I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 17. Aku Telah Jatuh Cinta



"Tok ... tok ... tok." Terdengar suara ketukan pada pintu salah satu kamar.


"Kiki," panggil Derri dari depan pintu kamar Kiara. "Kiki ...."


Semenjak memberi nama panggilan spesial, Derri memang terdengar sangat sering memanggil nama gadis belia itu di setiap kesempatan. Sengaja memang, karena Derri sangat senang melihat wajah cemberut itu kala nama pemberiannya disebut. Tapi sepertinya sekarang tidak lagi, wajah gadis itu justru menjadi bersemu merah setiap Derri memanggilnya. Sakitkah dia? Entahlah, mungkin perasaan Derri saja.


"Apakah kau sudah siap?" Derri membuka pintu kamar Kiara. Dilihatnya Kiara tengah berkutat dengan lipstik di depan meja rias.


"Selesai." Akhirnya Kiara berujar sambil membalikkan badannya menghadap Derri. "Bagaimana menurut Om?"


Seketika Derri diam terpaku mengagumi penampilan sempurna Kiara. Dress putih selutut tanpa lengan berbahan sifon dengan detil renda pada pinggang dan ujung potongan yang mengelilingi lutut melekat sempurna di tubuh langsing gadis bermata sipit itu. Dua buah tali yang teruntai di sisi kiri dan kanan pinggang tampak terjalin di bagian belakang hingga membentuk simpul pita yang indah.


Baju yang sengaja Derri pilih sendiri untuk gadis belia yang kini tampak begitu menawan di hadapannya itu. Bukti bahwa Derri tak pernah kehilangan kemampuannya dalam membaca model fashion yang tepat bagi wanitanya, termasuk untuk gadis belia sekalipun.


Kiara sengaja memilih riasan wajah yang tidak terlalu tebal dengan lipstik merah nude. Rambut sepunggungnya itu dibiarkan tergerai, membingkai wajah cantik yang tampak segar cerah berseri.


"Hei, kenapa malah bengong?" seruan Kiara mengembalikan kesadaran Derri.


Tangan Derri tergerak, mengusap wajahnya sendiri perlahan.


"Bagaimana menurut Om?"


"Mmm ... lipstiknya," sahut Derri sambil menyentuh bibirnya sendiri dengan telunjuk kiri.


Tanpa sadar Kiara pun melakukan hal yang sama. "Apa?" tanyanya tanpa suara dengan wajah bingung.


Derri melangkahkan kakinya perlahan menghampiri Kiara. Diulurkan tangan kirinya.


"Ada sedikit kurang rapi di bagian ini." Derri mengusap bibir bawah Kiara yang berwarna merah nude dengan telunjuk kirinya.


Benarkah yang dikatakan Derri? Ohoho ...! Jangan tertipu, itu hanya akal bulus si om-om genit saja supaya bisa menyentuh bibir indah Kiara.


Hati Kiara menghangat mendapat perlakuan yang tidak terpikirkan sama sekali olehnya. Bahkan kini Kiara diam mematung ditempatnya, menikmati degupan jantung dan gelenyar aneh yang menjalari hatinya saat Derri beringsut semakin mendekat, mengikis jarak di antara keduanya.


Wajah Kiara sedikit terdongak menatap kedua netra hitam laki-laki di hadapannya itu. Sementara kepala Derri sedikit menunduk menyesuaikan tinggi badan Kiara. Wajah Derri semakin mendekat, bibir keduanya pun hampir bertemu.


Namun, tiba-tiba, "Sudah," ucap Derri sambil menarik kembali tangan dan kepalanya perlahan. Menyisakan debaran dan kecanggungan di antara keduanya.


"Ayo." Derri kembali bersuara, kemudian menggamit tangan kiri Kiara yang masih terbengong oleh perlakuannya beberapa saat yang lalu. Tanpa membuang waktu Derri segera menariknya keluar kamar.


Kiara melangkahkan kaki beriringan dengan tangan masih dalam genggaman hangat laki-laki yang telah membuat jantungnya berdebar kencang tiap kali berdekatan dengannya itu.


"Akhirnya Eyang bisa bertemu dengan cucu tersayang lagi," seru Eyang Kakung begitu melihat Kiara masuk ke dalam ruang keluarga. "Kemarilah, Nak," lanjut Eyang Kakung sambil bergeser mengosongkan tempat duduk di sebelahnya.


Derri melepas genggaman tangannya. Kiara pun mendekat, kemudian mencium punggung tangan laki-laki tua itu sambil melemparkan senyuman hangat. Tanpa aba-aba segera dipeluknya tubuh laki-laki yang telah banyak beruban itu dengan penuh kerinduan.


"Apakah Eyang Kung merindukan Kiara?" tanya Kiara manja di sela pelukannya.


"Tentu saja," jawab Eyang Kakung cepat sambil balas memeluk cucu kesayangannya itu semakin erat. "Dasar cucu kurang ajar, kau biarkan Eyangmu ini menanggung rindu sendiri disini," sungut Eyang Kakung pura-pura marah.


"Bukan sendiri. Tapi Eyang Uti juga kangen, Nduk." Eyang Putri meralat ucapan suaminya sambil berjalan mendekat kemudian duduk di samping Kiara.


Kiara segera berganti memeluk Eyang Putri setelah mencium punggung tangan beliau.


"Dasar anak nakal, apa saja yang kau lakukan di sana, hingga melupakan kami yang sudah tua ini?" hardik Eyang Putri lembut. "Kau terlalu banyak bersenang-senang?"


"Maaf, Uti. Bukan maksud Kiara seperti itu. Kemarin Kiara sibuk belajar untuk menghadapi ujian akhir sekolah."


"Hallah, kau ini banyak alasan," tukas Eyang Putri sambil mencubit gemas kedua pipi Kiara. "Bilang saja kau sibuk pacaran," tambah Eyang Putri sambil melirik ke arah Derri yang berdiri diam dengan senyum hangat menghias bibir sembari menikmati adegan live di hadapannya.


"Tidak," tukas Kiara cepat.


"Masih saja menyangkal? Lantas siapa laki-laki di belakangmu ini? Heh?" Eyang Putri menunjuk ke arah Derri.


"Dia ...." Kiara gelagapan mendengar pertanyaan Eyang Putri.


Mendadak wajah Kiara bersemu merah. Ia hanya diam, tidak tahu bagaimana lagi harus menyangkal tuduhan kedua eyang tersayangnya itu.


"Jadi ini si jagoan kecil Eyang itu?" Tiba-tiba Eyang Kakung berseru dengan pandangan terarah pada Derri. "Sudah besar ya sekarang," lanjutnya.


"Selamat siang Eyang, salam kenal," sapa Derri sambil menjabat dan mencium punggung tangan Eyang Kakung dan Putri bergantian.


"Salam kenal? Tentu saja aku mengenalmu. Dulu saat masih di Bekasi, hampir setiap hari Riana dan Tiara mengajak Eyang ke rumahmu," papar Eyang Kakung.


"Riana dan Tiara menangis bila keinginannya untuk bermain denganmu tidak terpenuhi," sahut Eyang Putri. "Hah, entah pesona apa yang kau miliki."


Derri hanya menanggapi semua itu dengan senyuman hangat. Tak sedikit pun kenangan tentang hal yang diceritakan pasangan suami istri itu berbekas di dalam ingatannya. Bagaimana mungkin bisa ingat, itu kan kejadian saat dirinya masih balita.


"Dulu kami sampai berpikir jika suatu hari nanti salah satu dari mereka akan berjodoh denganmu. Itu bukan masalah, meskipun mereka beberapa tahun lebih tua darimu," papar Eyang Putri lagi. "Tak kusangka, ternyata kau malah berjodoh dengan cucu kesayangan Eyang Uti yang satu ini," lanjut Eyang Putri sambil mencium gemas kedua pipi Kiara.


"Apa kau yakin, mau dengan cucu Eyang yang satu ini?" tanya Eyang Kakung kemudian.


"Memangnya kenapa, Eyang?" tanya Derri dengan wajah dibuat sepenasaran mungkin, walaupun ia tahu jawaban Eyang Kakung pasti sedikit konyol.


"Kau tahu sendiri bukan, selain galak dia juga manjanya luar biasa," sahut Eyang Kakung.


"Manjanya 'ndak ketulungan." Eyang Putri ikut menambahi. "Keras kepala juga. Ngeyelnya minta ampun."


"Habisnya mau bagaimana lagi, Eyang? Bukankah cucu Eyang hanya tinggal dia saja yang belum bersuami?" timpal Derri dengan wajah dibuat sepolos mungkin.


"Hei, jadi maksudnya Om mau menjadi suamiku karena terpaksa?" seru Kiara sambil beridiri berkacak pinggang.


"Tuh kan, apa Eyang bilang," ucap Eyang Kakung yang kemudian disambut dengan tawa renyah dari semua orang di ruangan itu, kecuali Kiara.


"Jadi menurutmu aku tak boleh merasa terpaksa menikah denganmu?" Tanya Derri dengan seringai menggoda calon istri belianya.


"Aku lapar." Kiara berseru sambil cepat-cepat melangkah pergi ke ruang makan untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya yang terasa semakin menghangat.


Sekali lagi mereka pun tertawa bersama melihat tingkah konyol Kiara, kemudian segera menyusul gadis belia itu untuk makan siang bersama.


___


.


"Kenapa Mama pulang bersama kami? Kupikir Mama akan berada di Magelang untuk beberapa hari." Kiara membetulkan posisi duduknya di kursi belakang.


"Kemarin Mama sudah menginap di rumah Eyang selama dua hari. Lagi pula malam ini nanti kan Papa pulang dari luar kota. Sudah satu minggu tidak bertemu, kasihan kalau hari ini nanti masih harus menahan rindu lagi." Mike menjawab sambil tersenyum genit.


Derri hanya diam duduk tenang di kursi depan, di samping Hendri yang tetap fokus mengemudi.


"Demi keamanan?" Akhirnya Derri angkat bicara. "Memangnya ada apa, Ma?" tanya Derri dengan kepala menengok ke belakang karena penasaran.


"Mama tahu, kau pasti berharap Mama pulang sendiri ke Solo, bukan?" Pertanyaan Mike tertuju pada laki-laki yang duduk tepat di depannya.


"Iya sih," jawab Derri sambil nyengir.


"Enak saja. Dasar kau ini calon menantu kurang ajar. Mama menyuruhmu menjemput Kiara di sekolah, langsung susul Mama ke Magelang," ucap Mama dengan kedua alis hampir terpaut. "Sejak kapan perjalanan Solo-Magelang harus transit dulu dua hari di Jogja?"


"Hehehe ...." Derri hanya bisa nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kau juga sama saja, Kiara," hardik Mike pada putrinya.


"Loh, kenapa Mama jadi menyalahkan aku?" protes Kiqra tak terima.


"Mau saja kau diajak liburan di Jogja, padahal Mama sudah menunggumu di rumah Eyang."


"Mana kutahu, Mama. Om Derri tidak mengatakan apa-apa padaku. Kupikir ini semua adalah bagian dari rencana Mama."


Satu detik kemudian, mereka berdua pun serempak menatap ke arah Derri dengan sorot mata tajam. Sedangkan yang ditatap lebih memilih diam dan memejamkan mata, pura-pura tidur. Demi keamanan, menghindari amukan dua macan betina.


___


.


"Lantas kamu sendiri bagaimana?" Suzi bertanya sambil terus memakan kentang goreng di lantai kamar Kiara.


"Sepertinya aku sudah jatuh cinta deh, Zi," sahut Kiara sambil merebahkan tubuhnya di lantai kamar.


"Itu bukan kabar yang seru. Dari dulu kan kamu memang cinta pada Axel." Sheila menyahut sambil mulai mengoleskan masker bengkuang ke seluruh wajah Kiara.


"Bukan pada Axel," tukas Kiara.


"Lalu?" tanya trio kwek-kwek bersamaan.


Kiara memejamkan kedua matanya, "Om Derri," jawabnya lirih.


"What?!" seru ketiga sahabatnya kembali bersamaan.


"Bagaimana bisa?" tanya Sesil.


"Bagaimana dengan Axel?" tanya Sheila.


"Kalian sudah gituan ya?" tanya Suzi *****.


"Enak saja!" Kiara melotot ke arah Suzi. "Sembarangan kalau ngomong!"


"Ya kali saja, iya." Suzi menjawab sambil kembali mencomot kentang goreng.


"Padahal dulu kamu keukeuh jumeukeuh tidak akan sudi menjalin hubungan dengan Om Derri," timpal Sheila.


"Apa kubilang, Ra. Cinta dan benci itu batasnya sangat tipis." Sesil turut berkomentar.


"Hah, kalian ini bisanya hanya berkomentar. Terus aku harus bagaimana ini?" Kiara mulai cemberut kesal.


"Bagaimana apanya? Ya diteruskan saja," jawab Suzi enteng. "Om Derri orangnya juga baik kok. Mapan, bertanggung jawab, sabar menghadapi kamu yang keseringan jutek itu," lanjut Suzi lagi. Dan yang paling penting dia ganteng." Suzi tersenyum menerawang. "Kurang apa coba?"


Kiara terdiam melirik ke arah Sesil. Biasanya gadis berambut sebahu inilah yang bisa memberikan saran paling masuk akal dibanding temannya yang lain.


"Mau bagaimana lagi," ucap Sesil sambil mengedikkan bahu. "Percuma juga kami sarankan untuk bertahan dengan Axel. Kalau hatimu memang sudah berpaling," Sesil merebahkan badan di samping Kiara. "Hubungan yang dipaksakan itu tidak akan baik, akan ada pihak yang merasa tersakiti," lanjut Sesil.


"Dan rasanya betul-betul sakit," sahut Sheila. "Kau akan merasa sakit karena terpaksa harus berpura-pura masih mencintai Axel. Sedangkan Axel akan jauh merasa lebih sakit setelah tahu semua kebenarannya."


"Lalu aku harus bagaimana?" bisik Kiara lirih sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Katakan sejujurnya pada Axel. Sebelum dia tahu dari orang lain atau justru menyaksikan semua kebenaran dengan mata kepalanya sendiri." Sesil kembali menyahut.


"Tapai gaes, aku tidak tega menyakiti Axel. Selama ini dia begitu baik padaku. Dia telah memperlakukan aku bagai ratu di hatinya," tampak butir bening di sudut mata Kiara. "Kenapa dia harus kusakiti? Aku yang telah berbuat salah. Aku selingkuh."


"Bukan selingkuh, dodol," tukas Suzi gemas. "Itu namanya menentukan pilihan. Ayolah, jangan berlebihan. Kalau kamu menjalin hubungan dengan Om Derri di belakang Axel, barulah itu namanya selingkuh. Makanya kamu harus segera mengatakan yang sejujurnya pada Axel," lanjutnya.


Kiara terdiam, tidak lagi menanggapi ucapan teman-temannya. Sementara para gadis juga turut diam, memberikan waktu kepada Kiara dengan pikirannya sendiri.


"Jadi ini semua pemberian dari Om Derri?" tanya Sheila setelah beberapa menit mereka berada dalam keheningan.


"Iya, waktu di Jogja kemarin Om Derri membelikanku beberapa potong baju," sahut Kiara tanpa menoleh.


Suzi turut bergabung dengan Sheila, "Wah, bagus-bagus, Ra," seru Suzi sambil membongkar isi dalam seluruh paperbag di atas kasur satu per satu. "Aku ambil dua ya, Ra."


"Enak saja! Tidak boleh," sahut Kiara cepat.


"Tumben, biasanya iya aja jawabnya," goda Sheila sambil melirik Suzi.


"Satu deh, satu." Suzi masih mencoba peruntungan.


"Tetap tidak boleh!" Kiara menjawab tegas.


"Biasanya juga boleh," rayu Suzi.


"Biasanya kan bukan dari Om Derri," sahut Sheila sambil tertawa usil menggoda Kiara.


"Chie ... chie ... yang lagi jatuh cinta nih." Suzi ikut menggoda.


"Posesif bener," Sheila menambahi.


"Jatuh cinta sama om-om," goda Suzi lagi yang dihadiahi hujaman bantal oleh Kiara.


Tak sampai di situ, Kiara pun kembali meraih bantal dan melemparkannya pada yang lainnya. Mereka berempat pun seru-seruan saling pukul dengan bantal satu sama lain hingga sepuasnya.


"Ssst ...!" bisik Sheila setelah mereka diam bermenit-menit karena kelelahan akibat berpesta bantal. "Pertanyaannya sekarang, apa Om Derri juga cinta sama kamu?" tanya Sesil sambil bangkit, duduk di samping Kiara yang masih sibuk mengatur nafas.


Kiara mengernyit sesaat tampak sedang berpikir, kemudian menatap ketiga temannya dengan wajah polos, "Aku tidak tahu."


Gubrak! Sesil mendadak pingsan, Sheila menggelinding ke kolong tempat tidur, Suzy koprol di langit-langit kamar ala spiderman.


BERSAMBUNG ...


___________________________