I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 16. Hidung Belang Tampan



"Silahkan, Nona." Seorang laki-laki dengan balutan jas serba hitam membukakan pintu penumpang untuk Kiara.


"Terimakasih," ucap Kiara sambil melempar senyum santun yang dibalas dengan anggukan sopan laki-laki berjas hitam itu, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil.


"Kita langsung berangkat saja, Hendri," perintah Derri sambil membuka pintu untuk dirinya sendiri, kemudian segera masuk dan duduk di samping Kiara.


"Baik, Tuan," jawab laki-laki berjas hitam yang ternyata bernama Hendri itu.


Derri memandang Kiara yang telah lebih dahulu masuk ke dalam mobil. Ternyata gadis belia itu memilih penampilan sporti untuk pagi ini. Celana jeans belel yang sobek pada bagian lutut dan kaos putih longgar dipermanis dengan sepatu sport dan topi baseball yang senada dengan warna celana, tampak begitu pas pada tubuhnya. Namun ternyata masih ada yang kurang.


"Ki, ada apa?" tanya Derri saat didapatinya Kiara mendunduk diam. "Kau baik-baik saja?" tanya Derri lagi.


"Tidak apa-apa, Om. Aku baik-baik saja." Kiara menjawab masih dengan menunduk.


"Hei, kau kenapa?" Derri menyentuh dagu Kiara dan menekannya ke atas perlahan. Tampak wajah Kiara penuh dengan rona merah. "Apa kau sakit?" tanya Derri cemas.


"Tidak," jawab Kiara sedikit gelisah.


"Tapi wajahmu kemerahan. Tampak seperti kepiting rebus."


"Aku bilang aku tidak apa-apa," seru Kiara sambil mengibaskan tangan Derri dari dagunya. Gadis itu merasa sedikit kesal karena disamakan dengan kepiting rebus.


"Lantas?" Derriasih bertanya dengan sabar.


"Ah, sudahlah. Aku baik-baik saja." Kiara menjawab sambil membuang muka. "Ayo, cepat jalan, Pak," seru Kiara pada Hendri yang telah duduk di balik kemudi.


"Baik, Nona." Hendri menjawab singkat. Mobil pun segera meluncur, melaju dengan kecepatan sedang.


"Ki, kau yakin tidak apa-apa?" Derri kembali bertanya setelah lima menit perjalanan dalam keheningan.


"Iya, tidak apa-apa." Kiara menjawab masih dengan membuang muka.


"Ya sudah, katakan padaku jika kau merasakan apa-apa, Ki," ucap Derri sambil menyandarkan punggung dan memejamkan matanya.


"Ka ki, ka ki. Jangan sok akrab denganku," sahut Kiara berusaha mengalihkan rona merah di pipinya.


"Kita memang akrab, Ki," tukas Derri masih dengan mata terpejam.


"Tidak seakrab itu," tukas Kiara. "Namaku Kiara, bukan Ki. Memangnya aku ini aki-aki apa?!" sungut Kiara kesal.


"Aku lebih senang memanggilmu begitu," sahut Derri. "Kiki ... kesannya lucu dan mengemaskan," lanjut Derri sambil tersenyum dengan mata tetap terpejam.


Merasa mendapat panggilan sayang yang istimewa, kedua pipi Kiara kembali bersemu merah.


"Hei, kita mau kemana? Kenapa Om malah tidur?" tanya Kiara setelah melepas topi dari kepalanya.


"Ke rumah nenekmu di Magelang. Kau tahu jalannya, bukan?" jawab Derri. "Aku mengantuk sekali. Apa kau tidak ingat, semalam kau tidur di pundakku hingga pagi?" lanjutnya.


Perlahan Kiara melirik laki-laki yang tengah duduk bersandar dengan kedua mata terpejam di sisinya itu.


"Tentu saja aku ingat. Justru semenjak terbangun dalam dekapanmu itulah, sampai sekarang jantungku terus berdebar-debar jika mengingatnya," bisik Kiara dalam hati. "Apa lagi sekarang kita sedekat ini. Tanpa jarak."


"Aku bahkan sampai tidak berani bergerak sedikitpun dari posisiku karena takut membangunkanmu," tambah Derri.


"Iya, tapi bukan berarti kau--." ucapan Kiara terputus karena tiba-tiba Derri merebahkan kepala di pangkuannya. "Hei, apa yang Om lakukan?" seru Kiara panik. "Cepat singkirkan kepala Om dari pangkuanku!"


"Sudahlah, Ki. Jangan berisik. Jaga agar nyamuk tidak menggigitku," perintah Derri masih dengan mata terpejam.


"Mana ada nyamuk di dalam sini?" gumam Kiara sambil menatap aneh pada laki-laki yang tengah tidur di pangkuannya itu.


"Aish, kenapa om-om mesum ini malah tidur di pangkuanku? Apa dia tidak tahu bahwa apa yang dia lakukan ini justru membuatku semakin gugup?" gumam Kiara sambil membetulkan kerah bajunya dengan gelisah.


Menit demi menit, jantung Kiara berdegup semakin kencang. Keringat dingin mulai membasahi. Kedua telapak tangannya pun menjadi dingin.


"Argh ...! Apa-apaan ini? Sialan!" rutuk Kiara dalam hati. Sementara mobil tetap melaju dengan tenang.


"Drrrt ... drrrt ... drrrt." Ponsel Kiara bergetar. Segera diambilnya benda pipih itu dari dalam tas agar tidak mengganggu laki-laki yang tampak pulas dia atas pangkuannya.


"Pagi, sayang," sapa Axel dengan senyum cerah di wajahnya.


"Hai, pagi," jawab Kiara sambil memposisikan layar ponsel tepat di depan wajahnya yang sedikit menunduk. Sengaja dilakukannya agar Axel tidak melihat keberadaan Derri yang tengah merebahkan kepala di pangkuannya dengan mata terpejam rapat.


"Apa kau sudah pulang?"


"Belum."


"Memangnya apa yang kau kerjakan disana?"


"Tidak ada. Tidak ada hal penting yang kami lakukan," sahut Kiara cepat. "Kata Mama mumpung masih libur, belum mulai kuliah."


"Kau sedang di dalam mobil? Kemana?"


"Ke Magelang, ke rumah Eyang. Kata Mama, Eyang Kung rindu ingin bertemu denganku."


"Bersama dia juga?"


"Iya," jawab Kiara akhirnya setelah terdiam beberapa detik.


"Kenapa aku merasa ini sudah seperti acara keluarga saja ...," gumam Axel dengan wajah tak suka yang begitu kentara.


"Ayolah, sayang ... ini hanya bepergian biasa," sanggah Kiara cepat. "Keluargaku dan keluarga Tante Eva sudah saling kenal dekat sejak lama. Kami semua begitu dekat, sudah seperti keluarga sendiri."


"Tapi apakah wajar jika kalian liburan bersama di Jogja dan sekarang pergi bersama lagi ke Magelang?"


"Bukankah kemarin sudah kukatakan, kami mampir di hotel karena Om Derri kelelahan menyetir. Bukan liburan."


"Lihatlah, bahkan sekarang kau mulai menyebut namanya di hadapanku."


"Ya Tuhan, sayang ... jangan berlebihan. Memangnya aku harus menyebutnya apa?"


"Dua hari kalian berada di Jogja. Bukankah itu terlalu lama jika disebut sebagai istirahat karena kelelahan menyetir?"


"Apa?" Kiara balik bertanya. "Itu ... karena kemarin dia harus bertemu dengan teman lamanya," kilah Kiara sedikit gugup. "Mumpung di Jogja, begitu katanya. Namanya Om Candra kalau tidak salah."


Axel diam tak menanggapi ucapan Kiara. Namun tampak jelas bahwa remaja tampan itu sedang berusaha menekan amarahnya. Salah satu hal yang sangat Kiara sukai dari kekasihnya itu, Axel adalah tipe remaja laki-laki yang mampu mengelola emosinya dengan baik.


"Oh, ya sudah," ucap Axel akhirnya setelah menyadari Kiara duduk di kursi penumpang hanya seorang diri, tanpa adanya Derri di dalam mobil. "Ingat, sayang. Dia hanya hidung belang yang kebetulan tampan. Apa kau yakin aman bersamanya?"


Seketika Kiara tertawa mendengar ucapan Axel barusan.


"Hidung belang tampan?" Tawa Kiara terhenti saat merasakan pergerakan di atas pangkuannya. "Sudah kubilang bukan, keluarga kami kenal sangat dekat. Justru karena itulah dia tidak akan mungkin berani macam-macam padaku."


"Sejujurnya aku tak bisa mempercayai bujang lapuk itu. Tapi baiklah, aku percaya padamu. Setidaknya ada mama di sana, jadi dia tidak akan mungkin berani macam-macam padamu."


"Hei, apa kau cemburu?"


"Aku? Cemburu?" Axel tersenyum dengan wajah memerah. "Sudahlah, nikmati perjalananmu dan jaga diri baik-baik."


"Tentu. Kau tahu sendiri, aku sangat bisa diandalkan."


"Ya ... ya ... kau benar. Ya sudah, hati-hati, ya, sayang," pesan Axel kemudian.


"Iya,"


"I love you, bye."


"Bye."


Kiara segera mematikan sambungan video call dengan Axel.


Tatapannya beralih pada wajah tampan yang tengah tertidur pulas di pangkuannya itu. Diusapnya pipi laki-laki itu, walau dengan gerakan sedikit ragu. Tanpa sengaja tangannya menemukan bekas luka di pipi. Memang tidak terlihat oleh mata, namun jika diraba maka akan ditemukan sebuah bekas luka sayatan disana.


"Dia tidur seperti bayi," gumam Kiara pelan, hampir tak terdengar.


Sesaat kemudian tangan Kiara beralih pada kepala laki-laki yang masih tertidur pulas itu. Tangan halusnya dapat merasakan tiap helaian rambut yang lembut namun tegas saat membelai kepala calon suaminya.


"Bagaimana kau bisa setampan ini?" Kiara kembali bergumam.


Sementara laki-laki itu hanya diam tak menyahut. Hembusan nafas yang teratur terus saja keluar dengan lembut dari lubang hidung mancungnya.


"Aku takut, Om," bisiknya lirih. "Aku takut jatuh cinta padamu."


___


.


"Wah, kalian sudah main pangku-pangkuan, ya? Chie chie ...." Tiba-tiba Mike menyembul dari balik pintu mobil, mengagetkan Kiara dan Derri yang tengah tertidur di dalam mobil.


Kiara membuka matanya perlahan. Dilihatnya ke sekeliling. "Sudah sampai, ya?"


"Iya, Nona," sahut Hendri sambil melepas sabuk pengaman. Ia pun segera turun dan membukakan pintu untuk Kiara. "Silahkan, Nona."


Kiara mendongak, kemudian tersenyum malu ke arah Hendri karena posisi Derri yang masih tertidur pulas di pangkuannya. Namun, sesaat kemudian senyum malu itu berubah menjadi dengusan kecil karena ternyata Hendri sama sekali tak melihat ke arahnya.


Ya, memang tak seorang pun anak buah Derri yang berani memandang, apa lagi menatap ke arah Kiara. Semua tahu bahwa hal itu bukanlah hal yang pantas dilakukan pada calon istri bos mereka.


"Om, sudah sampai nih, Om. Bangun." Kiara menepuk-nepuk pipi Derri pelan. "Bangun, Om. Bangun ...."


Mike turut melongok ke dalam mobil setelah menepuk pundak Hendri pelan, kemudian menyuruhnya menurunkan koper dan barang-barang lainnya dari dalam bagasi.


"Hei, cepat bangun. Dasar tukang tidur," Mike ikut menowel pipi Derri dengan kasar.


"Kita sudah sampai?" tanya Derri sambil memicingkan mata, kemudian mengerjabkannya beberapa kali.


"Iya, sudah dari tadi. Kamu susah sekali dibangunkan," sahut Mike. "Hei, cepat bangun. Singkirkan kepalamu dari pangkuan putriku."


Derri menguap sambil menegakkan tubuhnya, kemudian segera turun dari mobil.


"Wah, udaranya sejuk sekali," seru Derri sambil meregangkan otot yang tertekuk selama dalam perjalanan.


"Taruh di kamar paling ujung saja," perintah Mike pada Hendri yang sedang menurunkan koper dari dalam bagasi.


"Baik," jawab Hendri sambil mengangguk hormat.


"Ki, ayo cepat turun. Kita lanjutkan tidur di dalam kamar saja," seru Derri sambil sesekali menguap. "Hei, kenapa diam saja? Ayo turun." Derri kembali melongok ke dalam mobil.


"Kakiku kebas. Sulit digerakkan." Kiara meringis sambil mengusap-usap paha bekas Derri merebahkan kepalanya.


Tidak menunggu lama Derri langsung membopong Kiara dan menggendongnya ala bridal ke dalam rumah.


"Kenapa tidak bilang dari tadi," gumam Derri sambil terus melangkah. Sedangkan Kiara segera mengalungkan kedua tangnnya ke leher laki-laki yang tengah menggendongnya itu.


"Sini, sini. Kamarnya disini." Mike membukakakan pintu kamar.


Derri segera menurunkan Kiara dan mendudukkannya di bibir tempat tidur.


"Kalau sudah enakan, segera ke ruang tengah, ya. Eyang Kung dan Eyang Uti menunggu kalian disana." Mike mengusap pipi gadis kesayangannya itu penuh kasih kemudian beralih tersenyum pada Derri.


"Siap, Ma!" Derri mengangkat tangan kanannya dalam posisi hormat.


"Kamar Derri ada di sebelah. Barang-barangnya sudah disana semua," ucap Mike.


"Loh, aku tidak tidur sekamar dengan Kiki saja, Ma?"


"Kiki?" ulang Mike sambil mendelikkan mata. "Kau bahkan sudah punya panggilan sayang untuk Kiara?" tanya Mike sambil mengerling pada anak gadisnya. "Mama jadi penasaran, apa yang terjadi selama kalian di Jogja?"


"Tentu saja kami bercinta sepanjang hari, Ma. Apa lagi?" sahut Derri sambil mendekat hendak mencium pipi Kiara yang dihadiahi dengan pelototan garang.


Mike tersenyum geli melihat tingkah konyol calon menantunya itu, kemudian bergegas ke luar dari kamar.


"Aku boleh tidur disini saja kan, Ma?" tanya Derri sambil berteriak.


"Klothak!" Sebuah selop dengan tumit tebal bersarang di kepala Derri.


"Mama, kenapa senang sekali menganiaya kepalaku?!" seru Derri sambil mengusap-usap kepalanya.


"Agar otak Om itu kembali ke posisi semula." Kiara menyahut. "Supaya mesumnya hilang."


"Hah, kalian ibu dan anak sama saja," keluh Derri sambil merebahkan punggung di sebelah Kiara yang masih duduk di tepi tempat tidur.


"Apa kakimu sudah baikan?" tanya Derri dalam posisi terlentang.


"Belum. Masih kebas dan kesemutan."


Derri segera bangkit, mengangkat kaki Kiara dan memposisikannya agar terselonjor lurus di atas kasur. Perlahan dipijitnya paha Kiara yang berbalut celana jeans belel itu.


"Hei, tidak usah melotot seperti itu. Aku tidak akan macam-macam padamu. Hanya membantu agar kebasnya segera hilang," ucap Derri sambil terus memijat perlahan hingga ujung jari kaki.


"Aduh, kakiku memang mati rasa," gumam Kiara dalam hati. "Tapi Om tahu tidak, jantungku rasanya sudah empot-empotan," lanjutnya masih di dalam hati.


"Hei, kenapa kau terus melotot?" Derri menatap heran pada Kiara. "Atau kau ingin aku melakukan lebih dari sekedar pijatan? Aha, atau kup*rk*s* kau sekarang saja, bagaimana? Dalam keadaan seperti ini mustahil bagimu untuk bisa lari dariku," lanjut Derri dengan seringaian nakal.


"Heh, enak saja! Jangan kurang ajar, ya!" bentak Kiara sambil menurunkan kedua Kakinya ke lantai dan bersiap membuat perhitungan denga Derri.


Derri tertawa geli melihat tingkah Kiara. Setelah selesai dengan tawanya, Derri melangkah pelan mendekat ke arah Kiara. Diraihnya kedua tangan gadis itu, kemudian dibimbingnya untuk kembali duduk tenang di tepi tempat tidur. Ditatapnya kedua netra bening gadis itu.


"Bersiaplah, kita akan segera menemui Eyang bersama-sama," ucap Derri akhirnya. Dikecupnya kening Kiara dengan lembut, "Aku akan menjemputmu kesini tiga puluh menit lagi." Derri mengusap pipi gadis belasan tahun itu perlahan, kemudian segera keluar menuju kamarnya sendiri.


"Tuhan, apa lagi ini?!" jerit Kiara dalam hati.


___


.


Axel berdiri tenang sambil memegang tiga bilah kunai. Dimainkannya ketiga kunai itu dengan jari-jari di tangan kanan. Beberapa saat kemudian dilemparkannya benda-benda tajam itu ke satu papan sasaran.


"Shoot!" Tepat sasaran. Tiga kunai menancap di dalam lingkaran merah dengan diameter 10 cm.


"Tuan," sapa seorang pria paruh baya dengan setelan jas dark brown yang baru saja memasuki ruang olahraga.


Axel membalikkan badannya, mengambil satu botol air mineral, kemudian segera meminumnya hingga tandas.


"Ada kabar bagus yang bisa kau sampaikan padaku, Devan?" tanya Axel datar.


"Maaf, Tuan," sahut Devan sambil menyodorkan amplop presiden berwarna coklat kepada Axel.


Dengan tatapan dingin tangan Axel terulur meraih apa yang Devan sodorkan. Tanpa membuang-buang waktu segera dibukanya amplop itu.


"Kurang ajar!" umpat Axel sambil membanting isi dari amplop itu ke lantai. Puluhan foto bertebaran di lantai. Mulai dari saat Kiara baru tiba de hotel bersama Deri, jalan-jalan mengelilingi Jogja, hingga foto saat mobil terparkir rapi di halaman rumah Eyang.


Axel berjongkok, memungut satu foto yang berceceran di lantai akibat ulahnya beberapa saat yang lalu. Dipandangnya lekat-lekat foto itu, dimana Kiara tertidur pulas dalam dekapan Derri di atas balkon ditemani taburan bintang dan ombak pantai hingga fajar menyingsing.


"Kiara, kau tidak tahu betapa busuknya Derri," geram Axel sambil meremas kuat selembar foto dalam genggamannya.


BERSAMBUNG ...


___________________________________