
Aku Sedikit tenang & Cukup Puas sebab Aira tidak Membenci ku dan dia Mengiatkan bahwa persahabatan itu harus di dasari saling keterbukaan.
"jadi, Apa yang membuat mu sedih semalam Ren..? " dia Bertanya kepada ku dan aku bingung harus mengatakan Apa, tak mungkin aku menceritakan kalau wajah istriku sangatlah mirip dengannya, aku takut Aira akan menganggap aku punya maksud lain kepadanya.
Pikir ku, biarlah aku simpan Fakta bahwa wajah Istriku mirip dengan Aira aku juga sudah meminta Bi Ana agar tidak mengungkit tentang Amara di Depan Aira.
"hei..Reno kamu kok malah bengong sih.. " aku di kejutkan dengan lambaian tangan Aira di depan mataku.
"haa..eh..sorry aku melamun.. " jawab ku datar.
"jadi apa yang membuat kamu sedih..?" Aira mengulang pertanyaannya.
"Aku sedih memikirkan Masa Depan Reva dan Revi.." Alasan ku ke Padanya.
"Kamu gak usah Takut Reno, di buku yang sedang aku baca ini terdapat Artikel bahwa pendidikan itu No 2 bagi Anak, yang terpenting adalah Kasih sayang Orang Tuanya.. "
"karena itu, aku meminta bantuan mu, Kembar kesayanganku adalah perempuan, dan Aku hanyalah Orang tua tunggal, sangat sulit mengerti mereka.."
"Reno, kamu hanya perlu menunjukkan perhatian dan kasih sayang mu saja juga meluangkan waktu untuk mereka seperti hari libur seperti ini. "
"ya, disinilah Kelemahan dan kekurangan ku, aku terlalu sibuk dengan perusahaan dan pekerjaan ku.. "
Aku seperti disadarkan oleh Aira akan kelalaian ku selama ini, terlebih kepada Amara, aku selalu merasa kalau amara Diam maka semua Baik-baik saja menurut ku.
"kalau kamu kenapa kamu menangis Aira..? "
"Tahu dari Mana kamu kalau semalam aku menangis..?"
"Aku memperhatikan Mata mu sembab dan sedikit memerah. "
"aku, Baru Saja tahu kenyataan dalam Hidup ku Ren.. "
"Maksud mu Aira..?"
"aku selama ini tak tahu ternyata aku hanyalah seorang Anak Pungut.. "
Aku yang mendengar pernyataan dari bibirnya saja kaget, betapa kurasakan Perasaan nya saat ini sedang sedih, terlebih lagi di matanya telah terbendung Air mata yang siap untuk jatuh.
"terus..Orang tua kandung mu..? "
"Aku juga tidak tau mereka dimana, bibi ku mengatakan kalau mereka tidak pernah menampakkan diri setelah menyerah kan ku."
Aira tak dapat menahan tangisnya yang telah tertumpah, aku lalu menarik nya pelan dan kupeluk dia untuk menenangkannya.
"Reno, sebenarnya hari ini aku juga libur, aku hanya ingin kamu meluangkan waktu untuk Revi dan Reva, makanya aku beralasan kekampus hari ini.. "
" aku juga tau kok kamu sedang berbohong.. Aira"
"ih..Reno..! Kamu sudah tau tapi pura-pura gak tau..! "
"kan dalam bersahabat jangan ada yang di sembunyikan bukanya barusan kamu berkata begitu."
"eeh..,Reno bagai mana kalau aku kenalin kamu sama Bibi Elma.."
"hmmm..boleh juga, tapi bibi kamu mau terima aku jadi Mantu gak, eh... Salah maksud ku terima tamu he.. he.. "
Aku melihat Aira sudah melupakan kesedihannya dan tertawa lepas, ntah kenapa aku pun seperti Ikut terbawa dalam suasananya.
Aku lajukan Mobil ku sesuai Arahan dan Petunjuk Aira, sampailah Kami di Rumah Yang sangat sederhana sekali.
Ya.. dengan Apa yang kulihat jelas Aira tidak Berbohong dengan Ceritanya.
"Ayo.. Ren.., Masuk..!,Bi..! bibi Elma..!
Aira mencoba memanggil Bibi Elma tetapi tak ada seorang pun yang menjawab sementara Pintu Rumah tak terkunci.
"Sebentar ya Ren, mungkin Bi Elma ada di Dapur.. "Aira pun Segera melihat Ke arah dapur dan aku mengambil posisi duduk di Sofa.
"ahh...! Bibi..! Bibi kenapa..? " Segera aku menuju dimana Aira berada saat kudengar Dia berteriak panik.
Aku melihat Sosok Wanita berusia 45 tahun sedang terbaring Pingsan dan Itu adalah bi Elma,.
Aku segera mengangkat tubuh Bi Elma dan ku Rebahkan di Kursi belakang mobil di Temani Aira.
Aku melirik dari kaca kemudi Betapa Aira takut dan sedih akan kondisi Bibi nya.
"Reno..,kita harus cepat, wajah bibi semakin Pucat.. "
"oke, kamu yang tenang ya, terus Berdoa agar bibi mu tak kenapa-napa sebentar lagi kita Akan sampai.. "
Kami tiba di Rumah sakit dan aku segera memanggil tim medis dan Bi Elma segera di Tangani.
Aku berikan Bahu ku untuk Aira bersandar dan ku usap terus Air matanya.
"Reno, kenapa Dokter lama Sekali, Bibi di Ruangan itu sudah Hampir setengah jam.. " Tanya Aira cemas dengan suara yang sudah mulai serak akibat menangis.
"Aira.., kamu tenang saja dokter pasti dapat menyembuhkan Bi Elma aku yakin itu"
Tak lama Dokter pun keluar Ruang IGD.
"Dok.. dokter.., bagai mana keadaan Bibi saya dok..? "
"keadaan Bibi Anda sudah stabil walau tadi Nadinya Sempat melemah, Pasien Terlalu banyak bekerja keras, sehingga Jantungnya tak kuat akibat kelelahan,Saya Harap kedepannya Pasien harus Banyak beristirahat. "
Dokter berlalu dari hadapan Aku dan Aira, dan Saat itu juga Tangis Aira tumpah.
Aku segera mendorong kepalanya dan membenamkannya dalam dekapan ku.
"Aku jahat..,Aku adalah Anak Durhaka Reno.! "
"sshutt..! Kamu gak boleh menyalah kan diri kamu sendiri Aira. "
"Aku Bersalah Reno., seharusnya Aku terima perjodohan Om Robert untuk membayar Hutangnya kepada Seorang Rentenir, jadi Bibi tidak akan Bekerja keras seperti ini..,hu..,hu.. hiks..hiks..!" tangis Aira Semakin Menjadi.
"di jodohkan..? Tega sekali Om kamu menjodohkan kamu dengan Seorang Rentenir..!"
Aku marah dan kesal mendengar keserakahan Om dari Aira ,ingin rasanya Aku lemparkan Uang kewajah Om nya saat ini.
"kamu tenang saja Aira, aku sahabat kamukan..dan aku akan membantu mu.. "
"tidak.. tidak Reno..! Kamu sudah terlalu banyak membantu ku, dengan kamu menerima ku Bekerja itu sudah lebih dari Cukup.
"ayolah.. Aira.., aku serius menawarkan mu Bantuan.. "
"Aku tidak mau, kamu memberiku Bantuan dengan Cuma-cuma seperti ini apalagi masalah uang. "
Saat aku terus membujuk Aira untuk menerima Bantuan dari ku, seorang perawat menghampiri kami.
"Maaf Anda Keluarga Pasien..?"
"iya.., suster, saya keponakannya. "
"Ibu Elma Harus dirawat beberapa Hari dan harus bedrest tak boleh lelah dulu sementara, anda bisa mengurus Administrasinya di depan.."
"iya sus nanti saya kesana.. "
Aku Melihat Aira seakan kebingungan.
"kamu kenapa,..?"
"Gimana ini, Gaji aku bulan ini sudah ku bayarkan uang semester lanjutan ku dan membeli buku-buku yang kubutuh kan, aku Hanya memegang segini, Nampaknya tidak Cukup. "
aku tarik Tangannya dan ku ajak ke bagian Administrasi lalu ku ambil kartu debet ku dari dalam Dompet.
"Reno...! Aku kan sudah bilang,bantuan kamu sudah banyak buat ku, aku nanti aku takut gak bisa membayar dan membalasnya.."
"sshutt..!! Sudah kamu gak usah banyak mikir, yang penting Bibi kamu di rawat dulu, urusan penggantian nanti kita bicarakan.
Aku berusaha agar Aira tidak merasa terbebani oleh bantuan ku, bagi ku hanyalah aku tak ingin melihat kesedihan di hatinya saat ini.