I'M Sorry My Love

I'M Sorry My Love
Bagaimana kalau benar itu anakmu?



" Tapi tunggu, apakah Neon sudah tahu mengenai anaknya?" Ujar Lita


Neon mengiyakan ucapan dari Lita. "Kurang ajar, ini akan menjadi penghalangku lagi" Lita geram mendengar itu


" Kau tenang dulu, Neon mengatakan bahwa ia akan terlebih dahulu melakukan tes DNA, kita bisa memanfaatkan keadaan itu." Ujar Gilang memberi arahan


" Benar juga yang kau katakan, kita akan menukar hasil tes DNA itu. Karena kau sahabat yang dipercayainya, kau boleh mencari tahu informasi tentang kapan dan dimana Neon akan melakukan tes DNA itu." Tukas Lita menyusun rencananya. Rencana itu adalah pembahasan terakhir mereka berdua dikafe ini.


Namun sebelum melangkah pergi. Lita heran dengan orang yang berpakaian serba hitam itu, gerak-geriknya sangat terlihat aneh pakaian yang ia gunakan sangat mencurigakan. Yah; karena tidak biasanya ia melihat pengunjung lain berseragam seperti itu. Namun Lita belum sempat melihat wajah dari orang itu, orang itu sudah pergi jauh meninggalkan kafe.


" kau kenapa?" tanya Gilang heran


" Ah, tidak apa-apa. Aku cuman terganggu dengan orang yang duduk disebelah sana." Tunjuk Lita kearah tempat duduk pria yang berpakaian hitam tadi.


Ternyata Lita juga merasakan ada kejanggalan dengan pria itu, sebenarnya sedari tadi Gilang mulai manaruh curiga, tapi enggan untuk menceritakannya pada Lita.


..


Arka merasa pusing dengan masalah Tuannya itu. Ia tidak habis pikir kalau Ainsley adalah anak dari seorang pembunuh. Kasihan juga hidup Ainsley. Tapi Neon tidak boleh membencinya, yang salah adalah orang tuanya, bukan salah Ainsley. Sebelum Lita benar menikah dengan Neon, ia akan tetap berusaha menyatukan hubungan Neon dengan Ainsley. Menurutnya Ainsley adalah wanita yang baik dan polos, wanita yang baik wajar bahagia.


Hp yang dipegangnya menghentikan lamunannya seketika. "Ah orang ini panjang umur, baru juga terpikirkan, tiba-tiba telfonnya nongol saja" guman Arka melirik tulisan huruf nama Neon dilayar Hpnya


"Baiklah Tuan, aku akan menemanimu, Tuan sisa menghubungiku saja bila kita akan segera pergi" ujar Arka membalas ucapan Neon dari balik telfonnya.


" Aku sangat setuju denganmu Tuan, kalau kau melakukan tes DNA untuk anak Ainsley, eh.. maksudku anak Tuan Neon juga." Ujar Arka blas-blasan mengulang ucapannya lagi. Neon mengakhiri panggilannya. Ada senyum bahagia ketika mendengar bahwa Neon akan melakukan tes DNA. Dengan senang hati ia antusias pergi menemani Tuannya itu untuk melakukan tes DNA.


..


Neon mengetuk pintu itu dengan begitu keras, hingga Ainsley yang baru ingin memejamkan matanya, terbelalak kembali karena suara itu. Ainsley melangkah sambil menggerutu kesal, niatnya untuk beristirahat harus gagal karena tamu itu.


Neon langsung mendorong pintu itu, ketika ia merasa seseorang dari dalam pintu itu sedang membukanya, ia berjalan dengan kasar masuk kedalam ruang tamunya. Ainsley mengekorinya dengan ketakutan yang mencuak didalam hatinya. "Untuk apa lagi dia kemari?" guman Ainsley


Neon membalikkan pandangan dengan sinis kearah Ainsley. Yah; inilah yang paling membuat Ainsley takut ketika melihat sorotan mata itu. Hidupnya terasa mati membeku ketika harus terus berhadapan dengan Neon.


Keheningan tercipta karena Ainsley tidak pernah mengubris setiap ucapan dari Neon, bukan karena malas ataupun hal lainnya, hanya saja Ainsley takut ketika nanti dia salah ucap kata, itu akan lebih membahayakannya.


Neon kembali geram dengan mencengkram bagian wajah Ainsley. "Apa kau tidak bisa bicara?" Neon menggertak dengan menghunuskan tatapan tajam kearah Ainsley


" A..ku" kata Ainsley kaku dengan ketakutan yang terus tersirat diwajahnya


Suara nyeri keluar dari mulut bibir Ainsley, ketika cengkeraman Neon semakin keras. Neon mengelus rambut Ainsley lalu menjambaknya. Sebaris cairan bening menetes di kelopak mata Ainsley. "Aku sudah mengatakan, jangan menangis dihadapanku". Yah; Neon membenci air mata itu. Neon geram dengan membenturkan kepala Ainsley kedinding tembok hingga Ainsley terpingkal jatuh


" Apa salahku" suaranya pelan tidak sengaja mengucapkan kata itu, nihil karena suara itu terlanjur terdengar ditelinga Neon. Neon mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Ainsley yang masih terbaring jatuh. "Apa? kau bilang apa salahmu!"


Plakk..


Neon menamparnya dengan keras, terlihat jelas tangannya terasa begitu panas setelah ia menampar Ainsley. "Berdiri kau" teriak Neon


Yah; Ainsley langsung mengikuti perkataan Neon untuk segera berdiri, namun kekuatannya tidaklah cukup kuat untuk membangkitkan tubuhnya. "Berdiri saja kau tidak bisa" Neon mencengkram bahu Ainsley dan memaksanya untuk bangkit berdiri.


" Aku kemari karena ingin mencari anak itu, aku ingin mengambil rambutnya untuk aku jadikan sampel tes DNA!" Neon berbisik keras di telinga Ainsley


" Apa, tes DNA? apakah kau tidak percaya kalau Bert itu darah dagingmu sendiri?" tanya Ainsley tapi tidak berani menatap balik Neon


" Aku hanya ingin memastikan bahwa anak itu benar anakku, tapi kalau ternyata itu bukan anakku, ku pastikan nyawamu tidak akan tertolong lagi" Neon menggertak dengan mengangkat dagu Ainsley, agar Ainsley dapat memandangnya balik. Seulas senyuman sini terpancar ketika Ainsley menyiratkan ketakutan diwajahnya.


" Tapi bagaimana kalau benar itu anakmu, apa yang akan kau lakukan pada kami?" Ainsley memberanikan diri untuk mengucapkan kata ini.


..


Neon terdiam sejenak memikirkan kata-kata apa yang akan ia keluarkan. Karena tidak memiliki jawaban, Terpaksa Neon mengatakan Jangan lupa untuk Like, Vote, favoritkan atau dengan meninggalkan komentar.


**Koment saja dirinya 🤗


Author mengucapkan Terimakasih semua ❤️atas kebaikan partisipasi teman-teman 🤗Love you ❤️**