
Kami tiba di jakarta pukul 8 pagi, supir yang di perintahkan Mama mertuaku sudah menanti kedatangan Kami.
Tibalah kami di Rumah, Reva dan Revi segera berlari menyambut ku.
Aku memeluk mereka dan menciumi mereka.
Begitu juga, sama dengan Reno Papa mereka.
"Mama lama cekali cih pelginya."
Revi bertanya kepada ku sepertinya mereka tidak sabar ingin Bercerita.
"Sebentar yah Sayang mama, Papa sama mama mau ganti baju dulu, kalian sudah sarapan?"
"Cudah Mah. " serentak mereka berdua menjawab.
"Mama ku lalu menyambut dan memeluk ku. "
"kalian tiba dengan selamat nak, mama sangat senang. "
Aku dan Reno segera menuju kamar kami untuk mengganti baju.
Setelah mengganti bajuku, aku segera menemui Si kembar di kamar mereka yang baru saja selesai di mandikan Pengasuh mereka.
Mereka lalu mendekat kepadaku dan duduk di pangkuanku.
"Revi sama Reva Nakal tidak sama Oma Erika dan Eyang Lani. "
"ndak Ma itu ndak boleh. "
"pintar anak mama, terus kalian bermain dengan siapa saja. "
"cama bi ana telus cama bi Sofi. "
"Ada tidak yang ajak kalian keluar. "
"Ada olang di luar. "
"siapa Sayang? "
Aku kaget mendengar keterangan mereka.
"leva tatut ma, olangna tutup muta. "
Aku yakin itu pasti kakak aku Amara yang juga ibu mereka.
"Orang nya Jahat tidak. "
"ndak Ma, olangna dadah-dadah levi sama leva. "
Bagaimana ini, aku sangat yakin jika yang mereka lihat adalah Ibu mereka.
Benar apa yang Reno katakan, kalau Amara pasti tidak akan gegabah menunjukkan dirinya.
Reno datang dan menghampiri kami, dia lalu menggendong Revi dan Reva sekaligus.
"Anak papa sedang membicarakan apa sih dengan Mamanya. "
Revi dan Reva hanya tertawa dan meniru gaya ku saat bersama Reno.
"Lahacia Papa. "
"waduh, papa berarti gak boleh tahu dong Rahasia para perempuan Cantik ini yah. "
Serentak mereka tertawa karena Reno menggelitik kedua putrinya.
"Kamu kenapa sayang dari tadi aku perhatikan kurang bersemangat. "
"Reno, benar dugaan ku kalau mereka bertemu Amara. "
"yang Benar kamu tahu dari mana Sayang? "
"Aku tadi mencoba bicara dan menanyakan kepada anak-anak, dan mereka Nampaknya Takut akan penampilan Amara yang memakai cadar, untuk menutupi wajahnya. "
"pantaslah Richard berfikir jika Amara kembali lagi kepada ku. "
"Apa yang harus kita perbuat Reno, firasat ku mengatakan kalau kakak ku Amara berada dekat di sekitar kita. "
"Besok Aku akan mencoba menyelidikinya. "
"menurutku Amara Tahu jika beberapa hari kemarin kita tidak bersama Anak-anak, dan pastinya dia sudah tahu kalau kita sudah kembali. "
"kamu jangan khawatir sayang, aku akan coba menyelidikinya sendiri. "
"Apa Rencana yang akan kamu lakukan"
"kalau firasat mu amara ada di sekitar sini, pastilah dia keluar Rumah untuk memenuhi kebutuhannya baik membeli bahan pangan atau yang lainnya. "
"kamu benar sayang, Kakak ku tidak mungkin sembunyi terus di dalam Tempat persembunyiannya."
"Kamu kemarin di berikan nomor telepon adik tiri Ricard kan ?"
"iya aku masih menyimpannya, kenapa dengan nomor itu? "
"Saat Nanti aku mengetahui di mana Amara bersembunyi aku akan memberitahu Richo agar menjemput Amara segera dan membawanya jauh dari sini."
"Aku berfikir mungkin Amara belum mengetahui kondisi Richard yang sekarang semakin ngedrop, kasihan Richard. "
"Betul aku juga berfikir begitu, tetapi sebelumnya aku akan memaksanya untuk menandatangani surat cerai dan memberitahukan dirinya masih hidup kepada kapten Rendra. "
"Reno ketika nanti Amara di temukan kamu harus menanyakan Apa alasan dia melakukan semua ini dan kita harus memaafkannya. "
"Kamu yakin sayang tentang hal ini? "
"Dia adalah kakak ku dan aku akan merasa bersalah jika tidak mendengar pembelaan dari nya. "
"Apa kamu bisa menerima jika Amara meminta Si kembar dengan Memohon kepadaku. "
Aku hanya diam tak dapat berbicara dan menjawab pertanyaan Reno.
Aku tahu untuk hal si kembar aku sangat takut kehilangan mereka.
Apalagi saat ini Amara berusaha keras ingin menemui Anaknya.
"Aira Sayang Aku tahu kamu bingung untuk hal ini, tetapi mereka Anak Aku juga dan aku lebih berhak secara Hukum, apalagi dengan Cara Amara meninggalkan Mereka Hukum tidak dapat berpihak kepadanya meskipun Amara Ibu yang melahirkan si Kembar"
"Mama angan Cedih. "
Hampir saja aku meneteskan Air mata di depan si Kembar.
"Oh, iya Sore ini Papa Mau mengajak Kalian Jalan-jalan ke Danau Hijau di Dekat Rumah . "
"Danau Hijau.? "
"Iya Sayang Danau Hijau, kenapa sepertinya Kamu terkejut begitu. "
Aku hanya tersenyum dan sedikit bingung.
Sepertinya Aku pernah mendengar Nama tempat itu tetapi dimana dan Kapan yah.
Seakan nama tempat itu dulu pernah Aku kunjungi.
"oke Aku nanti juga akan mengajak Mama ku dan Mama Erika, aku juga Akan meminta mama membuatkan Kue kesayangan ku. "
"Baiklah, aku akan mempersiapkan Keperluan Anak-anak. "
"Kamu tidak usah terlalu repot sayang ini hanya piknik Sebentar, dan letaknya juga tidak jauh dari Rumah. "
"Aku hanya menyiapkan Pakaian mereka saja kok Reno."
Hari menjelang Sore kami siap berangkat menuju danau Hijau.
Bi Ana sudah mempersiapkan Apa yang kami butuhkan.
Baik karpet dan keranjang tempat kue yang di masak Mama.
Kami pun sampai dan benar kata Reno tempatnya sangat dekat dengan Rumah Reno.
Kami hanya butuh 10 menit menuju kesana.
Walau itu Danau tetapi tempatnya sangat Ramai dan Banyak Anak-anak yang dibawa oleh orang tua mereka sekedar rekreasi sederhana.
Aku turut serta membawa kedua pengasuh si kembar.
"Revi dan Reva Sayang kalian jangan lepas pegangan dari Bi Sofi dan Bi wati yah, kalau lepas nanti kalian hilang."
"iya mama. "
"Anak Mama berdua memang pintar dan penurut, Mama bangga sama kalian. "
Reno menarik ku mendekat Kearah Danau dan Menikmati naik Sampan yang di Sewakan.
"Aira, kamu kenapa sejak tadi kelihatan bingung. "
"Aku hanya merasa pernah kesini waktu berumur 5 tahun, Saat itu aku sedang bersama Ayah ku, lalu kami melihat Ada anak laki-laki hampir terhanyut di Danau. "
Saat aku selesai bercerita, sampan yang kami naiki sudah kembali ke tepi, aku dan Reno segera Turun.
"Apakah Anak laki-laki itu selamat. "
"iya, Dia selamat dan Ayah merasa kalau Anak laki-laki itu kemungkinan Lumpuh. "
Reno yang mendengar ceritaku seakan terlejut.
"Apakah anak laki-laki itu bernama Revo. "
"Sepertinya nama nya itu, kamu kok tahu sih sayang. "
"Dunia memang Sempit yah, saat aku belum mengenal kamu dan aku masih mencari keberadaan gadis kecil yang aku cari, ternyata gadis itu datang dan menjadi jodoh ku sendiri. "
"Maksud kamu Apa, aku kurang paham."
"Gadis kecil yang kamu ingin tahu itu adalah kamu Aira. "
"Apa, tapi kamu kan Reno, bukan Revo."
"Revo itu adalah kembaran ku. "
"Kamu punya kembaran.? "
"Kakak ku Revo sejak kecil sudah sakit-sakitan dan saat itu dia sedih tidak dapat menggerakkan kakinya, sementara dia sangat senang berenang."
"kasihan sekali kakak kamu. "
"Kak Revo lalu pergi sendiri dengan kursi Rodanya dan mencoba menggerakkan kakinya dengan berenang, tetapi tiba-tiba tangannya ikut keram. "
"Kamu sedang tidak bersama kakak mu.? "
"Kak Revo sangat sayang kepadaku dan begitu juga Aku, dia pergi diam-diam"
"Setelah itu ?"
"Supir kami datang Menjemputnya dan Membawanya pulang dan tak menyadari kejadian yang baru saja Menimpanya, kami hanya tahu pakaiannya basah karena dia Hanya bermain Air danau saja. "
"Lalu kenapa bisa kamu yang menemui ku dengan memakai Nama Revo. "
"Saat kakak berkenalan dengan mu dia Sadar dan minder karna kakinya yang tidak dapat berjalan, lalu untuk pertemuan Berikutnya sesuai janji kalian Kak Revo memintaku untuk menemui mu sebagai Revo dan Berjanji akan menjaganya. "
"Kalian sangat mirip, Hanya Revo memakai kaca mata. "
"Aku juga jadinya memakai kaca mata sebagai Revo,setelah kamu pindah Rumah Aku sulit mencari mu yang ternyata Bernama Aira, aku tidak menyadari jika Nama panggilan kecil mu adalah Ai dari nama Aira. "
"iya kamu benar nama panggilan kecil ku adalah Ai dari Nama Aira. "
"Aku senang memang benar kata orang Kalau Jodoh tidak Akan lari kemana, pasti kembali kepada Jodohnya. "
Reno lalu merangkul ku dan kami kembali ke tempat di mana kedua Mama kami sedang bersantai Menikmati kue buatan Mertuaku bersama Anak-anak.
-Bersambung-💞