I'm not Your Wife

I'm not Your Wife
Menikahlah dengan ku



Bibi Elma sudah di Ijinkan Pulang, Begitu pun Revi yang sudah Semakin Sehat.


Aku tak Bisa Mengantar Bibi pulang dan Bibi Hanya di temani Om Robert.


Sebelum Om Robert datang aku sudah berbicara kepada Bi Elma kalau aku akan sering mengunjunginya tanpa Sepengetahuan Om Robert.


Nyonya Besar yang adalah Mama nya Reno, turut serta menjemput Revi.


"Revi sayang Eyang,  sini..nak..!Oma yang pangku.. "


Nyonya Besar duduk di Belakang Sementara Aku yang memangku Revi duduk di depan bersama Reno yang Mengendarai Mobil.


Nyonya Besar Terus Membujuk Revi agar mau di pangku Oleh nya,  tapi Revi seakan mempererat dekapannya kepada ku.


"Ma.., Biar Revi di pangku sama Aira, Mungkin Revi merasa nyaman.."


Jawab Reno yang mencoba Menghentikan usaha Mama nya untuk membujuk Revi.


Sesampainya di Rumah.


Reva seakan sadar kalau kembarannya telah pulang dari Rs.


Reva segera berlari dan memeluk Revi kakaknya yang lebih tua dari nya 5 menit seperti yang pernah di Ceritakan Reno.


"Aira..!"


"iya Nyonya.. "


"kamu bawalah Anak-anak kekamarnya Agar Revi dapat beristirahat.."


"iya baik Nyonya.. "


"Aira..!  Kamu gak usah panggil Mama Nyonya Besar,  panggil Eyang saja.. " Wajah Reno nampak tidak suka saat aku memanggil Eyang si Kembar dengan Sebutan Nyonya.


"Oh.. baik Tuan Reno.. " aku lihat Reno mengerutkan Alisnya sedikit Heran.


"pasti Mama yang menyuruh kamu untuk memanggil ku dengan Kata Tuan.. "


"Reno..,  masalahnya Apa jika mama menyuruh Aira memanggil kamu dengan Sebutan Tuan..! "


"Ma..,, Reno tidak suka Di panggil dengan Sebutan Tuan.. "


"Loh..kenapa..?,  Bi Ana saja manggil kamu Tuan Reno,  masasih Aira tidak.. "


Ma..!,  Aira itu umurnya tidak terlampau jauh dari aku, jadi menurut ku panggilan Itu terkesan tidak enak di telinga Reno. "


"kamu membedakan karyawan di Rumah kamu Reno.. "


"Maaf Nyonya dan Tuan Reno,  sebaiknya tidak bertengkar di Depan Anak-anak,  itu tak baik buat Mental Mereka. " celetuk ku kepada Ibu dan Anak ini.


"sudahlah..,mama malas berdebat sama kamu Reno,  Aira benar Mama gak ingin Si kembar Mentalnya terpuruk lagi akibat Mendengar Pertengkaran Kamu dengan Amara .."


Aku segera menggendong Revi dan Reno menggendong Reva lalu kami mengantarkan si Kembar ke kamar mereka.


"Aira Maafkan Sikap Mama aku yah.,walau mama sedikit keras tapi hatinya Baik.. "


"Aku juga Paham kok,  Biasalah namanya juga Seorang Ibu. "


"Ohh.. Iya,, bagai mana dengan Bibi kamu Aira..? "


"Aku rasa taxi Bibi sudah sampai Rumah  saat ini.. "


"baguslah kalau begitu Bibi Elma harus benar-benar menjaga kesehatannya.. "


"iya.,aku juga berpesan begitu juga ke Bibi ku,  Besok aku mau mengunjunginya Sebelum ke kampus. "


"Oke,,Besok aku Antar kamu.."


"gak.. gak usah Reno,  aku naik Angkot aja,  lagi pula kamu kan mesti ke kantor.. "


"kamu gak usah khawatir Aira,  Besok Aku berangkat Agak Siangan Jadi sekalian Saja kamu Aku Antar. "


"ya..okelah kalau kamu gak merasa di Repot kan.."


"Aku gak pernah merasa di Repotkan Sama kamu Aira.. "


Apa ini.. Kenapa tatapan Mata Reno Kepadaku begitu Dalam.


Aku segera mengalihkan Pandangan ku.


"wah..!, ternyata Anak-anak sudah tidur setelah mendengar Perbincangan Kita ya Ren.."


"Aira..! "


"hmm..,  kenapa Ren,.. ?" jawab ku  sambil membenarkan posisi tidur si kembar.


"sebenarnya ada yang ingin Aku Ceritakan Sama Kamu.."


"iya..,sudah kamu ceritain Aja,  aku siap dengarin Kok.. "


"gak usah deh., lain waktu saja.. "


"loh.. Kenapa Reno..?"


"menurut Aku waktunya belum tepat, ya..sudah Aku keluar dulu yah.. "


Reno pun berlalu dari hadapan ku dan meninggalkan Kamar si Kembar.


Aku sempat berpikir keras hal Apa yang ingin di ceritakan oleh Reno Tadi.


***


Ke Esokan Harinya.


Reno sudah menunggu aku di Mobil,  aku Ambil tas ku lalu menuju ke luar Rumah.


"Mau kemana Kamu Aira..? " nyonya besar menghentikan langkah ku.


"Oh.. Nyonya,  saya mau ke kampus, saya mohom pamit Nyonya.. "


"Oh.. Kamu bekerja Sambil kuliah,  Reno jadi majikan Baik yah.. " sindir Nyonya besar yang aku tau kata-kata itu di tujukan kepada Ku. "


"iya Nyonya,  saya Sambil Kuliah.. "


"jurusan Apa yang Kamu Ambil..? "


"saya mengambil Pendidikan Anak,  saya bercita-cita menjadi seorang Guru Nyonya.. "


"ya sudah..sana kamu berangkat nanti kamu telat.. "


"eh.. Oh.., Boleh Nih..!"


"saya pamit dulu Nyonya. "


Aku gak menyangka Nyonya besar mau tangannya aku Cium,  aku seakan Sedang berpamitan Dengan Bibi Elma dan Juga serasa mencium tangan Almarhum Mama.


"hei.. Aira,  kenapa kamu lama sekali tadi.. "


"eh.. Itu, tadi Eyang menanyai ku Hendak kemana..?"


"trus kamu jawab Apa sama mama Aku.. "


"ya..,aku jawablah mau kuliah.. "


"trus mama ku marah gak..? "


"kali ini sih tidak..Ren,  aku juga heran.."


"Oh.., berarti Mama aku sudah mulai suka sama Kamu.. "


"maksud Kamu.. Aku gak ngerti,  trus kenapa kamu senyum-senyum gitu,  ada yang lucu yah. ?"


"Enggak.. Kok..!"


Saat mobil Reno sampai, kami melihat Om robert sedang di Pukuli oleh beberapa Preman, segera aku dan Reno keluar dari Mobil.


Aku sedih melihat bibi Elma yang menangis dengan sedikit berteriak ingin menghentikan Preman itu agar berhenti memukuli Om Robert.


Reno segera bertindak.


"hei.. Siapa lo.. " teriak salah satu dari mereka yang berpakaian Rapih dengan Cincin batu akik di setiap Jarinya.


"Aira.. Aira.. Tolong Om, Debrong bisa membunuh Om.. " Om Robert memohon di kaki ku dan sedikit ketakutan, wajah Nya babak belur di hajar para preman anak buah Debrong.


" Gw..Reno..,  kalian gak bisa sembarangan memukul Orang.. "


"Cih...! Lo gak usah ikut Campur,  si Robert sudah tanda tangan surat perjanjian, kalau dia gak bisa bayar Hutangnya Dia harus kasih keponaKan Nya buat gw Nikahin.. "


"memang berapa Hutangnya..? "


"dia sih pinjam saat judi hanya 20 juta tapi berbunga menjadi 50 juta, kalian gak usah bayar,  biar si cantik ini saja yang jadi penggantinya sebagai istri gw yang ke 4 ya.. sayang.. "


Debrong mendekati ku dan mencubit kecil dagu ku,  aku tepiskan tangannya karena aku sudah muak melihat nya.


"kamu kalau marah semakin Cantik Sayang,  apalagi kalau nanti kita bergelut diatas Ranjang kamu pasti semakin Seksi."


Reno geram mendengar debrong berbicara tak baik kepada ku dan kulihat wajah nya sudah merah padam karena marah laku Reno segera melayangkan Pukulannya ke Arah Debrong.


"kurang ajar..! Mulut najis mu harus aku bungkam.. " teriak Reno sambil melayangkan pukulannya.


Ya.. Reno sangat marah atas perkataan debrong yang meleceh kan ku.


Reno dan Anak buah debrong terlibat perkelahian,  aku segera tersadar,  saat ku lihat Reno seperti Orang kesetanan Menghajar Anak buah Debrong.


Otak ku langsung bekerja Reno tak boleh mengotori Tangannya dengan Menghabisi mereka yang nampak sudah tak berdaya.


Aku segera memeluk Reno dari belakang.


"sudah.. Sudah Reno..!, jangan kotori Tangan Kamu dengan membunuh mereka. "


Reno pun segera tersadar dan menghentikan pukulannya.


"Debrong, besok aku akan datang membayar semua Hutang-hutanya dan kau harus menandatangani surat lunasnya, jika tidak jangan harap kau bisa lolos dari aku.. Reno..! "


Debrong dan komplotannya pun pergi, aku menuntun Reno untuk masuk ke Rumah dengan Sisa Nafas yang masih membara karena marah.


Aku segera mengambil alkohol dan plester.


Aku duduk di sebelah Reno.


"Sini..!  Aku bersihkan luka kamu.."


Aku tarik tangannya dan aku gulung lengan Bajunya,  aku buka dasinya agar dia lebih leluasa bernafas.


Aku oleskan Alkohol di setiap luka lebam di wajahnya yang tidak terlalu Banyak.


"Sakit tidak.. Kalau sakit beritahu aku yah.. "


"luka ini tidak sakit Aira,  yang sakit adalah Hati ku saat Bajingan itu melecehkan mu.. "


"Reno.., kamu sangat baik kepada ku dan juga kepada keluarga ku,  tapi tak seharusnya kamu membayar Hutang Om Robert yang terlalu besar, 50 juta itu bagi aku bukan nilai yang kecil.. "


"Aira.., kenapa kamu bersih keras menolak pertolongan ku..? "


"aku tidak bisa Reno itu terlalu banyak.."


"bagi aku jumlah segitu sangatlah kecil,  atau memang kamu ingin menerima tawaran Debrong  untuk menjadikan kamu Istri.. "


Aku terdiam dan tak dapat berkata Apa-apa atas pertanyaan Reno terlebih saat ini Reno menatap ku sangat lekat.


"bukan begitu juga Reno.. "


"kalau begitu,  Anggap saja kamu meminjam dari ku dan, kamu Harus bersedia Menikah dengan Ku Bagai mana.? " Reno meraih tanganku dan menggengamnya.


"menikah lah dengan ku Aira, setidaknya bukan demi aku tapi demi si kembar.. "


"Reno.. Aku..,, "


"Aku tidak akan membatasi dan menghalangi mu menempuh Cita-Citamu."


"Reno.., kamu itu sudah terlalu banyak mambatuku, dan Masalah biaya kuliah ku aku akan berusaha sendiri dari Gaji ku.. "


"Apa aku terlihat buruk, Atau karena Aku ini Seorang Duda, sehingga semua Bantuanku kau Tolak Mulai dari pengobatan Bibi mu dan Biaya kuliah Mu " Reno nampak sedikit kecewa atas penolakan ku akan bantuannya.


"Bu.. Bukan begitu Maksud Ku Ren, Tapi aku,,, "


"sssuttt..! kamu tak perlu segera menjawabnya, aku akan sabar menunggu jawaban dari mu.. Kamu gak usah khawatir kalau pun kamu Tidak Sudi menikah dengan ku,  aku pun tak bisa memaksamu"


Aku merasa lega Reno tak mendesak ku,  aku juga tak tau perasaan ku kepada Reno apakah sekedar Sebagai Sahabat atau aku memang sedikit tertarik Oleh nya dan semua itu seperti bertarung dalam pikirannku.


kembali ku Obati luka di wajahnya dan Mata Reno terus Menatap ku lekat. .


 


 


-Bersambung-