
Para Pegawai di rumah Reno sangat Antusias Menyambut Tuan Mereka yang Selamat dari kecelakaan.
Terlebih Bibi Ana yang walaupun hanya seorang kepala pelayan di Rumah Ini, tetapi Bi Ana sangat di hormati Reno.
Bi Ana segera berlari memeluk Tuan nya Reno, yang sejak dulu sudah dianggapnya sebagai Anaknya sendiri.
Revi dan Reva langsung berlarian menuju Reno yang duduk di kursi Roda.
Betapa Senangnya Reno melihat senyum dan Tawa kedua Putrinya Ini.
Reno tak hentinya menciumi kedua Anaknya seakan Reno baru kali ini bertemu Revi Dan Reva.
"Ayo, Anak-anak Mama, beri Salam Sama Eyang Aswin " pinta ku kepada Revi Dan Reva.
Segera Revi dan Reva mencium tangan Aswin.
"Aku baru bertemu Mereka saat ini dan Betapa hatiku sangat Bahagia, Anak-anak Reno sehat dan Cerdas. "
Aswin selama ini tidak pernah bertemu Putri-putri Reno juga Amara.
Dia hanya melihat dari foto yang dikirim oleh Reno.
"Semua Ini berkat Amara, Dialah yang mendidik Anak-anak ini." jawab Mama lani kepada Aswin.
Reno yang mendengarnya pun turut kagum akan Didikan ku yang Reno masih menganggap aku sebagai Amara.
"Terimakasih ya Amara, kamu sudah menjadikan mereka Anak-anak yang Pintar. " ucap Reno kepada ku.
"Mereka juga Adalah Anak-anak ku Reno, sudah selayaknya aku mendidik mereka."
Sebenarnya hatiku sedikit sakit saat aku mengatakan kalau Si kembar adalah Anak ku, yang sebenarnya adalah Anak dari Amara.
Mama segera menyuruhku membawa Reno ke kamar untuk segera beristirahat.
Aku menggiring Kursi roda Reno ke kamar Kami.
Saat masuk ke dalam Kamar, Reno seakan terdiam dan Melihat sekitar ruangan.
"kenapa Reno, Apa kamu tidak suka dengan Ruangan Ini ?" tanyaku yang sempat bingung Melihat Cara Reno memandang seisi kamar.
"Amara, dapatkah Foto-foto kita ini kamu Simpan. "
"Kenapa? " tanyaku menambah rasa penasaran ku.
"entah kenapa Aku sepertinya sudah menyimpan Foto-foto ini jauh, seperti ada rasa kecewa yang kurasakan saat melihat Foto ini. "
"Tapi, ini kan foto kamu dan Amara, ehm masud ku Foto kita berdua. "
"bisa kah kau menurunkannya, biarlah besok kita hanya memajang Foto pernikahan kita saja yang akan kita Rayakan sebentar lagi. "
Lalu aku segera meminta pelayan menurunkan semua Foto-foto lama Reno dengan Amara.
Mungkin Reno masih merasakan Aura yang tidak Enak dari Foto-foto yang memang sudah di simpannya lama di gudang, saat Amara di nyatakan Kecelakaan.
Aku tau di alam bawah sadar Reno, Masih ada tersisa memori yang tidak Menyenangkan Menurut Nya.
"Ren, kamu ganti baju dulu ya ini aku sudah mengambilkannya untuk mu. "
Aku memberikan Kemeja santai untuk Reno ganti dengan pakaian yang dia pakai saat ini.
Dan aku segera bergegas pergi Meninggalkannya.
"Amara. "
Langkah ku terhenti saat Reno memanggil ku.
"Tolong bantu aku Memakaikannya. "
Aku cukup kaget atas permintaan Reno, memang sebenarnya itu adalah Tugas seorang Istri.
Tetapi Aku belumlah Menjadi Istri sah nya.
Dan aku juga belum pernah menggantikan pakaian Seorang pria.
Aku mengambil pakaian itu dari tangan Reno.
Aku memang pernah meraba Dada Reno yang bidang beberapa kali saat kami dalam situasi dan suasana yang tak bisa kami elak satu sama lain
Tapi ini aku melihatnya langsung, Reno memiliki Tubuh yang sempurna sebagai laki-laki menurut ku.
Aku sempat terdiam, dan sesekali menelan Saliva ku.
"hei, Amara kamu seperti baru pertama kali melihat ku bertelanjang dada. "
Reno menyadarkan ku yang sempat tertegun sesaat.
Dan kulihat Senyum nya yang seakan mengisyaratkan sesuatu seakan menggoda ku.
Reno menarik tangan ku dan tubuh ku pun ikut terbawa kehadapannya.
Tak sadar tangan ku memegang dada bidang Reno yang tanpa pakaian penutup.
Aku rasakan lekukan-lekukan Otot pada dada dan perutnya.
Aku tak sadar sudah menjalankan tanganku meraba setiap otot perutnya.
Reno mendekatkan Wajahnya ketelinga ku dan membisikkan ku sesuatu.
"Kamu sedang Menggoda ku ya Amara. "
Bisik Reno dengan suara seksi.
Aku segera tersadar dan Mencoba Menjaga jarak dari Reno.
Reno melirik kearah ku dan tersenyum seakan menggoda ku.
Aku segera berlalu dari hadapan Reno dengan Alasan ingin mengambilkan Minum untuk Reno minum Obat.
Oh, betapa malunya Aku di depan Reno.
Aku seakan terbuai saat melihat bentuk tubuhnya yang ideal.
Aku senyum-senyum sendiri di dapur saat ku ingat tatapan dan Arti senyum Reno kepada ku.
Aku harus membuat Reno segera pulih agar bisa berjalan kembali dan juga mengingat bahwa Aku Aira Bukan Amara.
Aku tidak Ingin Reno terus menganggap ku Amara.
Aku juga harus bisa mencari alasan yang tepat kepada Reno untuk Aku melanjutkan Kuliah ku.
Sesaat Aku teringat dengan Bibi Elma.
Aku harus menceritakan semua tentang Rencana ku menikah dengan Reno.
Tetapi aku tidak ingin Om Robert mengetahui alasan Sebenarya Aku menikahi Reno.
Sebab bagaimana pun juga harus ada wali dari pihak keluarga ku.
Sebentar lagi aku akan menjadi Istri dari seorang Reno.
Tak peduli pandangan Orang tentang Reno yang sedang Lumpuh.
Aku semakin yakin Tuhan memang mengirim Reno untuk menjadi Teman yaitu teman Hidupku.
Dulu mungkin Amara menyia-nyiakannya, tetapi bagi ku Reno adalah Cinta sejati ku dan aku Merasa sekan sudah Lama berjodoh dengannya.
Saat Aku kehilangan Beberapa orang yang Kucintai, Tuhan menggantikan nya kembali dengan Reno, Revi dan Reva.
Mereka adalah bagian hidupku saat ini dan aku tak ingin berpisah dengan Mereka.
Bahkan jika hantu Amara datang sekalipun aku tak akan Menyerah kan mereka.
Sebab mereka kesayangan ku dan kepunyaanku.
Aku akan menggengam Erat Mereka.
-Bersambung-💞