
Titik-titik air dari langit telah mulai meninggalkan musim penghujan menuju musim kemarau. Namun, hari ini titik-titik bening itu hadir kembali. Walaupun tak begitu deras, tetapi rasa dingin yang menyertai kehadirannya cukup membuat nyaman untuk tidur bergelung di bawah selimut tebal.
Derri berdiri menatap wajah lelap Kiara yang tengah tertidur pulas di sofa ruang kerjanya. Tanpa sadar seulas senyum tersungging di bibir. Sepertinya gadis itu kelelahan setelah seharian menanggapi kejahilan-kejahilan Derri selama di kantor.
"Ini, Pak." Brenda datang dengan selimut tebal masih terlipat rapi di tangan.
"Terimakasih, Brenda," ucap Derri tanpa mengalihkan pandangan.
"Sama-sama, Pak." Brenda mengagguk lalu segera berbalik dan beranjak pergi, tak ingin mengganggu atasannya.
Tubuh laki-laki berparas Asia itu membungkuk, kemudian tangannya bergerak menyelimuti tubuh mungil yang terlelap di hadapannya dengan selimut hingga sebatas leher. Derri duduk berjongkok dengan lutut kanan menempel di lantai. Perlahan tangan kanannya kembali terulur untuk merapikan helaian anak rambut yang menutup mata yang terpejam di hadapannya. Tiba-tiba saja gerakan Derri terhenti. Laki-laki berambut hitam itu teringat kenangan belasan tahun yang lalu, ia sering melakukan hal yang sama pada gadis yang dicintainya. Merapikan anak rambut kekasihnya yang tengah tertidur pulas di atas pangkuan.
___
.
Flashblack on
"Woi, b*ngs*t! Jangan lari lo!" Teriakan-teriakan gahar terdengar dari ujung jalan. Lebih dari dua puluh orang remaja berseragam putih abu-abu berlari sambil mengacungkan senjata masing-masing.
"B*j*ng*n, lari lo?! Dasar pengecut!" Terdengar suara umpatan dan makian masih saling bersahutan. Derri, Irgi, Andre, dan Candra berusaha berlari secepat yang mereka bisa, menelusup ke salah satu gang yang berjarak hanya 300 meter di depan gerombolan yang terus mengejar.
"Berhenti lo! Woi, dasar *nj*ng! Ketangkep, mati lo di tangan gue!" Terdengar jelas teriakan si pemegang gir sepeda yang semakin membabi buta.
"Hei, kesini!" panggil seorang gadis berseragam putih abu-abu di ujung jalan.
Candra langsung berlari menuju asal suara diikuti Derri, Irgi, dan Andre di belakangnya.
Sesaat kemudian, "Hei, lo lihat empat curut lari lewat sini nggak?" tanya salah seorang dari rombongan yang memegang tongkat baseball di tangan kanan.
"Yang salah satunya pake jaket biru?" tanya gadis itu dengan mimik wajah ketakutan. "Tadi sih lari ke sono, Bang." Gadis itu menunjuk ke salah satu arah.
"Ayok!" Laki-laki itu memberi komado dengan mengacungkan tongkat base ball ke atas, kemudian bergegas berlari diikuti puluhan rekannya yang menggenggam berbagai macam senjata di tangan masing-masing.
"Sudah aman," ucap gadis itu pelan beberapa menit kemudian setelah keadaan dirasa benar-benar aman.
Keempat orang itu pun segera keluar dari tempat persembunyian dengan wajah pias.
"Hampir saja kita m*mp*s dikeroyok segitu banyak anak. Sial!" umpat Candra masih ngos-ngosan mengatur nafasnya yang serasa hampir putus.
"Tapi nyatakan kita masih utuh kan," komentar Andre sambil menyulut sebatang rokok yang diambil dari saku celana.
"Br*ngs*k! Lo juga sih, Ndre. Sudah tahu kita kalah jumlah, malah pake nantangin segala," ucap Derri sambil mendudukkan pantatnya di atas bangku kecil dekat tempat persembunyian mereka tadi.
"Gue nggak nyangka kalo ada bantuan dateng dari belakang," sahut Andre sambil nyengir tanpa dosa.
"Hah, *nj*ng lo!" umpat Candra lagi sambil merampas rokok dari tangan Andre.
Irgi diam tak berkomentar. Laki-laki berpostur tinggi jangkung itu sibuk mengatur nafas sembari membuka kancing baju seragamnya.
"Gue Freya." Tiba-tiba terdengar suara pelan dan lembut di antara mereka. Semua mata menoleh ke arah gadis yang tengah mengulurkan tangannya pada Derri. Mereka baru ingat bahwa di tempat itu bukan hanya ada mereka berempat saja.
Derri menatap bingung pada gadis itu. Hingga Andre menyikut lengannya, barulah ia berinisiatif menyambut uluran tangan Freya.
"Ewon," ucap Derri canggung.
"Lo anak STM Flamboyan 71, kan?" tanya Freya sambil tersenyum ramah pada Derri. "Gue tau, lo sering perhatiin gue tiap berangkat dan pulang sekolah," tembak Freya langsung tepat sasaran yang membuat Derri semakin terdiam karena gugup. "Gue anak kelas 3 SMA Flamboyan 13," lanjut Freya sambil melempar senyum termanis yang pernah Derri lihat.
"Gue Candra, yang ini Andre. Terus yang itu Irgi. Tapi kita bukan sodaraan. Lo liat sendiri kan? Mereka semua item, sementara gue jauh lebih bening. Terus kelihatan jelas juga kalau gue yang paling ganteng di antara kita semua." Candra memotong cepat.
Andre menatap sewot ke arah Candra, sementara Irgi justru malah tersenyum melihat wajah masam temannya yang satu itu.
"Sudah ya kenalannya," ucap Candra lagi. "Kita musti cabut nih, men. Sebelum tu *nj*ng-*nj*ng balik lewat sini lagi." Pandangan Candra beralih pada Derri yang masih diam terpaku.
"Bener tuh. Cabut, yuk." Andre menimpali.
Derri menatap Freya sesaat, kemudian mengangguk ke arah ketiga temannya.
"Makasih ya," ucap Derri sambil tersenyum hangat pada Freya, kemudian segera berlari menyusul Irgi, Andre dan Candra yang sudah lebih dahulu beranjak. Berlawanan arah dengan yang ditunjuk Freya pada rombongan pengejar mereka beberapa saat yang lalu.
Memang sudah hampir tiga bulan belakangan Derri selalu berangkat ke sekolah lebih awal. Begitu sampai di sekolah dia langsung ngejogrog di jendela kelasnya di lantai dua. Sengaja memang, dari jendela ini dia bisa leluasa melihat gadis manis itu berjalan menuju sekolah yang tidak begitu jauh dari tempat kostnya. Setelah gadis itu menghilang di balik pintu gerbang sekolah yang bersebelahan dengan sekolahnya sendiri, barulah Derri turun menyusul Andre di kantin sekolah.
___
.
"Hai, sendirian saja?" sapa Derri pada Freya yang tengah berjalan sendiri di bawah terik matahari.
"Iya, teman-teman sudah pada duluan." Freya memperlambat langkahnya untuk menyamai langkah kaki Derri.
"Langsung balik ke kost?" tanya Derri canggung.
"Iya," jawab Freya singkat tanpa menoleh.
"Gue temenin jalan, ya," tawar Derri.
"Boleh," jawab Freya sambil tersenyum malu-malu.
Mereka pun berjalan beriringan dalam diam.
"Nanti malam ada acara?" Derri bertanya gugup setelah bermenit-menit keduanya bertahan dalam hening.
"Nggak ada," sahut Freya sambil menoleh. "Kenapa memangnya?"
"Kita nonton, yuk. Kebetulan malam Minggu juga kan," jawab Derri sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana abu-abunya.
"Boleh." Freya menjawab sambil menundukkan wajah, gugup. Tampak rona merah menjalar di kedua pipinya. "Tapi lo yang traktir ya," lanjutnya untuk mengusir kegugupan yang dirasakannya.
"Beres," janji Derri. "Gue jemput lo di kost jam tujuh ya."
"Ok," jawab Freya sambil menghentikan langkah di depan gerbang kostnya. "Sudah sampe nih."
"Iya nih, cepet banget ya," sahut Derri sedikit salah tingkah. Bingung harus mengucap apa.
"Nggak main dulu?" tawar Freya pada Derri.
"Nggak usah, langsung balik aja," tolak Derri sambil tersenyum malu-malu. "Masih ditungguin sama anak-anak di depan sekolah."
"Mau tawuran lagi?" tanya Freya pelan.
"Iya," jawab Derri singkat.
"Oh, ya sudah."
"Sampai ketemu nanti malam," ucap Derri canggung.
"Bye," pamit Derri lagi.
"Iya, bye."
Setelah mendapat jawaban dari Freya, Derri segera berbalik dan berjalan secepat mungkin. Ia kembali ke sekolah dengan membawa debaran-debaran aneh di dalam hati yang mampu menerbitkan senyum malu-malu di bibir remaja belasan tahun itu.
___
.
"Jadi nih tawurannya?" tanya Freya sambil meminum es tehnya di warung depan STM Flamboyan 71. Gadis itu tengah duduk di antara Derri dan Arif. Sedangkan tepat di hadapannya ada Candra dan Andre.
Saat ini anak-anak Flamboyan 71 memang sedang berkumpul di warung depan sekolah, tempat mereka biasa nongkrong sebelum dan sesudah jam sekolah.
"Ya iya lah jadi." Irgi mencomot tempe goreng yang masih hangat di hadapannya. "Ini baru ngisi amunisi biar bisa gas pol, choy ...!" lanjutnya.
"Ewon, kamu juga ikut?" Freya menatap Derri, menuntut jawaban.
"Chie ... Chie ... udah aku-kamu aja nih sekarang," sahut Andre sambil melirik Derri dan Freya bergantian.
"Etdah, si Kliwon pake merona merah segala muka lo!" timpal Irgi saat dilihatnya wajah Derri dan Freya memang sama-sama merona merah karena keisengan mereka.
"Najis lo, Won! Macem perawan minta kawin aje lo!" timpal Candra yang sedari tadi hanya diam menikmati sepiring bakwan seorang diri.
"Kenapa sih kalian harus ikut tawuran segala?" tanya Freya setelah mati-matian mengusir rona merah di wajahnya.
"Noh, liat. Gue bilang juga apa, Won. Nggak usah lah lo deket-deket sama nih cewek," ucap Candra pada Derri setelah meminum es teh milik Andre di hadapannya hingga tandas. "Terbukti, rese kan dia."
"Ih, apaan sih lo, Ndra." Freya mencubit lengan Candra kesal. "Gue kan cuma khawatir aja. Ntar kalo kenapa-kenapa gimana."
"Lah, malah do'ain kita kenapa-kenapa lagi nih cewek!" Candra menunjukkan muka sewot. Sedangkan Derri hanya menikmati dua bungkus nasi kucing dalam diam. Masih gugup gara-gara dikecengin teman-temanya dengan Freya.
"Bukannya do'ain," sanggah Freya. "Gue bilang ... gue khawatir, dodol!"Freya menatap kesal ke arah Candra.
"Lah, kenapa juga musti khawatir?" sahut Candra. "Emaknya juga bukan."
"Ah, ngeselin lo!" Freya bangkit dari duduknya dan segera ngeloyor pergi setelah melemparkan tatapan tajam ke arah Derri.
"Loh, belum dibayar ini, Neng Freya!" teriak pemilik warung.
"Candra yang bayar, Bu!" jawab gadis cantik itu juga dengan berteriak, tanpa menoleh sedikit pun.
"Lah, gimana ceritanya malah gue yang kudu bayarin makan lo!" Candra ikut-ikutan berteriak ke arah Freya sambil keluar dari warung. Sedangkan Derri, Andre, Irgi dan yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah konyol mereka berdua.
___
.
"Selamat ya," ucap Derri. "Aku dengar kamu lulus dengan nilai terbaik di sekolah ini."
"Iya, makasih, ya," jawab Freya sambil mencoretkan sesuatu di punggung seragam Derri dengan spidol marker hitam. "Gantian kamu yang kasih kenang-kenangan di seragamku ya, Won."
Derri mengbil alih spidol dari tangan Freya, kemudian membubuhkan coretan-coretan tak jelas di lengan baju Freya.
"Mau ikutan konvoi?" tawar Derri.
"Nggak, ah."
"Kenapa?"
"Bukan hal penting untuk dilakukan. Lebih baik pulang, tidur di kost."
"Ini moment sekali seumur hidup. Sayang kalau dilewatkan." Derri masih mencoba membujuk. "Ayolah, sekali ini saja," tambahnya seraya melempar senyum paling menawan yang dimiliki, berharap Freya akan luluh karenanya.
"Ok deh, tapi pulangnya jangan malem-malem loh ya."
"Siap bos!" Derri mengambil posisi hormat tentara dengan kaki rapat.
___
.
"Sudah jadi daftar?" tanya Derri sambil fokus pada kemudi motornya.
"Sudah," sahut Freya, membetulkan letak posisi duduknya.
"Lantas?"
"Tinggal nunggu hasilnya aja. Kalau lolos seleksi, baru lah aku mencari tempat kost yang baru. Kalau ternyata gagal sepertinya aku akan pulang ke Ngawi saja."
"Kenapa begitu? Kamu masih bisa ikut seleksi di universitas lain."
"Tapi universitas lain tidak menawarkan beasiswa untukku," jawab Freya tepat di telinga Derri. "Kau tahu? Kemarin hampir saja aku tidak bisa lanjut ke bangku SMA."
"Kenapa begitu?"
"Aku hanyalah anak yang tidak mampu dengan tiga orang adik. Ayahku sudah meninggal ketika adik bungsuku berumur satu bulan. Sedangkan ibuku hanya seorang buruh cuci yang mau bekerja serabutan demi sedikit uang halal," papar Freya.
"Waktu itu paman membawaku ke Jakarta dan berjanji untuk menyekolahkanku. Namun kebetulan sekali, setelah berjalan satu smester paman mengalami kecelakaan saat bekerja. Bibi harus banting tulang untuk membiayai satu orang anak dan pengobatan paman yang tidak sedikit. Hingga bibi menyerah dan mengatakan tidak sanggup untuk membiayai sekolahku." Dua bulir bening pecah di kedua pipi Freya, menetes membasahi pundak Derri yang masih berbalut seragam putih penuh corat-coret warna-warni.
"Beruntung, aku mendapatkan beasiswa prestasi dari sekolah. Sehingga aku bisa menyelesaikan pendidikan SMA-ku." Freya mengusap air matanya dengan tangan kanan. "Dengan kabar bagus bahwa aku mendapatkan beasiswa jika lolos seleksi di salah satu universitas di kota ini. Untuk kuliah nanti pun aku hanya mengandalkan beasiswa," lanjut Freya dengan senyum dipaksakan.
"Ternyata ada juga orang yang harus rela bersusah payah hanya untuk bisa mengenyam pendidikan," gumam Derri dalam hati. "Meskipun aku terpisah dengan orang tuaku, aku di Jakarta dan mereka di Surabaya, tapi secara finansial aku tidak pernah kekurangan," lanjut Derri masih dalam hati sambil terus memegang kemudi motor. "Namun justru apa yang kulakukan? Hanya bersenang-senang, berfoya-foya, bersantai-santai, tawuran setiap hari tanpa ada hal berarti yang bisa kulakukan."
"Bagaimana denganmu?" Pertanyaan Freya berhasil memecah lamunan singkat Derri.
Derri mengerjabkan matanya beberapa kali, mengusir kesedihan yang dirasakannya setelah mendengar cerita Freya.
"Aku akan mendaftar di tempat yang sama denganmu. Supaya kau bisa menumpang padaku saat berangkat dan pulang kuliah," jawab Derri sambil berseloroh dan tertawa lebar.
Motor melaju perlahan menembus senja yang semakin menggelap menuju tempat kost Freya. Sementara gadis itu mengeratkan pegangan kedua tangannya di pinggang Derri. Masih dengan jaket kulit milik Derri yang membalut hangat tubuh mungilnya.
Flasback off.
____
.
"Freya ...," gumam Derri sembari menatap ke luar jendela kantornya. "Dimana kau sekarang berada ...."
BERSAMBUNG ...