I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 11. Kado Untuk Stella



Siang kali ini terasa sangat terik. Matahari benar-benar bersinar lebih jumawa dari biasanya. Namun, sepertinya hal itu tidak menjadi masalah bagi sebagian besar warga kota ini. Mereka tetap beraktivitas dan berbaur dengan hiruk pikuk sepanjang jalan protokol seperti biasanya.


Mobil sport putih melaju dengan kecepatan sedang, kemudian berhenti tepat di belakang garis zebra cross saat lampu lalu lintas menyala merah. Tangan kiri sang pengemudi terulur untuk mengatur temperatur AC hingga suhu di dalam mobil terasa lebih dingin lagi.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya pengemudi pada gadis yang sedari tadi hanya duduk diam di sampingnya.


Ia memang baru menyadarai bahwa semenjak mobil bertolak gadis itu hanya duduk bergeming. Gadis yang biasanya selalu mengomel dan mengajak perang emosi, kali ini tak sepatah kata pun keluar dari bibir mungilnya.


"Axel tidak bisa mengantarku pulang, tapi sekarang aku malah diantar oleh laki-laki lain." Kiara bergumam.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya satu kalimat meluncur dari bibir mungil gadis itu bertepatan dengan rambu lalu lintas yang menunjukkan lampu hijau menyala. Gadis itu berucap pelan dengan pandangan lurus menatap hiruk-pikuk jalanan di sisi kirinya. Sementara Derri, sang pengemudi, berganti diam tak berminat untuk menjawab.


Sesaat kemudian Kiara menoleh ke arah Derri, memandang laki-laki yang tengah fokus dengan roda setir di kedua tangan itu dengan tatapan bingung.


"Apa aku salah?" tanya Kiara dengan suara pelan.


Derri menoleh ke arah asal suara, sorot netra hitamnya mengisyaratkan bahwa ia tak mengerti dengan pertanyaan gadis SMA yang juga telah ditentukan sebagai calon istrinya itu.


"Apa ini bisa disebut selingkuh?" Kiara kembali bertanya.


Mulut Derri terbuka, hendak menjawab pertanyaan absurd gadis berambut sepunggung itu. Namun, mulutnya kembali terkatup begitu menyadari bahwa gadis itu memang sedang dalam mode benar-benar polos.


"Jawablah." Gadis itu kembali bersuara.


Derri tersenyum sebelum akhirnya berucap.


"Memangnya dia itu siapamu?" Derri justru bertanya, bukan menjawab.


"Kekasihku," jawab Kiara lugas.


"Lalu aku ini siapamu?" Derri kembali bertanya dengan kedua tangan tetap berada pada roda setir.


"Calon suamiku," jawab Kiara polos.


"Apa kau pernah mendengar ada gadis yang berselingkuh dengan calon suaminya?" tanya Derri sembari memutar roda kemudi hingga mobil berbelok ke arah kiri.


Seketika Kiara mamandang tol*l ke arah laki-laki bermata sipit itu.


"Tidak pernah."


"Artinya?"


"Hubunganku dengan Axel adalah suatu kesalahan," jawab Kiara dengan gumaman.


"Kau sendiri yang mengatakannya. Bukan aku."


"Tapi aku sudah menjalin hubungan dengannya jauh sebelum kenal dengan Om." Kiara kembali tampak gelisah.


"Aku tahu."


"Om sendiri bagaimana?"


"Bagaimana apanya?" sahut Derri sembari menginjak pedal rem perlahan hingga mobil berhenti karena kembali bertemu dengan lampu lalu lintas menyala merah.


"Kita adalah calon suami istri. Tapi Om sendiri tahu bahwa aku memiliki kekasih. Apa Om tidak apa-apa?" tanya Kiara sedikit ragu. Sebenarnya dia memang sudah lama ingin menanyakan hal ini. Namun, ia takut akan membuat putra dari kolega ayahnya itu tersinggung.


"Tidak masalah," jawab Derri santai, yang pastinya justru membuat Kiara terheran-heran.


"Perlu Om ketahui bahwa aku sangat mencintainya. Kami saling mencintai. Jadi aku tidak akan mungkin melepaskannya dan menyiksa diriku sendiri dengan kehilangan dia," ucap Kiara dengan wajah serius.


"Lakukan saja sesukamu," sahut Derri sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda gadis berseragam putih abu-abu itu. "Itu bukan masalah bagiku."


Kiara diam, tak menyangka laki-laki tampan di sisinya itu bisa bersikap setenang dan sesantai ini. Padahal pertanyaan yang diajukannya tadi telah mengganggu tidur malamnya belakangan ini.


Derri beringsut dari duduknya, kemudian berbalik melongok ke jok penumpang di belakang dengan tangan kanan terulur. Hanya dalam hitungan detik, rangkaian bunga tulip telah berada dalam genggaman tangannya.


"Ini." Derri menyodorkan rangkaian bunga tulip itu pada Kiara. "Sudah, jangan bersusah hati lagi."


"Untukku?" tanya Kiara bingung.


"Siapa lagi? Memangnya ada orang lain selain kita di sini?"


"Oh ... ok ... iya. Terimakasih." Kiara berucap gugup.


Derri hanya tersenyum menanggapi suara gugup gadis di sebelahnya, kemudian kedua kaki dan tangannya kembali bergerak karena lampu lalu lintas telah berganti hijau. Ia kembali fokus dengan kondisi jalan protokol yang masih luar biasa ramai karena memang bertepatan dengan jam-jam pulang sekolah.


Sementara Kiara menggenggam erat rangkaian bunga di kedua tangan. Ia tak habis pikir, bagaimana jalan pikiran laki-laki berkulit bersih di sampingnya itu. Bagaimana mungkin dia bisa merasa baik-baik saja mengetahui calon istrinya bermain perasaan dengan laki-laki lain. Cemburu bukanlah hal mungkin terjadi karena keduanya memang tidak saling mencintai. Tapi rasa direndahkan dan disepelekan seharusnya ada. Dan bunga ini ... apa maksud dari bunga ini?


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Suara Derri berhasil mengejutkan Kiara dari lamunannya. "Hei, jangan bilang kau mulai jatuh cinta padaku hanya karena bunga itu."


"Enak saja! Memangnya aku semurah itu?!" semprot Kiara tak terima.


"Lalu kenapa kau menatapku seperti itu?" kejar Derri. "Aish ...! Atau jangan-jangan kau berharap aku akan jatuh cinta padamu?" tanya Derri langsung yang benar saja. Memangnya secantik apa dirimu? Kau ini bukanlah tipeku."


"Apa Om bilang? Tentu saja aku ini cantik! Semua orang juga mengakuinya."


"Begitukah? Baiklah, apakah kau ini adalah primadona sekolah?" tanya Derri dengan senyum mengejek. "Hah, aku rasa bukan."


Kiara diam tak menjawab, hanya kedua tangan terkepal dan riak wajah menunjukkan ekspresi kesal.


"Apakah banyak teman sekolah yang menyatakan cinta kepadamu?" Derri kembali bertanya. "Kurasa jawabannya pun juga tidak."


Kiara masih diam bergeming dengan kedua tangan terkepal semakin erat, hingga membuat batang bunga tulip dalam genggamannya hampir rusak.


"Bagaimana mungkin ada laki-laki yang menyukaimu, jika selain tidak cantik kau pun juga tak memiliki senyum yang indah. Kau juga galak. Entah hanya padaku saja, atau memang kau selalu seperti itu."


"Sudah cukup!" potong Kiara. "Baiklah, katakan padaku seperti apa tipe Om itu."


"Tentu saja harus cantik dan seksi," jawab Derri sekenanya. Ia memang tak menyangka gadis disebelahnya ini akan menanyakan pertanyaan bodoh itu. "Memangnya apa lagi?" lanjutnya bertepatan dengan adanya ponsel yang terdengar berdering.


"Dasar mata keranjang," gumam Kiara yang tak puas dengan jawaban Derri barusan.


"Kau benar-benar ingin tahu seperti apa wanita tipeku?" tanya Derri setelah memeriksa ponselnya dan nama Stella tertera di sana. "Seperti dia," lanjutnya.


Tangan kiri Derri terulur, meletakkan ponsel kemudian menekan tombol untuk mengaktifkan mode loadspeaker.


"Terimakasih, Derri. Bunganya indah sekali." Tiba-tiba saja terdengar suara gegap gempita dari ujung saluran telepon.


"Jadi kau sudah menerimanya?" tanya Derri dengan senyum lebar.


"Iya, tentu saja. Kau mengirimkannya sebagai kejutan ulang tahunku, bukan?"


"Apa? Ulang tahun?" Derri balik bertanya.


"Iya. Ulang tahunku."


"Mmm ... hehehe ... iya."


Derri menyeringai malu sekaligus merasa bersalah. Sementara Kiara hanya diam mendengarkan.


"Hei, jangan bilang kau lupa kapan ulang tahunku," hardik Stella.


"Lupa? Ah, tidak. Tentu saja tidak."


"Lalu kenapa barusan tadi kau terdengar gugup?"


"Itu karena aku sedang menyetir. Aku harus membagi konsentrasiku pada jalanan, juga padamu."


"Begitukah?"


"Iya."


"Ah, ya sudah kalau begitu. Kau lanjutkan saja menyetirmu. Jangan lupa, kejutan untukku malam ini harus benar-benar istimewa."


"Tentu saja. Jangan khawatir. Kau akan menjadi wanita paling bahagia malam ini."


"Sungguh?"


"Aku janji."


"Aaa ...! Aku sudah tidak sabar lagi," teriak Stella antusias.


"Ya sudah, kau tutup dulu teleponnya agar aku bisa segera menyelesaikan semuanya."


"Ya sudah, sampai jumpa nanti, Derri. Bye."


"Bye."


Panggilan terputus setelah keduanya mengucap mantra perpisahan. Namun, tangan Derri masih bergerak membuat panggilan pada orang kepercayaannya, Andre.


"Apa benar hari ini adalah ulang tahun Stella?" Derri langsung bertanya begitu panggilannya tersambung.


"Sebenarnya itu bukanlah bagian dari tugasku untuk mengetahui, apa lagi mengingat-ingatnya. Tapi jawabnya adalah iya."


"Kenapa kau tidak memberitahuku?" protes Derri kesal.


"Karena kau lebih dekat dengannya dari pada aku," sahut Andre cepat dan lugas. "Jadi kupikir kau sudah tahu."


"Lagi pula bukan aku yang disukainya, tapi kau." Andre kembali menambahkan.


"Ya sudah, kau siapkan semuanya untuk malam ini," perintah Derri.


"Apa?" Terdengar suara Andre yang terkejut.


"Iya, malam ini," jawab Derri singkat.


"Kenapa bukan kau sendiri saja yang melakukannya?"


"Kenapa bukan kau saja yang jadi bosnya?" Derri menyerang balik.


"Hah, sialan!" Terdengar rutukan dari seberang sambungan. Namun, Derri tak menjadikanya masalah. Ia justru segera memutus panggilan itu.


"Kekasih Om?" tanya Kiara setelah panggilan benar-benar terputus.


"Andre?" Derri balik bertanya. "Yang benar saja," lanjutnya dengan ekspresi jijik di wajah tampannya. "Apa kau tak bisa membedakan suara seorang laki-laki dengan perempuan?"


"Maksudku Stella tadi, dasar bod*h," rutuk Kiara dalam hati.


"Apakah kau ada waktu saat ini?" tanya Derri tanpa menghirauakan Kiara yang komat-kamit merutukinya.


"Tidak ada," sahut Kiara cepat.


"Ok, kau harus tetap bersamaku saja kalau begitu," putus Derri.


"Hei, kubilang aku tak punya waktu," protes Kiara tak terima.


"Terimakasih telah meluangkan waktu untukku," sahut Derri dengan senyum manis di bibir. Sementara Kiara hanya mendengus kesal, karena memang tak ada yang bisa dilakukannya selain menurut.


Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti setelah berada pada posisi parkir yang tepat. Derri melepas sabuk pengaman dan bersiap turun.


"Kenapa kita turun di sini?" tanya Kiara bingung dengan pandangan menyapu ke seluruh penjuru arah.


"Ayo cepat turun."


Kiara melepas sabuk pengaman dan segera turun.


"Kita akan berbelanja?" Kiara mengikuti langkah kaki Derri yang telah terayun terlebih dahulu.


"Iya," jawab Derri. "Tapi sepertinya hanya aku."


"Jadi aku hanya menemani saja?"


"Bukan menemani, tapi membantuku menemukan sesuatu."


"Hah, Om terlalu bertele-tele. Langsung saja, katakan apa mau Om."


Ayunan kaki Derri terhenti. Tampak Kiara masih tertinggal dua langkah di belakang.


"Aku memintamu untuk memilihkan kado ulang tahun."


"Kado?" ulang Kiara setelah berhasil berdiri tepat di sisi Derri.


"Iya. Untuk Stella."


"Hah, iya. Wanita yang menelepon tadi, bukan?"


"Iya, Kau benar."


"Baiklah, mari kita cari kado yang tepat untuknya, agar aku bisa segera pulang dan tidur dengan nyenyak di rumah."


"Semembosankan itukah bersamaku?" tanya Derri dengan wajah dibuat sepolos mungkin.


"Tidak juga. Tapi memang semenyebalkan itu."


Derri tersenyum mendengar keterusterangan yang keluar dari mulut gadis yang belum genap dua puluh tahun itu.


"Ayo," ucap Derri kemudian kembali berjalan dan diikuti langkah Kiara.


"Dia wanita yang bagaimana?"


"Dia cantik," sahut Derri. "Ramah, hangat, penyayang, dan apa adanya."


"Lalu?"


"Dia wanita yang menyenangkan, pengertian, dan selalu ada kapanpun aku butuhkan."


"Hmmm ...."


"Dia sosok wanita tangguh yang jauh dari kata cengeng. Apapun permasalahannya, selalu ia hadapi dengan kepala dingin. Dia selalu mampu bertahan."


"Kado apa yang biasanya Om berikan kepadanya?"


"Tahun kemarin aku membelikannya sebuah gelang kaki dengan liontin kecil si salah satu sisinya. Aku membelikannya karena aku tahu dia sangat menginginkannya."


"Lalu?"


"Tahun sebelumnya kuberikan paket liburan di Singapura selama satu minggu"


"Lalu tahun sebelumnya lagi?"


"Tahun sebelumnya lagi ... kami belum saling kenal."


"Eh, tunggu, Om. Berhenti dulu, Om." Tiba-tiba saja Kiara berbelok, masuk ke dalam salah satu toko perhiasan.


Derri mengekor di belakang Kiara sembari menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Tampak ribuan jenis dan model perhiasan terpajang dengan rapi di sana.


"Bagaimana kalau kalung saja?" usul Kiara sambil terus berjalan menikmati deretan display untaian kalung yang tertata rapi.


"Kalung?" tanya Derri sekenanya. Tampak seperti kurang tertarik.


"Iya, kalung."


"Bukankah memberi kalung itu identik dengan sebuah komitmen?"


Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Derri, tanpa sadar Kiara menghentikan langkahnya kemudian terdiam beberapa detik.


"Kenapa dia bilang begitu? Seolah dia tak berminat untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Padahal mereka adalah pasangan ... Memangnya apa yang sebenarnya terjadi," gumam Kiara dalam hati.


"Kata siapa?" tanya Kiara setelah terdiam beberapa detik. "Kemarilah, Om."


Kiara menarik pergelangan tangan kanan Derri menuju display kalung. Kedua mata Kiara bergerak-gerak memandang puluhan model kalung di hadapannya. Tak ada satupun yang tampak buruk.


"Kak, lihat yang ini dong," ucap Kiara pada wanita cantik di hadapannya.


Wanita itupun mengambil seuntai kalung yang dimaksud oleh Kiara.


"Wah ... indahnya." Kiara bergumam dengan wajah terpesona. "Lihat, Om. Lihat ini. Bagus, bukan?" Kiara menyodorkan seuntai kalung dengan liontin bunga matahari.


"Iya, bagus. Tapi ...."


"Bunga matahari. Om tahu apa makna bunga matahari?"


Derri mengedikkan bahunya, pertanda sebagai jawaban tidak untuk pertanyaan Kiara yang barusaja terlontar.


"Bunga matahari melambangkan kesetiaan yang luar biasa. Bagai bunga itu sendiri yang dengan setianya selalu mendongak ke arah dimana matahari berada."


Derri manggut-manggut mendengar penjelasan Kiara.


"Warna kuning kelopaknya identik dengan kehangatan dan kebahagiaan." Kiara menambahkan


"Benarkah?" tanya Derri mulai tertarik.


"Tentu saja," jawab Kiara cepat. "Apa pun hubungan yang kalian jalin, aku yakin dia sangat menyukai kado dari Om ini nanti."


"Ok, baiklah. Aku setuju denganmu," putus Derri.


"Satu masalah terselesaikan," seru Kiara. "Sekarang kita bereskan masalah berikutnya."


"Masalah? Apa itu?" tanya Derri bingung.


"Aku lapar," sahut Kiara kencang.


Derri menatap terkejut ke arah Kiara. Namun, sedetik kemudian ia menggeleng sambil tersenyum geli ke arah gadis remaja itu.


"Baiklah, mari kita makan."


Lima menit kemudian mobil Derri telah berjajar dengan rapi di sebuah area parkir.


"Loh ... kenapa kita ke sini, Om? Ini kan hotel ...," gumam Kiara dengan wajah pias.


BERSAMBUNG ...