
Cuaca pagi ini sangat Cerah, Bi Ana sedang sibuk merapihkan Kamar yang biasa ku pakai.
Ternyata selama ini aku menempati kamar Reno dan Amara.
Siang ini Reno pulang dari Rumah sakit dan Lusa adalah Hari pesta Pernikahan Ku dengan Reno.
Mama sengaja mempercepat pernikahan ini.
Mama tidak ingin sesuatu terjadi antara aku dan Reno saat Status ku belum jelas dan belum Sah sebagai Istri Reno.
Walau pun Aku sangat Mencintai Reno, tetapi Mama ingin Norma dalam Pernikahan itu tetap Terjaga.
Sehingga Saat Aku dan Reno telah sah di dalam Hukum, maka Dunia pun tidak memandang hubungan ku dan Reno dengan Sebelah Mata.
Aku menghampiri Bi Ana dan mengajaknya Mengobrol sambil merapih kan Kamar kami.
"Bi, Menu makanan Kesukaan Reno Apa bi. " tanyaku penasaran.
"Tuan Reno sejak dulu sangat Menyukai Ikan Bakar " jawab bi ina dengan bersemangat.
"Bi, dulu Reno itu pacarnya Banyak gak? " tanya ku lagi.
"Banyak Non, seringkali mereka berkunjung ke Rumah dan setiap minggu selalu beda Orang "
"Berarti Reno Playboy dong ?" tanyaku nyinyir.
"justru itu Non, semua perempuan yang Datang tidak pernah di Sambut Tuan Reno. "
"Masa sih Bi ?"
"benar Non, dulu aja Pernah Nyonya besar memperkenalkan Tuan Reno dengan Seorang Gadis, tetapi Tuan Reno malah Kabur dan pergi bersamaTeman-teman kampusnya Naik gunung "
jelas Bi ana yang nampak bersemangat menceritakannya.
"jadi, Reno gak pernah Pacaran dong "
Saat aku sedang Asik berbincang dengan Bi Ana, Mama datang dan menghampiri Kami.
"Reno itu hanya Senang dengan Satu Gadis, semasa Kecilnya dulu "
"Masa sih Ma, Reno masih menunggu gadis itu, siapa tau gadis itu sudah Menikah. "
"Reno itu Sifatnya seperti Papanya, selalu pada pendiriannya "
"Maksud Mama ?"
"Reno, Merasa gadis kecil itu adalah Cinta sejatinya dan Dia terus Mencari Informasi Akan gadis itu "
"Sampai saat ini Ma? "
"Iya kamu benar, Bahkan saat dia sudah menikah dengan Amara. "
"Apa Reno pernah menemukan hasil dari pencariannya? "
"Terakhir saat dia belum Menikah dengan Amara dan Belum pernah Betemu dengan Amara, gadis itu sudah pindah Rumah Bersama keluarganya, dan sejak saat itu Reno kehilangan Jejaknya lagi. "
Aku hanya terdiam ada sedikit perasaan Kecewa dan Cemburu menyelimuti Hati ku.
Ternyata Reno Mencintai Cinta pertamanya, yang tak jelas Berada di mana.
"Kamu pasti cemburu ya Aira. "
Seketika lamunan ku buyar saat Mama mengatakan Jika Aku Cemburu.
Ya, memang Aku Cemburu baik Sebagai Aira atau pun Amara.
Mama Mengeluarkan Sebuah kotak dari dalam tas kain yang di bawa nya, dan. Memberikan Kotak itu kepada Ku.
"Apa ini Ma, ini untuk Aira ?"
Aku lalu membuka kotak yang Mama Lani berikan, betapa terkejutnya Aku saat aku membuka kotak itu kilauan dari benda di dalamnya hampir menyilau kan Mata ku.
Ini Berlian pikir ku, isi nya satu set Perhiasan dari berlian.
"ini Hadiah Pernikahan dari Mama "
"Tapi Ma ini terlalu Mewah."
"Kamu akan menjadi Istri dari Reno, Seorang pengusaha Besar, hadiah ini sangat Pantas Untuk Kamu Aira. "
"Tapi ma..?"
"Ini sudah mama siapakan Sejak Lama untuk Menantu Pilihan Mama nanti, jauh sebelum Reno Menikah dengan Amara, ternyata Perhiasan Ini memang jatuh kepada Menantu Pilihan Mama yaitu Kamu. "
Aku tak dapat menolak pemberian Mama, aku melihat Ketulusan Yang sangat Besar di wajah Mama.
"Terima Kasih ya Ma. "
Aku sangat Terharu dan Aku segera Memeluk Mama Lani.
"Ayo, sekarang kita bersiap-siap untuk Menjemput Reno pulang. "
"Iya Ma, tapi Aira Mau Lihat Si kembar dulu apakah sudah di Mandikan Baby Sitter nya"
Aku lalu bergegas Melihat si Kembar dan Aku mendapati kedua Baby sitter mereka sedang kewalahan Menyisir Rambut Mereka.
"hallo, Anak-anak Mama yang Cantik"
Aku harus membiasakan Memanggil Reva dan Revi sebagai Anak ku.
"Sini-sini Mama Yang Sisir yah, Kalian Harus Cantik karena hari ini Papa kalian Pulang."
Serentak keduanya tertawa senang seakan mereka mendapatkan sesuatu hadiah yang sangat menyenangkan.
Aku besrsyukur Si kembar sudah Mulai Sering berceloteh.
"Mama Ra, nih. "
Revi memberikan Pita Rambut di tangannya dan memberikan kepadaku agar aku memakaikannya.
"Revi pita warna Biru dan Reva Pita Warna hijau, sekarang Anak mama sudah Cantik. "
Aku memakaikan Pita mereka masing-masing dan Si kembar sangat Senang dengan penampilan Mereka, lalu si kembar berpelukan menandakan kekompakan Mereka.
"Nanti Reva sama Revi panggil Tante dengan Mama Amara yah, bukan Aira."
Seketika Revi dan Reva Cemberut.
"iya, Mama Aira lebih senang di panggil Mama Amara. "
Alasan ku untuk membujuk mereka.
"Sini Mama cium dulu kalian baru mama berangkat Sama Eyang. "
Aku mencium si kembar lalu beranjak dan segera menemui Mama Lani yang telah menunggu ku sejak tadi.
Aku segera menyusul Mama Lani masuk ke dalam Mobil.
Lalu Mama Segera Memerintahkan Supir agar Terlebih dahulu pergi Kesebuah Hotel dimana Aswin paman Reno menginap semalam.
Pantas Saja Mama Lani menggunakan Mobil yang Agak Besar, bukan Menggunakan Mobil sedan yang biasa di pakai Mama jika bepergian ke suatu Tempat.
"Ma, Bagai Mana dengan Om Aswin. "
Tanyaku yang takut jika Om Aswin tidak Sependapat dengan rencana Mama Lani.
"Kamu tidak usah khawatir Aira, apa yang Baik untuk Reno Aswin akan Selalu Setuju."
Aku sedikit tenang dengan Suatu hal yang sempat membuat aku khawatir.
Sesaat Aku kepikiran dengan Seorang Dokter Muda Yang tak sengaja bertabrakan dengan ku saat di Rumah sakit kemarin.
Aku selalu terbayang akan perkataan pria tersebut tentang Orang yang Bernama Richard.
Apakah Pria itu adalah Mantan Amara yang membuat pertengkaran Amara dan Reno.
Aku penasaran sekali, tetapi saat ini aku belum bisa menanyakannya Kepada Reno.
Sebab bagi Reno Amara masih Sama dan Masih Hidup, walaupun sebenarnya Itu adalah Aku Aira.
Yang sering menjadi pertanyaan di hati ku, Sebenarnya Apakah benar Amara sejahat seperti dugaan Mama lani.
Sehingga si kembar pun seakan benci dengan Nama itu, saat aku mengatakan kepada si kembar bahwa mereka haruslah memanggil ku dengan sebutan Mama Amara.
Kami pun tiba di Hotel Mewah tempat Om Aswin menginap.
Mama segera memperkenalkan Aku dengan Om Aswin, dan langsung menjelaskan rencana dari mama lani.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit, kami hanya membahas tentang Rencana pernikahan Aku dan Reno yang akan di gelar Esok lusa di Rumah besar Reno.
Kami tiba di Rumah sakit, Mama beserta Om Aswin masuk terlebih dahulu ke Ruangan Tempat Reno di Rawat.
Sementara Aku Mengurus semua Masalah Administrasi.
Aku kembali bertemu dengan Dokter Muda yang mengira Aku sebagai Amara.
"Selamat siang Nyonya Amara, kita bertemu lagi. "
Pria tersebut mengulurkan tangannya untuk aku dan Dia berjabat Tangan.
"Maaf, Mungkin Anda salah mengenali Orang."
"Oh, Maaf kalau Saya Salah Orang"
"Kemarin Anda Menyebutkan Nama Richard dan Memanggil saya Amara, Apakah Mereka berdua adalah Pasien Anda Dokter. "
"Ya,Waktu itu pak Richard sedang mengalami Luka tusuk yang sangat dalam, dan Beliau juga sedang mengalami Sakit keras. "
"lalu, wanita yang bernama Amara itu?"
"Nyonya Amara adalah kekasih dari Tuan Richard dan Dia sangat Khawatir akan keadaan Tuan Richard"
Aku Tak mengira ternyata Mama lani, Reno dan Om Aswin mendengar sedikit pembicaraan Aku dengan Dokte muda ini.
"Apa maksudnya Amara khawatir dengan keadaan Richard ?"
Tanya Reno yang tak sengaja mendengar perbincangan Kami tadi.
"Bukan Aku Reno, Dokter ini sedang menceritakan Pasiennya yang namanya Sama dengan Ku, Amara. "
Aku sempat Khawatir kalau Reno sudah mendengar Pembicaraan kami sejak tadi.
Tetapi ke khawatiran Aku salah, Reno dan juga Mama baru saja Sampai, Mereka harus membawa Reno dengan Kursi Roda dan di tuntun oleh Om Aswin.
-Bersambung- 💞