
Tepat pukul sepuluh malam, Kiara mendapati Derri yang tengah berdiri menatap ke arahnya dengan sorot mata dingin. Seketika nyali gadis belasan tahun itu pun menciut, benar-benar tak berani membalas pandangan netra hitam di depannya.
"Om Derri ...," gumam Kiara yang tak menyangka akan kehadiran Derri di rumahnya.
Derri diam bergeming dengan tatapan semakin dingin mengarah pada gadis bergaun putih tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Apa Om melihat semuanya?" tanya Kiara dengan nada gelisah bercampur cemas.
Derri diam tak menjawab. Dibuang tatapannya ke sembarang arah, berusaha mencairkan suasana hatinya sendiri.
"Dari mana saja?" tanya Derri kemudian dengan nada dingin, bahkan tanpa menoleh barang sekejab.
"Makan dan menonton teater." Jawab Kiara pelan sembari berjalan pelan menghampiri Derri yang lebih memilih untuk tetap berdiri arogan di tempatnya. "Om pun tahu itu."
"Aku tak tahu," sahut Derri tetap dingin.
"Ya, karena Om sibuk dengan si wanita cantik bergaun kuning," sindir Kiara.
Sontak tatapan sembarang arah Derri beralih pada Kiara yang kinj telah berdiri tepat di hadapannya.
"Aku tak melihatmu," sahut Derri dingin.
"Jadi untuk apa Om kesini malam-malam begini?" Kiara mencoba mengalihkan pembicaraan, berharap wajah dingin Derri akan mencair.
"Mama Mike memintaku untuk memastikan kau baik-baik saja," jawab Derri masih dengan wajah datarnya.
"Dan Om menurut saja langsung datang kemari?" Kiara beringsut cepat. Digamitnya tangan kiri Derri, kemudian menyeretnya masuk ke dalam rumah. "Aku benar-benar tak menyangka."
"Menurutmu aku harus mengabaikanmu?"
"Om tidak perlu datang kemari dan meninggalkan teman kencan Om itu," sahut Kiara tanpa menoleh. "Si wanita cantik bergaun kuning," sambung Kiara.
Derri melirik ke arah Kiara yang terus memaksanya masuk ke dalam rumah. Ia merasa merasa aneh dengan ucapan-ucapan sarkasme Kiara kali ini yang tak seperti biasanya.
"Dia tidak keberatan waktu kutinggalkan," ucap Derri akhirnya, sembari berjalan malas-malasan di sisi Kiara.
"Benarkah?"
"Kalaupun iya, aku pun tak perduli."
"Karena aku lebih penting?" Kiara bergelayut manja di lengan kiri Derri dengan senyum manisnya.
"Karena dia tidak penting," ralat Derri tanpa beban.
Kiara tersenyum kecut mendengar ucapan Derri.
"Hah, menyebalkan!" Tiba-tiba langkah Kiara terhenti. Raut masam tergambar jelas di wajah ayunya. "Tidak bisakah Om berpura-pura perhatian padaku dan lebih memilih untuk mementingkan aku dibandingkan wanita yang lain? Hah, benar-benar ...!"
Tak urung, Derri pun tersenyum mendengar gerutuan panjang gadis yang tengah mencengkeram lengan kirinya itu.
"Tapi ya sudah lah, setidaknya Om lebih memilih menemaniku daripada bersama wanita itu," ucap Kiara kemudian kembali bergelayut manja di lengan kiri Derri, kemudian melanjutkan langkah ke dalam rumah.
"Jadi kau sudah makan, hum?" tanya Derri akhirnya.
Tangan Derri bergerak, beralih merangkul pundak Kiara sembari terus berjalan melewati ruang tamu.
"Aku lapar." Derri kembali berucap.
"Lapar? Bukankah tadi Om sudah makan di restoran dengan wanita itu?"
"Kau tahu juga jika tadi kami dari restoran?"
Derri menghentikan langkahnya. Menoleh dengan wajah heran ke arah Kiara. Sementara kaki Kiara pun turut terhenti karena pundaknya masih dalam rangkulan Derri.
"Hei, kau menguntitku, ya?" tuduh Derri dengan wajah pura-pura kesal.
"Apa?" tanya Kiara tak habis pikir. "Dari pada menguntit Om, mending sekalian menguntit Lee Min Ho saja."
"Lee Min Ho?" Derri membeo. "Siapa dia? Abege dari mana lagi itu? Apakah dia lebih tampan dariku?"
"Terserah Om saja," sahut Kiara jengah.
"Hei, tidak bisa kah kau cukup menempatkan satu anak ingusan itu saja di antara hubungan kita?" protes Derri. "Kenapa harus ada yang lain lagi?"
Kiara menatap bosan ke arah Derri, kemudian mendorong pelan hingga ia terlepas dari rangkulan pemilik tubuh tegap itu. Gadis itu pun melangkah pergi meninggalkan Derri yang masih berdiri di tempatnya.
"Kau mau kemana, Ki?" tanya Derri yang bingung dengan sikap Kiara.
"Tidur," jawab Kiara cuek dengan kedua kaki terus berjalan santai.
"Tapi aku lapar."
"Aku tidak perduli!" sahut Kiara dengan sedikit berteriak.
"Hei, setidaknya siapkanlah sesuatu yang bisa kumakan."
"Tidak mau!" seru Kiara sambil terus meniti tangga menuju kamar meninggalkan Derri yang berkacak pinggang di ujung anak tangga paling bawah.
"Media akan meliput namamu jika aku mati kelaparan di rumah ini."
"Bodo amat!"
"Hei, ini bukan ancaman!" teriak Derri.
"Terserah!" sahut Kiara di ujung anak tangga paling atas.
"Hah, sial! Muncul lagi satu lalat bernama Lee Min Ho di antara kami," gerutu Derri pada dirinya sendiri.
Tanpa sepengetahuan Derri, Kiara yang masih sempat mendengar gerutuan absurd itu pun tersenyum geli. Ia segera melangkah menuju kamarnya sendiri dan menutup pintu rapat-rapat.
Lima belas menit kemudian tampak Kiara tengah membawa dua piring mie goreng ke arah ruang tengah, masih dengan gaun dan dandanannya saat berkencan dengan Axel satengah jam yang lalu.
"Kenapa tidak menelepon delivery order saja sih?" Kiara meletakkan kedua piring mie goreng di hadapan Derri yang sedang mengikuti berita seputar valuta asing di layar televisi.
"Hanya mie goreng saja, kenapa harus memesan dengan delivery order?" Derri balik bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar kaca.
"Bukankah aku tidak bisa memasak? Bahkan membedakan bubuk bumbu dengan cabai saja aku tak bisa," sindir Kiara sembari menuangkan segelas air putih dingin untuk Derri.
"Tenang saja ... aku akan menelan makanan ini, bagaimanapun rasanya."
"Om ini ... benar-benar tidak tahu terimakasih!"
Kiara menatap kesal ke arah Derri, tak terima kemampuannya memasak mie instan diremehkan oleh laki-laki yang kini tak lagi mengenakan jas hitamnya itu. Lengan kemeja putih sengaja ia gulung hingga sebatas siku. Membuat penampilan Derri tampak semakin macho di mata Kiara.
"Mbak Iyem sudah memasak. Kenapa aku harus berepot-repot membuat mie goreng untuk Om? Bukankah masakan buatan Mbak Iyem lebih enak?"
"Sudahlah, jangan banyak mengeluh," sahut Derri dengan kedua tangan terulur meraih satu piring yang berisi mie goreng lebih banyak. "Aku hanya ingin menikmati makanan buatan calon istriku," tambahnya.
Mendengar ucapan Derri, sontak hati Kiara menghangat. Perlahan kedua pipi gadis itu memerah. Tak tahu harus menjawab apa, ia pun lebih memilih diam memperhatikan setiap gerakan anggota tubuh Derri saat menikmati mie goreng buatannya.
"Ah ... lumayan. Tidak buruk," gumam Derri di sela kunyahannya. "Kau tidak makan?"
"Om saja yang makan. Sepertinya Om sangat kelaparan."
"Ah, baiklah jika kau memaksa."
"Dasar rakus," gumam Kiara.
"Aku mendengarnya," sahut Derri di tanpa menoleh.
"Teman kencan Om itu ... apa benar tidak sayang dilewatkan? Menurutku dia cantik dan sangat menarik." Kiara mencoba mengawali percakapan.
"Aku sudah lama tidak melakukannya," jawab Derri. "Jika itu yang kau maksud."
Sontak Kiara menjadi salah tingkah mendengar kalimat tembakan Derri yang benar-benar tepat sasaran.
"Kenapa?" tanya Kiara canggung.
"Bukankah sekarang aku memiliki calon istri dan calon mertua? Aku harus menjaga nama baikku di depan mereka."
"Nama baik? Apa benar Om memikirkan hal itu? Aku bahkan tak yakin jika Om memilikinya." Kiara menatap sangsi ke arah Derri yang tengah meminun air putih. "Tapi ... memangnya Om bisa menahannya?"
"Menahan? Apa maksudmu?"
"Menahan untuk tidak berkencan."
"Itu dia masalahnya, Ki. Sepertinya akan sangat sulit."
"Om bilang selama ini sudah tidak berkencan lagi."
"Dan itu benar-benar menyiksa," sahut Derri cepat. "Bagaimana jika satu minggu sekali, Ki?"
"Apanya?" tanya Kiara dengan tanduk yang mulai tumbuh di sela rambut."
"Berkencan."
"Dasar Om Derri menyebalkan!" teriak Kiara sembari melempar bantal sofa tepat ke wajah Derri lalu pergi meninggalkan laki-laki yang sibuk menahan tawa di tempatnya.
"Mau ke mana, Ki? Kiki ...!"
"Ke laut!" teriak Kiara yang terus melangkah pergi.
Derri pun bangkit dari tempatnya duduk, kemudian segera menyusul langkah Kiara ke arah dapur.
"Ki ... berhenti. Berhentilah, Kiki sayang," seru Derri sambil tersenyum geli.
Kiara mengambil alih dua toples cemilan dari tangan Mbak Iyem yang sedang berada di dalam dapur, kemudian segera berjalan kembali ke arah ruang tengah tanpa menggubris Derri yang terus membuntutinya.
"Hei, ayolah Kiki sayang ... jangan begitu." Derri turut berjalan di sisi Kiara.
Kiara kembali menghenyakkan pantatnya di kursi sofa menghadap ke arah televisi. Ia masih dalam mode terus diam tak menyahut. Gadis cantik itu malah dengan santainya menikmati keripik pisang dari dalam toples yang dibawanya.
Derri pun turut duduk di sisi Kiara yang sedang merajuk.
"Sayang, ayolah ... aku hanya bercanda." Tangan Derri terulur meraih kedua tangan Kiara. "Aku tak pernah berkencan dengan salah satu dari mereka lagi semenjak menerima perjodohan ini," ucap Derri tulus.
Kiara bergeming tetap menatap ke arah televisi, terpaku diam tak menyahut. Entah mengapa bibirnya terasa semakin kelu tak mampu berucap setelah jemari Derri menggenggam kedua tangannya.
"Dan tadi aku langsung mendatangi rumahmu karena aku mencemaskanmu. Kau tidak mengangkat teleponku, kupikir kau kenapa-napa. Aku langsung meninggalkan gedung teater sebelum pertunjukan selesai karena mengkhawatirkanmu," papar Derri pelan.
Hati Kiara terasa menghangat mendengar ucapan Derri. Perlahan ia menoleh, menatap kedua netra hitam milik laki-laki berparas Asia yang tengah duduk menghadap ke arahnya itu.
"Pantas saja tadi tiba-tiba Om Derri menghilang. Ternyata dia meninggalkan pertunjukan untuk memeriksaku di rumah," ucap Kiara dalam hati.
"Aku jadi semakin cemas saat tidak menemukanmu di rumah." Derri kembali bersuara.
"Dan aku justru sedang bersenang-senang dengan laki-laki lain disaat Om mencemaskanku sedemikian rupa," gumam Kiara pelan penuh rasa bersalah.
"Sudahlah, sekarang kau baik-baik saja. Itu lebih penting,l." Tangan kanan Derri terulur, mengusap pipi kiri Kiara dengan lembut.
"Maafkan aku, Om."
"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu," hibur Derri sembari mengacak punvak kepala Kiara dengan lembut.
Rasa hangat menjalari kedua pipi Kiara. Gadis remaja itu sengaja menundukkan wajah untuk menyembunyikan rona merah yang ia yakin saat ini telah mewarnai kulit wajahnya. Gadis belia itu tersipu dengan perlakuan sederhana yang Derri lakukan.
"Dan aku benar-benar berusaha meninggalkan hal-hal buruk yang melekat pada diriku. Termasuk semua wanita yang kau bilang sangat cantik dan menarik itu," ucap Derri pelan sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis cantik di hadapannya. "Kau adalah calon istriku. Kau menjadi yang paling penting di antara semuanya. Sekarang, besok, dan selamanya."
Hati Kiara mencelos mendengar ucapan Derri barusan. Bagai terlonjak hebat, hingga lepas dari tempat yang seharusnya. Ia tak tahu harus berucap apa untuk memanggapi kata-kata menyejukkan yang keluar dari mulut Derri.
"Kau tahu? Kau terlihat sangat cantik dengan dress ini." Derri kembali bersuara dengan diwarnai senyum manis di antara kedua bibirnya. "Bahkan aku sempat terpesona saat pertama kali melihatmu tadi."
Derri semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah ayu yang diam terpaku di hadapannya itu. Ia tahu betul bahwa gadis itu sedang merasa tak tenang dengan jarak mereka yang semakin terkikis. Bahkan degub jantung milik gadis itu pun terdengar begitu jelas dan nyaring di telinga. Namun, entah mengapa ia sangat menyukai dan menikmati suasana seperti ini.
"Maaf, aku memakainya untuk berkencan dengan laki-laki lain," ucap Kiara pelan digelayuti rasa bersalah.
"Aku memilihkan dan membelikannya untukmu agar bisa kau kenakan pada acara-acara penting dalam hidupmu."
Tangan kanan Derri kembali bergerak, merapikan anak rambut Kiara, kemudian mengusap sebelah pipi gadis itu dengan lembut.
"Tak masalah jika yang kau hadiri tadi termasuk merupakan salah satu bagian dari kebahagiaanmu."
Derri tersenyum, kembali mencondongkan wajahnya ke depan, semakin mengikis jarak di antara wajahnya dengan wajah Kiara.
"Jika kita bertemu tiga belas tahun yang lalu ... mungkin aku akan jatuh hati padamu," ucap Derri pelan, lebih mirip seperti bisikan.
Kiara tersentak, walau hanya sesaat. Hatinya benar-benar berdebar tak karuan mendengar kalimat sederhana yang Derri ucapkan. Ada ribuan bunga yang mendadak tumbuh mewangi di sana.
"Dan tergila-gila padamu ...."
Derri berucap tepat di depan wajah Kiara. Dengan jarak yang terlalu dekat, bahkan gadis itu pun mampu merasakan hangat nafas Derri yang menerpa kulit wajahnya.
"Kiara, kau benar-benar cantik, sayang," puji Derri tulus.
Hanya dalam satu gerakan lembut, dikecupnya bibir mungil berlipstik merah itu dengan hangat.
Seketika jantung Kiara bertalu semakin cepat. Hatinya berdebar semakin kencang. Namun, tubuhnya bergeming, hanya diam terpaku, tak mampu bergerak, lemas bagai tanpa tenaga.
"Kali ini aku tidak akan meminta maaf," bisik Derri lembut.
Tangan kanan Derri terulur. Diusapnya lembut bibir merah gadis di hadapannya itu dengan ibu jari. Derti tersenyum menatap wajah Kiara yang tampak diwarnai rasa canggung dan gelisah sangat kentara.
"Jika ... jika kita bertemu tiga belas tahun yang lalu ... aku yakin Om tidak akan mungkin jatuh cinta padaku."
Kening Derri berkerut, tak paham dengan apa yang Kiara maksud.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Derri bingung.
"Karena saat itu aku masih balita, Om."
Spontan tawa Derri tergelak mendengar apa yang baru saja Kiara ucapakan. Ia memang tak pernah memperkirakan hal itu.
"Haruskah aku bersyukur karena baru sekaranglah dipertemukan denganmu?" tanya Derri di sela tawanya. "Hahaha ... kau benar."
Sementara Kiara hanya terdiam masih berusaha menata hatinya yang mulai melonjak-lonjak tak karuan sembari mengamati setiap tingkah laku Derri.
BERSAMBUNG ...