I'm not Your Wife

I'm not Your Wife
Sehari setelah Menikah (Rev)



"Amara, Amara"


Pagi-pagi sekali kenapa Reno berteriak dengan Memanggil Amara, tanya ku dalam hati.


"Reno, kamu kenapa nak teriak-teriak begitu,Mama sama Om Aswin kan Jadi Takut."


Aku mendengar Mama lani menghentikan teriakan Reno memanggil Amara.


Aku ingin Sekali Kebawah melihat apa yang terjadi sehingga Reno sampai berteriak seperti itu.


Badan ku rasanya nyeri semua, sepertinya Aku sedang tidak enak Badan, mungkin Aku beberapa hari ini terlalu lelah.


Apalagi kemarin Siang adalah pesta pernikahan ku dengan Reno.


Tadi malam aku tertidur di kamar Si kembar, pikirku aku hanya ingin memejamkan Mata sebentar setelah menidurkan Anak-anak.


Ternyata Aku terlaku letih, sehingga Tidur ku berlanjut sampai Pagi ini.


"Amara dimana Ma? " tanya Reno seakan dia Bingung aku berada di mana.


"loh, bukannya Amara bersama Mu, setelah acara pesta pernikahan Kalian ?"


Aku berusaha menyegarkan tubuh ku dan segera bangun dari tidur ku lalu bergegas turun ke bawah,saat ku dengar Mama lani juga mencari keberadaan ku.


"Ada Apa Reno, kenapa kamu berteriak begitu. " sapa ku sambil melangkahkan kaki turun ke bawah


"Kamu semalam di Mana Amara, Aku menunggu kamu sejak tadi malam. "


Aku melihat Reno seakan Cemas saat aku tidak bersamanya.


Aku teringat Perkataan Dokter yang menangani Reno saat aku menanyakan kembali Apa saja yang mesti aku lakukan untuk membuat Ingatan Reno kembali.


Dokter mengatakan Akan ada Saat dimana Reno merasa takut kehilangan Orang yang menyita pikirannya dan yang dia sayang, dan Memori yang hilang itu adalah memori tentang Orang yang paling dia pikirkan sebelum kecelakaan.


Tapi itu Aku Reno, Aku Aira Bukan Amara.


Seharusnya kau mengingat Namaku seperti mimpi yang kau ceritakan Pada ku saat di Rumah sakit.


Hati ku rasanya ingin berteriak dan mengatakan hal ini kepadanya.


"Reno, Amara kan disini Nak kamu gak perlu secemas itu. "


Om Aswin mencoba menenangkan Reno dari kecemasannya yang berlebih.


"Reno takut Om, Amara akan pergi dari Rumah dan meninggalkan Reno. "


Aku segera mengenggam tangan Reno dan mencoba meyakinkan Reno.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan Kamu Reno. "


"Betulkah itu Sayang. "


Aku terkejut akan kata Sayang yang terucap dari bibir Reno.


Tetapi Kata ini untuk aku Atau Amara?


"Wah, selama kamu jadi suami Amara, baru kali ini mama dengar kamu memanggil Amara dengan kata Sayang."


Mendengar perkataan Mama Lani, Reno hanya tersenyum Malu.


"Iya, dong Ma entah kenapa Reno Merasa seakan Jatuh cinta lagi dengan Amara. "


Aku kecewa mendengar perkataan Reno, kali ini perasaan ku benar-benar di uji.


Reno merasa jatuh cinta lagi dengan Amara bukan Aira.


"Amara, kamu sakit ya wajah mu nampak sedikit pucat. " tanya Om Aswin dan semua mata langsung tertuju padaku.


"Amara hanya sedikit letih aja Om. "


"Ayo, Sayang kamu aku antar ke kamar kamu istirahat saja, aku gak mau istriku sakit akibat terlalu lelah mengurus ku."


Aku segera menuju kamar dan Reno menyusulku dari belakang.


Aku segera naik ke atas Ranjang, reno segera menyelimuti ku dan mengecup kening ku.


"kamu istirahat ya Sayang, aku disini jagain kamu. "


"Reno"


"hmm, kenapa Sayang? "


"boleh aku menyakan sesuatu. " tanya ku dengan sedikit ragu.


"boleh, apa itu? "


"di Mimpi mu Gadis yang bernama Aira itu, apa kau menyukainya? "


"entahlah Amara aku juga bingung, tetapi yang jelas Aku sedang mengejarnya dan tak ingin dia Menjauh dariku. "


"Seperti Apa gadis di Mimpi mu itu. "


Tanyaku penasaran akan gambaran Reno tentang diriku.


"Dia Cantik wajah nya mirip sekali dengan Mu dan tak ada bedanya, aku seakan merasa nyaman dan ingin memeluknya."


"oh,begitu yah " Jawabku datar


"sudahlah itu hanya mimpi, lebih baik kamu istrahat yah. "


Aku mulai memejamkan mata dan Reno tetap menjaga ku di kamar.


Aku merasa lelah ku semakin menjadi, mungkin karena aku terlalu letih memikirkan tentang aku dan Amara.


Memikirkan Cinta Reno yang berpihak kepada siapa.


Cukup lama aku mengistirahatkan Tubuh ku, hampir 3 jam Aku tertidur.


Aku buka Mataku dan kurasakan seakan ada yang merangkul pinggangku dari belakang.


Dan kurasakan hawa panas dari Nafas yang tak lain adalah Reno.


Aroma parfum Reno masih terus membekas dalam penciuman ku dan Otak ku.


Sehingga tanpa aku melihat sosoknya aku tau pasti itu adalah Reno.


Tanya Reno dengan suara sedikit serak dan Berat yang terdengar sangat dekat di telingaku.


Aku berharap agar Reno selalu memanggil ku dengan Sebutan Sayang bukan dengan panggilan Amara.


Aku akan merasa seolah panggilan Sayang itu adalah untuk Aku Seorang Aira bukan Amara.


"Ayo kita Makan, kamu harus makan agar tidak sakit. "


Aku kaget ternyata sejak tadi Reno hanya menemaniku, bahkan dia sama sekali belum sarapan dan makan sesuatu.


"Kamu belum makan Apa-apa ?"


"Aku menunggu Istriku untuk Melayaniku makan dan Makan bersama ku. "


Mendengar perkataan Reno Aku segera beranjak dari tempat tidur.


Dan lagi nanti siang Reno kedatangan seorang Therapis untuk Melatihnya berjalan.


Tak seberapa lama aku sudah membawakan Nampan berisi Makanan yang sudah di siapkan Bi Ana.


Aku melihat Reno sudah duduk di kursi Rodanya.


Aku cukup bingung, Reno dapat dengan Mudah kembali duduk di Kursi Roda tanpa Bantuan Orang lain.


"Kamu dapat melakukan sendiri ?" tanyaku penasaran.


"Sayang, kursi Roda ini kan menggunakan Remot aku hanya menekan tombolnya untuk mendekatkan kursinya kearah ku, lalu aku tinggal berusaha menggeserkan tubuh ku ke kursi Roda itu."


Aku merasa apa yang di jelaskan Reno masuk akal, walau aku masih ada perasaan bingung saat membayangakan yang Reno lakukan.


"ini aku sudah membawakan satu piring makanan, ayo kita makan. "


Aku menyuapi Reno dan Reno meraih sendok dari tangan ku.


"Kamu juga harus makan, aku tidak ingin kamu sakit, aku dan Sikembar membutuhkan Mu. "


Reno pun menyuapi ku, aku berharap saat seperti ini akan terus berlangsung lama dalam hidup ku.


"tadi saat aku tertidur di samping kamu, aku bermimpi lagi akan gadis yang bernama Aira itu. "


Reno menatapku lekat saat dia menyebutkan kata Aira.


Aku segera mengalihkan pandangan mata ku kearang piring yang ku pegang saat ini.


"Kamu bermimpi Apa? " tanya ku penasaran yang ingin tau gambaran mimpi Reno tentang Aku Aira.


"Aku mendapat kan Gadis itu, lalu aku memeluknya Erat dan tak ingin melepaskannya. "


Ough, haruskah aku bahagia mendengar ini atau haruskah aku menangis, Reno merasakan Kerinduannya kepadaku hanya melalui mimpi, sementara Aku jelas berada di hadapannya.


"Maaf ya, tidak seharusnya aku menceritakan gadis lain di hadapan Istri ku, kamu jangan sedih ya. "


Reno merasa aku kecewa dan cemburu, padahal aku ingin sekali mendengar dia terus menceritakan Mimpinya tentang diriku.


"Tetapi kenapa saat Aku memeluk mu, aku sekan sedang memeluk Aira yang berada dalam Mimpi ku. "


Seketika itu aku langsung tersedak saat mengunyah makanan yang baru saja Reno suapi ke mulut ku.


"uhuk.. Uhuk..! "


"Sayang, kamu gak apa-apa, ini minum dulu, apa kita kedokter saja? "


"Aku tidak apa-apa hanya sedikit tersedak. "


Aku menatap Reno dalam dan berbisik kepada hatiku.


Tuhan sampai kapan cintaku akan di uji seperti ini, sampai kapan Reno ku akan kembali mengingat ku.


dan aku seperti merasa akan Ada suatu masalah lagi menimpa rumah ini.


Ough, kuatkanlah Aku Tuhan, seperti yang dikatakan Reno.


Dia membutuhkan ku dan juga si kembar.


Sembuhkanlah Reno dari kelumpuhanya dan Amnesia nya.


Aku mengusap kaki Reno aku tahu saat ini Reno pasti bingung untuk apa aku mengusap kakinya yang belum bisa berjalan.


Aku sedang mendoakan Kaki mu agar kamu dapat berjalan lagi, bisik ku dalam hati.


"Reno, sebenarnya Aku sedang kuliah. "


"kamu kuliah, oh iya maaf mungkin aku tidak ingat. "


"bolehkah aku minta ijin mulai besok kembali melanjutkan kuliah ku. "


Reno terdiam dan menatap ku tajam, entah apa yang ada dipikirannya saat ini akupun tak tahu.


"Boleh, kamu berhak menentukan jalan mu, asal kamu harus paham posisi mu saat ini ,aku tak ingin menghalangi Cita-citamu. "


"Kamu tahu dari mana kalau ini Cita-Citaku. "


Aku menangkap beberapa bahasa Reno yang mengalihkan perhatianku.


Dari mana Reno tahu kalau ini Cita-Cita ku dan perkataan Reno barusan seakan Aku ini baru saja menjadi Istrinya,


sehingga dia mengingatkan ku akan posisi ku saat ini.


"yah, Aku hanya mengira saja, sebab buat apa kamu Rela belajar kalau tidak ingin mengejar Cita-citamu, lagi pula aku tidak tau kamu kuliah dan Mengambil jurusan Apa ?"


Aku segera membersihkan sisa makanan di mulut Reno.


Reno meraih tangan ku dan mengatakan agar Aku cepat pulang setelah kuliah.


Lalu meminta Maaf sebagai Suami Dia tidak dapat Mengantarkan ku ke Kampus.


Aku seperti mengulang saat aku berada pertama di rumah ini, Reno selalu mengatarku ke kampus.


"Cepatlah sembuh Reno, tak ada hal yang membuat ku Bahagia selain melihat mu sembuh. "


Aku lalu mencium punggung tangan Reno saat Reno mengenggam Tangan ku.


- Bersambung-💞