
Mama lani mengusulkan Agar Aku dan Reno meluangkan Waktu untuk kami berdua.
Mengingat Semua hal dan kejadian yang sudah kami lewati.
Mama dan Om Aswin mengusulkan Agar Aku dan Reno berbulan Madu dan Pastinya Tanpa Anak-anak.
Menurutku aku tak ingin memusingkan Masalah bulan Madu ini.
Karena Bagiku kehangatan dan sikap sayang Reno setiap hari sudah mewakili bulan madu Kami.
Tetapi Mama memaksa ku untuk setuju akan usul yang mereka ajukan.
Walau aku sedikit sulit meninggalkan si kembar, akhirnya Aku pun setuju dengan usul dari Mama.
Reno menginginkan Agar kami bulan Madu ke Eropa.
Walau aku belum pernah menginjakkan kaki ku di sana dan berhasrat ingin melihat seperti apa Negara di Eropa yang ingin kami kunjungi, aku lebih memilih bulan Madu Ke Bali.
Aku masih belum berani dan Tenang meninggalkan Anak-anak.
Mengingat kejadian yang dulu pernah menimpa Revi.
Reno setuju dengan pilihan ku dan mengerti Maksud dari Alasan ku.
Dia pun menelepon Sekertarisnya untuk mencarikan Hotel dan mengurus keberangkatan Kami lusa ini.
Permintaan Reno Aku tolak untuk kami bulan madu selama 1 minggu.
Aku memintanya Agar kami hanya 4 hari saja di Bali.
"Sayang kenapa kita hanya 4 hari bulan madu nya ? "
"Reno, aku tidak tenang jika harus meninggalkan Reva dan Revi terlalu lama."
"Ok, baiklah kalau permaisuri sudah memutuskan, lagi pula kita sebenarnya Setiap hari bisa berbulan Madu di Rumah, ikan Sayang. "
Inilah yang aku sebut kehangatan dari Reno, Setiap hari dia selalu menggoda ku dengan pesonanya.
Suami ku ini selalu dapat Merayu ku, dan Dia juga tak Ingin mengecewakan ku dengan hal apapun yang tidak aku kehendaki.
Aku mulai mempersiapkan beberapa Pakaian untuk Kami.
Reno mengatakan agar aku tidak perlu memusingkan dengan membawa pakaian banyak yang membuat ku Repot.
"Sayang, kamu gak usah bawa pakaian terlalu banyak, nanti kita beli saja di bali. "
"Reno suami ku, di Bali kan kita gak ingin Repot untuk sibuk mikirin beli pakaian nanti liburannya terganggu. "
"cek, cek,cek,istriku ternyata Nakal yah.?"
"ih, kenapa aku kamu bilang Nakal. "
"aku paham maksud kamu sayang, kamu gak mau di pusingin masalah beli pakaian karena kamu gak mau keluar kamar hotel, biar bisa aku peluk terus kan? "
"Apa sih kamu ini, pikirannya Mesum terus deh. "
"loh, memangnya salah kalau suami istri mendekam berdua di dalam kamar."
"Sudah ah, Ayo kita Makan Siang aku Mau Lihat si kembar sudah Makan atau belum. "
Kami pun berkumpul di meja makan, Aku mulai membiasakan Si kembar agar dapat makan bersama keluarga.
Aku membeli kursi khusus Anak-anak agar mereka nyaman saat di Meja Makan.
"Wah, putri Papa sudah pada pintar yah makan sendiri. "
Reva dan Revi hanya diam sambil menikmati makanan mereka.
"Papa, Mama selalu Ajarin Reva dan Revi agar tidak bicara saat sedang Makan. "
Jawabku, Serentak Reva dan Revi mengangguk mengisyaratkan kepada Reno kalau mereka harus mengikuti aturan Maner saat sedang Makan.
Aku dan Mama lani tertawa kecil melihat perlakuan si kembar kepada Papanya Reno.
Saat kami hampir menyelesaikan Makan siang kami, bel Rumah berbunyi dan salah seorang pelayan pergi membukakan pintu.
Seakan mendapat Kejutan yang tak disangka, seorang Wanita seumuran dengan Mertuaku dan terlihat sangat Elegan dan Cantik dengan postur tubuh yang nampak Ideal datang ke Rumah Reno.
Aku melihat Mama lani dan Om Aswin nampak sangat terkejut terlebih Reno yang segera menghentikan Makannya lalu berdiri.
Aku hanya bingung siapa gerangan wanita ini, apakah ini salah satu kerabat Reno yang belum ku kenal.
Aku seakan merasa Sangat dekat dengan Wanita ini dan Senang melihat wajahnya yang masih nampak cantik di Usia nya.
Walau aku baru pertama kali bertemu dengannya.
"Amara, Kamu tidak menyambut Mama."
Wanita ini mengira Aku adalah Amara.
Tetapi tunggu apakah aku tidak salah dengar, dia mengatakan Mama.
Apakah Wanita ini belum mengetahui, berita beberapa bulan ini kalau Amara mengalami kecelakaan dan Mobilnya masuk jurang.
Atau selama ini Reno belum memberitahukannya seperti kepada semua pegawai di Rumah ini.
"Apa khabar Ma, silahkan duduk, apakah Mama sudah Makan siang, Aira tolong suguhkan Mertuaku Makan siang. "
Reno mencoba menyambut kedatangan Mertuanya dan berusaha untuk Melayaninya dengan menyuruh ku menyajikannya.
"Aira, Tadi apa, kamu panggil Amara dengan Nama Aira. "
Jawab Wanita itu heran sebab dia masih merasa Aku adalah Amara.
"iya, Kamu tidak salah dengar, dia ini Aira, Menantu kesayangan ku, Istri dari Reno. "
Mama lani nampak tidak begitu senang dengan kedatangan wanita ini, sangat terlihat dari nada bicaranya.
"Kalian ini sedang memainkan apa, saya tidak paham, dan Kamu nak kenapa mengganti nama mu menjadi Aira. "
Wanita ini nampak sedikit kecewa atas sambutan yang di terimanya, tetapi kenapa saat melihat wanita ini kecewa aku pun merasakan kekecewaan yang dia Rasakan.
"Maaf Ma, dia bukan Amara tapi Aira, Mama makan saja Dulu nanti kita semua bicara di Ruang keluarga. "
Reno mencoba menetralkan suasana.
"Reno, mama tidak berminat untuk Makan, Mama ingin penjelasan sekarang. "
"Baiklah kalau begitu mari kita bicarakan di Ruang keluarga, sebab Reno tidak ingin Anak-Anak mendengarnya. "
Kami pun segera beranjak dari ruang Makan menuju Ruang keluarga.
"Sebelumnya Reno minta Maaf ma, Reno menyembunyikan ini dari Mama."
"Maksud kamu apa Reno, kamu menyembunyikan apa dari Mama. "
"Amara mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu, mobil yang dia kendarai mengalami kecelakaan. "
"Apa, Amara Anak ku, bagai mana keadaanya.? "
"Sampai saat ini masih belum di temukan, dan polisi menduga Amara masih hidup dan sengaja membuat dirinya seolah Mati. "
Wanita itu nampak sangat syok dan tak dapat berkata Apa-apa.
Aku mencoba medudukkannya di Sofa.
"kalau kamu mengatakan begitu lalu dimana sebenarnya Amara Reno ? "
"Maaf, boleh saya bicara, Kemungkinan Amara saat ini bersama Richard Suaminya. "
"Apa Maksud kamu sayang, apa kamu mengetahui sesuatu tentang Amara ?"
Aku lupa tidak mengatakan hal ini kepada Reno setelah ingatannya kembali.
"kamu ingat saat kita sedang merayakan ultah si kembar, ada seorang Tamu datang dan Kepala panti ingin menemuinya dan meminta ijin kepada kita. "
"iya, Aku ingat tentang donatur itu. "
Jawab Reno yang masih penasaran.
"Pria itu adalah Richo adik tiri dari Richard dan dia juga sempat mengira Aku adalah Amara. "
"lalu, apa dia menyakitimu sayang? "
"tidak, dia segera sadar kalau aku bukan Amara, lalu aku mencoba bertanya kepada Ibu kepala Panti dan beliau mengatakan kalau Richard sudah menikah dengan Amara dan saat ini Richard sedang sakit keras. "
"Berarti Cctv yang di perlihatkan kapten Rendra saat Amara berada di Apotik adalah untuk membeli Obat bagi pria Itu. "
Aku melihat ada kekecewaan besar di wajah Reno.
"Nak Reno, tolong Amara. "
"untuk Apa Ma, Amara telah menghianati Reno dan Meninggal kan si kembar. "
"Mama tau Amara salah besar, tetapi Richard itu adalah kekasih lama Amara dan dia seorang Mafia. "
"Ma, Reno sudah tidak bisa berbuat Apa-apa lagi, itu sudah keputusan Amara sendiri. "
"Tapi Reno, dia kan Istri mu dan kamu sudah berjanji kepada Papanya untuk menjaga Amara."
"Ma, kalau memang Amara dalam Bahaya Reno akan berusaha menolongnya, tetapi ini berbeda Amara pergi dengan keinginanya sendiri."
"lalu bagai mana dengan pernikahan Kalian.? "
"dengan perginya Amara dari sisi Reno, itu sudah membuktikan Kalau dia ingin berpisah dengan Reno sangat jelas ketika kami cekcok mulut beberapa hari sebelum dia kecelakaan. "
Wanita yang adalah mama nya Amara merasa sedih dan terus menangis, aku sangat mengerti Apa yang dia rasakan.
"Nyonya Erika, anda lebih baik istirahat saja dulu, masalah pencarian Amara kita serahkan kepada Polisi. "
Om Aswin mencoba membuat wanita ini tenang.
Aku segera mempersilahkannya untuk ku antarkan ke kamar Tamu.
"Mari Ibu, saya Antarkan anda ke kamar. "
Kami pun bergegas menuju kamar tamu.
Aku masih melihat wanita ini terus menangis.
"Ini bu, Pakaian anda sudah saya taruh di lemari, Anda sebaiknya beristirahat. "
"terimaksih nak, Maaf tadi saya mengira kamu Amara Anak saya. "
"Tidak apa-apa, anda juga dapat menganggap saya sebagai putri anda. "
Wanita ini tersenyum saat aku menawarkan diri menjadi putrinya dan dia memeluk ku.
Aku merasakan rasa nyaman dan hangat yang tak dapat aku jabarkan.
Dan tak terasa Air mataku pun ikut menetes.
Aku segera menyelimuti wanita ini.
"Tadi siapa nama kamu nak? "
"Aira, panggil saja saya Aira Bu. "
Aku melihat wanita ini seakan terkejut saat memperjelas siapa nama ku.
"Apakah Nama mu Aira Prameswari ?"
"dari Mana anda tahu nama lengkap saya ?"
Wanita ini segera memeluk ku Erat, dan beberapa kali membisik kan kata ke telingaku dengan isak tangis.
"Putri ku, Kamu Putri ku, Anak ku. "
"Iya Ibu, tadi kan saya sudah setuju menjadi Anak Angkat Ibu. "
"Bukan, bukan Aira, kamu memang Putri ku yang aku berikan Kepada Prapto dan Dewi. "
Aku membelalakan Mata ku saat Wanita ini menyebutkan Nama kedua Orang tua Angkat ku.
"Apakah Anda benar Ibu ku ?"
"iya, Iya sayang, kamu putri ku yang aku berikan."
Benarkah ini, apa aku sedang bermimpi.
Aku bertemu dengan ibu yang melahirkan ku dan berarti Amara adalah Kakak ku.
Aku menikahi Suami Kakak ku.
Takdir apa ini Tuhan, Aku seakan berada dalam balutan benang kusut.
Aku menangis haru dalam pelukan Ibu kandungku yang nanti akan aku panggil dengan sebutan Mama.
Reno ternyata sudah berdiri sejak tadi di depan kamar dan mendengar semua pembicaraan kami.
Lalu Reno menghampiri kami dan memeluk Aku dan Mamaku berbarengan.
-Bersambung-💞