
Sebuah mobil sport hitam berselimut debu tebal berhenti tepat di depan pintu masuk gedung perkantoran. Seorang laki-laki bersetelan jas serba hitam segera mendekat, membukakan pintu penumpang bagian depan.
Derri turun dari mobil masih dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya. Disusul Andre yang juga turun dari kursi bagian kemudi. Keduanya berjalan tegap dengan tangan kiri menenteng tas kerja, sedangkan tangan kanan masuk ke dalam kantong celana bahan yang dikenakan.
Sesaat kemudian Andre menghentikan langkah, kemudian melirik ke arah laki-laki bersetelan jas hitam.
"Bereskan!" Terdengar perintah Andre pada laki-laki itu sambil melemparkan kunci mobil.
"Baik," sahutnya dengan pandangan menunduk hormat setelah berhasil menangkap lemparan Andre dengan gesit.
Andre segera kembali menyusul dan menyamai langkah Derri masuk ke dalam bilik lift menuju lantai 20. Setiba di lantai yang dimaksud Derri langsung melesat menuju ruang meeting dimana Brenda dan kliennya telah menunggu di sana. Sedangkan Andre masih tetap berada di dalam bilik lift, naik ke lantai berikutnya.
"Maaf, saya datang terlambat," sapa Derri begitu memasuki ruang meeting. "Ada beberapa masalah yang terjadi dalam perjalanan saya kemari," lanjutnya lagi sambil melempar senyum khasnya.
"Tidak masalah," sahut laki-laki dengan setelan jas abu-abu itu ramah. "Kami baru menunggu sekitar sepuluh menit saja," tambahnya setelah melirik jarum jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Baiklah, mari langsung kita mulai saja." Derri segera mengawali meeting pertama hari ini dan berusaha agar segera usai secepat mungkin.
Dua jam kemudian barulah meeting pagi ini usai. Mereka saling tersenyum, berpamitan, dan berjabat tangan. Sebagai pertanda bahwa kedua belah pihak merasa puas dengan hasil pertemuan kali ini.
"Apakah masih ada jadwal meeting lagi hari ini, Brenda?" tanya Derri saat sudah berada di dalam lift.
"Ada, Pak. Satu jam lagi dengan Bapak Wisman di lantai 14. Kemudian nanti Bapak ada janji makan siang dengan Ibu Clara di Nikmat Rasa. Selebihnya free," lapor Brenda.
"Jadwalkan ulang janji makan dengan Ibu Clara, dan tolong kosongkan jadwalku untuk tiga hari kedepan," sahut Derri sambil melangkahkan kaki keluar dari dalam lift diikuti Brenda yang menenteng beberapa berkas di tangan kirinya.
"Baik, Pak."
"Hari ini, aku sedang tidak ingin diganggu. Katakan aku sedang tidak ada di tempat jika ada yang mencariku," pesan Derri sebelum masuk ke dalam ruangannya.
"Baik, Pak," sahut Brenda patuh, kemudian segera berlalu setelah memastikan sang atasan telah masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Apa sudah ada nama yang bisa kau berikan padaku?" tanya Derri begitu masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Axel Fernando Wardhana," jawab Andre sambil bangkit dari sofa di seberang meja kerja bosnya itu.
"Jadi benar dia dalang dari kekacauan pagi tadi." Derri meletakkan tas kerjanya di atas meja. "Preman bayaran?" tanya Derri kemudian.
"Anak buahnya sendiri," sahut Andre cepat.
"Anak buah?" Derri membeo sambil menghenyakkan pantat pada kursi kebesarannya.
"Benar."
"Tunggu, Fernando Wardhana?" Derri kembali bertanya. "Apakah ...." Ucapan Derri terhenti, ia tak kuasa menyelesaikannya.
"Benar," ucap Andre yang tahu betul apa yang tengah dirasakan oleh bosnya saat ini. "Adik dari Dalton Fernando Wardhana."
Mendengar itu, sorot mata Derri meredup selama beberapa detik. "Bagaimana bisa?" gumam Derri kemudian.
"Sepertinya keluarganya memang sengaja menyembunyikan keberadaan anak ini," papar Andre sambil berjalan ke arah sofa. "Demi keamanannya," tambah Andre. "Dia mewarisi separuh dari kekayaan Wardhana."
"Masuk akal." Derri melepas jasnya kemudian menyampirkannya di sandaran kursi. "Memang terlalu banyak orang yang ingin melihat kehancuran keluarga Wardhana," lanjutnya.
"Bahkan kita pun tidak tahu bahwa ternyata Dalton memiliki saudara." Andre menambahkan.
"Benar."
"Mereka saudara tiri dari ibu yang berbeda." Andre meralat sambil menyodorkan berkas yang diambilnya dari sofa.
"Selir?" Derri bertanya sambil menyulut satu batang rokok.
"Lebih tepatnya istri simpanan yang kini telah menjadi istri sah setelah ibu Dalton meninggal," papar Andre.
"Tapi kenapa harus di sini ia disembunyikan?"
"Pengasuhnya adalah wanita asli kota ini. Ia sudah menjadi perawat anak itu sejak lahir. Maka keluarga Wardhana mempercayakan anak bungsunya pada si pengasuh itu untuk dibesarkan di kota ini," papar Andre lagi sambil mematikan AC kemudian membuka jendela kaca di sudut ruangan.
"Dunia begitu sempit," gumam Derri pelan.
"Tidak. Kurasa kini waktunya telah tiba," sahut Andre. "Magnet itu akhirnya bekerja. Semua yang berhubungan dengan kenangan itu ... satu-persatu akan datang mendekat."
"Apa maksudmu?"
"Cepat atau lambat semua ini harus diakhiri," jawab Andre dengan tatapan dingin ke arah Derri. "Aku tak pernah bisa melihat sorot mata kesakitan Tante Eva setiap kali menatap wajahmu."
Derri diam bergeming mendengar ucapan Andre. Ia pun membuang pandangannya kasar ke sembarang arah.
"Akan ada rapat lagi. Aku harus bersiap-siap," ucap Derri pelan dan dingin.
Laki-laki berwajah Asia itu pun segera bangkit dan beranjak pergi meninggalkan Andre di dalam ruang kerjanya.
"Siapkan semuanya, Brenda. Telepon aku sepuluh menit sebelum meeting dimulai," perintah Derri tanpa menoleh sedikit pun ke arah Brenda.
"Ya ampun, kenapa Bapak harus keluar dari dalam ruangan?" hardik Brenda pelan namun dengan wajah tak bersahabat. "Saya sudah mengatakan kepada nona ini bahwa Bapak sedang tidak ada di tempat."
Derri menoleh. Tampak Brenda tengah berdiri dengan tatapan kesalnya. Sementara di sampingnya ada Mila yang berdiri dengan tatapan memuja ke arahnya.
"Derri, sekretarismu ini benar-benar tidak sopan. Berani sekali dia mengusirku." Mila mengadu sembari berjalan mendekat.
"Aku sedang sibuk. Selesaikan urusanmu dengan Andre saja. Dia ada di dalam ruanganku," ucap Derri datar sambil berjalan menuju lift di sudut lantai.
"Tapi yang kucari adalah kau, Derri," teriak Mila. "Andre selalu dingin dan kasar padaku. Dia begitu menyeramkan."
___
.
Murid-murid berseragam putih abu-abu mulai berhamburan melewati pintu gerbang sekolah. Sebagian dari mereka segera berlarian ke jalan dengan seragam penuh coretan cat pilox warna-warni. Sebagian lagi bergerombol asyik saling mencoret seragam satu sama lain. Sisanya masih saling berpelukan dan tertawa ceria menyelami uforia kebahagiaan sebab seluruh siswa dinyatakan 100% lulus.
"Zi, ikut kita-kita yuk," ajak Odi yang memang sudah sejak lama suka pada Suzi.
"Kemana?" sahut Suzi tanpa menoleh. Gadis itu tengah sibuk membubuhkan tanda tangan pada punggung seragam beberapa teman sekolahnya dengan spidol maker hitam.
"Pawai, merayakan kelulusan kita," jawab Odi penuh harap.
"Naik apa?" tanya Suzi lagi sambil menoleh, kemudian menatap Odi yang nangkring di atas motor barunya.
"Naik motor," sahut Odi cepat. "Hari ini aku sengaja tidak membawa mobil karena sudah sepakat akan pawai motor dengan anak-anak." Odi menambahkan.
"Idih, ogah," tolak Suzi. "Panas."
"Sekali-sekali, Zi. Dioles krim juga nanti putih lagi." Odi masih membujuk.
"Ogah!" Suzi tetap menolak.
"Masih menungguku?" Tiba-tiba Sesil sudah berdiri di samping Suzi.
"Siapa?" jawab Suzi balik bertanya. "Nunggu jemputan. Ge-er," lanjutnya malas.
"Ayo, Sil." Tiba-tiba Jerry sudah menghentikan motornya tepat di depan Sesil.
"Ayo." Sesil segera naik membonceng di belakang Jerry.
"Loh, mau kemana?" tanya Suzi.
"Ikut pawai. He ...." Kedua tangan Sesil sibuk mengikat rambut sebahunya sambil nyengir kuda.
"Sheila mana?"
"Itu, sudah di depan, Zi. Menunggu di pintu gerbang dengan Edo," jawab Sesil.
"Lah, ikut dong, ikut," seru Suzi. "Odi...ikut!" teriak Suzi heboh, yang langsung disambut senyum ceria di wajah Odi.
"Lah, Kiara dengan siapa?" tanya Jerry.
"Kan ada Axel, pastinya dengan Axel." Sesil menebak sambil menutup hidung dan mulutnya dengan masker kain. "Axel mana sih? Belum terlihat juga dari tadi?"
"Aku tidak ikut, sahut Kiara yang langsung ditanggapi dengan pelototan dua sahabatnya.
"Kenapa begitu?" tanya Sesil.
"Aku sudah berjanji pada Mama, untuk tidak ikut pawai dan akan langsung pulang ke rumah." Kiara menyahut sambil membetulkan jepit Hello Kitty pada rambutnya.
"Ah, tidak kompak!" seru Suzi.
"Apa kalian tidak melihat itu?" Kiara menunjuk ke arah pintu gerbang. Tampak Derri sudah berdiri bersandar pada sisi mobil sambil ngobrol dengan beberapa siswi.
"Mau bagaimana lagi?" Kiara mengedikkan bahunya.
"Coba bujuk dan beri sedikit rayuan, pasti Om Derri luluh dan membiarkanmu pergi bersama kami." Suzi mencoba memberi solusi.
"Sudahlah, kalian pergi saja. Nikmati pawainya. Aku duluan, ya," pamit Kiara tanpa beban. Ia pun segera melangkahkan kaki dengan pandangan tertuju ke arah Derri. Sementara beberapa siswi yang tadi mengerubungi laki-laki itu sudah menghilang.
Derri masih pada posisinya, berdiri dengan menyandarkan tubuh pada body mobil. Sementara tangan kanan masuk ke dalam saku celana dan tangan kiri memegang sebatang rokok.
"Hei," Kiara menepuk lengan kanan Derri pelan.
"Ah, kau mengagetkanku." Derri tersentak. Dibuangnya sembarangan batang rokok yang kini tersisa sangat pendek hingga menjadi puntung rokok.
"Siapa suruh Om melamun. Aku sudah memanggil berkali-kali, tapi Om tidak dengar," lontar Kiara dengan alis hampir menyatu. Sedangkan Derri hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sedang melamun jorok pasti!" tuduh Kiara dengan kedua mata melotot.
"Hehehe ...."
"Kali ini siapa yang melahirkan?" tanya Kiara kemudian.
"Kecoa di rumah Mang Jaja mungkin." Derri menjawab sambil mengedikkan bahunya cuek. Kali ini memang Derri sengaja meminta izin pada Mike untuk menjemput Kiara.
Kiara memutar bola matanya jengah, kemudian segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya rapat-rapat.
Saat hendak beranjak, tiba-tiba ponsel Derri berbunyi. Diurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Ya, Stella," sapa Derri begitu telepon tersambung.
" ... "
"Aku? Maaf, aku sedang tidak berada di kantor."
" ... "
"Ya, kau benar. Tugas negara." Derri tersenyum simpul, melirik ke arah Kiara yang tak terlihat karena terhalang kaca jendela mobil.
" ... "
"Nanti malam? Maaf, sepertinya aku tak bisa."
" ... "
"Ya, aku akan sangat sibuk dalam tiga hari ke depan."
" ... "
"Benar. Jadi, kau lakukan saja tanpaku."
" ... "
"Tok ... tok ... tok." Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan.
Derri menoleh, masih dengan ponsel menempel di telinga kiri. Tampak olehnya wajah jenuh Kiara dari balik jendela mobil yang sengaja dibuka oleh si penumpang. Gadis itu menunjuk arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dengan kedua mata melotot.
Derri tersenyum, kemudian mengangkat tangan kanan. Digerakkannya telunjuk dan ibu jari kanan membentuk lingkaran kecil.
"Ok," ucap Derri tanpa suara pada Kiara.
Laki-laki itu pun kembali fokus pada percakapannya yang masih tersambung dengan Stella di ujung telepon.
"Maaf, Stella. Ibu negara memanggil. Aku harus menutup teleponnya. Sampai jumpa."
Derri segera mengakhiri percakapannya dan langsung mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara. Sesaat kemudian ia beringsut dan bergegas berjalan memutari kap mobil agar dapat segera duduk pada kursi kemudi di samping Kiara.
"Hei ...!"
Langkah Derri terhenti saat tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kejauhan. Ia pun segera menoleh. Melihat siapa pemilik teriakan itu, sudah dapat dipastikan bahwa panggilan memang ditujukan kepadanya.
Spontan Kiara pun turut mendongak, melihat siapa yang telah berteriak pada Derri. Dari tempat ia duduk sekarang tampak Axel tengah berjalan beriringan dengan Dirga dan Damar menuju ke arahnya. Ia pun segera beringsut, berniat turun untuk mengatakan pada Axel bahwa ia tidak akan ikut pawai kelulusan. Namun, diurungkan niatnya itu ketika disadari bahwa yang mereka hampiri bukan dirinya, melainkan Derri.
"Kau jangan senang dulu," ucap Axel sambil menunjuk tepat di dada Derri. "Tidak akan kubiarkan kau merebut Kiara dariku. Aku akan tetap membuat perhitungan denganmu."
Kiara terdiam memperhatikan dari balik kaca jendela mobil saat Axel mengancam sambil mendorong bahu Derri.
Sementara Derri menanggapinya dengan senyuman tenang seperti biasanya. Ditegakkan tubuhnya kemudian maju satu langkah hingga dapat berdiri lebih dekat dengan Axel.
"Tidak mudah bagimu untuk bisa menyentuhku," ucap Derri dengan ujung bibir terangkat. "Dasar bocah ingusan."
"Kau akan segera menarik kata-katamu," tantang Axel tanpa ekspresi.
"Benarkah?" Derri menyambut tantangan Axel dengan seringai meremehkan.
"Aku akan mempertahankannya." Axel berucap penuh tekad.
Derri mencondongkan wajahnya, kemudian membisikkan sesuatu tepat di telinga kiri remaja di hadapannya itu. Wajah Axel berubah pias dengan kilatan mata menahan emosi. Sedangkan Derri segera beranjak masuk ke dalam mobil dan melesat ke jalan raya bergabung dengan pengendara yang lain.
"Ada apa?" Gilang menepuk pundak Axel pelan.
"Dia tahu semuanya," jawab Axel tanpa menoleh.
"Apa maksudmu?" tanya Dirga bingung
"Bahkan dia juga memiliki bukti-bukti itu di tangannya," sahut Axel dengan kedua tangan terkepal menahan emosi.
Dalam sekejab wajah bingung Dirga berubah menjadi kesal bercampur cemas.
Sementara itu di dalam mobil sport putih yang tengah meluncur tenang, "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kiara setelah mobil berjalan cukup jauh.
"Hanya obrolan antara laki-laki dengan laki-laki," jawab Derri santai.
"Apa yang Om bisikkan padanya?"
"Sudah kubilang bukan, ini obrolan antara laki-laki dengan laki-laki.
"Apa itu?"
"Bukan hal yang harus kau dengar."
"Katakan padaku."
"Sungguh, kau tidak ingin mendengarnya," elak Derri sambil membelokkan setir ke arah kanan.
"Kenapa sepertinya dia jadi marah dan emosi?" kejar Kiara lagi.
"Kau benar-benar ingin tahu?"
"Iya," jawab Kiara yakin.
"Aku mengancamnya."
"Apa? Om mengancam Axel?" Kiara berseru tak habis pikir.
"Kukatakan padanya, jika dia berani macam-macam maka aku akan m*mp*rk*s*mu." Derri menjawab santai.
Kiara terkesiap mendengar jawaban Derri, wajahnya memucat dan perlahan tubuhnya beringsut menjauh, semakin menempel dengan pintu mobil.
"Apa maksud Om?" tanya Kiara gugup dan pelan.
"Sudah kukatakan bukan, kau tidak ingin mendengarnya," ucap Derri dengan seringai jahat.
"Berhenti," perintah Kiara.
"Apa?"
"Turunkan aku!"
"Ini di tengah jalan. Mana boleh berhenti?"
"Turunkan aku! Dasar mesum!"
BERSAMBUNG ...
______________________________