I'm not Your Wife

I'm not Your Wife
Cinta Mu adalah Obat




*Pov Reno


Aku senang dapat merayakan Pesta ulang tahun kedua putri ku.


Kian hari Aku semakin merasa Amara Adalah Aira.


Saat aku tidur di sampingnya dan mencium Aroma Tubuhnya, Aku sangat yakin dia bukanlah Amara.


Saat Aku selalu menganggap Amara adalah Aira Aku tidak pernah bermimpi lagi Tentangnya.


Aku Ingin melihat Dunia luar, aku ingin mengajak Istriku jalan-jalan hanya dengan ku saja.


Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan nya tanpa Anak-anak.


Istriku mengajak ku ke Taman kota.


Dia mendorong ku dengan Kursi Roda dari pintu gerbang sampai ke Taman.


Aku seakan memiliki sebuah memori dengan Taman ini.


Istriku menawarkan padaku Gulali aku juga menyukainya.


Dia pun segera pergi membelinya yang tidak jauh jaraknya dari tempat aku berada.


Pembelinya sangat ramai sehingga Amara harus Mengantri.


Aku melihat Istriku dari kejauhan yang sedang menunggu Antrian Gulali.


Aku melihat semua gerak Tubuhnya dan tawanya kepada penjual gulali itu juga Senyumnya.


Sekilas Memori ku yang hilang kembali.


Ya, aku pernah ke tempat ini bersama Aira dan kami memakan Bubur Ayam bersama.


Ingatan ku sebentar hilang dan sebentar lagi muncul.


Aku melihat Istriku telah membawa 2 Gulali.


Ouhg, tidak dari seberang sana datang seorang Anak dengan mengendarai sepeda dan melaju sangat cepat.


Aku segera menggerakkan kaki ku dengan sedikit sulit, lalu aku mendorong tubuhku untuk menghindari sepeda yang Akan menabraknya.


"Aira, Aira Awas..! "


Di otakku hanya Ada Nama Aira, aku berteriak memanggilnya lalu mendorongnya jauh dari sepeda itu.


Aku pun tak sadarkan diri.


Aku Merasa lemas dan Mencoba membuka Mataku.


Aku melihat kalau saat ini Aku berada di pangkuan Wanita yang Aku Cintai.


Aku menyentuh Wajahnya membuktikan Apakah Ini nyata.


Dan ternyata itu adalah benar-benar Aira.


Aku seperti sedang menonton kilasan sebuah cerita dalam hidup ku.


Aku mengingat kembali saat sebelum Aku mengalami kecelakaan.


Aku mencari Aira yang lari dari hidupku.


Aku sadar wanita yang bersama ku bukanlah Amara melainkan Aira.


Aku sedikit kecewa mengapa Aira tidak jujur kepada ku.


Dan mengapa Dia harus menjadi Amara.


Tidak tahu kah Aira kalau Aku sangat Merindukannya.


Bahkan dalam Amnesia pun Aku masih merindukan Aira, yang selama ini hanya ada dalam Mimpiku.


Aku mengerti dia berusaha untuk membuat ku sembuh dengan Kasih sayang dan Cintanya kepada ku.


Tetapi mengapa harus menjadi Amara, Mama juga Tahu Aku mencintai Aira.


Aku ingin menggodanya dan memberikan sedikit pelajaran buat Aira Istri ku tercinta.


Meski aku harus menahan diri untuk memeluknya dan melepaskan semua rasa Rinduku kepadanya.


Aku sengaja tidak menghiraukannya dan sedikit mengabaikannya.


Aku melihat raut wajahnya sedikit kecewa.


Saat tiba di Rumah Aku berlaku ketus kepadanya.


Aku melihat dia masih menahan dirinya dari rasa ingin menangis.


Aku memintanya memakaikan baju ku tanpa ada kata (tolong).


Dia pun memakaikannya.


Aku sempat membentaknya dan menuduhnya yang tidak ingin membantuku.


Dia mengatakan kalau salah satu kancing bajuku akan copot.


Dia lalu menjahitnya, aku menatapnya lekat ingin Rasanya Aku mencium bibirnya.


Aku menahan diriku saat wajahnya dia dekatkan untuk memotong benang jahit dengan giginya.


Aku mengalihkan perhatian ku dengan menanyakan kapan dia mulai mahir menjahit.


Seolah-olah aku masih belum tahu, jika wanita yang berada di hadapan ku saat ini adalah Aira.


Aku tahu Aira berbohong dengan mengatakan baru mempelajarinya beberapa hari ini.


Aku melihat jam dinding di kamar dan aku mengingatkannya untuk kuliah.


Aku berpesan agar Aira tidak pulang terlalu lama.


Aku tahu ini mungkin terdengar sedikit kelewatan, aku tahu betul wanita yang ku cintai ini adalah gadis yang Pintar dan Bijak.


Aku gelisah sudah malam tetapi Aira belum juga pulang.


Apa perlakuanku tadi siang terlalu kelewatan kepadanya.


Aku pandangi terus ponsel ku berharap Aira memintaku untuk menjemputnya.


Aku melihat sebuah mobil masuk pekarangan Rumah ku.


Itu pastilah Aira yang menggunakan jasa Taxi Online.


Aku melihat seorang pria membukakan pintu untuknya.


Tunggu dulu bukankah Itu Mantan kekasih Aira.


Dimana mereka bertemu, aku juga melihat seorang wanita bersama pria itu dan terlihat sedang mengandung.


Aira membuka pintu kamar secara perlahan.


Aku menegurnya dengan nada suara tinggi.


"dari mana saja kamu jam segini baru pulang?"


Aira nampak kaget akan nada suara ku.


Aku segera menghampirinya lalu mendekatinya secara perlahan dan


menatapnya tajam Aku membuatnya terpojok.


"Aku dari kampus, banyak Tugas yang harus ku cari di perpustakaan. "


Aira nampak sekali kelihatan gugup dan takut akan tatapan ku yang Tajam dan aku lihat sesekali Dia menelan saliva nya.


Aku merubah Mimik wajah ku yang seakan tidak percaya padanya.


"dari kampus atau Habis bersenang-senang dengan Mantan Pacar.? "


sahut ku kepadanya.


"Tidak Reno, kami hanya kebetulan bertemu di jalan saat Mas Bram habis mengantar Istrinya periksa Kandungan."


Ternyata wanita itu adalah Istri bram, dan benar Aira tidak berbohong.


Seharusnya Aira langsung mengerti kalau aku hanya berpura-pura padanya.


Seharusnya dia juga dapat mencerna perkataan ku barusan yang sudah mengetahui kalau pria tadi adalah Bram.


"ah, kamu berbohong, aku jelas melihatnya Si Bram itu mantan kamu dengan romantisnya membukakan kamu pintu, iya kan? "


Aku mendekatkan wajahku dan ingin segera mencium nya.


Dia pun juga menatap ku lekat walau bibirnya hanya terdiam.


"Jawab, jawab kamu masih mencintai Mantan kekasih mu itu kan, Kamu itu Istri aku Air.. "


Saat aku ingin mengatakan kalau Dia Aira adalah Istriku, Tiba-tiba Aira mencium ku dan Aku pun tak dapat melanjutkan sandiwara ini lagi.


Aku tidak dapat menahan diriku sebab ini lah yang aku tunggu sejak mengingat semuanya.


Kami menghentikan ciuman kami dan aku mendorong kepala Aira lalu kembali melumat Bibirnya.


Aku peluk tubuh Aira erat sangat erat.


Ini adalah kerinduan ku kepadanya, dan aku tahu ini juga kerinduan Aira.


Kami seakan ingin menumpahkan semua kerinduan ini.


Tidak terasa Air mata ku menetes aku merasa ini Air mata kebahagiaan setelah aku lama menantikan Cinta Aira.


Kami sama-sama menangis dalam kebahagiaan.


Aku melepas kembali Ciuman ku dan aku menatap wajah Istri ku lekat.


Aku mencoba meyakinkan diriku jika saat ini bukanlah Mimpi


"Aira, Aira. "


Lalu Aku memeluk nya kembali dengan Erat.


Aira mendekapkan Kepalanya di dadaku.


Aku menduduk kan nya ke Ranjang, sementara Aira hanya diam dan menatap ku dengan Air Mata yang tak henti mengalir.


Aku menghapus Air matanya seakan tak ingin membuatnya sedih dan aku mengucapkan kata maaf kepadanya.


"Maaf kan Aku Aira."


"Reno kamu membuat ku takut, kamu tidak tahu aku sangat takut kehilangan mu dan.. "


Aku kembali mencium nya dengan Sangat lembut saat dia ingin mengungkapkan rasa takutnya dan aku ingin menyadarkan Aira Aku sangat mencintainya bahkan tak ingin meninggalkannya.


"Aku mencintai Mu Aira. "


Dia menatapku dengan penuh Cinta dan memintaku kembali memanggil Namanya.


"Reno, sebut nama ku lagi. "


"Aku mencintai Mu Aira,Aira, Aira Istri ku."


Aku kembali menciumnya dan kali ini nampaknya kami sangat terbawa suasana sebagai Dua Orang dewasa yang menjalin Cinta dan gairah.


Aku menyentuh nya Lembut dan penuh cinta.


Aku Mengigit kecil tempat dimana yang aku mau, memberikan tanda jika dia adalah milik ku.


Aku Menciumi setiap bagian dari dirinya.


Aku melihat Aira seakan Terbuai dengan apa yang Aku lakukan Kepada nya dengan penuh Cinta dan Gairah.


Aku tahu ini kali pertama bagi Aira dan Aku tak ingin Memaksanya.


Tetapi Bahasa Tubuh Aira seakan mengijinkan ku Melakukannya dan dia pun seolah menginginkannya.


Aku melakukannya, ya kewajiban sebagai suami dan Aira pun menikmatinya kami saling terbuai satu sama lain.


Aku terus memanggil nama istriku dan dia pun terus memanggil nama ku.


Walau ini bukan yang pertama bagiku.


Tetapi ini yang pertama membuat Aku semangat melakukannya, hubungan yang di dasarkan Cinta dan Fantasi ku seakan mencampuri semuanya.


Kami pun lelah dalam menumpah kan kerinduan kami, aku terus menciumi tangannya dan memeluknya dari belakang.


Aku tak ingin meninggal Kan nya, Aira adalah Milikku sekarang dan Dia Adalah Istri