
Derri mematut dirinya di depan cermin walk in closet. Kaos putih lengan pendek dipadu dengan levis halus selutut warna khaki kini membalut sempurna tubuh tegapnya. Sepatu sport warna putih pun juga mempertegas kesan macho pada penampilannya kali ini. Jangan lupakan jam tangan rolex yang melingkar tegas di pergelangan tangan kanannya.
Masih sambil bernyanyi kecil, dirapikan rambut pendeknya itu menggunakan jari tangan dengan sedikit sentuhan wax.
"Kau mau pergi kemana?" Tiba-tiba Andre sudah berdiri di ambang pintu.
"Kencan," jawab Derri masih tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin.
"Kencan?" Andre membeo, kemudian melirik arloji di pergelangan kanannya. "Baru jam sepuluh," lanjutnya. "Tidak biasanya kau berkencan di siang bolong seperti ini."
Derri diam tanpa menjawab. Ditariknya kedua ujung bibir hingga tergambar sebuah senyuman menawan dari pantulan cermin.
"Sempurna," bisiknya puas.
"Kencan ala remaja?" goda Andre kemudian, yang dijawab Derri dengan kerlingan mata genit sambil berjalan melewati Andre, mengambil ponselnya di atas nakas.
"Aku pergi dulu," pamit Derri yang tengah melangkah ke luar dari walk in closet.
"Kudengar kau berjanji akan berkencan dengan Lana hari ini." Andre berseru.
"Jemput aku di mall," sahut Derri.
"Mall?" ulang Andre tak percaya.
Derri kembali melemparkan senyum pada tangan kanan setianya itu. Disambarnya kunci mobil di atas nakas kemudian segera berlalu.
Andre hanya mengulum senyum sambil menggeleng pelan mendapati tingkah konyol saudara angkat sekaligus bosnya yang di luar kebiasaannya tersebut.
___
.
Derri segera turun setelah memarkir mobilnya di halaman yang tampak sejuk dengan berbagai macam tanaman perdu. Dilihatnya sekali lagi pantulan wajahnya pada kaca spion sebelum benar-benar melangkahkan kaki.
Tanpa permisi, salam, apa lagi mengetuk pintu, Derri segera masuk dan melenggang ke belakang, karena tidak ada satu orang pun yang ia jumpai di ruang depan.
Derri sudah paham betul, pagi-pagi begini calon mama mertuanya itu biasa berkutat dengan berbagai macam bahan dan buku resep di dapur. Atau kalau tidak, dia pasti sedang sibuk berkebun di taman belakang.
Benar saja, belum sampai kakinya menginjak dapur aroma lezat sudah tercium hingga ruang tengah, tempat dimana dia berdiri sekarang. Dilepaskan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, kemudian bergegas menghampiri tempat dari mana aroma lezat itu berasal.
"Hmm ... aromanya sungguh lezat sekali. Mama masak apa?" tanya Derri sambil mengecup pipi wanita setengah baya itu dari belakang.
"Hah, kau mengagetkanku saja!" Tampak jelas rasa kesal menghiasi wajah wanita paruh baya itu. Namun, sedetik kemudian berubah menjadi raut secerah wajah para emak-emak reader ketika mendapat diskon 90% dari outlet baju di mall.
"Anak Mama! Kemana saja kau ini, sudah lama tidak berkunjung, hingga Mama menderita karena diterpa rindu membara berkepanjangan."
Derri hanya menanggapi banyolan berlebihan calon mertuanya itu dengan tawa lebar.
"Jangan berlebihan. Baru dua hari yang lalu Mama membuatkan kopi susu untukku," koreksi Derri di ujung tawanya.
"Tapi rasanya seperti setahun," sahut Mike mendramatisir.
"Kiki mana, Ma?" Derri mencomot kue pukis di hadapannya kemudian menghenyakkan pantat di salah satu kursi.
"Kalian mau berkencan ya?" goda Mike yang dijawab Derri dengan senyuman malu-malu.
"Kamu ini, seperti perawan mau dikawinkan saja, pakai malu-malu segala," komentar Mike sambil mengamati Derri dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ada apa, Ma?" tanya Derri risih.
"Ubahlah penampilanmu, jangan seperti ini." Mike turut duduk di hadapan Derri.
"Memangnya kenapa?" tanya Derri sambil mencomot bika ambon yang masih hangat di depannya.
"Jika terlalu banyak wanita yang mengejarmu, lantas bagaimana dengan Kiara?"
"Ah, Mama bisa saja." Derri mengunyah sambil mengulum senyum. Dilanjutkannya aksi cicip-cicip kue ala Mama Mike yang terhidang di depan mata.
"Kiara masih dikamar. Semenjak bangun tidur tadi dia jadi seperti orang kurang waras. Senyum-senyum sendiri, tapi tiba-tiba marah-marah sendiri. Entah ada apa dengannya," papar Mike sambil mulai menyimpan kue-kue kering ke dalam toples. "Hati-hati, kalau bisa jangan dekat-dekat dulu dengannya," bisiknya pelan. "Bahaya," lanjutnya lagi.
"Benarkah?" Derri menanggapi masih dengan senyuman. "Mungkin dia gugup dengan kencan pertama kami," lanjutnya asal. "Aku ke kamar Kiki dulu ya, Ma," pamit Derri, kemudian segera naik ke lantai dua tanpa menunggu jawaban dari Mike.
Derri berdiri tepat di depan pintu kamar berwarna pink. Diketuknya pintu itu pelan.
"Masuk, Ma. Tidak dikunci!" terdengaar suara teriakan dari dalam.
Dibukanya pintu di hadapannya perlahan. Tampak Kiara tengah duduk di depan meja rias sambil berbicara di telpon. Derri diam mengamati kekasihnya itu, memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan percakapannya dengan entah siapa itu.
"Iya, aku bingung harus memakai baju apa."
" ... "
"Entahlah. Ini adalah kencan pertama kami. Menurutmu baju apa yang harus kupakai?"
" ... "
"Lipstik warna apa? Gaya rambut yang bagaimana?"
" ... "
"Ah, aku nervous. Sumpah!"
Kiara terus sibuk mengobrol di telepon. Hingga tanpa sengaja dari pantulan cermin di hadapannya gadis itu menangkap bayangan keberadaan Derri yang tengah bersandar pada bingkai pintu di belakangnya.
Spontan Kiara membalikkan badan. "Sumpah! Gue kebanting, Zi!" desisnya pada seseorang di ujung telpon.
Mata Kiara membulat sempurna memandang sosok di hadapannya yang kini tampak seumuran dengannya.
"Sudah lama, Om?" tanya Kiara bodoh.
"Sudah sejak kau menyuruhku masuk," jawab Derri santai dengan kedua tangan masuk pada kantong celana.
"Nanti kutelepon lagi, Zi," pamit Kiara sesaat setelah kesadarannya kembali mendarat pada tempat semestinya.
"Apakah kau sudah siap, Ki?" tanya Derri dengan senyum dibuat semanis mungkin.
Mendapat senyum seperti itu mendadak jantung Kiara berdegup lebih kencang. "Oh, shit! Fix, jantungku bermasalah," desis Kiara dalam hati.
"Hei, kenapa malah bengong?"
"Om tahu Grandong?" tanya Kiara dengan mata tidak berkedip.
"Grandong?" Derri membeo. Keningnya mengernyit sesaat, tampak seperti sedang berpikir keras. "Mak Lampir?"
"Iya. Kenapa Om tidak bertukar wajah saja dengannya?" tanya Kiara sambil bangkit dari duduknya.
"Bertukar wajah? Memangnya ada yang salah dengan wajahku?" Derri bertanya bingung.
"Amat.sangat.salah.sekali.benget!" jawab Kiara penuh penekanan di setiap kata sambil melipat kedua tangan di dada.
Derri menaikkan pundaknya dengan ekspresi bingung, meminta penjelasan.
"Dandanan Om itu, sungguh enggak banget!" seru Kiara akhirnya.
"Enggak banget? Apa maksudnya itu?" tanya Derri.
"Hei, bicaralah dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Aku tidak paham dengan apa yang kau maksud." Derri mulai kesal.
"Itu rambut, kenapa pakai di jabrik-jabrik segala? Seperti anak muda saja!" jawab Kiara asal. Padahal di dalam hati dia berujar, "Sumpah! Lo cakep abis, Om!"
"Apakah tidak pantas?" tanya Derri polos. Diraihnya topi baseball putih di meja belajar Kiara, kemudian dipakainya dengan pet menghadap ke belakang. "Bagaimana kalau begini?" tanyanya lagi dengan senyuman simpul, berharap mendapat pujian dari Kiara.
"Ya Lord, apa salah dan dosaku hingga harus mengalami hal semenyebalkan ini? Lo cakep ******, Om!" jerit Kiara dalam hati sambil berusaha menekan degup jantungnya yang semakin empot-empotan.
"Hei, bagus atau tidak? Kenapa malah bengong lagi?"
"Bisa tidak Om jangan tersenyum seperti itu?" hardik Kiara akhirnya.
"Kenapa memangnya?" tanya Derri bingung.
"Menjijikkan, tau! Sangat tidak pas dengan wajah Om yang tidak begitu tampan itu."
Derri menahan senyum mendengar jawaban Kiara. "Oke," jawabnya sambil memasang wajah stay cool yang parahnya justru membuat degup jantung Kiara semakin menggila dibuatnya.
"Oh may gosh! Bukan style seperti itu juga kali, Om!" rutuk Kiara dalam hati sambil duduk di tepian tempat tidur, pura-pura sibuk mengenakan heelsnya agar tidak ketahuan oleh Derri bahwa kakinya kini telah melumer tidak kuat lagi berdiri.
"Kita mau jalan kemana?" tanya Derri sambil berjalan mengambil duduk di bangku depan meja rias.
"Mall," jawab Kiara singkat.
Derri bangkit mendekati Kiara, kemudian membantunya berdiri. Kini puncak kepala Kiara setinggi telinga Derri. Tampak lebih tinggi dari biasanya.
"Pakailah flate shoes saja, agar lebih nyaman saat kau hunting."
"Hunting?"
"Aku yakin akan butuh waktu lebih dari tiga jam bagimu untuk berjalan berkeliling nanti." Derri mengingatkan. "Yang ini sepertinya bagus," ucap Derri lagi sambil berjongkok mengambil flate shoes dari tepi kolong tempat tidur. "Dan kau akan tampak manis saat mengenakannya."
Kiara kembali duduk di tepi tempat tidur, sedangkan Derri masih berjongkok memakaikan sepatu itu di kaki Kiara. Setelah selesai, Derri kembali membantu Kiara berdiri.
Dilepasnya pita yang mengikat rambut hitam gadis yang kini hanya setinggi dagunya itu. Diamatinya gadis remaja di hadapannya dengan senyum kecil terulas di bibir. Tunik pink tanpa lengan dipadu dengan celana khaki pendek di atas lutut membuatnya tampak begitu manis dan menggemaskan dalam waktu bersamaan.
Derri menggerakkan kakinya satu langkah ke depan, mengikis jarak diantar mereka yang kini hampir tak bersisa.
Kiara sedikit mendongak manahan nafas. "Ternyata kau jauh lebih tampan dari yang kulihat selama ini, Om." Tanpa sadar Kiara berbisik lirih.
Telinga Derri menangkap bisikan lirih Kiara yang hampir tak terdengar itu, kemudian mengirimkan senyuman hangat yang menyembul diantara kedua bibirnya sebagai balasan.
Kedua netra mereka saling bertemu dan bertatapan. "Sudahkah aku mengatakan bahwa kau tampak sangat cantik dengan baju ini, sayang?" bisik Derri tanpa berkedip.
"Belum, Om hanya mengatakan aku tampak manis," jawab Kiara sambil menekan kupu-kupu yang beterbangan liar di perutnya.
"Kau sangat cantik, Kiki sayang," bisik Derri. "Bolehkah aku menciummu?"
Kiara terdiam, menahan nafas. Bahkan lidahnya terasa bagai tercekat tak mampu berkata apa-apa.
Derri mengecup perlahan kening Kiara. Direngkuhnya tengkuk gadis yang menggambarkan raut wajah tegang di hadapannya itu. "Diammu kuanggap sebagai iya," bisik Derri kemudian menempelkan bibirnya tepat di bibir tipis Kiara.
Dilum*tnya bibir tipis itu dengan lembut. Kiara diam tidak membalas. Namun, gadis belia itu juga tidak menolak. Derri terus mem*gut bibir kenyal itu dengan penuh kehangatan. Seringai puas menyembul dari bibir Derri saat tanpa sadar Kiara memejamkan matanya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Derri. Perlahan Kiara membalas ciuman itu, walaupun dengan sedikit canggung.
"Argh ... sialan!" tiba-tiba Derri menghentikan pagutannya, menarik kedua telapak tangannya dari tengkuk Kiara dan mundur satu langkah.
"Ada apa, Om?" tanya Kiara terkejut, masih berusaha mengatur nafasanya kembali.
"Aku sudah tidak bisa menahan, Ki," jawab Derri dengan suarau parau. Nafasnya berhembus memburu. Kilatan aneh terpancar dari kedua bola matanya.
"Maksud Om?" tanya Kiara dengan wajah benar-benar bingung.
"Shit! Kau benar-benar racun berwujud candu!" rutuk Derri sambil berbalik meninggalkan Kiara.
Gadis belasan tahun itu pun diam terbengong bingung.
"Cepatlah sedikit. Aku tunggu kau di lantai bawah." Kembali terdengar seruan Derri dari luar kamar. Suara itu terdengar semakin pelan. Mungkin ia benar-benar pergi menjauh dari kamar serba pink itu.
___
.
"Kau cantik sekali, Kiara," ucap Derri tulus saat keduanya telah berada di dalam mobil sport putih.
"Terimakasih," ucap Kiara canggung.
Lagi-lagi, wajah gadis cantik itu tertunduk dengan rona merah menghiasi kedua pipi.
"Ciuman tadi ... maaf," ucap Derri canggung. Kali ini benar-benar canggung.
"Kenapa?"
"Aku tak bermaksud untuk merendahkanmu. Hanya saja ... entah mengapa aku sangat menginginkannya. Maaf ...."
"Aku menyukainya," sahut Kiara cepat.
"Apa?" Derri menatap bingung ke arah Kiara. "Kau suka berciuman denganku?"
"Aish ...!" Secara reflek Kiara menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan. "Dasar bodoh," rutuk Kiara pada dirinya sendiri.
"Owh ... jadi kau senang? Baiklah, jika kau menyukainya maka aku akan lebih sering melakukannya," putus Derri dengan seringai di bibir.
"Apa?" tanya Kiara dengan kedua mata melotot tajam.
"Lagi pula bukankah kita berdua ini adalah calon suami dan istri. Cepat atau lambat, suatu saat nanti kita akan menikah. Jadi kita memang harus sering-sering berciuman agar setelah menikah nanti kita tidak canggung lagi," simpul Derri dengan senyum kemenangan.
"Coba ulangi sekali lagi," ucap Kiara dengan kedua tangan terulur siap menjewer telinga Derri.
"Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya bercanda, Ki."
"Awas saja kalau berani macam-macam lagi padaku!" ancam Kiara. "Kita memang dijodohkan," lanjutnya. "Tapi bahkan bagaimana status hubungan kita saat ini pun masih belum jelas."
"Apakah ini adalah semacam klu, Ki?" tanya Derri dengan kedua mata berbinar.
"Apa maksud Om?"
Derri tersenyum manis ke arah Kiara tanpa berminat untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
"Baiklah, mari nikmati kencan kita kali ini," ucap Derri. "Kali ini aku akan mengikuti apa pun yang kau mau, apa pun yang kau ingin."
"Mall," sahut Kiara singkat.
"Bahkan jika kau ingin aku menemanimu mengelilingi bangunan itu sepanjang hari ini pun aku tak akan keberatan?"
Kedua mata Kiara mendelik ragu memandang ke arah Derri. Sejujurnya ia tak yakin jika laki-laki berusia tiga puluh tahun di sampingnya itu bersedia berjalan mengitari mall hanya untuk menemaninya.
"Aish ... betapa menyenangkannya bisa menjadi ratu, walaupun hanya sehari," gumam Kiara tanpa sadar.
"Ya, memang menyenangkan," sahut Derri. "Jadi ayo kita lakukan itu," lanjutnya. "Setelah itu mari kita perjelas status hubungan seperti apa yang terjalin antara kita berdua."
BERSAMBUNG ...