I'm not Your Wife

I'm not Your Wife
Cemas




Sudah 3 hari berjalan kami menikmati bulan madu kami, Besok kami kembali ke Jakarta.


Aku mengatakan kalau besok kami harus berangkat dengan penerbangan Pagi hari.


Aku merasakan Cemas yang entah begitu sangat Kuat.


Reno sedih melihat ku yang selalu merasa cemas di hari ke 3 bulan Madu Kami.


Reno mengajak ku untuk makan malam di Restaurant tempat biasa Reno menjamu Rekan Bisnisnya.


"Malam ini aku mau mengajak kamu ke Restaurant langganan ku.


Disana Ada Menu Lobster yang Aku yakin kamu sangat suka. "


"Kamu Ceritanya mau kasih Aku Kejutan nih. "


"Aku hanya ingin Membahagiakan Istri ku Tercinta. "


"waduh, Suami ku Romantis Sekali Permaisuri jadi Tersanjung. "


Lalu Reno Menggandeng ku dan kami segera pergi Menuju Tempat yang Reno Maksud.


Reno Mereservasi Meja Khusus dan posisi Restaurant itu sangat Strategis.


Nampak terlihat sekali yang datang adalah dari kalangan Elite.


Pelayan pun Segera menyambut kami dan menuangkan Anggur merah.


"Reno aku tidak bisa minum Alkohol dan tidak Suka. "


"Sayang ini Anggur Merah dan kadarnya sangat Rendah, ini tidak pahit malah terasa Manis saat kamu meneguknya. "


Aku ingin menghargai niat Romantis Reno, bagaimana pun juga Dia sudah Menyiapkan segalanya untuk membuat ku senang.


"Sayang Menunya di Sini Semua adalah Makanan Laut, Aku tahu sekali kamu suka Lobster. "


"Kamu tahu dari Mana Aku suka sekali Lobster ?"


"Dari Om Robert. "


"Om Robert, pasti deh Dia ada Maunya Sama Kamu. "


"Aira, walau dulu Om kamu itu Serakah tetapi dia Sekarang sudah Berubah. "


"kamu tahu dari Mana Kalau Om Aku sudah Berubah ?"


"Seminggu yang Lalu Om kamu telepon aku saat aku Masih belum keluar kantor, beliau tahu kalau kita Akan Bulan Madu. "


"Lalu pasti deh, Om Robert minta sesuatu sama kamu. "


"Iya, dia minta sesuatu sama aku yaitu agar Aku selalu menjaga Kamu."


"Masa sih Om Robert Bicara seperti itu "


"Beliau bukan Hanya bicara, tetapi sambil menangis. "


"Menangis, untuk apa Om Robert menangis ?"


"Beliau mengatakan bahwa Putri yang dia punyai hanyalah kamu dan dia sudah merasa bersalah dulu mengorbankan kamu sama Rentenir. "


Aku hanya terdiam mendengar keterangan dari Reno sambil mencoba percaya tentang perubahan Om Robert.


"Dia juga Meminta tolong kepadaku untuk membelikan Sesuatu. "


"tuh, kan apa aku bilang pasti Ada Lobster di balik Batu. "


Ledek ku kepada Reno sebab aku masih belum percaya akan ketulusan Om Robert.


"Ssutt, kamu dengar aku dulu beliau memintaku membelikan Kamu kalung Mutiara, dia bilang kamu sangat menyukai mutiara dan Makan Lobster.


Selama ini Om Robert ingin membelikannya buat kamu tapi dia tidak punya uang akibat selalu kalah dalam berjudi. "


Lalu Reno mengeluar kan 1 Kotak perhiasan yang berisikan kalung mutiara putih yang sangat indah.


Aku tidak mengira Om Robert benar-benar berubah setidaknya Aku bersyukur Bibi Elma menjadi semakin Bahagia.


Saat kami sedang menikmati makan malam kami, tiba-tiba seorang pria berwajah pucat yaitu Richard Dia menghampiri kami dengan Wajah Geram.


"Amara, Aku tahu kamu kembali kepada Suami mu, Aku sudah menyelelidiki Wajah dan Nama suami Mu, Kau tidak usah berpura-pura bukan Amara. "


Pria ini mencoba meraih tanganku dan aku segera mengelak.


Reno yang juga tahu bahwa pria itu adalah Richard Merasa Geram dengan sikapnya Kepada ku yang menuduh aku pura-pura bukan Amara.


"hei, Tuan anda Salah Orang dia Istri saya tolong jaga sikap Terhormat Anda."


Lalu adik tiri Richard segera tiba dan Mencoba menghentikan Richard.


"Tetapi Pria ini adalah Suaminya. "


"Anda benar saya suami Amara dan Anda Sudah Membawa istri Saya. "


"Kenapa Nyonya ini sangat Mirip dengan Kak Amara Tuan dan Nyonya ini juga Istri Anda? "


tanya Richo heran.


"ya, Dia juga Istri saya dan Sekaligus Adik dari Amara. "


Saat Reno menjelaskan tentang status ku dan siapa aku, Richard Mengalami kesakitan yang Luar biasa di bagian kepalanya.


Sangat terlihat dia merintih kesakitan sambil memegang kepalanya.


Adik Richard segera Memerintahkan Anak Buah nya Membawa Kakaknya Kembali ke Hotel tempat mereka menginap.


Sementara Richo masih bersama Kami.


"Maaf Tuan atas perlakuan Kakak Saya, Dia saat ini Sangat Membutuhkan Amara Istrinya."


"Maaf tuan Richo, bisa saya menyimpan nomor ponsel anda saya ingin membicarakan tentang Kakak saya Amara, sebab Orang tua kami pun sangat Cemas. "


"baik, dengan senang Hati nyonya..? "


"Aira, itu Nama Istri saya. "


"Sudah Berapa lama Amara meninggalkan Richard? "


Aku penasaran apa lagi ulah kakak ku ini.


"Seminggu yang lalu Nyonya, dia mengatakan sangat rindu kepada Kedua Putrinya. "


Mendengar Peryataan Richo Aku membelalakkan Mataku dan kembali lagi rasa Cemas ku Muncul kali ini sangat tajam.


Aku segera Meminta reno untuk kami kembali ke Hotel.


Di dalam Mobil aku terus meminta Agar kami besok pagi subuh harus segera berangkat pulang.


Sesampai di Hotel aku hanya menampakkan Wajah Cemas dan Sikap yang tidak menentu.


Reno segera menghubungi Mertuaku.


"Hallo, Nak tumben kalian menelepon Mama, bagai Mana bulan Madu Kalian Apa menantu Mama senang.? "


"Maaf ma, ada hal penting yang ingin Reno Bahas. "


"ada apa nak, mama jadi khawatir nih."


"Ma, Apakah si kembar baik-baik saja dan Apakah Anak-anak bercerita sesuatu. "


"Anak-anak baik kok, hanya saja Kemarin siang Baby sitter mereka mengatakan ada wanita menggunakan Cadar menyapa Si kembar dari luar pagar, ada apa Reno nampaknya ada masalah? "


"Amara kemungkinan Akan menemui Si kembar. "


"Apa, nggak, Amara tidak boleh Bertemu si kembar jika tidak ada Aira dan Kamu. "


"Justru itu ma, sejak kemarin Aira cemas dan berfirasat kalau Amara ingin Mengambil si Kembar. "


"tidak, mama akan menyuruh satpam untuk melarang siapa saja yang tidak di kenal mendekati Pagar Rumah, juga semua para pelayan agar turut menjaga Si kembar. "


"Iya ma, Besok pagi-pagi Sekali kami pulang ke jakarta. "


Aku mendengar Reno mengakhiri


panggilannya.


Dan menyuruhku untuk tidur lebih cepat sebab besok subuh kami harus ke bandara.


Sepanjang malam Reno mendekap ku sekedar menghilangkan Rasa cemas ku.


Sepanjang malam Pula mata ku tak dapat ku pejamkan.


Aku terus mengingat Canda tawa Revi dan Reva.


Cara mereka memeluk dan menciumku lalu pertama sekali menyebut ku Mama.


Membayangkan Canda tawa mereka yang sangat manis.


Aku mengingat menidurkan mereka dan mendongengi setiap Malam.


Cara mereka memeluk ku dan menjamah pipi ku dengan tangan mungil mereka.


Ini yang aku takutkan, takut kehilangan moment seperti ini dari mereka.


Mungkin aku terdengar egois sebab ingin memiliki mereka dan mereka adalah Anak-anak Amara kakak ku.


-Bersambung-💞