
Sudah beberapa hari terlewati dari hari pesta ulang tahun si kembar.
Reno mengusulkan ingin mengajakku jalan, dia mengatakan agar kami seperti Anak Remaja jaman
sekarang.
Aku setuju akan Usulnya dan kami pun menentukan besok untuk pergi ke taman kota.
Aku masih belum berani membawa Reno ke tempat yang sangat Ramai dan juga jauh dari Rumah.
Besoknya pun Aku sudah mempersiapkan pakaian yang cocok untuk Reno pakai.
Kami berpamitan kepada Mama dan Om Aswin, aku juga meminta tolong ke pada Bi Ana agar memperhatikan Baby sitter si kembar dalam menjaga mereka.
Sesampainya di Taman Kota aku menyuruh supir agar memarkirkan mobilnya di Area Parkir.
Biarlah aku yang mendorong kursi Roda milik Reno untuk menuju ke Taman.
Sepanjang pinggir jalan menuju Taman kami Asik bercerita mulai dari si kembar hingga masalah pekerjaan di perusahaan Reno.
Aku sedikit merasa kecewa sudah sekian lama Reno seakan tidak pernah bercerita tentang Aira.
Apakah Reno mulai tidak memikirkannya lagi, atau Aira sudah tidak muncul lagi dalam mimpinya.
Kami sampai di taman kota, sepertinya minggu ini sudah memasuki Minggu Anak sekolah libur panjang.
Sebab di taman sangat banyak Anak-anak bermain.
Aku sempat berfikir seharusnya aku membawa Anak-anak pasti mereka senang, tetapi Reno hanya ingin menikmati suasana cukup kami berdua saja.
Aku meletakkan Reno agak kepinggir taman, banyak Anak-anak berlalu lalang dengan skuter listrik, Skate board dan Sepeda sehingga aku menjauhkan Reno dari jarak mereka berlalu lalang.
Aku melihat di taman ada penjual Gulali, aku mengatkan kepada Reno ingin membelinya Reno setuju dia pun sangat menyukai gulali walau sudah menjadi Bapak-bapak jawabnya.
Aku segera beranjak menuju si penjual gulali, banyak pembeli yang Antri di situ.
Jarak penjual dengan Reno berada tidak terlalu jauh hanya 300 meter dari Reno.
"Sayang Aku yang warna Biru yah, jangan yang merah aku kan laki-laki."
Teriak Reno yang meminta Gulali berwarna Biru.
"iya, Kamu sudah aku pesankan Warna Biru. "
Teriak ku kembali menjawab Reno.
Reno terus melihat ku dari kejauhan dan sesekali melambaikan tangan agar aku tidak terlalu bosan mengantri gulali.
Akhirnya Aku dan Reno masih kebagian, aku segera menghampirinya dengan membawa 2 Gulali yang cukup besar.
Saat aku hampir Sampai aku mendengar bel dari sebuah sepeda yang melaju sangat cepat Aku hanya terdiam di tempat dan menatap sepeda itu semakin dekat dengan ku.
Aku mendengar Reno berteriak.
"Aira, Aira Awas..! "
Aku didekap Oleh Reno dan kami berguling di jalan.
Aku seakan tersadar Reno dapat turun dari kursi Rodanya dan aku sempat mendengar dia berteriak Memanggil ku Aira, sesaat Aku Senang tetapi Aku langsung merasa sangat takut.
Rasa gembira ku berubah menjadi Rasa takut setelah aku melihat Reno Pingsan.
Segera Aku berteriak Meminta Tolong kepada siapa saja yang ada di sana.
Untunglah Supir kami selalu memantau kami dari jauh.
Aku segera membawa Reno ke Rumah sakit.
Saat di mobil Reno sempat Sadar dan dia memegang pipiku lalu tersenyum pada ku sambil menatap ku dengan matanya yang sayu.
Tak seberapa lama Reno kembali pingsan.
Ini semakin membuat aku takut.
Inilah mengapa aku masih Ragu untuk membawa Reno keluar Rumah.
Kami pun sampai di Rumah sakit terdekat, saat masih di perjalanan menuju Rumah Sakit aku segera menelepon Mama.
Dokter segera menangani Reno, Aku tak bisa tenang.
Mama dan Om Aswin datang aku segera menumpahkan kesedihan ku kepada Mama dan menyalahkan Diriku.
Dokter pun keluar dan mengatakan kalau Reno saat ini tidak Apa-apa dia Hanya sedikit Shok tadi.
Dan kami mendapatkan kabar gembira Kalau Reno sudah dapat berjalan kembali.
Karena kaget, Kerja dari Saraf yang menuntutnya untuk berjalan sangat Cepat di Respon oleh otot-otot kakinya.
Betapa Aku sangat bersyukur atas kesembuhan kaki Reno yang sudah dapat berjalan.
Kami pun segera menghampiri Reno.
Keanehan terjadi, Reno seakan tak ingin melihat ku.
Dia hanya menyapa Mama lani dan Om Aswin.
"Kamu sudah bisa berjalan Reno. "
Sapa ku dengan Mata yang menahan Air mata yang siap terjatuh.
"Mama Tolong katakan pada Dokter agar aku tidak usah di Rawat, aku tidak Apa-apa. "
Aku sedikit kecewa akan perlakuan Reno yang selalu meminta mama melakukan sesuatu tanpa meminta kepada ku yang adalah sebagai Istrinya.
Setelah observasi 2 jam Dokter pun mengijinkan Reno pulang.
Aku berfikir keras Masalah Apalagi ini, Sampai saat ini Reno tidak ingin mengajak ku bicara.
Seolah Dia sedang marah dan kecewa Terhadap ku, tapi Apa?.
Aku tidak tahu apa yang Membuatnya Marah Tiba-tiba.
Saat kami tiba dirumah Mama lani dan Om Aswin Masuk terlebih dulu sebab mobil yang mereka tumpangi berada di depan kami.
Aku mencoba menuntun Reno, lagi-lagi Reno menolak ku dan mencoba berjalan sendiri.
Aku menahan diriku dan Aku berusaha untuk tidak menangis.
Aku mengambil baju untuk Reno pakai sebab pakaian yang di kenakan nya sudah kotor akibat berguling di Jalan.
Reno mengatakan Tangannya sedikit sakit.
"Amara, Pakaikan Baju ku tangan ku sedikit sakit. "
Memang sikut reno sedikit memar saat menolong ku.
Tetapi mengapa Reno sangat ketus terhadap ku dan kembali memanggil ku dengan Amara bukan dengan kata sayang yang selalu di ucapkannya saat memanggil ku.
Aku sedih dan ada rasa kecewa sedikit, Aku mengancing pakaian Reno dan Reno terus menatap ku entah apa yang dia pikirkan tentang ku saat ini.
"Kamu kenapa, tidak suka membantuku memakaikan baju ku. "
Lagi-lagi Reno ketus terhadap ku.
"Tidak Reno, aku hanya sedang mengancingkan Bajumu yang ternyata salah satu kancingnya sudah mau copot, sebentar yah aku jahitkan. "
Aku meminta benang dan jarum kepada Bi Ana dan mulai menjahit kancing kemeja Reno, tanpa menyuruhnya melepaskan pakaiannya.
Aku lupa meminta gunting juga, akhirnya aku memutuskan benang jahit dengan menggunakan gigi ku.
"sejak kapan kamu pandai Menjahit? "
Aku terkejut atas pertanyaan Reno yang masih dengan nada ketus, Apakah Amara tidak Bisa menjahit selama ini ?.
"Aku baru mahir beberapa hari ini setelah diajari bi Ana. "
Lagi-lagi aku berbohong kepada Reno.
"Kamu tidak kuliah hari ini. "
Aku sedikit lega, Reno ternyata masih memperhatikan ku.
"Aku tidak bisa meninggalkan kamu. "
"Kamu pikir aku cacat dan gak bisa mengerjakan sesuatu dengan sendiri. "
Astaga aku menyinggung perasaan Reno, padahal Maksudku bukan seperti itu tetapi Reno merasa sangat kecewa nampak dari raut wajahnya yang marah.
"iya, baik aku sebentar lagi berangkat. "
Aku pun hanya tersenyum kecil.
Di kampus aku terus memikirkan sikap Reno terhadap ku yang membuat ku Sedikit bingung dengan sikapnya.
Apakah Reno ingatannya sudah kembali pulih dan mengingat Amara yang dulu.
Tetapi mengapa dia tidak mengingat ku sama sekali.
Hari ini aku pulang sedikit malam, banyak tugas yang harus aku cari di perpustakaan.
Sepertinya aku harus menggunakan Taksi Online.
Mobil siapa ini yang berhenti di hadapan ku.
"hai Aira. "
Ternyata Mas Bram dan bersama Istrinya.
"hai, Mas. "
"kamu mau pulang, jemputan kamu belum datang yah. "
"Aku naik taksi Online, ini baru saja mau aku pesan. "
"Loh, suami kamu gak jemput ?"
"Reno sedang kurang sehat."
Jawabku masih dengan nada datar.
"Sudah Mas Antar saja, kebetulan Rumah Kami satu Arah dengan Mu. "
"tidak, tidak usah mas. "
Aku tidak ingin Istri mas bram menganggap ku buruk, lalu aku melihat Istrinya keluar dari Mobil.
"Kamu tenang saja Aira, Mas bram sudah sering menceritakan kamu."
Aku melihat kalau Istri Mas bram saat ini sedang Hamil, aku juga melihat Mereka nampak mesra berarti Mas Bram sudah mulai membuka hatinya untuk wanita yang sekarang adalah Istrinya.
Aku telah sampai dan mas bram membantuku membukakan Pintu mobil, aku mengucapkan Terimakasih kepada mereka berdua.
Aku mencoba masuk kamar dan kulihat Reno sedang berdiri sambil mengahadap ke jendela Luar.
"dari mana saja kamu jam segini baru pulang? "
Aku kaget akan Nada Suara Reno yang sedikit tinggi.
Reno lalu mendekatiku dan menatap ku tajam.
Aku berusaha mundur perlahan seakan Takut melihat tatapan tajam mata Reno kepada ku.
Aku tak dapat mundur lagi, sebab aku sudah mentok ke dinding kamar.
"Aku dari kampus, banyak Tugas yang harus ku cari di perpustakaan. "
Aku nampak sekali kelihatan gugup dan takut akan tatapan Reno, Aku menelan sesekali saliva ku.
Aku melihat dari cermin yang ada di belakang Reno nampak sekali tubuh Reno yang tegap, sedang berdiri di depan ku sehingga Tubuhku tak terlihat sedikit pun di cermin akibat terhalang tubuh Reno.
"dari kampus atau Habis bersenang-senang dengan Mantan Pacar.? "
"Tidak Reno, kami hanya kebetulan bertemu di jalan saat Mas Bram habis mengantar Istrinya periksa Kandungan."
Tega sekali Reno mengatakan aku asik bersenang-senang dengan Laki-laki lain.
"ah, kamu berbohong, aku jelas melihatnya Si Bram itu mantan kamu dengan romantisnya membukakan kamu pintu, iya kan? "
Wajah Reno semakin mendekat dan semakin menatap ku lekat, dia masih belum percaya dengan apa yang aku jelaskan.
Tetapi Tunggu dari Mana Reno Tahu Mas Bram adalah Mantan kekasih ku, Aku kan saat Ini Menjadi Amara Bukan Aira.
Berarti Reno satu hari ini menguji ku.
Ya, Reno sudah sembuh selain dari kelumpuhannya Reno sudah sembuh dari Amnesianya.
Saat dia menghindari ku dari sepeda Dia sempat berteriak memanggil ku dengan Aira.
Aku hanya terdiam dan terus menatapnya juga.
"Jawab, jawab kamu masih mencintai Mantan kekasih mu itu kan, Kamu itu Istri aku Air.. "
Aku membungkam Mulut Reno dengan Bibirku sebelum dia menyebut nama ku Airaa.
Tidak tahukah dia aku sempat sangat Takut.
Takut kehilangan dirinya, terlebih takut kehilangan Cintanya.
Kami menghentikan Ciuman kami sekedar untuk mengambil Nafas panjang.
Reno segera mendorong kembali kepalaku dan melumat bibirku kembali.
Aku rasakan Reno mengeratkan pelukannya.
Sesekali mengusap Rambutku dan Pundak ku.
Kami saling merasakan kerinduan yang sangat dalam yang lama ingin kami tumpahkan.
Aku merasakan Air hangat keluar dari Mata Reno, aku pun tak kuat menahan Air mataku yang tak dapat ku bendung.
Reno kembali melepas ciumannya dan menatap ku lekat.
"Aira, Aira. "
Lalu Reno memeluk ku kembali dengan Erat.
Aku mendekapkan Kepalaku di dadanya yang aku selalu merasa nyaman.
Reno menduduk kan ku ke Ranjang, sementara aku hanya diam dan menatapnya dengan Air Mata yang tak henti mengalir.
Reno menghapus Air mataku dan mengucapkan kata maaf.
"Maaf kan Aku Aira.
"Reno kamu membuat ku takut, kamu tidak tahu aku sangat takut kehilangan mu dan.. "
Reno kembali mencium ku dengan Sangat lembut dan aku merasakan baru kali ini aku merasakan Cinta dari Reno yang sesungguhnya.
"Aku mencintai Mu Aira. "
"Reno, sebut nama ku lagi. "
"Aku mencintai Mu Aira,Aira, Aira Istri ku."
Reno kembali menciumku dan kali ini nampaknya kami sangat terbawa suasana sebagai Dua Orang dewasa yang menjalin Cinta.
Reno menyentuh ku Lembut dan penuh cinta.
Dia Mengigit kecil tempat dimana yang dia mau.
dan Menciumi setiap bagian dari diriku,
Dan aku seakan Terbuai akan apa yang Reno lakukan Kepada ku dengan penuh Cinta dan Gairah.
Memang ini baru partama kali di hidupku dan mungkin yang kesekian kali bagi Reno.
Kami melakukan nya Malam ini dan seakan keduanya saling menginginkan satu sama lain.
Reno terus memanggil nama ku dengan Desahan nya.
Dan aku semakin terbuai, rasa cemas ku sekarang hilang setelah Aku sadar Reno tetap mencintai ku.
Aku mengucap syukur Tuhan mengembalikan Reno juga Hatinya hanya kepada ku.
Ini pengalaman Pertama Bagi ku.
Ya, memang ini yang kuharapkan aku memberikannya kepada Orang yang kucintai yang juga suami ku.
Reno mendekap ku dan mengucapkan Terimaksih karena menunggunya.
Dia terus mencium tangan ku dan kami sama-sama terlelap karena Lelah saat melepaskan kerinduan kami.
Aku seakan tak memiliki beban, aku pegang Erat tangan Reno yang merangkulku dari belakang dalam posisi tidur.
Hingga pagi dan hari baru membangunkan kami.
- Bersambung-💞