yang dengar.
" Cepat katakan itu anak siapa? " Kegeraman Ley Williams dengan mengguncang cukup kuat tubuh Ainsley.
" Daddy? " a...ku katanya terbata-bata menunduk menahan air matanya.
" Cepat katakan? " tamparan keras mendarat pada pipi Ainsley, namun kali ini rasanya dua kali lipat lebih sakit dari bulan lalu.
Ainsley hanya diam membisu tidak berani ia mengatakan nama Neon Alison, karena bisa saja Neon Alison tidak mau mengakuinya dan membuat reputasi Daddy nya akan lebih buruk. Karena menurut salah satu temannya Lita, yang mengatakan bahwa Neon Alison suka bermain-main dengan wanita, sering kali ia menyuruh wanitanya untuk aborsi apabila kedapatan hamil. Sungguh tidak tega ia mengaborsi anak darah dagingnya sendiri.
" Dad! hentikan jangan terlalu kasar padanya?" Ainsa bertekuk lutut pada suaminya, sehingga amarah suaminya bisa redah.
Ley Williams semakin geram dengan tindakan istrinya itu, tiap Ainsley melakukan kesalahan selalu saja dibela nya, ini semua juga gara-gara istrinya yang membiarkan dia mengendarai mobil sendiri, bisa saja selama Ainsley kuliah, pergi nya keliuran tidak jelas. Meskipun pada saat ini istrinya bertekuk lutut padanya, ia tidak mau lagi mendengarnya.
" Kau sudah berhasil buat Daddy dan Mommy malu. Cepat gugurkan anak itu, sebelum orang luar tahu! " Ley semakin menatap tajam Ainsley dengan penuh harapan.
" Tidak Daddy! aku tidak mau mengugurkan anak ini, anak ini tidak bersalah, aku bukan seorang pembunuh! " katanya disela-sela tangisannya
" Pergi kau dari rumah ini?" kata Ley mengancam anaknya.
" Dad! apa yang kau katakan? anak dan cucu mu sendiri kau usir? " Ainsa mencoba memberi pembelaan pada putrinya
Hanya itu cara sehingga keluarga Williams tidak dipandang buruk oleh orang luar.
" Daddy ini tidak seperti yang Daddy pikirkan, aku sebenarnya dijebak oleh dua pria, tapi aku tidak tahu ayah dari anak ini! " kata Ainsley mencari pembelaan
Plakk..!!
Suara tamparan kembali terdengar
" Anak kurang ajar, bagaimana bisa kau tidur dengan dua pria sekaligus? " Emosi Ley Williams semakin mengerang, tidak disangka didikannya yang begitu ketat selama ini ternyata gagal total.
Suara tamparan kembali terasa dipipi Ainsley.
Ainsa ikut terbawa emosi, tidak pernah sekali ia menampar putrinya, memarahinya saja ia tidak sanggup. Namun kali ini menurutnya sangatlah kelewatan batas.
Ley Williams pun sangat bingung dengan tindakan istrinya, baru kali ini ia melihat istrinya semarah ini pada Ainsley putrinya.
" Daddy? Mommy? "
Kata Ainsley yang telah terpaku dibawah lantai, rasa sakit tamparan sangatlah begitu sakit ia rasakan, tapi lebih sakit ketika kedua orang tuanya sendiri berprasangka buruk padanya, padahal belum mengetahui cerita yang sebenarnya.
" Cepat kau pergi dari sini, aku tidak mau lagi melihatmu! " Kata Ainsa memaksa suaranya agar tidak terlihat sedih.
Ainsley terpaksa meninggalkan rumahnya yang berjuta kenangan. Karena itu adalah keinginan sendiri dari Mommy nya, mau tidak mau ia terpaksa mendengarkannya. Mommy nya yang selalu memberikan pembelaan padanya, sekarang sudah tidak ada lagi harapan padanya. Dengan sedih Ainsley memaksakan kakinya untuk segera melangkah keluar. Dibelakang Mommy nya kembali mencoba menahannya, Ley Williams justru menahannya. Ada rasa penyesalan yang ia rasakan dari penuturan kata-kata sebelumnya yang telah diberikan pada anak kesayangannya itu.
.
.
.
.
.
.
Hallo Readers 🤗 untuk memberi dukungan pada Author, jangan lupa untuk Like dan Vote. Agar kalian tidak ketinggalan dengan episode barunya, jangan lupa untuk favoritkan 😉
Dan jangan lupa juga untuk memberikan masukan berupa komentar🙏biar Author kembali dapat belajar 🌻
.
.
Terimakasih Semua 💋