
Hari ini adalah Bulan Madu kami, Aku dan Reno.
Kami sedang dalam perjalanan menuju Bandara di Antar oleh Mama ku dan Mama mertuaku.
Sebelum berangkat Aku berpesan kepada si kembar agar mengikuti perintah Bi Ana.
Aku merasa khawatir setelah mendengar cerita tentang Amara dan Richard.
Aku meminta Reno menempatkan Beberapa penjaga keamanan di Rumah.
Si kembar sudah semakin dewasa dan tidak merasa takut jika aku dan Reno tidak di sisi mereka.
Aku dan Reno telah sampai di Bali dan menuju ke Hotel tempat kami menginap.
Sepanjang perjalanan Reno selalu menggenggam tanganku dan menjabarkan tempat mana saja yang akan kami kunjungi.
"Sayang Nanti kita ketempat ini, lalu ini dan besoknya lagi kita kesini. "
Beginilah Cara reno menjelaskan tempat yang Akan kami kunjungi.
Sambil memegang brosur tempat yang di tawarkan jasa Hotel.
Kami telah sampai di Hotel, aku segera mengambil ponselku dan menghubungi Rumah.
"allow "
terdengar serentak suara Revi dan Reva dengan logat cadel mereka.
"hallo ini Mama Sayang, kalian sedang Apa ?" tanyaku
"Mama cudah ampai? "
"Sudah sayang, Mama sama papa sudah sampai Bali,kalian sudah makan siang?"
"cudah "
"siapa yang menyuapi? "
"Bibi Ana"
"coba pinjamkan teleponnya untuk bibi Ana. "
Reva menyerahkan telepon rumah kepada bi Ana.
"hallo nyonya."
"bi,apa ada yang mencurigakan di sekitar Rumah? "
"sepertinya tidak nyonya. "
"anak-anak harus selalu di pantau ya bi."
"iya, Nyonya Aira. "
Reno segera merampas ponsel dari tangan ku dan mendekapku dari belakang.
"Kamu gak usah khawatir sayang, di Rumah kan ada Mama aku dan Mama kamu juga Om Aswin, Bi Ana juga beberapa Bodyguard."
"Reno wajarlah Aku khawatir, mereka kan sedang tidak bersama ku. "
"Aku paham kekhawatiran kamu, tetapi Amara tidak mungkin menyakiti Anaknya Sendiri. "
"Aku bukan khawatir Amara menyakiti si kembar, aku hanya takut Amara merebut si kembar dari tanganku reno."
"oke, oke,pokoknya hari ini kita harus Rilex dan jangan ada Rasa khawatir."
"Tapi Ren.. ?"
"Sekarang Kamu ganti Baju lalu kita keluar Makan siang. "
Aku pun menuruti apa kata suami ku, aku segera mengganti pakaian ku dan Reno sudah menunggu ku.
"Ayo sayang, kita kan pengantin Baru harus nampak mesralah. "
Reno meberikan lengannya agar aku menggandeng nya saat berjalan.
Jadi nampaklah kami benar-benar seperti sepasang suami istri yang sedang berbulan Madu.
Sampailah kami di Restauran Hotel tersebut.
Reno Mempersilahkan aku duduk.
"Silahkan Permaisuri ku Sayang. "
"Terimaksih Pangeran ku tampan. "
Begitulah cara kami saling membalas pujian pujian kami.
Kami pun menikmati Makan siang kami sambil berbincang-bincang.
Setelah selesai makan Aku berpamitan kepada Reno untuk pergi ke Toilet.
Sementara Reno sedang menerima telepon dari Sekretarisnya membicarakan tentang perusahaan.
Reno hanya melambaikan tangan kepada ku sebagai isyarat mengijinkan ku ke Toilet.
Saat dalam perjalanan menuju Toilet Aku bersinggungan dengan 2 orang pria pria yang satu berkulit pucat dan berpostur badan tinggi sementara pria di sebelahnya adalah Pria yang ku temui di Panti Asuhan.
"Maaf Nyonya saya tidak seng.., Amara ?"
"Maaf Saya bukan Amara "
Lalu pria di sebelahnya yang pernah aku temui dengan cepat menjelaskan kepada pria yang bersama nya.
"Maaf Nyonya lagi-lagi kita bertemu, Ini kakak saya dan dia juga salah mengenali Anda. "
Pria ini Aku tebak pastilah Richard dari keterangan yang baru saja di sampaikan kalau yang mengira aku Amara adalah Kakaknya.
Aku terdiam, dan hanya menatap kasihan kepada pria ini yang nampak sekali sangat lemah.
Aku mendengar Suara Reno dari kejauhan menuju ke arah ku.
Dan seakan melihat aku seperti di hadang kedua pria ini.
"kalian menghalangi Istri saya. "
"Maaf kan kami Tuan, Maaf permisi kami hanya lewat. "
Seakan tak ingin ada pertikain, Pria yang adalah adik tiri Richard segera menjauh dari Reno yang nampak seakan tidak suka akan kehadiran mereka di hadapan ku.
"kamu gak apa-apa kan sayang, apakah mereka mengganggu mu.? "
Aku hanya diam dan mengelengkan kepalaku menyatakan aku baik-baik saja.
Lalu aku melanjutkan pergi ke Toilet sebab itu adalah tujuanku sesungguhnya.
Setelah itu Reno mengajak ku ke pantai, dia mengatakan akan menunjukkan kepadaku tempat-tempat yang sangat Eksotis.
Reno mengatakan sering sekali ke Bali tetapi hanya perjalanan bisnis atau pertemuan dengan patner bisnis bukan bulan madu seperti ini.
Sepanjang jalan di pinggir pantai kami bercanda, dan aku baru kali ini melihat Reno yang tampak sangat Seksi saat berselancar atau Surfing.
Dia sempat memperlihatkannya sedikit kepada ku.
Nampak jelas dari postur tubuh Reno yang Atletis pastilah dia dulunya penikmat Olahraga.
Saat menjelang sore kami duduk mengambil posisi yang pas untuk melihat Matahari terbenam.
Reno mendekatkan kepalaku di bahunya.
Dan sesekali dia mencium ku dan merangkul ku.
Aku mencoba ingin membicarakan masalah tadi tentang pria yang ku temui barusan.
"Reno boleh aku membicarakan hal yang kamu tidak suka? "
"Tentang Apa sayang. "
Masih dengan gaya reno yang mengusap Rambutku.
"Kau tahu, Pria yang kutemui tadi saat di Restaurant adalah Ricahrd dan Adiknya yang kutemui ketika di Panti Asuhan. "
"kenapa kamu tidak mengatakannya kepada ku barusan. "
"Aku melihat wajah mu sedikit emosi dan aku tidak ingin Suamiku bermasalah dengan seorang Mafia. "
"Kamu tau dari mana kalau mereka seorang Mafia ?"
Aku lalu menceritakan semua yang aku ketahui dari Mama.
Juga tentang kebenaran persahabatan antara papa Reno dan Papa ku yang Reno belum ketahui semuanya.
"lalu jika Richard tadi begitu terkejut saat melihat mu dan mengira kamu adalah Amara, berarti saat ini Amara tidak sedang bersama dia? "
Aku juga sempat berfikiran sama seperti yang Reno pikirkan dan Kembali aku merasa khawatir Akan Anak-anak di Rumah.
Aku pun Memberitahukan rasa khawatirku kepada Reno suami ku.
"Aira, Aku paham kamu sangat khawatir terhadap si kembar, aku pun juga sama sebab mereka adalah Anak-anak ku. "
"Reno, seorang ibu akan melakukan apa saja untuk anaknya, termasuk Amara. "
"iya, aku mengerti Maksud kamu tetapi aku yakin Amara sangat Tahu dia bersalah dan dia tidak mungkin Gegabah sayang."
"Maaf kan aku Reno, Khawatir ku terlalu berlebihan. "
"Aku sangat paham rasa cinta mu begitu besar kepada si Kembar. "
Reno lalu memeluk ku dan mencoba menenangkan hati ku.
Kami pun akhirnya dapat menikmati Matahari terbemam yang nampak begitu Cantik.
Aku menikmatinya sambil menyandarkan kepala ku di bahu Reno.
Dan Reno merangkul ku serta mengengam tangan ku Erat.
Kami tidak langsung pulang, masih ingin menikmati Aroma pantai yang wangi saat Malam hari.
Kami terus berbincang-bincang saling menceritakan masa kanak-kanak kami.
Aku teringat Akan Cerita Mama lani tentang gadis yang di sukai Reno ketika masih kanak-kanak.
Aku meminta Reno menceritakannya.
"Ayo dong ceritakan Aku siapa gadis kecil itu. "
"Sepertinya Aku sudah melupakannya, karena Aku sudah menemukan tambatan hati ku, yaitu Kamu Aira. "
Reno lalu mencium ku kembali di bawah sinar bulan, dia mengatakan jika dia sudah tidak memikirkan gadis kecil itu lagi.
Padahal tadinya aku sangat penasaran akan gadis yang di sukai Reno sejak kecil.
Aku mengatakan kalau perutku lapar karena kami belum makan malam.
Reno mengatakan agar kami balik kekamar Hotel saja.
"Suami ku aku lapa. " Gayaku Manja.
"hmm, Istriku yang cantik ini lapar yah, kita kembali ke kamar hotel saja. "
"loh, kita harusnya ke Restaurant dong buat makan, memangnya kamu tidak lapar? "
"iya, kita pesan saja makanannya agar diantar ke kamar hotel."
"kenapa Reno, kamu memang benar belum lapar yah? " tanya ku kembali yang heran dengan sikap suami ku ini.
"Aku juga lapar, Tapi mau makan kamu dulu di kamar baru habis itu makan Malam deh. "
Aku yang tadinya sempat bingung akan tingkah Reno, lalu menjadi tersipu malu dengan Apa yang Dia katakan Barusan.
"Kenapa Sayang, Kamu Malu yah, pokoknya Malam ini Aku akan Memakan Kamu Habis lalu kamu aku ***** seperti Makan Cake Coklat buatan Mama yang Lezat. "
Lalu kembali Reno membisikkan Sesuatu kepadaku.
"Kita lakukan Sampai Pagi sayang "
Wajah ku memerah dan nampak sekali terkejut dengan Apa yang dikatakan Reno yang terdengar sangat garang dan Nakal.
Padahal kan aku sudah menjadi Istrinya, tetapi mengapa sikap kami selalu seperti orang yang sedang pacaran dan Baru jatuh cinta.
-Bersambung-💞