
Jam delapan tepat, Derri melangkah masuk ke dalam sebuah rumah bernuansa modern dengan siulan pelan. Seperti biasa, ia langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Kedua mata sipitnya menangkap keberadaan Iyem yang tengah asyik mengepel lantai sambil megal-megol mengikuti irama musik yang diputar dengan volume lumayan kencang.
"Karena ku selow, sungguh selow, sangat selow, tetap selow. Santai, santai, Tuhan pasti kan memberikan gacoan ...." Suara sember Iyem merajai hingga ke seluruh sudut ruangan.
"Pagi, Mbak Iyem," sapa Derri sambil lalu.
"Eh, pagi juga, Mas ganteng," sahut Iyem sambil mengelus dada karena kaget. "Tumben pagi-pagi sudah kesini, Mas?"
"Iya, mau mengajak Kiki jalan-jalan di Car Free Day." Derri melemparkan senyum ramah pada asisten rumah tangga kesayangan keluarga Syarif itu, kemudian melanjutkan langkah menuju tangga.
Iyem hanya diam memperhatikan penampilan calon suami majikannya itu dari belakang. Jamper hoodie, celana selutut dan sepatu sport dengan warna serba putih. Memang terlihat pas sekali dengan kulit bersih dan badannya yang tegap itu.
"Cewek cantik mah sah-sah aja ya dapet cowok ganteng kayak gitu," gumam Iyem dalam hati, kemudian segera dilanjutkan tugas dinasnya hari ini sambil kembali berdendang.
"Aku mah apa atuh, cuma selingkuhan kamu. Aku mah apa atuh, cuma pacar gelapmu ...."
Derri menghentikan langkah tepat di ujung anak tangga paling bawah. Ditolehnya si Iyem yang sudah kembali megal-megol asoi.
"Sudah pada bangun semua, Mbak Iyem?" tanya Derri kemudian.
"Bapak sama Ibu jogging muter komplek, Mas," lapor Iyem singkat. "Kalau Non Kiara masih di kamar," lanjutnya.
"Ooo ... ya sudah, saya ke atas dulu, Mbak Iyem," pamit Derri sambil kembali mengayunkan kaki.
"Eh, jangan, Mas. Jangan," cegah Iyem.
Seketika langkah Derri tertahan mendengar suara Iyem.
"Memangnya kenapa, Mbak Iyem?" tanya Derri bingung.
"Dari jam empat tadi, pas saya bangun, sampai sekarang Non Kiara ketawa-ketawa sendiri, Mas," jawab Iyem yang tengah memegang erat tongkat pel di tangan kanan. "Terus tahu-tahu nangis-nangis sendiri begitu," tambahnya lagi.
"Menangis?" Derri membeo.
"Iya, Mas."
Derri mengernyitkan keningnya sesaat.
"Memangnya ada apa?" tanya Derri bingung.
Iyem mengedikkan bahu tanpa membuka mulut, sebagai pertanda bahwa ia pun tak tahu-menahu dengan apa yang terjadi pada putri majikannya itu.
"Ada apa dengan anak ini?" gumam Derri penasaran. Segera dilangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua.
"Ki," panggilnya pelan begitu tiba di depan pintu kamar Kiara.
Hening, tak ada jawaban. Ditempelkan telinga kirinya pada daun pintu. Sayup-sayup terdengar suara sesenggukan dari dalam kamar. Tanpa menunggu lama Derri langsung membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci itu.
"Ada apa, Ki?" tanya Derri begitu pintu terbuka. Tampak raut khawatir dan cemas tercetak jelas di wajahnya.
Hening, tidak ada sahutan. Diedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Gadis yang tengah dikhawatirkannya itu tampak terduduk layu di sudut tempat tidur.
Bantal, guling dan selimut berantakan. Di sekelilingnya pun bertebaran tisu bekas dipakai.
Derri masih berdiri tegak di ambang pintu. Ditatapanya wajah Kiara lekat-lekat. Tampak sembab, seperti habis menangis. Gadis itu tampak benar-benar kacau dengan mata sayu dan rambut sepunggung yang dijepit asal-asalan ke atas. Namun herannya, gadis berpiyama motif Winnie The Pooh itu tetap saja tampak menarik di mata Derri meskipun sedang berantakan.
Derri melangkahkan kakinya perlahan, menghampiri Kiara yang tetap bergeming.
"Ki, are you okay?" tanya Derri lembut.
Kiara diam tak menjawab. Kedua bibir tipisnya tertekuk ke bawah dengan mata sayu yang menatap lekat layar laptop di atas pangkuan. Kedua kelopak matanya semakin jelas terlihat bengkak dan sembab tanda habis menangis. Bahkan kini kedua mata itu pun tampak berkaca-kaca, siap menumpahkan bulir-bulir kesedihannya kembali.
Derri yang dipenuhi kebingungan dan rasa cemas pun akhirnya memutuskan untuk turut naik ke atas tempat tidur.
"Ki, what happen with you?" tanya Derri lagi setelah berhasil duduk di sebelah Kiara. Sementara gadis itu tetap diam dengan pandangan tidak teralihkan sama sekali.
Tiba-tiba, "Huwaaa ... huwaaa ...!" Kiara menagis sejadi-jadinya.
"Ki, Kiki." Derri mengguncang pelan bahu Kiara. "Hei, ada apa denganmu, sayang?"
Melihat Kiara yang terus saja menangis, Derri menepuk pipi gadis di hadapannya itu pelan-pelan agar segera tersadar dan diam. Dengan satu gerakan, digesernya layar laptop hingga menghadap ke arahnya.
"Film?" gumam Derri. "Apa-apaan ini?" tanyanya kemudian. "Kau menangis hanya karena film?" tanyanya lagi tidak habis pikir.
"Hanya?" Kiara membeo sambil menatap kesal bercampur sedih ke arah kedua mata Derri. "Om bilang hanya?" ulangnya.
"Memangnya aku harus bilang apa?" timpal Derri. "Hah, benar-benar kau ini," ucap Derri tak habis pikir.
"Kim Tan itu anaknya baik, Om. Dia dikucilkan dan dibuang oleh keluarganya. Dia diam saja, dia terima saja," ucap Kiara sambil menangis sesenggukan. "Dia lakukan berbagai cara agar keluarganya, terutama Kim Won, sang kakak tiri bisa menerima keberadaannya. Bahkan dia merelakan hak atas seluruh harta warisan dari orang tuanya untuk Kim Won. Tapi Kim Won tetap saja menolak dan mengabaikan beberadaannya," papar Kiara panjang lebar. "Kasihan kan, Om?" lanjutnya lagi. "Padahal Kim Tan itu ganteng loh."
"Lah, apa hubungannya dengan ganteng coba?" Derri mendengar penuturan Kiara dalam diam menahan kesal.
"Belum lagi Cha En Sang, Om. Dia tulus mencintai Kim Tan. Tapi cinta mereka harus terpisah karena En Sang hanyalah anak seorang pembantu, orang miskin." Kiara kembali mengeluarkan ganjalan dalam hatinya sambil menyeka air mata di kedua pipi. "Kasihan kan, Om?"
"Hah, dasar abege," rutuk Derri tidak lagi bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Apa maksud Om?" tanya Kiara masih sesenggukan.
"Aku pikir kau kenapa-kenapa. Aku pikir ada sesuatu yang terjadi padamu. Kau tahu betapa cemasnya aku? Kau tahu betapa khawatirnya nya aku melihat kesedihan di matamu? Dasar gadis bodoh!" omel Derri yang hanya bisa terucap dalam hati.
"Makanya, Om ... sesekali lihatlah drakor supaya Om tahu dan memiliki rasa empati."
"Drakor?" Derri membeo dengan wajah tak mengerti.
"Drama Korea, Om," sahut Kiara mulai kesal karena laki-laki di hadapannya itu tak paham dengan apa yang dibicarakannya.
"Apanya yang bagus dari film Korea?" tanya Derri. "Lihatlah," perintah Derri sambil menunjuk ke layar laptop. "Semua pemainnya berbadan dan berwajah mulus. Tidak ada satupun yang berkumis, apa lagi berjambang. Tidak keren, tidak maskulin seperti pria pada umumnya," komentarnya. "Aku curiga, jangan-jangan pemainnya memang perempuan semua."
"Benarkah?" tanya Kiara sambil menatap wajah Derri lekat-lekat. Diulurkan tangannya ke arah wajah laki-laki di hadapannya itu. Kemudian di usapnya perlahan bagian pipi hingga dagu.
Begitu jemari Kiara menyentuh kulit, sontak Derri merasa seperti tersengat aliran listrik lembut di sepanjang pipi dan dagunya. Sengatan itu menjalar hingga ke ruang hati dan jantung. Menimbulkan gelenyar-gelenyar aneh dan degupan yang semakin tak terkendali.
"Om juga ... dagunya mulus juga. Tidak ada jambang dan kumis. Jangan-jangan Om ini perempuan juga ya?" tanya Kiara polos.
Gelenyar dan degupan itu pun sirna seketika demi mendengar pertanyaan Kiara, berganti dengan rasa kesal dan keki yang semakin menjadi.
"Hah, kau sungguh sangat menyebalkan!" rutuk Derri. "Kau tahu? Bahkan aku pun sempat merasa bersalah karena berpikir kau terpaksa harus mengikuti dan menyesuaikan dirimu dengan usiaku," tutur Derri serius. "Ternyata kau masih sama juga seperti abege pada umumnya," lanjutnya sembari turun dari tempat tidur.
"Maksud Om?" Kiara mengerjabkan matanya bingung.
Derri meremas rambut hitamnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar Kiara. Puluhan boneka Doraemon, Hello Kitty, Bugs Bunny, Elmo, Teddy Bear, Winnie The Pooh, Tazmania Devil, Tweety, hingga Frozen menghiasi kamar itu. Puluhan sepatu berbagai model tertata rapi di dalam lemari kaca. Puluhan tas bermacam model dan warna pun juga tersusun rapi di lemari kaca yang berbeda. Belum lagi pernak-pernik, asesoris dan detil-detil lainnya.
"Kenapa Om malah bicara seperti itu? Bukankah tadi kita sedang membahas Kim Tan dan Cha En Sang?"
"Percayalah, si anak tiri dan si gadis miskin itu nanti akan berakhir dengan hidup bahagia berdua," tutur Derri yang sedang berusahan menekan rasa kesalnya.
"Begitukah?" Kening Kiara berkerut tak percaya.
"Bukankah cerita dongeng memang selalu begitu?" Derri balik bertanya.
"Apa?" tanya Kiara tak mengertu.
"Cinderella, Beauty And The Beast, Odet, dan masih banyak lagi. Mereka memiliki akhir cerita yang sama."
"Huh, aku lapar," keluh Kiara pelan, melenceng dari topik pembicaraan.
"Lapar? Memangnya sudah tidak sedih lagi?" tanya Derri tak habis pikir.
"Sedih? Yang benar saja, Om. Itu kan hanya film. Kenapa harus baper?" ucap Kiara sambil mematikan laptop kesayangannya.
"Baper?" Derri bertanya dengan wajah bingungnya.
"Bawa perasaan, Om ... bawa perasaan." Kiara menjelaskan dengan intonasi kesal karena laki-laki di hadapannya itu benar-benar tak tahu apa-apa.
"Apa dia bilang? Kenapa harus baper dia bilang? Lalu yang tadi menikmati drama sambil menangis-nangis mengharu biru itu siapa? Dasar gadis tak tahu diri!" rutuk Derri dalam hati
Kalian tahu apa yang Derri rasakan setelah mendengar ucapan Kiara itu? Laki-laki itu keki berat. Ingin rasanya gantung diri di pohon toge yang dirawat dengan baik oleh Iyem di belakng rumah. Namun, tidak mungkin, bukan?
Lebih baik mencium Kiki dari pada bunuh diri, begitulah kira-kira prinsip Derri sekarang. Akhirnya dia hanya bisa menahan dongkol sambil garuk-garuk guling dan ngemut jempol kakinya sendiri. Ok skip, yang ini terlalu berlebihan deh kayaknya.
"Nanti sore kita nonton ya, Om," ucap Kiara tiba-tiba.
Gadis belasan tahun itu pun beringsut, lalu berusaha meraih salah satu dari beberapa toples yang tersusun rapi di atas nakas.
"Ada beberapa film bagus yang sedang diputar." Kiara kembali bersuara sembari membuka toples berisi biskuit cokelat, lalu memakannya.
"Tuh kan, benar," sahut Derri. "Kemarin jalan-jalan ke mall ala abege. Sekarang nonton bioskop, hangout ala abege," sungutnya pelan. "Yang pastinya filmnya pun juga film-film ala abege," keluh Derri.
"Om suka film apa? Biar aku pesankan tiketnya," tanya Kiara di sela kunyahannya. Gadis bermata sipit itu tidak menggubris sama sekali keluhan laki-laki yang kini tengah duduk bersila di atas tempat tidur bersamanya itu.
Derri diam tak menjawab. Hanya menatap kesal bercampur gemas ke arah gadis berambut acak-acakan itu.
"Baiklah, katakan Om suka genre film apa?" Kiara kembali bertanya.
"Terserah kau saja, asal jangan film kartun," jawab Derri sambil beranjak dari tempat tidur.
"Jangan begitu," tukas Kiara setelah menggigit satu kepingan biskuit. "Om harus menyebutkan genre film yang Om suka, biar aku bisa menentukan film yang akan kita tonton nanti."
"Pilih saja film dewasa yang ada adegan panasnya," usul Derri. "Pilih kursi dipojokan, supaya aku bisa lebih leluasa melakukannya," lanjutnya.
"Dasar mesum!" teriak Kiara dengan suara naik lima oktaf sambil melempar boneka Olaf yang disambut dengan tawa puas oleh Derri.
"Cepatlah kau bersiap-siap. Kita segera pergi ke Car Free Day," perintah Derri di tengah-tengah tawa usilnya. Dengan langkah lebar ia pun segera turun mencari Iyem dan menyuruhnya merapikan kamar Kiara.
***
"Ternyata lelah juga ya berjalan sepanjang jalur Car Free Day," keluh Kiara setelah menenggak satu botol air mineral dingin. Arah pandangan gadis remaja itu kembali tertuju ke arah luar kafe, memandang orang-orang yang masih berlalu-lalang menikmati udara tanpa polusi pagi ini.
"Baru sekali ini?" tanya Derri sembari meletakkan botol air mineral kosong yang Kiara sodorkan ke atas meja.
"Iya. Biasanya kalau ke Car Free Day dengan teman-teman, kami lebih suka ikut gabung senam bareng, terus lanjut nongkrong sambil makan jajanan. Hehehe ...." Kiara nyengir kuda sambil memegang ayam goreng di tangan kanannya. Tampak konyol, namun entah mengapa justru terlihat menarik di mata Derri.
"Ki, katakan padaku. Apakah kau mencintaiku?" tanya Derri sambil mencomot kentang goreng pesanan Kiara.
"Om ngigo ya?" tanya Kiara di sela kunyahannya.
"Ngigo?" Kening Derri berkerut, tanda ia tak mengerti apa maksud dari ucapan gadis remaja di hadapannya itu.
"Om mengigau?" ralat Kiara. "Pertanyaan macam apa itu," Kiara melanjutkan makannya.
"Aku ini kan calon suamimu, wajar saja jika aku ingin tahu perasaanmu," sahut Derri santai.
"Jangan pernah lupa ya, Om. Kita ini bisa bersama karena dijodohkan. Bukan karena kemauanku sendiri."
"Kau bisa menolak jika keberatan," sanggah Derri dengan intonasi santai.
"Aku menerima perjodohan ini demi orang tuaku, bukan karena Om." Kiara terus makan dengan lahap.
"Begitukah?" tanya Derri dengan ekspresi terkejut.
"Iya jelas. Mana mungkin gadis muda dan cantik sepertiku ini mau dengan Om jika bukan karena terpaksa?" Kiara balas bertanya.
"Jadi kau mau denganku karena terpaksa?" Derri kembali memastikan.
"Iya." Kiara menjawab tegas.
"Terpaksa karena cinta?" goda Derri sambil meraih kaleng soft drink di hadapannya.
"Yang benar saja? Jangan terlalu percaya diri ya," tukas Kiara dengantatapan merendahkan.
"Memangnya kau tidak menyukaiku?" goda Derri lagi.
Tangan Kiara terulur, diraihnya kaleng soft drink milik Derri, lalu meminumnya hingga tandas. Sementara Derri masih saja asyik menikmati tingkah Kiara yang mendadak canggung di hadapannya.
"Aku sudah kenyang, ayo kita pulang." Kiara menunduk, memandang ayam goreng yang masih tersisa setengah di hadapannya, menghindari tatapan bening laki-laki penggoda itu.
"Bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?" tanya Derri yang sungguh di luar perkiraan Kiara.
"Ya itu masalah Om, bukan masalahku." Kiara bangkit dari duduknya, berbalik dan segera melangkah pergi menyembunyikan semburat merah yang mendadak menjalar di kedua pipinya.
"Apa itu artinya kau menolakku?" Teriak Derri.
Pandangan matanya terus berjalan mengikuti punggung Kiara yang semakin jauh menuju pintu keluar.
"Hei, apa kau tidak mau menerima cintaku?" Derri kembali berteriak masih pada posisi duduk santai.Tak dihiraukannya tatapan aneh dari pengunjung lain yang tertuju padanya.
"Persetan dengan cinta palsumu!" umpat Kiara sambil mempercepat langkahnya.
BERSAMBUNG ...