I'm not Your Wife

I'm not Your Wife
Pengakuan Reno



21. Pengakuan Reno


"Akhirnya sang pangeran pun Menikah dengan Putri Pujaan nya.., Selesai..!" Aku menutup buku cerita yang baru saja aku bacakan kepada Si Kembar.


Revi dan Reva menatap ku Sambil tersenyum dan memilin tali di sarung guling mereka.


Aku merapihkan posisi selimut mereka "Ayo Anak tante yang Cantik-cantik, ceritanya sudah selesai berarti waktunya apa..? "


Serentak mereka menjawab sambil tertawa dengan Celoteh cadel nya "Tidul...! "


"ya.. Kalian harus tidur kan tadi sudah berdoa, dan tante sudah bercerita jadi waktunya tidur yah..!" aku mengecup kening mereka masing-masing dan tak lama pun mereka sudah terlelap.


Aku pandangi mereka dengan lekat dan aku teringat kembali dengan tawaran Reno untuk menikahi ku.


Jujur setelah Reno mengatakan niat nya pada ku,  aku gelisah beberapa hari ini.


Disisi lain aku sudah terlanjur sayang kepada si kembar dan aku merasa mereka sudah menjadi bagian Hidupku.


"hai..! Istri Reno,  kamu punya putri-putri yang Cantik.. " bisik ku dengan berbicara sendiri.


Aku mungkin sedikit Naif karena pendirianku,  aku tak pernah mengharapakan Pernikahan tanpa dilandaskan dengan Cinta dan Kasih sayang.


Aku juga tak tahu apakah Reno benar-benar mencintai ku,  Reno mengatakan keinginannya hanya untuk si kembar semata.


Tidak.. Aku masih belum bisa menerima permintaan Reno.


Aku sadar siapa diriku,sementara Reno sangatlah sempurna menurut ku.


Meski dia seorang duda dengan dua orang putri.


Reno Sangat Tampan, bentuk Tubuh nya sempurna dan Seorang pria Mapan dan Jutawan serta Kebaikan hatinya menjadikan Reno Semakin Sempurna Dimataku.


Ini lah keresahaan ku, menurutku Manalah Mungkin Reno Mencintaiku dan Dia pun tak pernah Mengatakannya Padaku.


Aku bukanlah Wanita yang Butuh Cinta hanya untuk menemani,  Aku tidak Mau Cintaku kandas lagi seperti Aku dengan Mas Bram, dulu aku berfikir Mas Bram akan menjadi Cinta sejati ku tetapi lama kami berpacaran dan hubungan kami pun kandas karena suatu hal.


Aku akui Hati ku sedikit berdesir bila Reno menatap ku dengan tatapan yang sangat lekat.


Aku merasa Reno punya pesona yang Kuat.


Aku merasakan Hangat saat Aku peluk Reno dari Belakang ketika aku mencoba menghentikan perkelahiannya.


Aku mencium Wangi yang terpancar dari Farfum yang di pakainya yang sangatlah Sexi dan Maskulin dan Membuat Aku Ingin terus Memeluknya ada Gairah yang Indah yang tak dapat kujabarkan.


Sempat aku merasa Apakah aku jatuh Cinta kepadanya tapi aku tepis.


Mungkin yang kurasakan saat itu hanyalah perasaan Manusia Dewasa dimana merasa tertarik dengan lawan jenis yang sedang di Puja.


Ya.. Itu benar..aku memang sangat Memuja Reno.


Ah.. Reno sepertinya agak larut Pulang Mataku mulai mengantuk, aku mencoba Merebahkan Badanku di sebalah Si kembar yang memang Ranjang mereka sangat besar dan lebar, mataku terasa berat aku merasa hari ini aku lelah sekali karena kegiatan di kampus dan tak sadar aku sudah pulas terlelap.


 


Aku merasa Seperti ada yang membawaku,  aku ingin melihatnya tetapi Mataku sangatlah Berat.


Wangi ini... Ya.. Aku hafal wangi ini.


Sepertinya Renolah yang menggendongku.


Aku semakin Merasa nyaman saat ku cium Wangi tubuhnya.


Aku semakin menyenderkan pipiku ke dada Reno yang bidang dan kudengar detak Jantungnya.


Saat ini aku mungkin adalah wanita yang Munafik bila Aku mengatakan Kalau Aku tidak tergoda.


Aku mengeraskan gengaman ku pada kemeja Reno di bagian Dadanya.


Aku tidak tau apakah Reno menyadari sikap ku, aku terus berpura-pura tidur seakan tak Sadar.


aku mendengar Reno mendorong Pintu kamar ku dengan kakinya dan merebah kan ku di kasur.


Oh.. Tidak..Reno Mencium Bibir ku, dan.. Aku tak kuasa aku pun menyambut Ciumannya dengan Mata tetap Terpejam.


Oh.. Tidak.. Apakah Reno tau aku tidak tidur..?  Dia semakin Terus Mencium ku.


Aku merasa terbawa suasana tapi aku segera menyadarkan Otak Ku dan aku membuka Mataku.


"Maaf.. Aira.. Aku terbawa suasana.. "


Reno terus Meminta Maaf.


"Maafkan kelancangan ku.. "


Aku hanya terdiam,  aku menyembunyikan Rasa bersalahku yang Reno tidak boleh tau kalau aku juga menikmati Ciuman itu.


"Aku tak bermaksud Melecehkan Mu,  Aku.. Aku.. Tertarik Pada mu Aira dan aku Sayang Sama kamu.


Betapa kagetnya Aku akan Ucapan pengakuan Reno Barusan, dan kenapa Laju jantungku bergerak Cepat sampai aku Merasa sedikit Sesak.


"Setiap aku Melihat Kamu,  aku semakin sayang,  aku Ingin terus melindungi Mu Aira."


Aku masih Terdiam dan Mencoba menyadari apakah yang aku dengar ini nyata..?


Kami hanya terdiam dan Reno terus Menjambak kecil Rambutnya dan terus Berucap..


"Shitt...! Kenapa lo gak bisa tahan diri Reno.. " bentaknya kepada dirinya sendiri.


Tak lama terdengar suara langkah kaki yang masuk ke kamar ku yang tak lain adalah Eyang si Kembar Nyonya Besar.


"ada apa ini Reno..?"


"kenapa kamu ada di kamar Aira.. "


"apa yang kalian lakukan disisni berdua..?"


Bertubi pertanyaan yang di lemparkan Nyonya kepada Reno.


"ayo..Reno kamu keluar dari kamar ini.!"


Lalu Nyonya mengajak Reno keluar dari kamar ku tanpa menunggu jawaban kejelasan dari Reno.


Aku merasa Malu pada Diriku,  bagai mana tidak, tidaklah mungkin aku mengatakan tidak apa-apa dia menciumku karena aku juga menikmatinya.


Aku Resah dan Salah tingkah aku topang daguku dengan lutut kaki ku diatas Ranjang sambil kugigiti kuku jari ku.


Aku pejam mataku merasakan bagai mana sikap ku esok hari saat aku bertemu dengan Reno.


***


Ponsel Reno berdering dan Reno segera mengangkatnya kepalanya sedikit pusing,  semalaman dia tak dapat tidur akibat kejadian semalam.


"hallo..! " sapa Reno dengan suara Parau nya.


"Pak Reno,  saya dengan Kapten Rendra.. "


"Oh.. Iya kapten Maaf saya baru bangun tidur, apa sudah ada perkembangan..? "


"sampai saat ini kami baru menemukan Bukti kalau mobil yang di kendarai Nyonya Amara seperti terjatuh bukan dengan Sengaja, dari penyelidikan Kami ada Dorongan Paksaan dari Bekas jejak mobil di Tanah tempat Nyonya Amara berhenti.."


"berhenti.. Maksud kapten bagai mana saya belum jelas.. "


"jadi sebelum Nyonya Amara terjatuh,  mobil itu sempat berhenti dengan jarak 7 meter dari mulut jurang, untuk fotonya dan kejelasannya kami harap bapak bersedia ke kantor polisi.."


"ok,  saya segera kesana pak. "


Reno pun bergegas untuk bersiap-siap


 


 


 


 


 


 


 


  - Bersambung-