I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 24. Kenapa Kau Jatuh Cinta Padaku



"Sudah terlalu malam, Lana mengajak pulang." Dia bahkan sampai ketiduran di dalam mobil', ucap Andre sedikit berteriak untuk mengalahkan dentuman musik yang terus dimainkan sepanjang malam.


"Ok," sahut Derri sembari mengacungkan ibu jari kanannya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Andre sedikit khawatir. "Aku akan meninggalkanmu sebentar."


"Aku baik-baik saja." Derri turut berteriak agar suaranya terdengar oleh Andre.


"Apa perlu kupanggilkan Hendri untuk menyetir mobilmu?" tawar Andre kemudian.


"Tidak perlu. Hanya luka kecil," jawab Derri setelah menyesap soft drink-nya. "Bukan masalah."


"Baiklah."


"Hei, Andre. Berhentilah kau bersikap seolah dia adalah bayi besarmu," sela Candra di antara percakapan keduanya.


"Dia bukan anak kecil yang harus kau khawatirkan seperti itu." Aldo turut menambahi. "Lagi pula dia juga tidak akan nyaman dengan perlakuanmu yang seperti itu."


"Coba kalian tanyakan padanya, apakah dia memang merasa tidak nyaman," sanggah Andre cepat.


Seluruh pasang mata pun tertuju ke arah satu titik, yaitu Derri. Ya, malam ini Derri memang tengah berkumpul bersama sahabat-sahabat karibnya.


"Apa?" tanya Derri songong ke seluruh sahabatnya, merasa tak nyaman dengan tatapan penasaran mereka. "Memangnya apanya yang salah? Hah, kalian mengatakan tak nyaman dengan perhatian seperti itu karena memang tak ada orang-orang yang mau berbagi kasih dengan kalian," sambung Derri melantur tak jelas.


"Ya Tuhan, dasar kekanakan," gumam Endo jengah.


"Hei, apa katamu?" Derri menunjuk tak terima ke arah Endo.


"Sudah sekian tahun tak juga berubah. Masih saja seperti itu." Kali ini Erik yang berkomentar. Sementara Ega dan Romi hanya tersenyum tanpa minat untuk turut memperolok laki-laki berparas Asia itu.


"Apa kau akan langsung pulang?" Derri bertanya pada Andre, tak menghiraukan komentar miring sahabat-sahabatnya. "Atau akan kembali ke sini lagi?"


"Bagaimana sebaiknya?" Andre balik bertanya.


"Aku lelah. Sepertinya aku akan pulang saja," jawab Derri sembari meletakkan kaleng soft drink kosong di atas meja bergabung dengan kawanan kaleng kosong yang lain di sana.


"Baiklah, aku juga akan langsung pulang jika begitu," putus Andre akhirnya. "Aku pergi," pamit Andre kemudian. "Maaf semuanya, aku harus pergi duluan. Senang bertemu dengan kalian semua malam ini," pamit Andre pada sahabat-sahabat Derri.


Derri bangkit dari duduknya kemudian meraih jas yang tersampir di punggung sofa dengan tangan kanan.


"Apa kau benar-benar akan pulang sekarang?" tanya Ega saat melihat adik iparnya itu telah mulai berkemas.


"Iya. Aku benar-benar merasa tidak enak badan."


"Apakah aku perlu menyuruh Dera untuk datang ke rumahmu?" tawar Ega tulus.


"Tidak perlu, sudah ada Andre di sama."


"Ini masih sore, kau sudah mau pulang?" tanya wanita beramnut pirang yang sedari tadi terus menempel pada Derri itu.


"Sepertinya aku sedang tidak enak badan," jawab Derri sekenanya. "Badanku terlalu lelah."


"Baiklah jika begitu, aku akan menemanimu. Akan kupastikan kau tiba di rumah dalam keadaan utuh tak kurang suatu apapun," sahut wanita dengan mini dress merah setinggi hampir sebatas pangkal paha itu. "Aku bisa memijitmu jika memang kau lelah." Wanita itu terus bergelayut manja di pundak kanan Derri.


"Tak perlu, aku tak menginginkanmu," tolak Derri tanpa mau berepot-repot untuk memperhalus kalimat yang diucapkannya.


"Ah, ayolah ... aku berjanji tidak akan merepotkanmu. Justru kau akan banyak terbantu olehku." Dengan senyum semanis es krim, wanita itu terus mencoba peruntungan.


"Terserah kau saja." Akhirnya Derri mengalah. "Kau bisa menyetir?"


"Tentu saja."


"Baiklah, kau yang menyetir." Derri meyerahkan kunci mobilnya pada wanita yang sejujurnya ia sendiri tak tahu siapa namanya.


Teman-teman Derri tampak mengulum senyum menyaksikan kejahilan Derri dalam memperlakukan wanita yang terus saja menempel itu.


"Hei, aku ini wanitamu. Bukan supirmu," protes wanita itu sembari memyembunyikan kekesalannya dengan lihai. "Bagaimana bisa kau menyuruhku menyetir mobilmu?" lanjutnya dengan senyum menggoda.


Masih terus bergelayut di pundak kanan Derri, wanita itu turut melangkah meninggalkan diskotik bersama laki-laki yang telah diincarnya sejak lama.


Tepat pukul dua dini hari, Derri turun dari mobil sport yang baru saja ia parkir sembarangan di halaman rumah. Dipaksanya tubuh lelah itu untuk berjalan menuju kamar di ujung lorong. Seorang wanita berbalut mini dress merah hampir sebatas pangkal paha menggelayut manja di bahu kanan. Wanita itu memang sengaja menghindari bahu kiri Derri sebab bau anyir yang begitu menyengat.


Setibanya di kamar, sang wanita langsung berhambur ke tempat tidur. Sementara Derri melangkah pelan melewati walk in closet sembari melepas jas dan kemeja kerja yang masih menempel pada tubuhnya. Ia terus berjalan menuju kamar mandi. Tak seperti malam-malam biasanya, tubuh tegap itu terasa begitu lelah dan penat. Mungkin guyuran air dingin dapat menyegarkan tubuh dan kepala, begitu kira-kira pemikiran laki-laki itu.


Langkah kaki Derri terhenti di depan wastafel kamar mandi. Seketika rasa segar merambati kulit ketika wajah lelah itu ia basuh dengan guyuran air dari keran wastafel. Ditatapnya bayangan diri yang bertelanjang dada pada cermin. Titik-titik air bening menetes dari ujung dagu, berakhir pada cekungan wastafel.


Tatapan Derri beralih ke arah pantulan gambar leher miliknya yang nyaris mulus. Sebuah luka gores jejak perkelahian dengan Axel beberapa saat yang lalu mulai menimbulkan rasa nyeri di seputar pangkal leher sebelah kiri. Digelengkan kepalanya perlahan kekiri dan kek kanan beberapa kali untuk memastikan bahwa lehernya dalam keadaan baik-baik saja.


Sesaat kemudian diseretnya kedua kaki lelah itu ke bawah shower. Air dingin langsung mengucur membasahi kepala dan seluruh tubuh begitu keran dinyalakan. Dipejamkan kedua mata beberapa saat, menikmati kesegaran air yang menerpa seluruh permukaan kulit. Rasa segar sekaligus perih yang muncul dari seputar pangkal lehernya.


Setelah selesai berurusan dengan air dan kamar mandi, Derri berjalan pelan melewati walk ini closet menuju jendela kaca di sudut kamar. Tubuh tegap itu kini hanya berbalut celana pendek dan kaos tanpa lengan. Setelan baju yang membuatnya merasa nyaman saat berada di dalam rumah.


Sembari melempar pandangan ke arah luar jendela, tangan kanan laki-laki itu sibuk mengeringkan rambut yang masih basah dengan handuk kecil yang kemudian berakhir tersampir di pundak.


"Derri, cepatlah kesini. Aku sudah menunggumu sedari tadi." Terdengar suara manja seorang wanita dari tempat tidur di sudut ruangan.


"Tidurlah," sahut Derri pelan tanpa menoleh.


"Ayolah, lihatlah. Aku di sini untukmu."


"Tidurlah," ulang Derri, sembari mendongak menatap ke arah rembulan.


"Derri ...." Wanita cantik itu merengek manja. Suara yang sudah sangat sering Derri dengar dari banyak wanita yang pernah ditemuinya.


"Sejak awal aku sudah mengatakan, bukan? Aku tak ingin denganmu." Laki-laki itu lebih memilih untuk terus menatap rembulan yang tampak bersinar terang dari balik jendela kaca kamarnya.


"Kau boleh pulang jika kau mau," sahut Derri tanpa minat.


"Kau tega mengusirku? Dini hari seperti ini? Bagaimana aku bisa pulang?" Wanita itu masih mencoba peruntungan.


"Aku pun juga tak mengundangmu ke sini," gumam Derri jengah. "Kau bisa naik taksi jika memang berniat pergi dari sini."


Akhirnya dialihkan juga pandangannya ke arah wanita itu, kemudian berjalan mendekat dengan langkah perlahan. Tangan Derri terulur, meraih sehelai selimut tak jauh dari bantal tempat wanita itu merebahkan kepalanya dengan gaya menggoda. Diurainya lipatan rapi selimut di tangan lalu hanya dengan satu gerakan saja ditutupinya tubuh polos wanita itu hingga sebatas leher.


"Tidurlah, Angel," bisiknya lirih.


"Namaku Alexa."


"Iya, maksudku Alexa. Tidurlah," ucap Derri sambil mengecup kening wanita itu, kemudian kembali duduk di depan jendela kaca untuk menyapa bulan purnama yang tampak bersinar dengan senyum hangat menggelayut manja.


Ingatan Derri mengalir ke masa beberapa jam yang lalu. Saat itu malam semakin larut, suasana pun juga semakin ramai. Para pengunjung tampak begitu menikmati dentuman musik yang dimainkan oleh disk joki dengan meliukkan tubuhnya di lantai disko. Namun, ada juga beberapa pengunjung yang lebih memilih menikmati musik dengan duduk santai di meja-meja yang telah disediakan.


Tak berbeda halnya dengan Derri. Laki-laki yang masih mengenakan setelan kerja itu lebih memilih duduk menikmati soft drink sembari sesekali mengangguk-anggukkan kepala atau menggerakkan bahunya mengikuti suara musik.


"Kemana?" tanya Derri saat melihat Andre bangkit dari tempat duduk.


"Ke toilet," jawab Andre santai. "Toilet pria," lanjutnya. "Mau ikut?" tawar Andre yang tiba-tiba saja pura-pura tersenyum penuh harap.


"Dasar sinting," gerutu Derri merasa dipermainkan. "Pergilah."


Beberapa detik setelah kepergian Andre, tiba-tiba saja seorang laki-laki berpakaian serba hitam datang ke arah Derri dengan belati tergenggam erat di tangan kanan. Secepat kilat laki-laki itu menyerang Derri dengan senjata tajam yang telah dibawanya.


Beruntung Derri menyadari situasi saat itu. Namun, sayangnya ia terlambat menghindar. Sebagai balasan, Derri melayangkan satu pukulan tangan kanan tepat pada rahang kiri. Tak hanya itu, langsung ditendangnya perut penyerangnya itu dengan kaki kanan hingga tersungkur di lantai sebagai usaha untuk menutup kemungkinan bagi laki-laki itu untuk kembali menyerang.


"Hei, apa masalahmu?!" bentak Derri setelah Axel jatuh tersungkur akibat pukulan dan tendangan yang dilayangkan oleh Derri. Ya, laki-laki yang telah menyerang Derri adalah Axel.


Para pengunjung pun mulai mendekat. Membentuk sebuah kerumunan melingkar dengan Derri dan Axel sebagai pusat perhatian. Semuanya penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Aku harus membuat perhitungan denganmu. Dasar brengsek!" maki Axel sembari berusaha bangkit berdiri bersiap untuk kembali menyerang. Tak dihiraukannya puluhan pasang mata yang menatap ke arahnya.


"Perhitungan mengenai apa?" tanya Derri tak mengerti.


"Entah pesona dan kalimat apa yang kau berikan padanya, dasar bedebah!" maki Axel yang semakin gelap mata. "Hingga dia pergi meninggalkanku dan lebih memilih laki-laki biadab seperti dirimu!" lanjut Axel dingin dengan goresan darah di ujung mata belati yang digenggamnya.


Saat itulah Derri baru menyadari jika mata belati itu telah melukai pangkal leher sebelah kirinya. Hanya berupa goresan. Luka yang tidak begitu dalam, tetapi cukup membuat darah merembes keluar membasahi kerah kemeja yang dipakainya.


Andre maju ke depan, bermaksud membereskan kekacauan itu. Namun, tangan Derri bergerak, mengisyaratkan agar laki-laki berkulit gelap itu mengurungkan niatnya.


"Apa maksudmu?" tanya Derri santai sambil menekan luka sayatan di pangkal leher kirinya dengan tangan kanan.


Beberapa saat kemudian tampak Derri dan Axel duduk dalam satu meja yang sama.


"Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku," ucap Axel setelah menyesap soft drink miliknya. "Tak akan kubiarkan satu orang pun melukainya, termasuk kau."


"Maksudmu Kiara?" Derri masih bertanya santai dengan kedua tangan bergerak melepaskan jas kerja dari tubuhnya. "Jadi dia jatuh cinta padaku?" lanjutnya dengan seringai sombong menghias bibir.


"Jika sampai kudengar kau menyakiti ataupun melukainya, maka aku akan membuat perhitungan denganmu." Suara Axel kembali terdengar.


"Tidak menyakitinya?" Kedua tangan Derri masih bergerak, sibuk menggulung lengan kemeja hingga sebatas siku. "Sayang sekali aku tak bisa menjanjikannya."


"Kau?! Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!" Axel meraih kerah kemeja putih Derri yang telah berubah warna menjadi merah darah akibat cairan anyir yang merembes beberapa waktu yang lalu. Dengan kedua tangan yang kokoh ditariknya kasar kerah kemeja itu sebagai tindakan ancaman.


"Lantas aku harus bagaimana? Berpura-pura mencintainya? Begitu? Dasar konyol!" Derri menepis kasar kedua tangan Axel dari kerah kemeja yang dikenakannya. "Dia justru akan sangat terluka saat mengetahui bahwa aku hanya pura-pura mencintainya."


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Axel setelah berhasil menekan emosinya ke tingkat terendah.


"Tidak ada," jawab Derri santai.


"Tidak ada?"


"Ya, tidak ada," jawab Derri. "Kau saja. Kau saja yang melakukan sesuatu."


"Apa maksudmu?"


"Lakukanlah sesuatu agar ia membuka hatinya kembali untukmu."


"Dasar laki-laki brengsek! Kau pikat dia dengan tipu dayamu, lantas kau hempaskan dia untuk kau sakiti? Kurang ajar! Sejak awal aku tahu kau hanya berniat untuk mempermainkannya!"


Kedua tangan Axel terkepal erat. Ingin rasanya ia layangkan kepalan itu ke arah lawan bicaranya saat ini dengan sekuat tenaga. Namun, ia menyadari bahwa hal itu adalah tindakan percuma. Laki-laki brengsek di hadapannya itu tidak akan mungkin memahami apa yang ia maksud dan rasakan saat ini.


"Jika sedikit saja aku mendengar kesusahan dan kesedihannya, maka kau akan langsung berhadapan denganku."


Suara Axel kembali terngiang di telinga Derri, menghadirkan sekelebat bayangan Kiara dalam pikirannya.


"Jadi inilah yang kau sebut dengan keputusan A ...," gumam Derri tanpa suara.


Dihisapnya batang rokok yang terselip di antara kedua jari kanan kemudian dihembuskan perlahan hingga aroma khas kepulan asap rokok kembali menyeruak menyatu dengan udara.


"Apakah aku harus pura-pura mencintaimu?" gumam Derri lagi.


Dipejamkannya mata rapat-rapat, berharap bayangan Kiara segera hilang dari pikiran. Namun, yang terjadi justru wajah cantik gadis remaja itu tampak semakin jelas di pelupuk mata.


"Kiki, kenapa kau malah jatuh cinta padaku," bisik Derri pada dirinya sendiri sambil menatap rembulan yang masih bersinar terang. "Kenapa kau jatuh cinta pada laki-laki brengsek sepert aku ini?"


___


BERSAMBUNG