I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 31. Bersama Kiki



Matahari siang bersinar begitu terik. Terasa begitu nyaman berada di bawah pohon rindang seperti yang kulakukan sekarang ini. Ditambah dengan tiupan angin sepoi-sepoi membuat mataku terasa begitu berat dan hampir saja tertutup erat andai saja tak kulihat pemandangan yang mengusik mata dan pikiran itu.


Tak jauh dari tempatku duduk bersantai tampak sosok gadis yang sedang kutunggu duduk berhimpitan dengan seorang laki-laki. Bukan apa-apa sebenarnya, tapi bukankah dia itu adalah calon istriku? Memangnya seorang calon istri boleh bercengkerama dan duduk berhimpitan dengan laki-laki lain seperti itu? Apa lagi laki-laki itu ... kulihat tampak memberikan setangkai bunga pada calon istriku. Ya Tuhan, mereka berdua benar-benar tertangkap basah olehku.


Kesal? Tentu saja aku kesal. Sangat kesal. Hei, kenapa aku jadi kesal? Calon istri hasil perjodohan ... kenapa aku harus kesal hanya karena kau duduk bersisian dengan laki-laki lain?


Kuhampiri dua orang yang duduk berhimpit-himpitanan itu dengan langkah tergesa-gesa. Aish, sialan. Kenapa juga aku harus tergesa-gesa?


Kembali kuperlambat langkah kaki hingga tiba di hadapan Kiki.


"Kiki ...." Dengan ekspresi sebiasa mungkin kupanggil nama itu. Ah, sial ... rasa kesal itu masih ada.


Gadis itu menoleh. Tampak jelas riak keterkejutan ketika mengetahui siapa orang yang telah memanggil namanya.


"Om Derri ... sedang apa disini, Om?"


"Aku sengaja menjemputmu." Sengaja tak kugubris laki-laki di sebelahnya itu. Kuanggap tak ada orang lain selain Kiki di sana.


"Tapi ...."


Kulihat ekspresi bingung yang kentara di wajah gadis itu. Hah, silahkan saja kau bingung, Ki.


"Ayo."


Aku berbalik dan melangkah lebih dahulu seolah tak perduli gadis itu akan mengikutiku atau tidak. Walaupun sebenarnya rasa kesalku akan bertambah berlipat-lipat jika gadis itu lebih memilih mengabaikanku dan membiarkanku meninggalkan tempat ini seorang diri.


Sebisa mungkin kusembunyikan gejolak kesal yang menguasai hatiku, kupoles dengan senyum super menawan yang selalu berhasil membuat wanita manapun menyerahkan miliknya padaku. Hah, sialnya aku tak yakin jika cara ini juga akan mempan pada Kiki.


"Sampai jumpa besok, ya."


Dengan ekor mataku kulihat Kiki segera bangkit dan buru-buru menyusulku sembari melambaikan tangan pada laki-laki yang ditinggalkannya. Ya, dia lebih memilih mengikutiku.


"Bagaimana Om tahu kalau aku kuliah disini? Sepertinya aku belum pernah bercerita." Gadis itu langsung bertanya begitu berhasil menyamai langkahku.


"Bukan hal yang sulit bagiku." Kujawab dengan nada sombong sambil menggamit tangannya. "Sudah kukatakan bukan, ukuran dalamanmu saja aku tahu, apa lagi hanya kampus tempatmu kuliah."


"Sialan! Dasar mesum!" umpat gadis itu yang entah mengapa justru terdengar begitu damai di telingaku. Bagaimana mungkin kata-kata umpatan bisa terdengar mendamaikan di telinga? Atau mungkin aku memang sudah tidak waras? Hahaha ... entahlah, saat ini aku hanya ingin tertawa.


Aku tak tahu harus memberikan respon seperti apa selain terkekeh melihat ekspresi kesal dalam umpatannya itu.


"Jadi kau sudah mulai berani menjalin hubungan dengan laki-laki lain di belakangku, huh?" Kali ini aku sedang tidak berpura-pura kesal.


"Maksud, Om?" Kedua mata Kiki mendelik dengan dua alis hampir tertaut.


"Laki-laki tadi." Aku menjawab dengan ekspresi acuh tentu saja. Seolah tak begitu tertarik dengan obrolan mengenai laki-laki itu.


"Oh, itu namanya Dion." Kiki mulai menjelaskan saat kami sudah berada di dalam mobil.


"Kekasih barumu?" Kunyalakan mesin mobil.


"Bukan."


"Lantas?"


"Dia memang menyukaiku."


"Apa?"


"Tadi saat Om datang dia sedang mengutarakan isi hatinya padaku." Gadis itu mrnjawab dengan sangat tenang. Hah, menyebalkan.


"Lalu kau jawab apa?" Kutanya gadis itu dengan nada santai. Walaupun di dalam hati sebetulnya was-was. Apa? Was-was? Ayolah, jangan bercanda. Untuk apa aku was-was dengan kehidupan percintaan gadis bau kencur ini?


"Aku tidak mau." Sebuah jawaban meluncur dari mulut gadis di sampingku itu. Jawaban yang sejujurnya membuatku merasa sedikit lebih baik.


"Kenapa?" Tentunya aku bertanya dengan ekspresi santai yang cenderung tak peduli.


"Bukankah aku sudah memiliki calon suami. Tidak boleh main-main dengan laki-laki lain lagi."


Apa? Anak ini benar-benar polos atau bagaimana?


Tapi ... demi Tuhan, sejujurnya dadaku terasa begitu plong dan bisa bernafas dengan lega mendengar jawaban sederhananya tadi.


"Good girl," pujiku sembari tancap gas meninggalkan pelataran kampus. Disertai dengan senyum manis tentu saja.


Untuk beberapa saat kami berdua diam tak saling bicara. Kulirik gadis di sampingku itu untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Namun, yang kulihat adalah wajah Kiki yang diwarnai rona dan semburat merah. Hei, ada apa dengannya? Sakitkah dia?


Hei ... hei ... tunggu. Apakah dia tersipu? Apakah itu karena pujianku tadi? Hahaha ... gadis ini sungguh-sungguh ....


"Kenapa plasternya masih dipakai juga, Om?" Suara yang terdengar lembut di telinga itu berhasil membuyarkan lamunan sesaatku.


"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" Kujawab sekenanya saja.


"Sudah satu minggu, seharusnya sudah kering lukanya."


"Benarkah? Aku tidak tahu." Aku kembali menyahut dengan ekspresi tak perduli.


"Atau kalau belum kering plasternya bisa diganti dengan yang baru." Tangan Kiki terulur membuka kotak dashboard mobil. "Apakah Om sudah membeli kotak PPPK seperti yang kusebutkan waktu itu?"


"Ah, biar begini saja. Aku suka." Kulirik wajah Kiki, kulihat wajahnya kembali merona merah, seperti antara senang dan tersipu.


"Hah, dasar jorok!" Dia menghardikku dengan seenaknya. "Padahal aku sudah berpesan agar Om segera membeli dan menaruhkan di dalam mobil? Kenapa tak juga membelinya?"


Hei, kenapa dia berubah menjadi begitu galak?


"Kau pikir aku punya banyak waktu luang untuk pergi dan membeli benda seperti itu?" Berkelit. Ya, aku harus bisa berkelit. "Lagi pula ... bukankah aku terlihat menggemaskan dengan plaster milikmu ini?"


Kupasang wajah terimut yang pernah kumiliki, agar dia tahu bahwa akupun tak akan kalah dengan remaja laki-laki seumuran dirinya.


"Menjijikkan." Kiki mendengus.


Kusambut cibiran gadis itu dengan tawa lepas di sampingnya. Gadis ini memang benar-benar menggemaskan.


"Hahaha ...."


"Seharusnya Om sudah membelinya agar aku bisa mengganti plaster itu dengan yang baru. Terutama untuk yang di leher itu ... dan berhentilah tertawa."


Bagai menggunakan rem cakram, seketika tawaku berhenti begitu saja.


"Aku tidak menyangka kau bisa melakukan itu pada Hellen." Aku mulai mengalihkan topik pembicaraan.


Sepanjang pengalamanku tentang wanita, mengangkat topik mengenai wanita yang kita ajak mengobrol itu sendiri akan menjadi hal yang lebih menyenangkan, baik bagiku ataupun bagi diri wanita itu sendiri. Dia akan dengan senang hati menunjukkan segala hal tentang dirinya.


Apakah itu juga akan berlaku bagi gadis unik di sebelahku ini? Baiklah, mari kita coba buktikan.


"Incident waktu itu?" Kiara balik bertanya. "Bukankah sudah pernah kukatakan, aku sudah biasa berkelahi dengan sesama siswa di sekolah, Om. Jadi mengatasi Hellen hanyalah hal kecil bagiku."


"Benarkah?"


Tangan Kiki terulur. Dibukanya plaster motif Hello Kitty di pelipisku.


"Ya. Suzi adalah satu-satunya teman yang paling sering membuat masalah dan kami harus sering pula membelanya di hadapan siswa lain, baik laki-laki ataupun perempuan."


"Begitukah?"


"Ya. Entahlah, kenapa dia sangat sering seceroboh itu. Kami menyimpulkan dia termasuk gadis yang tidak pandai memilih lawan."


"Dialah temanmu yang paling kuhafal nama, wajah, dan karakternya."


Menurutku Suzi memang gadis yang paling menonjol di antara gank Kiki. Selain paling cantik, dia juga paling heboh di antara yang lain ... dan paling absurd tentu saja.


"Sheila adalah temanku yang kepo luar biasa. Berbeda dengan Sesil yang bisa dibilang paling pendiam diantara kami."


"Kepo?" Istilah apa itu? Aku tak pernah mendengar klien atau rekan kerjaku mengucapkan kata itu.


"Ah, aku lupa bahwa kita beda generasi, Om."


Hah, sialan! Ternyata anak ini bisa menjadi sangat menyebalkan juga.


"Maksudku rasa ingin tahu Sheila sangat tinggi, Om."


"Bagus dong. Berarti dia pintar." Lalu di mana letak keminusnnya?


"Apa? Hahaha ... teman-temanmu sungguh unik."


"Memang benar, Om. Selain kompak, kami juga saling menyayangi satu sama lain."


"Kau benar. Memang begitulah seharusnya teman. Tapi terlepas dari itu semua ... kau memang wonder woman," pujiku sambil mengacak lembut puncak kepala Kiki. Kembali kulihat semburat merah perlahan muncul di kedua pipinya sore itu.


Entah mengapa aku mulai menyukai semburat itu. Terlebih lagi jika semburat itu muncul disebabkan olehku.


"Kiki," panggilku pelan setelah kami saling diam beberapa saat.


"Ya, Om." Suara Kiki terdengar begitu menyejukkan di telingaku. Ia menoleh memandangku dengan wajah cantik nan polos itu. Jangan lupakan senyum manisnya itu.


Hah, sial! Dasar racun! Aku bisa benar-benar mati keracunan jika begini terus!


Kiki, bisakah kau bertukar wajah saja dengan Mak Lampir?!


"Kita mampir ke market sebentar." Kubelokkan mobil ke arah kiri, langsung masuk ke area parkir sebuah super market ternama tanpa menunggu persetujuan darinya.


"Mau beli apa?"


"Makanan, minuman, sayuran, buah-buahan. Atau apa saja," sahutku santai. "Kebetulan kulkasku kosong." Aku beralasan.


Padahal kenyataannya, tak pernah sekalipun terpikir olehku untuk berbelanja barang-barang semacam ini, walaupun sekedar pengisi kulkas. Entah anak buah Andre yang mana yang bertanggung jawab atas isi dalam kulkas di rumahku.


Setelah berada di dalam market, "Memangnya apa yang harus kita beli, Om? Aku tidak pernah berbelanja barang-barang seperti ini." Kulihat Kiara memutar bola matanya jengah.


"Kau tak pernah?"


"Mama atau Mbak Iyem yang biasa melakukannya."


"Justru kau harus belajar mulai dari sekarang, Ki. Bukankah kau ini calon istriku?"


Wajah Kiara menunduk, tampak kedua pipinya kembali memerah. Oh gadis kecilku, kau tampak semakin menggemaskan saat tersipu malu.


Tepat pukul lima sore kami tiba di rumah. Melihat kedatanganku, Hendri segera mendekat. Setelah mobil terparkir di halaman rumah dengan rapi, segera diangkutnya seluruh barang belanjaan ke dapur belakang, sementara aku ... menunggu Kiki yang masih berkutat dengan ponsel menempel di telinga.


"Iya, Ma."


" ... "


"Belum tahu. Entah jam berapa nanti Om Derri mengantarku pulang."


" ... "


"Apa? Aku milik Om Derri?" Tiba-tiba saja gadis itu berseru kencang.


" ... "


"Apa maksud Mama?"


" ... "


"Mama semakin ngelantur. Hah, sudahlah. Yang jelas Mama tidak perlu mengkhawatirkanku. Nanti Om Derri yang akan mengantarku pulang."


" ... "


"Ya, dagh Mama ...."


Panggilan berakhir dan gadis itu pun segera beranjak mengikutiku yang telah melangkah lebih dulu.


"Jadi sekarang kau adalah milikku?" Senang sekali rasanya menggoda gadis ini sepanjang hari.


"Om bicara apa?"


"Itu yang kudengar dalam percakapanmu di telepon tadi."


"Dasar tukang menguping!"


"Aku bukan menguping, tapi suaramulah yang sangat kencang. Bahkan seluruh nyawa di rumah ini pun mendengarnya."


Kiki langsung celingak-celingung ke kiri dan ke kanan setelah mendengar ucapanku. Riak wajahnya pun berubah menjadi merah setelah melihat anak buah Andre yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Kali ini wajah gadis itu semerah kepiting rebus. Saat itu juga langsung kutarik tangannya menuju dapur.


"Kalau Mama kesini, pasti tidak akan mau keluar dari ruangan ini." Aku mendengar pujian begitu Kiki melangkahkan kakinya ke dalam ruangan bernuansa hijau segar itu.


Mama yang membelikan perabot, serta mendesain tata letak dan konsep di ruangan yang satu itu, meskipun sudah kubilang sejak awal bahwa aku tidak akan pernah menjamah ruangan itu. Akhirnya hari ini ruangan yang penuh dengan perabot dan perlengkapan dapur itu terpakai juga.


"Rapi sekali," pujinya lagi.


"Karena tidak pernah terpakai. Hehehe ...," sahutku sambil nyengir kuda. "Ya sudah, sekarang kau masaklah, aku mau mandi dulu."


"Aku?"


"Iya," jawabku santai. "Masa iya aku yang harus memasak?"


"Tapi aku tidak bisa memasak, Om."


"Kalau begitu selamat belajar memasak." Aku sengaja mengerling nakal pada Kiki lalu melenggang pergi masuk ke dalam kamar.


Semoga soremu menyenangkan, Ki. Hahaha ....


___


.


"Berkas-berkas yang kau minta sudah kuletakkan si ruang kerja." Tiba-tiba Andre muncul di ambang pintu kamar.


"Apakah ada masalah di kantor?" tanya Derri sambil melepas setelan kerjanya, bersiap untuk mandi.


"Tidak ada," jawab Andre sambil melangkah masuk. "Masalahnya ada di rumah ini."


"Apa maksudmu?" Kening Derri tampak mengernyit.


"Dapur berantakan. Jadi kapal pecah," ujar Andre sambil melepas kancing di pergelangan kemejanya. Ah, tidak. Sebenarnya lebih parah dari kapal pecah," ralatnya tanpa ekspresi.


Derri tertawa lebar mendengar keluhan Andre, kemudian melenggang masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan keberadaan Andre di dalam kamarnya.


Limabelas menit kemudian Derri keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam dan jeans selutut.


"Om." Terdengar suara Kiara memanggil. Ternyata gadis itu tengah duduk di tepi tempat tidur dengan piring hasil masakan di tangan.


"Sudah selesai?" tanya Derri sembari berjalan mendekat.


"Sudah," jawab Kiara singkat.


"Oke, aku akan memakannya."


Kiara menyodorkan piring yang dibawanya dengan ragu.


"Suapi," ucap Derri manja.


"Ya Tuhan ...," keluh Kiara. Namun tak urung disuapinya juga bayi besarnya itu.


"Apa ini namanya?" tanya Derri di sela kunyahannya pada suapan pertama.


"Namanya mmm ...." Kiara tampak bingung harus menjawab apa.


"Apapun namanya, sepertinya ini akan menjadi menu favoritku nanti setelah kita menikah," ucap Derri saat menyadari kebingungan Kiara.


Perut Kiara berkedut. Kupu-kupu di dalam perutnya beterbangan sambil berjoget Asereje milik The Last Ketchup.


"Apakah enak?" tanya Kiara karena didorong rasa penasaran.


"Jika kau memasaknya denga cintamu, maka akan kumakan, bagaimanapun rasanya," jawab Derri dengan senyum dan sorot lembut dari matanya.


"Om, bisakah kau berhenti menggodaku?" tanya Kiara dalam hati. "Nggak kuat hayati, Bang ...!" lanjut Kiara masih dalam hati, dengan kaki melumer bagai jeli, hampir terjatuh tak kuat berdiri.


Sementara Andre mengintip dari celah pintu, "Dasar perayu!" cibirnya, kemudian segera melenggang pergi. "Bereskan dapur!" perintahnya dalam sambungan telpon.


BERSAMBUNG ...