I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 9. Flashback



"Asyik kan pestanya?" seru Dirga yang saat itu baru saja menampakkan batang hidungnya.


"Kemana saja sih?" tanya Axel yang sudah lama menunggu.


"Ya menyiapkan semuanya lah." Dirga menjawab enteng.


Dirga tersenyum jumawa kepada teman-temannya, kemudian menarik tangan Ane diikuti Axel, Kiara, dan teman-teman yang lain.


Saat ini kelas Axel dan Dirga memang sedang mengadakan acara liburan di Pulau Bali. Mereka berlibur sekaligus merayakan ulang tahun Dirga di Pulau Dewata yang terkenal sangat eksotis itu. Seluruh siswa kelas 3 A1 diperbolehkan membawa teman atau pasangan masing-masing, dengan catatan pasangannya itu juga merupakan siswa SMA Kusuma 1. Jadilah, Kiara dan beberapa temannya juga turut serta dalam acara liburan kali ini.


"Dirga, kau mau membawaku kemana?" Ane ganti menarik tangannya, menahan agar Dirga tak menyeretnya lebih jauh lagi.


"Ayo kita melantai. Pokoknya malam ini kita seru-seruan." Dirga kembali menarik tangan Ane menuju lantai disko.


"Tapi aku tidak bisa berdisko," tolak gadis itu tak nyaman.


"Sudahlah, kau ikuti saja gerakanku."


"Tapi ...."


"Atau kau cukup diam saja di sampingku. Tak perlu bergoyang."


"Tapi, Ga ...."


Dirga kembali menggamit tangan Ane tanpa menghiraukan ucapan dan tatapan keberatan dari pemiliknya. Tanpa sungkan-sungkan ia pun langsung menariknya ke tengah-tengah hiruk pikuk orang-orang yang tengah asyik melantai.


Benar saja, di sana Ane, gadis pendiam dan polos itu hanya diam berdiri canggung di sisi laki-laki yang telah menyeretnya dengan paksa. Ia menatap gelisah ke sekeliling. Semua orang terlihat begitu asyik menikmati musik hasil ramuan DJ yang juga tampak manggut-manggut dan menggoyang-goyangkan tubuh dengan kedua tangan tetap setia pada panel-panel kecil di hadapannya.


Belum lagi beberapa pasang mata teman-teman sekolah yang terus memberikan tatapan tak menyenangkan padanya. Memangnya gadis mana yang tak ingin berada pada posisi Ane saat ini? Bisa meliuk-liukkan tubuh bersama Dirga di lantai disko.


Merasa tak nyaman, beberapa saat kemudian Ane pun memutuskan untuk menyingkir, kembali ke tempat Kiara dan beberapa teman-temannya yang lain tadi berada. Namun dengan sigap tangan Dirga terulur kembali mencekal pergelangan kanan Ane, menahan gadis itu saat beringsut hendak pergi.


"Aku merasa tak nyaman, Ga ...!" teriak Ane berusaha mengalahkan dentuman musik yang memenuhi ruangan.


"Tetaplah di sini!" Dirga balas berteriak.


Kini Dirga memposisikan dirinya berada tepat di hadapan Ane, agar gadis itu merasa lebih nyaman.


"Fokuslah padaku saja, jangan hiraukan mereka." Dirga kembali bersuara bertepatan dengan musik yang melambat, berganti dengan iringan dansa romantis yang mendayu.


Tangan laki-laki bertubuh tegap itu kembali bergerak, menuntun kedua tangan Ane untuk melingkari lehernya. Sementara kedua tangannya sendiri melingkar lembut di pinggang ramping gadis manis itu.


"Jangan menoleh ke arah mereka," bisik Dirga saat kembali menangkap kegelisahan dan rasa tak nyaman pada gadis itu. "Tetaplah fokus padaku. Tutup saja matamu jika memang itu membuatmu lebih nyaman."


Sementara itu, tak jauh dari tempat Dirga dan Ane berdiri, "Sayang, kamu kenapa?" tanya Axel pada Kiara yang tengah memijit-mijit kening dengan jari-jarinya.


"Kepalaku pusing," sahut Kiara sambil meringis menahan pusing.


"Tadi baik-baik saja. Kenapa mendadak pusing?" tanya Suzi sambil mengusap lengan Kiara dengan lembut.


"Kamu sakit?" tanya Axel lagi.


"Mungkin hanya kelelahan." Kiara menjawab masih sambil memijit pelipisnya.


"Jangan-jangan kamu salah ambil minuman, Ra," sergah Sheila yang disambut dengan ekspresi cemas dari teman-temannya.


"Entahlah. Bisa jadi." Kiara menjawab malas. "Ya sudah, aku ke kamar saja ya."


"Biar ku antar." Suzi menawarkan diri.


"Tidak usah. Aku masih bisa sendiri. Kalian nikmati saja pestanya," tolak Kiara.


"Serius kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Axel cemas. "Atau aku antar saja sekalian cari obat sakit kepala untukmu?"


"Tidak, Axel. Tidak perlu. Setelah tidur sebentar nanti pasti lebih baik," tolak Kiara. "Lagi pula di kamar juga sudah ada obat sakit kepala kok."


"Ya sudah, aku akan menyuruh pelayan untuk mengantar teh hangat ke kamarmu."


Kiara segera pergi meninggalkan hiruk pikuk kegembiraan puluhan orang di lantai disko. Langkahnya sedikit terseok-seok karena menahan pusing di kepalanya yang terasa semakin menjadi. Tiba di depan pintu kamar Kiara terdiam sesaat, meringis sambil memejamkan mata.


"Sial! Aku lupa passwordnya," rutuknya dalam hati sambil berusaha membuka paksa pintu di depannya itu. Di luar dugaan, pintu itu ternyata tidak terkunci.


"Untung ada teman yang teledor membiarkan pintu tidak terkunci." Kiara masih sempat tersenyum tol*l.


Segera dilangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan langsung dihempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan nyaman itu. Tanpa menunggu lama, kedua kelopak mata Kiara segera terkatup rapat. Malam ini Kiara tertidur sangat pulas.


Pagi hari saat Kiara terbangun dari tidurnya, "Sudah pagi ya." Kiara bergumam sambil memicingkan matanya ke arah jam yang menempel di dinding kamar. Dipaksanya tubuh lemah itu untuk bangkit dari tidur.


"Aduh, kenapa masih pusing?" gumamnya sambil memijit pelipis, kemudian meraba punggung yang terasa sedikit pegal. Sesaat ia terhenyak.


"Loh, boleroku mana?" Kiara bingung mendapati pakaian yang dikenakannya kini sudah tidak lengkap lagi. Diedarkan pandangannnya ke sekeliling. Belore biru tua yang semalam dipakainya untuk menutupi pundaknya yang terekspos kini teronggok kusut di sudut kasur. Dress biru selutut yang dipakainya pun kini telah tersingkap hingga sebatas dada. Sepasang sepatu dan tas genggamnya juga sudah entah kemana.


"Memangnya kalau tidur aku sering banyak gerak seperti ini ya?" tanyanya pada diri sendiri. "Baru tahu," gumamnya sambil tersenyum kecil. "Anak-anak pada kemana sih? Apa sudah pada keluar jalan-jalan? Tapi kenapa aku tidak dibangunkan."


Kembali diedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dengan lebih seksama. Tiba-tiba ia terkesiap, "Ini kan ... apa aku salah kamar?" gumamnya bingung.


Tanpa sengaja ekor matanya menangkap koper hitam di atas nakas. Diraihnya koper itu kemudian dibukanya perlahan. "Uang sebanyak ini?" Kiara terkesiap dengan kedua matanya membulat sempurna. Tumpukan lembaran uang berwarna merah tetata rapi di dalam koper.


Dipungutnya selembar kertas yang tadi tersemat dia tas koper. "Derri Ewon Prawira .... Sebuah kartu nama." Kiara menggumam membaca tulisan pada kertas itu. Dibaliknya kartu nama tersebut. "Terimakasih untuk malam ini. Jika kurang, kau datang saja ke kantorku."


"Apa-apaan ini? Apa maksudnya? Jangan-jangan ...." Kiara terhenyak, lidahnya tercekat tak bisa melanjutkan ucapannya. Matanya memanas, otaknya mendidih. Dengan susah payah ditahannya agar buliran bening tidak tumpah dari kedua matanya.


"Sialan! Aku harus membuat perhitungan dengannya." Tanpa sadar diremasnya kartu nama yang berada dalam genggamannya sejak tadi.


"Dari mana saja sih, Ra? Kami semua cemas mencarimu," cerocos Sesil begitu melihat Kiara masuk ke dalam kamar.


"Kami pikir kau kembali ke kamar," ucap Suzi.


"Tapi ternyata malah berduaan dengan Axel," goda Sheila.


"Bicara apa sih kalian?" sungut Kiara kesal.


"Hei, kenapa jadi kesal?" Suzi mulai ikut-ikutan menggoda.


"Ah sudahlah, jangan menggodanya terus." Sesil mencoba menengahi. "Segera kemasi barang-barang kalian. Liburan telah usai. Kita akan segera pulang."


___


.


"Aku ingin bertemu dengan Derri Ewon Prawira. Ada?" tanya Kiara ketus pada wanita cantik di hadapannya.


"Maaf, apakah sudah ada janji dengan Pak Derri sebelumnya?"


"Sudah," jawab Kiara singkat masih dengan nada bicara tidak bersahabat. Sesaat wanita di hadapannya itu terdiam, memandang ragu pada sosok Kiara yang hanya mengenakan kaos lengan pendek pink, celana levis hitam dan sepatu kets putih di kakinya.


"Maaf, atas nama siapa ya?"


"Kiara Alexa Mantili."


"Baik, akan saya tanyakan dulu. Mohon tunggu sebentar ya," ucap wanita itu akhirnya sambil menunjuk kursi tunggu di sudut ruangan sebagai isyarat.


"Maaf pak, ada seorang perempuan yang mencari bapak. Namanya Kiara Alexa Mantili. Apakah beliau boleh masuk, Pak?" terdengar suara santun wanita itu di pesawat telpon. "Baik, Pak." Wanita itu mengembalikan gagang telpon pada dudukannya. "Silahkan, Pak Derri sudah menunggu."


Kiara melangkahkan kakinya sebelum wanita itu selesai berbicara.


"Brak!" Kiara mendorong pintu di depannya dengan sangat kencang, hingga dua orang di dalam ruangan itu berjengit dari tempat duduk mereka karena terkejut.


___


.


Kiara POV


Seorang perempuan tengah berdiri dari sofa sambil memegang ponsel di tangan kanannya, menatap tanpa berkedip ke arahku. Umurnya mungkin kisaran 45 tahun. Tapi siapa yang percaya? Zaman sekarang wanita usia 70 tahun pun bisa disulap menjadi seperti 45 tahun. Menilik dari penampilannya yang glamor, aku rasa wanita ini adalah istri dari si Ewon atau Derri atau entah siapa nama bajing*n itu. Atau mungkin adalah selingkuhannya? Hah, terserah! Bukan urusanku juga.


Satu orang lagi ada di dalam ruangan itu. Seorang pria tampan yang sedang berdiri dengan tatapan datar di balik meja kerja. Potongan setelan jas serba hitam yang melekat sempurna pada tubuh tegap itu membuatnya tampak semakin macho saja. Aku rasa setelan yang dipakainya itu pasti hasil jahitan tangan seorang profesional. Tentu saja harganya sangat mahal.


Jika di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua, berarti pria itulah sosok yang sedang kucari sekarang. Tadinya kupikir bajing*n yang kudatangi ini adalah seorang tua bangka bertubuh gempal dan perut buncit khas bos-bos mesum di film-film itu. Tapi ternyata aku salah. Yang kuhadapi sekarang ini adalah pria dewasa yang sungguh bisa membuat kaumku auto meleleh jika terlalu lama memandangnya.


Menilik dari gestur dan caranya melempar tatapan kepadaku, sepertinya dia seorang laki-laki yang angkuh, arogan, galak dan bertangan dingin. Sangat kontras dengan wajah tampannya yang kissable. Apakah baru saja aku mengatakan bahwa wajahnya kissable? Jangan percaya. Pasti ini hanyalah efek dari mataku yang tidak fokus karena kurang tidur.


Ah, bodohnya! Bukan hanya kissable, tapi aku pun juga telah berkali-kali mengatakan bahwa dia sangat tampan. Oh, Tuhan. Pikiranku pasti sedang kacau, sehingga tidak bisa membedakan mana prince charming dan mana prince echi. Jadi kalian lupakan saja pikiran liarku barusan!


"Oh, jadi ini wajah laki-laki mesum yang sudah berbuat amoral terhadapku semalam? Dasar brengsek!" Tanpa komando langsung kumaki laki-laki itu sambil melemparkan koper hitam ke atas meja di hadapannya.


"Hei, apa maksudmu?" Laki-laki yang duduk pada kursi di balik meja itu mendongak dengan tatapan datar dan tajam.


"Dasar iblis bertopeng malaikat! Kau pikir aku takut dengan tatapan mata semacam itu?!" desisku dalam hati.


"Tidak perlu pura-pura tidak paham seperti itu!" bentakku dengan mata menyalang. "Kau meninggalkanku di kamar hotel dengan satu koper uang. Kau pikir aku ini wanita macam apa?"


"Hei, aku tidak melakukan apa-apa padamu. Aku sama sekali tidak menyentuhmu." Laki-laki itu menunjuk tepat ke arah dadaku dengan gaya arogannya. "Walaupun begitu aku tetap memberikanmu uang, bukankah aku sangat baik?" lanjutnya sambil membuka koper hitam yang kulempar tadi. "Satu koper penuh uang. Apakah itu masih kurang?" tanyanya sambil memutar koper tersebut hingga menghadap ke arahku.


"Kau pikir uang bisa menyelesaikan segalanya!" kubalas ucapannya yang sangat merendahkan itu dengan bentakan penuh emosi.


"Jika kurang, tinggalkan saja nomer rekeningmu pada sekretarisku," tukas laki-laki itu dengan gaya begitu arogannya.


Mendengar itu, aku langsung melupakan jika dia adalah seorang pria yang berwajah tampan. Kuambil koper di hadapannya dan dengan serta merta kulempar seluruh isinya hingga berhamburan ke wajah pria arogan itu.


"Tutup mulutmu! Dasar tuan muda manja tidak bermoral! Laki-laki sepertimu ini bisanya hanya menyusahkan orang tua!" kumaki dia sambil kutujuk dengan telunjuk kananku penuh emosi. Dan sialnya, dia masih bisa duduk setenang itu meskipun aku telah membentak dan memakinya sedemikian rupa.


Kulirik wanita yang masih setia duduk pada sofa di sudur ruangan. Dia hanya diam memperhatikan pertengkaran kami. Tidak satu kata pun terucap dari bibir merahnya itu.


"Laki-laki sepertimu ini memang perusak moral bangsa. Bukan hanya gadis muda sepertiku saja, tapi tante girang bersuami pun juga kau sikat!" Aku terus berusaha menyudutkannya, membuat ia tersinggung dan marah.


Namun di luar dugaan, laki-laki itu bukannya marah karena tersinggung, melainkan justru terbahak-bahak mendengar ucapanku barusan.


Hei, orang mesum! Aku sedang memakimu! Sedang memarahimu! Kenapa kau bersikap seperti tidak terjadi sesuatu? Kenapa juga kau malah tertawa terbahak-bahak karenanya? Apanya yang lucu coba?


Akhirnya kulihat juga ekspresinya yang lain, selain wajah dan tatapan datar. Kurasa dia tampak semakin tampan dan ... menggemaskan. Tuhan, apa yang baru saja kupikirkan? Kugigit bibir bawahku untuk mengembalikan kesadaranku sepenuhnya.


"Jangan sampai kau bertemu denganku lagi. Jika tidak, aku akan membuatmu menyesal pernah berurusan denganku!" Sengaja kulancarkan ancaman untuk menyembunyikan pikiran tololku yang sempat melintas, kemudian segera pergi meninggalkan tempat terkutuk itu.


"Hei, apa kau marah karena aku tidak meyentuhmu?!" Laki-laki itu berteriak tepat saat tanganku memegang handel pintu hendak membukanya.


Mendengar itu, telingaku langsung panas. Tanpa pikir panjang, langsung kulempar sebelah sepatu ke arah wajah laki-laki yang masih duduk di kursi kerjanya itu . Tepat sasaran, mengenai pelipis sebelah kiri.


"Wow!" teriak si wanita dengan mata membulat sempurna. Sedangkan laki-laki itu sibuk mengusap pelipisnya yang menjadi sasaran lemparan sepatuku.


"Jaga bicaramu!" Kubentak dia, kemudian segera berlalu pergi.


BERSAMBUNG ...