
"Tidak hanya di leher, ternyata ada luka di sini juga," gumam Kiara sambil mengusapkan kapas yang basah oleh Idophor pada pelipis Derri.
Derri terdiam, menikmati desiran-desiran aneh dalam dirinya tiap kali jemari lembut Kiara menyentuh kulit.
"Memangnya Om berkelahi dengan siapa sampai jadi seperti ini?" Kiara terus mengoceh sementara tangannya yang terampil tetap bergerak menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah kukatakan, hanya kecelakaan kecil," kilah Derri. "Kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Nanti juga sembuh sendiri."
"Kecelakaan macam apa yang Om alami?" kejar Kiara tanpa menggubris tatapan jengah Derri.
"Aku menggoda wanita di taman. Saat aku akan menciumnya, tiba-tiba suaminya datang. Dia tidak terima, lalu membuatku jadi seperti ini," cerita Derri spontanitas.
"Om pikir aku sebodoh itu?" tukas Kiara sambil menempelkan plaster motif Hello Kitty warna pink di pelipis Derri. "Bagaimana mungkin dia menyerangmu hingga meninggalkan luka sayat seperti ini? Seperti penyerangan direncana saja." Kiara menekan luka di pelipis Derri yang sudah tertutup plaster luka itu dengan sengaja.
"Aw ...!" Derri mengaduh sambil mengusap pelipis kanannya. "Sakit ...!"
"Seharusnya wajah Om babak belur karena dipukul dan ditinju, bukan disayat."
Derri nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, menyadari kebodohannya dalam mengarang cerita.
"Apa Om tidak pergi ke kantor?" Kiara melirik jam dinding. Pukul 10 tepat.
"Malas," jawab Derri santai. "Aku ingin bersamamu saja," lanjutnya.
Mendengar ucapan Derri, mendadak upu-kupu dalam perut Kiara beterbangan, senang mendengar ucapan Derri barusan. Namun Kiara tetap berusaha untuk memasang wajah stay cool.
"Kenapa? Apa hari ini tidak ada schadule yang penting?" Kiara berlagak mengingatkan.
"Tok ...! tok ...! tok ...!" Tiba-tiba Andre muncul dari balik pintu.
"Maaf mengganggu," ucap Andre menginterupsi. "Rapat akan dimulai dua jam lagi. Segeralah bersiap-siap."
"Oke," sahut Derri singkat.
"Om mau bersiap-siap ke kantor?" tanya Kiara. "Ya sudah, kalau begitu aku pamit saja."
"Hei, jangan!" cegah Derri spontan.
"Maaf?" tanya Kiara dengan mata mendelik, meminta Derri memperjelas ucapannya barusan.
"Maksudku kau disini saja," jawab Derri.
"Bukankah Om mau ke kantor?"
"Bukankah kau bisa menemaniku ke kantor?" Derri balas bertanya.
"Aku?" tanya Kiara dengan mata membulat tak habis pikir.
"Iya."
"Tapi aku hanya memakai baju seperti ini, mana pantas datang ke kantor, Om."
"Apanya yang tidak pantas?" Derri melangkah santai menghampiri lemari baju.
"Bukankah seharusnya memakai baju formal jika ke kantor?" tanya Kiara balik sambil memperhatikan punggung Derri yang tengah memilih setelan jas yang akan dikenakannya.
"Bukankah kau pun juga pernah datang ke kantorku hanya dengan kaos dan celana jeans sobek?" Bukannya menjawab, Derri justru kembali bertanya. "Bahkan kau pun melemparku dengan sepatu di kantor itu juga."
Wajah Kiara merona, memerah karena malu mengingat apa yang pernah dilakukannya pada laki-laki pujaannya waktu itu.
"Lagi pula kau datang ke kantor bukan untuk bekerja, tapi untuk menemaniku. Kau ini calon istriku. Memangnya siapa yang berani mencela calon istri bosnya?"
Perut Kiara berkedut mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Derri, kupu-kupu pun kembali beterbangan bersorak riang.
"Baiklah, terserah Om saja." Kiara akhirnya mengalah.
Secercah sorot bahagia terpancar dari mata Derri. Entah mengapa hari ini ia hanya ingin dekat dengan Kiara. Hanya Kiara.
"Tapi kita mampir makan dulu ya, Ki. Aku lapar." Derri melirik jam dinding di kamarnya. "Masih ada waktu," lanjutnya sambil melepas kaos dan celana yang dikenakan, hingga tinggal celana boxer yang menempel di tubuhnya.
"Hei, apa yang Om lakukan?!" Mata Kiara terbelalak melihat pemandangan di hadapannya.
"Ganti baju. Memangnya kau pikir apa?" sahut Derri dengan senyuman jahil sambil meraih celana bahan hitam yang telah dipilihnya.
Perlahan Kiara mendekat, diraihnya kemeja mint yang masih tergeletak di atas tempat tidur. Mendadak keheningan tercipta diantara mereka saat Kiara membantu calon suaminya itu mengenakan setelan kerjanya dengan tangan sedikit bergetar. Rasa tidak nyaman, kikuk dan canggung menyerang karena ini baru pertama kalinya bagi Kiara. Dilakukan semuanya dalam diam, sambil menekan kuat-kuat debaran jantungnya yang semakin menggila.
Derri terdiam, menikmati sensasi aneh yang tiba-tiba merayap. Sekujur tubuhnya terasa bagai mendapat sengatan-sengatan lembut setiap kali jemari lembut Kiara menyentuh kulit. Derri terpaku menatap dara yang tengah bergerak canggung di hadapannya itu.
"Hah, sialan! Perasaan apa ini!" umpatnya dalam hati berusaha menekan jantungnya yang berdegup semakin cepat.
Kiara mendongak memandang wajah tampan yang tengah menatapnya itu. Dilemparkannya seulas senyuman untuk mengikis ketegangan yang ia rasakan.
Bibir Derri berkedut. Hatinya serasa bagai menerima cubitan-cubitan hangat saat senyuman indah gadis itu menyembul dari bibir tipisnya.
"Gadis racun!" umpat Derri lagi di dalam hati. "Benar, kau adalah racun mematikan berwujud manusia." Gelenyar-gelenyar aneh mulai merayapi dan merajai hati laki-laki bertubuh tegap itu. Namun, ia menikmatinya.
"Om," panggil Kiaran pelan yang terdengar sangat lembut di telinga Derri.
"Bibirnya begitu indah ...," gumam Derri dalam hati. "Hah, brengsek!" maki Derri pada dirinya sendiri dalam hati.
"Om ...." Kiara kembali bersuara.
"Ya," jawab Derri mati-matian menahan untuk tidak mencium dan melum*t bibir gadis di hadapannya itu.
"Maaf, aku tidak bisa memakaikan dasi," ucap Kiara sambil memegang dasi hitam di tangan kirinya.
"Tak masalah." Derri menjawab cepat. "Kebetulan aku sedang tidak ingin memakai dasi." Diraihnya dasi di tangan Kiara kemudian dimasukkannya ke dalam kantong celana, bermaksud akan dipakainya sendiri nanti setelah tiba di kantor.
Kiara hanya diam, memandang heran ke arah laki-laki yang tiba-tiba saja tampak sangat memenuhi kriteria machonya itu.
Laki-laki berparas Asia itu menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya sebagai sentuhan akhir. Seketika wangi parfum bercampur dengan aroma dari tubuh Derri berbaur, menguarkan aroma khas tersendiri yang tidak akan pernah bisa Kiara lupakan.
"Ayo kita pergi." Derri menggamit tangan Kiara, segera membawa gadis itu ke luar kamar dengan sangat terburu-buru.
___
.
Tiga sosok yang menjadi pusat perhatian di dalam restoran itu kini tengah berjalan pelan ke arah pintu keluar.
"Kalian tunggu di depan saja," ucap Andre kemudian segera melangkah menuju tempat dimana mobilnyan terparkir.
Tangan kiri Derri menggamit pergelangan kanan Kiara, sedangkan satu tangannya yang bebas dimasukkan ke dalam kantong celana. Keduanya berjalan beriringan menuju tempat yang Andre maksud. Jangan lupakan plaster Hello Kitty pink yang menempel sempurna di pelipis kanannya.
Tidak sampai lima menit, mobil hitam sudah menghampiri mereka dengan Andre berada di balik kemudi.
"Derri," panggil seseorang saat Derri membukakan pintu untuk Kiara. "Kau kah itu?"
Kiara memandang ke arah wanita cantik yang telah memanggil nama kekasih hatinya. Diurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil, dan lebih memilih berdiri di sebelah laki-laki maskulin itu.
Mata Kiara terbelalak lebar melihat adegan di hadapannya barusan. Entah mengapa hatinya bagai terbakar, otaknya terasa mendidih.
"Aku punya banyak waktu luang, bagaimana jika nanti malam aku ke rumahmu?"
Telinga Kiara ikut memanas mendengar ucapan wanita bertubuh sintal itu. Dikepalkan kedua tangannya kuat-kuat meredam emosi yang merangkak meninggi.
"Tidak perlu," jawab Derri mulai jengah.
"Ayolah, kita sudah lama tidak bersama," rayu wanita itu sambil menggelayut manja di pundak Derri. "Terakhir kemarin kau menolakku," lanjutnya lagi sambil mengerucutkan bibir, merajuk.
"Sudahlah, pergilah," ucap Derri malas. "Tidak kah kau melihat aku sedang bersama seorang gadis?"
"Gadis?" Wanita bertubuh padat itu membeo, kemudian mengamati Kiara dengan seksama. "Aku bahkan jauh lebih cantik darinya," ucap wanita itu kembali memandang Derri.
"Aku Hellen, kau?" tanya wanita itu pada Kiara.
Kiara hanya menanggapinya dengan wajah masam dan alis hampir bertaut.
"Dia calon istriku," ucap Derri santai, yang ternyata berhasil menekan luapan lahar di hati Kiara yang hampir saja muntah.
"Oke, setidaknya dia mengakui statusku di hadapan wanita itu," ucap Kiara dalam hati.
"Apa?!" Mata Hellen membulat sempurna. "Kau bercanda? Dia itu masih kecil, Derri. Dia tidak akan bisa apa-apa," lanjutnya sambil tertawa renyah.
"Apa maksudmu?" tampak raut bingung terlukis di wajah Derri.
"Dia tidak akan mungkin bisa memuaskanmu," jawab Hellen cepat. "Aku yang paling tahu apa yang kau sukai dan yang tidak kau sukai."
"Tapi dia yang kucintai, bukan kau."
Hati Kiara mencelos mendengar perkataan Derri. Entah itu ucapan jujur atau bukan, setidaknya itu terdengar begitu indah di telinga Kiara.
"Kau lebih memilih gadis murahan ini dibanding aku?" tanya Hellen dengan senyum mengejek ke arah Kiara.
"Jaga bicaramu," sahut Derri mulai jengah.
"Aku memiliki segalanya, Derri. Dan aku mencintaimu, kau tahu itu." Hellen menatap lembut pada Derri.
Sangat berbeda halnya dengan Kiara yang menatap tajam pada Hellen.
"Hei, j*l*ng kecil, berapa Derri membayarmu?" Hellen beralih menatap tak kalah tajam pada Kiara. "Aku bisa memberikanmu lebih," lanjutnya lagi. "Malam ini dia milikku."
Tanpa diduga, tiba-tiba tangan Kiara melayang keras mengenai pipi Hellen.
"Aw ...!" jerit Hellen sambil memegang pipi kirinya.
Sementara Derri dan Andre terdiam dengan mulut dan mata membulat sempurna, tak menyangkan gadis belasan tahun yang makan bersama mereka beberapa menit yang lalu ternyata bisa melakukan hal segila itu.
Tangan Kiara terulur cepat menarik rambut Hellen. "Kau sebut aku apa barusan?" Suara Kiara terdengar garang dan berbahaya.
"Dasar j*l*ng!" Hellen memaki. "Lepaskan tanganmu dariku!"
Kiara justru mempererat tarikan tangannya hingga Hellen mendongak menahan sakit di ujung kulit kepalanya.
"Kau pikir aku sama denganmu?!" bentak Kiara.
Hellen diam masih dengan posisi mendongak karena rambutnya ditarik kuat oleh Kiara.
"Kau pikir aku gadis murahan sepertimu yang akan mengumbar s*l*ngk*ng*n pada setiap pria?!"
"Lepaskan aku! Atau kupastikan hidupmu tidak akan tenang!"
Kiara menarik rambut yang dipegangnya erat itu dengan sekali sentakan, kemudian segera menghempaskan tubuh Hellen hingga terjerembab ke tanah.
"Kau salah memilih lawan!" ucap Kiara kemudian.
"Kau belum tahu siapa aku!" Bentak Hellen setelah bangkit bediri.
"Aku merasa tak perlu mengetahui siapa dirimu, meski kau kekasih dari Lee Min Ho sekalipun," sahut Kiara tanpa minat. Sementara Derri dan Andre saling pandang, tak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh gadis belia itu.
"Untuk pertama dan terakhir kalinya kuperingatkan padamu, jauhi Derri atau kau akan hancur di tanganku!" Hellen menunjuk tepat ke hidung Kiara dengan rasa kesal dan marah menggelayuti kedua mata indahnya.
"Melepaskannya?" tanya Kiara sebelum terkekeh pelan. "Yang benar saja? Jika dia bisa memberikan kepuasan dan uang padaku, bagaimana mungkin aku akan melepaskannya?" lanjutnya dengan senyum mengejek.
"Sialan!" umpat Derri dalam hati. Sementara Andre tersenyum geli mendengar apa yang baru saja Kiara ucapkan. Ia memutuskan untuk terus memperhatikan pertunjukan gratis itu dari balik kemudi.
"Kau mencintainya? Kau ingin memilikinya?" tanya Kiara. "Kupastikan dia akan menjadi milikku," lanjut Kiara cepat tanpa memberikan kesempatan Hellen untuk menjawab. "Kepadakulah dia akan tergila-gila, bukan kepadamu!" pungkas Kiara, kemudian segera masuk ke dalam mobil.
"Aku sudah memperingatkanmu," Derri tersenyum puas sambil mengerlingkan mata pada Hellen, kemudian segera menyusul Kiara yang telah duduk manis di dalam mobil.
Mobil pun segera melesat meninggalkan Hellen yang masih geram menahan amarah.
"Merasa senang diperebutkan dua wanita, Dude?" goda Andre sambil menyetir.
"Hah, kau membuat harkat kelelakianku merasa terinjak-injak," sahut Derri dari kursi penumpang.
Andre hanya menanggapinya dengan tawa renyah.
"Hampir saja aku direbut oleh wanita murahan dari tangan calon istriku sendiri," seloroh Derri berusaha memecah ketegangan di wajah Kiara.
"Jadi kau menjadikanku barang taruhan, huh?" lanjut Derri pura-pura marah sambil menatap gadis yang hanya duduk diam di sampingnya. Masih tampak sisa-sisa ketegangan karena emosi di wajahnya.
Kiara menundukkan wajah, perlahan rasa bersalah merayapi hatinya.
"Maaf, aku sudah melampaui batas, Om," ucap Kiara pelan, penuh rasa penyesalan. "Habisnya ... wanita itu menyebalkan sekali. Mulutnya benar-benar berbisa. Tak ada satu kata pun dari mulutnya yang terdengar indah di telingaku. Hah, aku jadi tersulut emosi," lanjutnya panjang lebar.
"Kau harus menang, karena aku tidak ingin menjadi miliknya," ucap Derri kemudian, pura-pura merajuk.
Wajah Kiara yang semula tegang kini berubah menjadi bersemu merah karena ucapan Derri barusan.
"Kau harus benar-benar membuatku tergila-gila padamu," ucap Derri lagi, membuat rona merah di wajah Kiara terlihat semakin kentara.
"Menjijikkan! Dasar buaya!" umpat Andre dari balik kemudi, membuat Kiara melupakan emosi yang menguasainya beberapa saat yang lalu.
"Kau ingin aku berhenti di bridal dan membelikan sesuatu untuknya?" tanya Andre sambil memutar setir ke sebelah kanan.
"Tidak perlu," tolak Derri. "Dia sangat cantik dengan style seperti ini," lanjutnya sambil menatap lembut pada Kiara.
"Tapi kau tampak seperti seorang ayah saat berjalan dengannya," protes Andre yang disambut tawa lepas dari mulut Kiara.
"Sialan! Kalian berdua sama-sama menyebalkan!" umpat Derri dengan wajah kesal.
Dipandangnya wajah cantik Kiara yang tertawa semakin terpingkal-pingkal di sampingnya. "Axel, kau terlalu bodoh melepaskan gadis ini untukku," bisiknya dalam hati sambil terus menikmati gelenyar aneh yang kembali merasuki hatinya.
BERSAMBUNG ...
_________________________